[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Selingkuh

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Selingkuh ]

|   Johnny  x  Wendy  x  Nando   |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

‘ kalau muka begitu sih bebas, mau selingkuh juga masih ada yang mau‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Ceritanya, hari ini Wendy sibuk merenung. Akibat ‘kode’ yang Johnny berikan kemarin, seharian Wendy tidak bisa berpikir jernih. Well, jangan salahkan Johnny, tapi Wendy saja yang memang hobi berdelusi. Ribuan imajinasi sudah berkeliaran di dalam benak Wendy sejak kemarin, dan hari ini, dia bahkan lupa mandi.

“Wendy, ayo temani aku ke Mall.” ajak Joy pagi ini, tapi Wendy malah bergeming.

Meskipun begitu, bukan Joy namanya kalau dia tidak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadilah, sore ini Wendy dan Joy sama-sama terjebak di tengah padatnya Mall di akhir pekan.

Duh, kalau saja Wendy punya mood untuk mengomel, sudah dia omeli gadis jangkung yang menempati kamar kost di sebelahnya itu.

“Eh, eh, Wendy, itu bukannya Johnny?” tiba-tiba telinga Wendy berada dalam mode aktif saat mendengar nama pujaan hati disebut. Padahal sedari tadi dia menyibukkan diri dengan segelas ice yogurt yang Joy belikan.

“Mana? Mana?” kepala Wendy berputar berusaha mencari eksistensi si pemuda Seo di sekitar mereka.

Pandang Wendy kemudian terhenti di sudut café tempat ia dan Joy duduk sekarang. Terlihat, Johnny tengah duduk dengan seorang gadis cantik, dengan tangannya yang melingkar di bahu si gadis.

“Ah, itu sih bukan Johnny, tapi Nando.” Wendy berkata.

“Oh ya? Bagaimana kamu tahu?” tanya Joy terkejut, Joy akui sampai saat ini dia masih kesulitan membedakan Johnny dan Nando, apalagi kalau penampilannya seperti sekarang, pakaian tidak gelap tidak juga berwarna cerah, dengan kepala yang ditutupi beanie berwarna biru gelap.

Duh, yang membedakan Johnny dan Nando kan potongan rambutnya saja.

“Iya, karena Nando yang punya hobi selingkuh.” Wendy menarik kesimpulan, dia mengedikkan dagunya ke arah Nando, berharap Joy melihat ke arah yang sama juga tapi sayang, justru pandang Wendy bertemu dengan subjek pembicaraan mereka.

Nando, baru saja mengedarkan pandangnya ketika ia dapati seorang gadis berambut cokelat menatap ke arahnya dengan pandang mengawasi. Sontak, Nando melirik ke arah gadis yang tengah direngkuhnya, sebelum dia melemparkan pandang ke arah si gadis berambut cokelat lagi dan memberikan seulas senyuman yang mengejutkan si gadis.

“Oh! Dia melihatku.” Wendy berkata, cepat-cepat dialihkannya pandangan meskipun percuma juga, Nando sudah terlanjur melihatnya.

“Aduh Joy, kamu sih memberitahu aku kalau ada Nando, bagaimana ini? Apa aku harus menyapanya?” tanya Wendy, takut sikapnya barusan dianggap tidak sopan oleh Nando yang notabene selama beberapa tahun ini jadi satu-satunya teman curhat Wendy nomor satu.

“Apa? Dia melihatmu? Aduh… bagaimana ini? Dia keberatan tidak sih kalau ketahuan selingkuh? Kamu kan juga sering bicara dengan pacarnya itu, nanti Nando pikir kamu akan mengadu ke pacarnya,” Joy makin memperkeruh pikiran Wendy dengan kemungkinan mengerikan soal hubungan Nando dan Hanna kedepannya.

Lagipula, kenapa juga Nando harus berselingkuh di tempat umum begini? Yah, kalau dilakukan di tempat sepi juga bukan selingkuh sih namanya.

“Aduh aduh, dia ke sini, dia ke sini.” Wendy semakin panik, segera dia tenggelamkan wajahnya di balik tas persegi panjang mungil yang dia bawa.

Mungkin, tindakan Wendy sekarang terlihat seperti orang bodoh. Padahal, Nando dan gadis yang kemungkinan besar merupakan selingkuhannya itu, hanya berjalan melewati mereka tanpa sapaan apapun.

