[NCTFFI Freelance] Karena Johnny (Oneshot)

Karena Johnny

Starring

[NCT’s] Johnny Seo [OC’s] Stanzi Ji

.

Comedy, Romance (gagal) || Teen

Oneshot by Rijiyo

.

.

“Johnny itu… asdfghjkl.”

.

.

Sudah seminggu dia jadi tetangga—menyebalkan—di sebelah rumahku. Teman-teman bilang dia ganteng, tapi menurutku dia biasa-biasa saja. Biar kuceritakan padamu bagaimana awal mula aku bertemu dengannya. Usut punya usut, nama aslinya Seo Youngho, tapi dia lebih suka dipanggil Johnny. Sungguh, entahlah, ini sedang membahas Johnny si Tetangga Baru atau malah mau membahas perbuatan tak wajarnya padaku sejak pertama bertemu. Tidak tahu, dan tidak mau tahu karena sejujurnya tidak penting.

Jadi begini….

“Stanzi, cepat bawakan ini untuk tetangga baru kita. Mama sudah menyiapkan kue beras dan ramen telur.” Mama memanggilku yang sedang bermain komputer di kamar.

Aku berdecak. “Kenapa enggak suruh kak Hansol?”

“Kakakmu lagi mengerjakan PR. Enggak boleh diganggu.”

“Tapi Stanzi juga lagi mengerjakan PR, Ma. Lagian kenapa mereka pindah pas turun salju begini, sih?”

“Zi?” Nada suara Mama terdengar lebih rendah, tanda kalau beliau bersiap mengomel.

Akhirnya aku berdiri sambil cemberut. “Iya, iya. Mana?” tanyaku sambil menerima semangkuk kue beras dan ramen telur.

Awalnya aku malu karena baru pertama kali ini disuruh Mama masuk ke rumah tetangga baru. Biasanya kak Hansol, tapi sekarang dia jadi sok sibuk mentang-mentang dicalonkan menjadi ketua OSIS.

Rumahnya rapi, perabotannya di dominasi warna cokelat. Ada foto seorang lelaki dan wanita sepuh di ruang tamu. Ah, iya, aku langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu karena siapa suruh pintunya terbuka sebegitu lebar? Aku mengucapkan “Halo” beberapa kali karena masih ragu kalau mau memanggil namanya. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menunggu sesosok jangkung itu muncul. Aku menganga sepersekian detik, aku bahkan sempat salah fokus dengan rambutnya yang mirip jambul. Aku yakin perutku sebentar lagi meledak karena menahan tawa. Makanya, aku segera mengucapkan selamat datang dan memberikan makanan pemberian Mama agar bisa segera pergi dan tertawa sepuasnya di rumah.

“Duduk dulu. Kamu, kan, baru ke sini,” ucapnya sambil mendorong tubuhku hingga terjatuh di sofa.

Dia mondar-mandir di depanku seperti setrika. “Kamu mau minum apa? Jus? Kopi? Teh panas? Es buah? Atau susu?”

Aku tersenyum berusaha bersikap manis. “Enggak usah, makasih.”

“Bagus. Di sini memang enggak ada apa-apa.”

Memilih diam, aku pun memperoleh hidayah agar belajar teori makro ekonomi yang mencakup seperti pembelanjaan, penanaman modal, pendapatan nasional, serta ekspor-impor yang ternyata aku sadar bahwasanya tidak paham karena sejatinya aku anak modeling. Aku memang begini. Mendadak suka lupa diri bila melihat jelmaan syaiton di hadapanku.

“Kudengar kakakmu namanya Hansol, ya? Kuberi tahu, dia dulu pernah membuatku dan teman-temanku mengalami bencana paling buruk sepanjang sejarah,” urai Johnny. Dia tiba-tiba menempel di sampingku. Tangannya bergerak-gerak seakan memperagakan setiap kalimat yang diucapkan. “….Katanya dia jago bela diri, ya? Wah, enggak kusangka cowok kampret seperti itu ternyata hebat juga.”

