[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Pacar Johnny

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Pacar Johnny ]

|   Johnny  x  Wendy   |

|  introducing Fernandio Seo x Nancy x Hanna  |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

‘ memang, dia sudah punya pacar, tapi memangnya sampai kapan mereka mau pacaran? ‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Wendy pernah dengar, kalau orang-orang yang sedang patah hati itu kadang retakan hatinya akan terdengar oleh orang lain. Dan sekarang, agaknya hati Wendy yang berkeretak patah juga ada yang mendengarkan.

Sayang, orang yang mendengar keretakan hati Wendy adalah orang yang paling dihindarinya, Nando.

Hey, Wendy, jangan melihat Johnny dengan tatapan patah hati begitu, dong.” Nando menyindir dengan ekspresi dingin khas yang selalu terpasang di wajahnya.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau Johnny sudah punya pacar?!” Wendy balas dengan marah, dipukulnya lengan Nando keras-keras, berhubung wajah Nando dan Johnny sama, Wendy juga jadi tidak segan-segan.

“He-Hey! Bukan salahku! Lagipula, kamu tidak pernah semarah ini kalau aku sedang bersama dengan Hanna.” Nando membela diri, di perbaiki letak frame kacamatanya yang bergeser karena ulah Wendy barusan.

“Kamu ‘kan memang mesum! Makanya pacarmu juga seperti Hanna, seksi-seksi genit begitu. Mana bisa aku bandingkan Johnny denganmu, Johnny itu anak baik-baik.” Wendy berkata, opini yang berhasil membuat Nando tergelak.

“Apa? Kamu bilang Johnny itu baik? Dia sudah pernah ‘tidur’ dengan pacarnya, lho. Kami ‘kan kembar, tentu saja kelakuannya juga tidak akan beda jauh. Meski orang-orang bilang Johnny kelakuannya lebih baik daripada aku, tetap saja kami sama-sama lelaki.” seketika Wendy mematung saat mendengar penuturan Nando.

Johnny pernah tidur bersama dengan wanita. Kalimat itu terngiang di benak Wendy bagai tape rusak. Dan sekarang, hancur sudah imej sempurna yang susah payah Wendy bangun di dalam hatinya tentang Johnny.

Dia sangat mengagumi pemuda Seo itu, tapi bukan begini yang Wendy harapkan.

“Siapa yang peduli, aku ‘kan hanya protes karena kamu tidak bilang tentang pacarnya. Kalau aku tahu dia sudah punya pacar, aku kan tidak akan bersikap terlalu dekat dengannya, pacarnya bisa salah sangka.” Wendy berkilah, meski pembelaannya di telinga Nando sekarang terdengar begitu menggelikan, tentu saja pemuda itu tahu kalau Wendy sedang berbohong.

“Begitu, ya? Tapi tadi kalau tidak kuberitahu tentang Johnny yang pernah tidur dengan pacarnya, kamu juga tidak akan bicara begini bukan?” tanya Nando memancing Wendy.

Sebenarnya, Wendy ingin mengiyakan, tapi mau bagaimana lagi, Wendy juga punya harga diri dan bisa berkaca. Secara fisik, Wendy tentu saja tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pacar Johnny yang sekarang tengah dirangkul oleh pemuda itu.

Nancy, namanya, parasnya sangatlah rupawan—tadi saat Nancy pertama kali datang, Wendy pikir gadis itu seorang peri karena cantiknya. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih bersih dan senyum malaikat yang selalu melekat. Tutur katanya juga sangat sopan dan lembut. Sebagai wanita saja Wendy bisa mengakui kecantikan Nancy.

“Aku bisa apa? Kamu dulu pernah bilang, tidak akan ada pria yang melirikku dengan keadaan seperti ini.” Wendy berkata, mengingatkan Nando pada salah satu ledekannya mengenai Wendy yang sebenarnya cantik tapi tidak bisa merawat diri.

Tapi sekarang, mengapa mendengar penuturan Wendy justru membuat Nando merasa bersalah? Apa dia sudah kelewatan menggoda gadis itu?

Hey, Wendy, aku tidak bermaksud—”

“—Tidak apa-apa, ucapanmu benar, kok. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Aku juga punya kaca, Nando. Aku juga sudah bilang kalau kamu dan Johnny cuma sekedar jadi inspirasiku untuk tugas akhir, bukan?” Wendy memotong, menetralisir dugaan yang mungkin akan Nando pikirkan tentang cara Wendy memandang dua saudara itu sekarang.

Ya, memang Wendy pernah menceritakan tentang tugas akhirnya untuk membuat satu seri cerita—yang berisi minimal seratus strips—kartun, yang berujung pada keinginan Wendy untuk membuat strip cerita tentang Nando dan Johnny.

Tapi mana tahu Nando kalau perkataannya akan sebegitunya menyakiti Wendy?

“Aku pulang dulu, ya. Kamu bilang sebentar lagi Hanna datang. Paman dan Bibi juga menginap di luar kota, sebaiknya aku tidak di sini.” Wendy berpamitan, gadis itu beranjak dari kasur Nando—tempat yang sudah lazim jadi tempat Wendy bertengger—dan keluar dari kamar.

Segera ia disuguhi pemandangan menyakitkan hati. Dimana Johnny dan Nancy tengah bermesraan di sofa ruang tengah, keduanya saling merangkul, dan saling menyuapkan potongan apel ke mulut masing-masing.

Tanpa sadar, bibir Wendy mencebik kesal. Musnah sudah fantasinya tentang Johnny dan hal-hal mesra yang ada dalam benaknya. Nancy terlalu sempurna untuk masuk dalam imajinasi Wendy yang melibatkan seorang gadis konyol sepertinya.