Kenapa Wendy justru semakin merasa panik?

“Dia tidak menyapaku, wah, benar-benar,.. dia pasti selingkuh sungguhan.” komentar Wendy sepeninggal Nando dan si gadis.

“Memangnya ada selingkuh yang tidak sungguhan?” Joy bertanya.

Kekehan kecil lolos dari bibir Wendy saat mendengar pertanyaan Joy, ya, memang sih, mana ada selingkuh yang tidak sungguhan?

“Tapi ternyata, Nando memang begitu ya? Aku kira hobi selingkuhnya itu sekedar gosip saja, ternyata… dia benar-benar pria yang suka mempermainkan hati wanita.” Joy kemudian berkelakar.

“Iya juga, aku dulu mengira kalau itu sekedar gosip saja. Tapi, Nando itu tampan, seperti Johnny, menurutku kalau muka begitu sih bebas, mau selingkuh juga masih ada yang mau. Aku kira gadis-gadis itu tidak memikirkan perkara hati.” Wendy beropini.

Diam-diam hatinya bergelut, pikirannya tiba-tiba saja melayang pada Johnny. Membayangkan Johnny sebagai seorang yang amat setia memang menyakitkan, karena Wendy jadi tidak punya harapan untuk mendapatkan hati pemuda itu, cepat atau lambat. Tapi membayangkan hatinya akan bolak-balik berkeretak patah kalau semisal Johnny adalah pemuda dengan hobi selingkuh juga tidak membuat hatinya merasa senang.

Aduh, kenapa Wendy jadi kepikiran Johnny sekarang?

Hey, Wendy? Kamu dengar aku tidak?” Joy membuyarkan lamunan Wendy, menyadarkan gadis itu kalau dia sekarang tidak punya waktu untuk memikirkan Johnny.

“Hah? Iya, aku dengar, kita mau kemana?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malam yang dipikir Wendy akan berjalan dengan tenang rupanya tidak akan berjalan sesuai harapannya. Pukul setengah sebelas malam, Wendy baru saja membaringkan tubuh di tempat tidur kost saat dia teringat pada titipan Bibi Seo padanya sore tadi saat dia berpamitan akan pergi ke Mall bersama Joy.

Mengingat dirinya adalah seorang perfeksionis yang tidak suka membuat orang lain menunggu—bohong, alasan Wendy sebenarnya karena dia berharap bisa melihat Johnny hari ini!—akhirnya Wendy membalut tubuh dengan sweater merah muda favoritnya, sebelum dia menuruni tangga dari lantai dua dan keluar dari kost.

Senyum kecil muncul di wajah Wendy saat dilihatnya pintu depan kediaman keluarga Seo masih menyala, pertanda kalau Bibi Seo masih terjaga—karena, Nando tidak punya kesadaran untuk menutup pintu rumah meskipun hari sudah malam, dan motor gelap Johnny tidak ada, itu artinya Johnny masih di luar rumah.

KREEETT!

Setelah selesai dengan usahanya membuka gerbang, Wendy melangkahkan tungkainya di atas porselen teras rumah keluarga Seo. Segera, dehaman dan bayangan Nando menyambut. Pemuda itu pasti mendengar suara gerbang rumahnya terbuka.

“Oh, Nando, apa Bibi Seo ada?” tanya Wendy.

“Ada, di dalam, sudah tidur. Ada apa?” tanya Nando.

“Ini, titipan Bibi Seo sore tadi. Aku lupa memberikannya,” Wendy berkata, pura-pura melupakan kejadian yang dilihatnya sore tadi—tentang Nando dan si gadis selingkuhan—karena Wendy tahu, membicarakan hal itu sekarang dengan Nando akan membuatnya merasa tidak nyaman.

Lagipula, Wendy sudah menarik kesimpulan sore tadi. Bukannya Nando tidak mau menyapa Wendy, atau pemuda itu berpikir Wendy sengaja memasang akting sombong dan tidak menyapa. Tapi Nando sedang melakukan kesalahan, itulah mengapa dia memilih untuk tidak menyapa Wendy, dan langsung pergi begitu saja.

Kalau memang Nando tidak sedang melakukan kesalahan, pasti dia akan menyapa Wendy, bukan?

“Oh, iya, terima kasih.” Nando menerima bungkusan kecil yang Wendy ulurkan.