“Jangan menghina Kakakku.”

“Aku enggak menghina. Aku sendiri heran, kupikir Nenekku bohong saat bilang kalau cewek cantik anak tetangga berambut panjang itu adiknya Hansol.”

“Aku pulang dulu.” Aku bangkit dan melangkah menuju pintu.

Johnny menahan tanganku. “Aku belum tahu namamu—“

“Youngho, siapa yang datang?”

Aku berbalik lagi ketika mendengar suara lembut dari belakang. Mungkin itu neneknya. Aku pun memberi salam dan beliau tampak terkesan dengan sikapku.

“Nek, sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama kuno itu, panggil aku Johnny Chramesoumb, oke?” katanya.

Sedangkan Nenek itu menggeleng. “Nama sebagus itu mau diubah menjadi Joni Kromosom—apa?”

“Saya pamit,” ucapku kedua kalinya, mengabaikan ke-absurd-an Johnny.

Namun sialnya Johnny menahan tanganku lagi. “Namamu Stanzi, kan? Namaku Johnny Chrame—”

 “Aku enggak peduli.”

“Aku juga.”

Dan setelah itu aku melengos pergi sampai lupa mengucapkan salam pada neneknya.

Pokoknya seperti itu. Tamat.

.

.

.

Sebut saja Johnny Kromosom.

Namanya saja sudah terdengar menyebalkan, kan?

Aku sering mendengarnya menyanyi keras-keras di dalam kamarnya saat aku tengah menjemur pakaian. Kuakui suaranya memang lumayan jika dibandingkan denganku. Aku pernah masuk ke kamarnya karena pada saat itu Nenek Seo menyuruhku mengambil majalah. Kamu tahu? Kamarnya terlihat seperti baru diserang Negara Api! Di kasur dan meja belajarnya terdapat banyak kertas coretan dan DVD. Ugh, cowok memang jorok. Bagaimana ia bisa tidur nyenyak kalau keadaan kamarnya sangat mengerikan begitu?

“Zi?”

“Apa?!”

“Astaga. Galak sekali.”

“Kakak kenapa ke sini? Biasanya, kan, sok sibuk biar enggak disuruh Mama.”

“Zi, menurut hadist riwayat Bukhori ; menuduh itu enggak baik. Aku cuma mau bilang kalau kamu ditunggu Johnny kampret di depan rumahnya.”

“Untuk apa?”

“Mana kutahu.”

“Kenapa enggak tahu?!”

“Soalnya aku memang enggak tahu!”

Setelah menginjak kaki kak Hansol, aku pun berjalan menuju beranda depan rumah Si Anak Kromosom itu. Tapi ngomong-ngomong, kenapa aku jadi gugup begini, ya? Aku tidak mungkin gerogi karena Johnny. Tidak level! Hueeek!

.

.

.

“Kamu mencariku?”

“Aku baru saja menciptakan lagu. Mau dengar?” tanya Johnny sambil tersenyum.

“Enggak.”

“Kenapa? Lagu ciptaanku bagus-bagus, lho.”

“Masa, sih?” ucapku dengan nada mengejek.

Dia tampak agak tersinggung. Namun cepat-cepat berdalih. “Aku sangat tertarik pada musik, makanya aku suka membuat lagu, terkadang Taeyong dan Jaehyun membantuku. DVD yang ada di kamarku itu hadiah dari fans. Aku hanya benar-benar suka seseorang saat masih kecil,” jelasnya.

“Benarkah? Tapi, aku enggak tanya.”

“Apa sudah ada yang bilang kalau kamu itu kurang ajar?”

“Yang ada, mereka bilang Stanzi itu cute.”

“….”

“Kalau sudah selesai, aku pamit dulu. Daaaah.”

“Tunggu!”

Apa lagi yang dia inginkan, sih? Dia tersenyum senang setelah tiba-tiba berdiri, lalu duduk kembali. Mereka—para fans—membelikan DVD itu begitu saja kepadanya? Bagaimana bisa bocah tengil seperti dia punya penggemar? Lagipula, sepertinya para fans itu  sudah buta. Apa bagusnya, sih, anak kurang ajar seperti dia?