“Heh, Johnny!” entah sejak kapan, mulut Wendy bicara.

“Ada apa, Wendy?” tanya Johnny, menatap Wendy dengan tatapan tidak mengerti, sementara Nancy sendiri tiba-tiba merasa canggung, atmosfer sarat akan kecemburuan yang sekarang Wendy lemparkan untuk mencekiknya mungkin sudah Nancy rasakan.

“Tidak baik makan apel malam-malam, apel itu bisa berubah menjadi racun kalau dikonsumsi malam hari. Awas saja besok pagi kamu dan pacarmu keracunan!” tanpa bisa mengontrol dirinya, Wendy dengan sadis melontarkan sumpah itu pada Johnny.

Hampir-hampir tidak percaya, Johnny membulatkan mulutnya tidak percaya. Dia tidak pernah tahu Wendy bisa berkata setajam ini, apalagi pada—

“Wendy? Kenapa melamun?”

—sialan. Yang barusan itu, Wendy hanya melamun saja?

“A-Ah, tidak. Aku tidak melamun.” Wendy berkata, dilemparkannya sedikit lirikan juga senyuman ramah pada Nancy yang juga tengah tersenyum memandangnya.

Ya Tuhan, dia seperti malaikat, mana sanggup aku menghancurkan momen romantisnya bersama Johnny? Wendy membatin. Mau cemburu bagaimanapun, Wendy masih punya hati. Dia tidak mau melukai perasaan Nancy—yang di matanya tampak seperti malaikat di kehidupan nyata.

Apalagi, Wendy juga bukan siapa-siapa. Sekedar anak kuliahan yang menempati rumah kost di depan rumah Johnny saja. Dua bulan yang lalu, Wendy bahkan tidak mengenal Johnny sama sekali. Yang dikenalnya cuma Nando dan segala tingkah di luar nalar pemuda itu.

Wendy jelas bukan orang jahat seperti itu, sekali lagi Wendy yakinkan dirinya, kalau perasaan yang dia rasakan sekarang cuma sekedar rasa kesal karena kehadiran mendadak Nancy yang merusak ide tentang kartun strip yang jadi tugas akhirnya, itu saja.

“Aku pulang dulu, John. Sampai ketemu.” duh, kenapa sekarang menyebut nama Johnny saja bisa membuat Wendy merasa lidahnya dililit?

“Oh, iya, aku tidak mengantarmu sampai pagar, ya?” Johnny berucap, dia sunggingkan sebuah senyum pada Wendy—senyum yang kalau saja Johnny pamerkan tanpa adanya Nancy, mungkin saja bisa membuat Wendy mimisan.

“Iya, tidak perlu. Kasihan pacarmu kalau ditinggal, iya kan?” Wendy berusaha bercanda, Nancy sendiri terkekeh kecil—aih, vokal Nancy saat tertawa saja sudah terdengar sangat cantik dalam pendengaran Wendy.

“Nancy, Kak, namaku Nancy.” dia memperkenalkan diri dengan sopan, bahkan memakai embel-embel ‘Kak’ karena tahu benar Wendy berada di usia yang sama dengan pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

“Oh, salam kenal ya Nancy, aku titip Johnny dan Nando—walaupun setelah ini Nando juga tidak sendirian, sih. Kalau begitu, sampai jumpa!” Wendy cepat-cepat undur diri, takut kalau-kalau kekesalannya pada Nancy semakin luntur kalau dia terlalu banyak bicara dengan malaikat cantik satu itu.

“Sampai ketemu, Wendy!” terdengar vokal Johnny dari dalam, tapi Wendy bahkan tidak mau menoleh untuk memastikan apa Johnny sekarang sedang memandangnya. Sudah jelas, ekspektasi Wendy tidak akan jadi realita.

“Hah… Hidup itu terkadang memang berat.” Wendy menggumam, dia baru saja menutup pintu rumah kediaman keluarga Seo rapat-rapat saat sebuah dehaman kecil menginterupsi.

Umm, Wendy?”

Nah, Wendy sudah hafal benar siapa orang lain yang memanggilnya dengan nada seramah ini.

“Kak Hanna,” Wendy berbalik, dan tiba-tiba saja dia lupa cara untuk bernafas saat seorang gadis bak malaikat berdiri di depannya dengan menggunakan dress sebatas lutut berwarna peach yang membalut tubuh ramping si gadis dengan begitu sempurna.

Ya Tuhan! Kenapa sih harus wanita-wanita secantik ini yang jadi pemeran utama dalam setiap kisah romansa? Bagaimana nasibku dan wanita-wanita lain dengan kecantikan yang pas-pasan?

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Ini edisi patah hatinya Wendy, sebenernya. Berhubung dua cogan kembar itu sama-sama udah taken dan takennya sama mba-mba cantik yang ngebuat Wendy minder, LOOOOOL. Mana si kampret yang ditaksir Wendy enggak peka segala, si kembaran malah dengan nyebelinnya makin bikin Wendy betmut sama gebetan, duh kesian Mbawen.

Btw, kasian Masjon gak eksis… diriku menyimpan semua adeganmu buat duet nanti sama Nando, mas, WKWK. Besok deh, insyaowoh, kalo ada waktu buat ngetik bagian dua saudara kembar ini, biar agak-agak panjang gitu bagian mereka berdua.

Sesekali atau dua kali, Mbawen enggak eksis, biar bergiliran, dan biar pada kenal perbedaan si kembar fiktif ini, LOOOOOOOL.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

 

Advertisements

7 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Pacar Johnny

  1. Kasian Wendy T.T Rasanya sakit, tuh. Perlu aku singso ga Wendinya biar sakitnya hilang T.T Aku gatega beneran liat dia patah hati.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s