“Iya, sama-sama.” Wendy menjawab, gadis itu baru saja hendak berbalik meninggalkan rumah keluarga Seo saat dehaman lain lolos dari bibir Nando.

“Ada apa?” tanya Wendy.

“Tidak, kamu bilang apa pada Hanna?” tanya Nando tanpa basa-basi. Sejenak Wendy terjebak dalam keterkejutan, bisa-bisanya Nando bertanya setenang itu padahal dia sudah melakukan kesalahan cukup fatal.

Hey, bukannya Wendy berlebihan, tapi selingkuh itu memang tidak baik, bukan?

“Apa? Aku tidak bilang apa-apa.” kata Wendy.

“Benarkah? Dia bilang salah seorang kenalanku memberitahunya tentang kejadian sore tadi.” Nando meletakkan bungkusan milik Bibi Seo di atas meja kecil yang ada di teras rumah, sementara sekarang pandangnya menguliti Wendy.

“Aku tidak bilang apa-apa, sungguh.” Wendy berkeras, dan memang dia harus berkeras, sebab Wendy memang tidak mengatakan apapun pada Hanna.

“Kalau bukan kamu, siapa lagi? Ibu bahkan tahu tentang kejadian itu.”

“Aku tidak bilang apa-apa, Nando.” lagi-lagi Wendy menekankan kalimat yang sama, dia tidak salah, dan sungguh, Wendy tidak mengerti mengapa Nando sekarang menyudutkannya, menuduhnya seolah Wendy yang bersalah kalau ada yang tahu tentang perselingkuhan Nando.

“Aku mengenalmu dengan baik, Wen.” Nando berucap, ia sunggingkan sebuah senyum mengejek, seolah yang Wendy katakan sedari tadi adalah sebuah kebohongan.

Bodohnya, Wendy justru tersudut, gadis itu dengan frustasi menyandarkan tubuhnya di tembok ruang kecil yang ada di bagian depan rumah keluarga Seo, sementara Nando sekarang berdiri di hadapannya.

Ugh, sungguh, kalau saja wajah pemuda dihadapannya tidak serupa dengan Johnny, pasti Wendy sudah sarangkan satu atau dua pukulan di wajah pemuda itu. Tapi tidak, Wendy masih cukup waras untuk tidak memukul Nando.

“Kamu selingkuh atau tidak, itu urusanmu, kamu bukan anak kecil dan aku juga begitu. Aku tidak punya hak atau keinginan untuk mengadukanmu, apalagi pada Bibi Seo. Untuk apa aku mengadukanmu pada Hanna? Apa untungnya buatku?” Wendy sekarang membela diri, kalau boleh jujur, Wendy tidak suka pada sikap Nando—yang seenaknya mempermainkan hati wanita—tapi Wendy lebih tidak suka lagi dituduh membabi-buta seperti ini.

“Aku tahu kamu pasti kesal karena Hanna tahu kelakuanmu. Tapi aku tidak begitu, aku bukan seorang yang dengan kekanak-kanakannya senang mengadukan orang lain. Kamu bisa menyelesaikan masalah itu sendiri dengan Hanna.” Wendy berkata.

Mendengar kalimat pembelaan yang Wendy berikan, Nando justru menghembuskan nafas kasar, ia bahkan memutar bola matanya jengah, membuat Wendy tahu kalau sebelum dia datang, Nando pasti berdebat cukup hebat dengan Hanna, atau bahkan, dia juga mendapat omelan dari Bibi Seo.

“Cuma kamu yang dekat dengan Ibu, Wen, Hanna bahkan tidak punya nomor telepon Ibu untuk bisa mengadukan kelakuanku. Menurutmu siapa lagi yang bersikap kekanak-kanakkan dan mengadukanku?” Nando kini menyudutkan Wendy, sengaja ia kurung gadis itu di antara kedua lengannya yang ia tambatkan ke tembok, sementara si mungil di hadapannya menatap tidak percaya.

“Kamu bilang kamu mengenalku dengan baik, pasti kamu tahu aku bukan orang seperti itu. Aku bahkan tidak pernah peduli, mau kamu berselingkuh, atau apa, semuanya terserah padamu. Kamu sudah dewasa, aku tahu kamu punya alasan melakukannya, meskipun sebenarnya yang kamu lakukan itu mengesalkan.”

Sudut bibir Nando terangkat saat mendengar ucapan Wendy.

“Iya, aku memang mengenalmu dengan baik, dan aku memang punya alasan untuk melakukannya. Tapi sayang, aku sepertinya sudah tidak mengenalmu lagi sejak dia datang, Wen. Bukannya kamu memang sengaja mengadukanku pada Hanna dan Ibu? Supaya dia memperhatikanmu dan—”

“Nando! Cukup! Jangan bicara sembarangan kalau kamu tidak tahu apa-apa!” Wendy memekik tertahan, tahu benar siapa ‘dia’ yang Nando maksud di sini. Sungguh, Wendy tidak datang malam-malam begini untuk berdebat dengan Nando. Wendy juga tahu benar, dari emosi yang Nando luapkan pada Wendy sekarang, dia pasti mengalami perkelahian yang cukup serius dengan Hanna.

“Kenapa? Ucapanku benar, bukan? Kamu—”

Hey, cukup, kamu tidak dengar dia menyuruhmu untuk diam?” tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi.

Rupanya, Wendy dan Nando sudah berdebat cukup serius sampai-sampai tidak sadar kalau seorang lagi sudah datang dan mendengar keributan mereka barusan, Johnny.

“Jauhkan tanganmu darinya, Nando. Kalau kamu ketahuan berselingkuh, bertanggung jawablah selayaknya lelaki. Jangan luapkan kemarahanmu pada orang yang tidak bersalah.” vokal Johnny terdengar, pemuda itu tampak memasang ekspresi kaku yang tidak bisa Wendy artikan.

Setelan gelap yang ia kenakan serta helm hitam yang sekarang ada di tangan, membuat Wendy teringat kalau pemuda yang sejak tadi ingin dilihatnya itu tidak ada di rumah. Dan tunggu, sejauh apa Johnny mendengar perdebatan mereka?

“Kamu yang tidak tahu apa-apa, John.” Nando berucap, ia jauhkan juga tubuhnya dari Wendy sebab ekspresi kaku Johnny sejak tadi masih mendominasi.

“Apa yang aku tidak tahu? Kamu yang hobi bermain dengan gadis-gadis? Atau kamu yang hobi ke club malam untuk minta dituangkan alkohol oleh wanita penghibur?” Johnny berucap dengan nada dingin. “Aku tahu semua kelakuan mengerikanmu meskipun aku tidak di sini.” imbuhnya.

“Oh ya? Lalu sebaik apa kelakuanmu? Tidur dengan Nancy, kamu pikir kamu lebih baik daripada aku?” ucap Nando membuat hati Wendy tercubit, diam-diam Wendy yakin Nando sengaja bicara begitu supaya Wendy mendengar.

“Jangan buat aku menghajarmu, kamu tahu aku bukan orang yang suka bercanda bukan?” Johnny berucap, pemuda itu segera mengikis jarak, dengan cukup kasar Johnny menepuk bahu Nando dengan helm yang ada di tangannya.

“Masuk sana.” titah Johnny.

“Kamu mengajakku bertengkar, kakak?” tanya Nando dengan nada sarkatis.

“Kamu benar-benar mau kurontokkan gigimu, hah? Masuk sana, berhenti bicara omong kosong dan berhenti menakuti Wendy.” Johnny berkata dengan nada meninggi.

Mendengar ucapan Johnny, Nando akhirnya mendengus muak.

“Kalian sungguh punya sifat serupa.” gerutunya kesal sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Johnny dan Wendy yang kini membeku dan menciut ketakutan.

Pasalnya, Wendy ingat benar kalau semasa sekolah Nando adalah seorang murid baik-baik tapi mengerikan. Nando pernah hampir menjadi korban bully murid-murid laki-laki kalau saja dia tidak tiba-tiba punya kemampuan menghajar murid-murid itu.

Wendy tidak mengenal Johnny sebaik dia mengenal Nando. Tapi Wendy tahu Nando bukan seorang pemuda yang lemah dalam urusan beradu fisik. Kalau Nando saja sudah undur diri karena kalimat yang Johnny utarakan, lantas sosok seperti apa pula Johnny kalau dalam urusan beradu fisik?

Membayangkannya saja sudah membuat Wendy bergidik ngeri.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Johnny menyadarkan Wendy.

Perlahan, Wendy mengangguk, nafas terengah-engahnya karena kesal tadi kini sudah bisa berangsur-angsur normal. Meskipun masih ada secuil ketakutan karena pertengkaran kecil dua saudara itu.

“Nanti aku akan bicara dengannya, dia pasti sudah salah paham padamu. Soal yang Nando katakan tentangku dan Nancy, jangan dipikirkan. Nando pasti sudah lupa diri sampai-sampai memperlakukanmu seperti gadis-gadis lain yang dia permainkan hatinya. Padahal, kamu sama sekali tidak sama dengan gadis perusak hubungan orang yang Nando kencani di belakang Hanna.”

Ragu-ragu, Wendy mengangguk.

“I-Iya, tidak masalah, aku pulang dulu, John. Terima kasih karena sudah membantu.” tanpa menyahuti kalimat panjang Johnny dengan kalimat yang sama panjangnya, Wendy justru memilih pergi.

“Iya, beristirahatlah, maaf karena sudah membuatmu kesal malam-malam begini.” Johnny berucap, ia sunggingkan sebuah senyum kecil pada Wendy yang kemudian mengangguk dan melangkah keluar rumah.

Mengabaikan keinginannya untuk bicara lebih banyak dengan Johnny, Wendy justru merasa kalau kali ini ia sudah sepantasnya memilih pergi.

Mengapa? Karena Wendy diam-diam menyadari kalau ucapan Johnny memang benar adanya. Wendy sama sekali tidak sama seperti gadis-gadis yang Nando jadikan selingkuhan. Ada secuil kebahagiaan dalam hati Wendy saat mendengar Johnny beropini sebaik itu tentang dirinya.

Tapi kenapa… kenapa di lain sisi hati Wendy justru berkeretak patah?

Apa karena secara tidak langsung Johnny sudah menyinggung Wendy yang diam-diam berusaha mendekatinya? Jika Wendy tetap bersikap seperti sekarang, bukankah Wendy pada akhirnya akan sama saja seperti gadis-gadis perusak hubungan orang lain itu?

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Yaampun, ini rasanya jadi series terpanjang dari enam series Anak Ibu Kost yang udah ada, LOLOL. Semangat banget sih ngetik bagian ini sampe-sampe engga nyadar udah dapet dua kali lipatnya series yang sebelumnya /alasan ae Rish, bilang aja lagi doyan ngetik/.

DAN YA, MASJOHN, KEMARIN UDAH PHP, SEKARANG MALAH NYINDIR, ITU MULUT MAUNYA BEGIMANA? WENDY KASIAN LOH, KOKORONYA GALAU MULU GEGARA PERKATAAN ENTE YANG ENGGA BISA DIPAHAMIN. Kebanyakan kode sih si MasJohn jadi DekWen bingung.

Duh, mengingat ide buat John-Wen-Nan ini agak-agak lancar jadi bisa sengak gitu ngepost rutin dua hari ini, LOL, padahal sinyal buat ngepost juga satu-dua karena lagi mudik, huhu. Nah, sekian dariku, semoga besok bisa menyapa lagi lewat series ini. Sincerely, Irish.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

5 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Selingkuh

  1. Aduh, si wendy tambah keretek-keretek dah sama si Johnny, kapan wendy bahagia Ya Allah??? TT
    Kira-kira siapa yg ngasih tau hanna sama ibunya nando ya? Masa si Joy? ‘Kan nggak mungkin…(kali aja namanya nebak hehe)
    Itu si johnny sama nando sampai mau ribut gitu. serem juga tuh saudara kembar kalau ribut, tapi untung juga si johnny dateng kalau nggak si wendy disudutin terus sama si nando
    Dan juga anak orang jangan di php-in terus john, kasian itu si wendy ‘kan dia kan juga butuh kepastian XD (maaf ya kak jadi nyampah dilapaknya :D)
    Btw, salam kenal ya kak, aku Alda 02L dan aku ngefans banget sama kak Irish. semoga idenya lancar terus ya buat ngelanjutin nih series, HWAITING! ^^

    Like

  2. Hengghhhh yaa mau gimana lagi ya wen, udah kadung ketuduh dan kamu juga tersudut huhuhu….. untung aja ada mas john yang nolongin….

    Walaupun pada akhirnya teteup ada perasaam ga enaknya.

    Ya udah banyak2 berdoa kalo jodoh enggak kemana kekekkeke

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s