“Dengarkan dulu laguku. Baru kamu boleh pergi.”

“Aku enggak mengerti soal musik.”

“Enggak apa-apa. Aku juga enggak berharap kamu tahu.”

Melihatku yang masih tampak tidak tertarik, dia pun mulai menyanyikan lagunya dengan penuh penghayatan. Lirik lagunya benar-benar membuatku terkejut. Ternyata cowok semenyebalkan dia bisa menciptakan rentetan lirik yang mampu membuatku sedikit luluh, hingga tanpa sadar aku pun ikut menikmati lagunya.

Dalam senyummu yang secerah musim semi ~ Kamu selalu menjadi cahaya bagiku yang telah lelah oleh dunia~

Di hari ketika bintang berhamburan, rembulan tampak ikut berpendar kebiruan ~ Langkah kakimu yang begitu kukenal, terus berjalan menghampiriku dari depan ~

Kamu datang dengan membawa kehangatan lewat dekapanmu ~ Bahkan ketika musim dingin datang lagi, kita akan tetap berjalan bersama di ujung jalan yang gelap ~ Jika kamu terus menggengam tanganku, dunia yang keras ini pun akan seperti musim semi~

“Wah, lagumu keren,” pujiku tulus bercampur heran, kedamaian pagi sedikit kuhancurkan lantaran aku kepo—ya, walaupun tidak ada yang menyuruh, sih, inisiatif kepo sendiri kok. Dan dengan amat-sangat-super-duper terpaksa, mau tak mau aku bertanya, “Kamu sudah lama punya hobi ini?”

“Lumayan. Kan aku sudah bilang kalau laguku bagus-bagus. Johnny Chramesoumb harusnya jadi komposer terkenal dan bisa berduet dengan Simon Cowell atau Paulina Rubio.”

“Oh ya, kenapa, sih, namamu harus ada kromosom-nya?” Lagi-lagi aku kepo. Sial. Ini bukan kemauanku, sumpah.

“Bukan Kromosom, tapi Chramesoumb,” balasnya. “Entahlah, aku suka nama-nama orang Chiccago, soalnya Almarhum ayahku asli Chiccago. Biasanya nama mereka, kan, aneh-aneh seperti orang Jerman.”

Aku hanya ber-oh ria (sumpah itu alasan paling konyol yang pernah kudengar), kemudian pamit pulang karena tugas rumah belum selesai.

“Ini, kan, hari minggu. Bukannya hari minggu hari bersantai?”

“Kamu pikir aku cewek enggak berguna sampai harus merelakan waktu berhargaku cuma untuk santai bersamamu?”

“Kamu, kan, sudah mendengar suaraku, harusnya kamu bisa balas budi! Suaraku ini Limited Edition dan enggak sembarang orang bisa mendengarkannya.”

“Harusnya kamu yang balas budi karena aku mau meluangkan waktu untuk mendengarkan suara Limited Edition-mu itu.”

“Dasar cewek menyebalkan!”

“Dasar cowok jorok!”

Aw!”

Setelah menginjak kaki kirinya dengan sekuat tenaga, aku berlari meninggalkan rumahnya sambil bersumpah kalau aku adalah gadis paling sial di dunia.

.

.

.

Kami selalu bertengkar, dan selamanya akan tetap seperti itu. Johnny bukan tipe cowok pendiam seperti Jaehyun. Ah, Jung Jaehyun. Aku sudah menyukainya semenjak masuk SMA Jeguk. Dia adalah cassanova di sekolah.

Aku mondar-mandir di depan pagar rumah sambil memegangi secarik kertas. Itu adalah surat cinta untuk Jaehyun. Aku sangat gelisah karena ini baru pertama kali aku membuat surat untuk cowok yang kukagumi. Dan gara-gara surat ini, aku sampai tidak bisa tidur semalaman.

Srek!

“Hei, kembalikan!”

Johnny tiba-tiba merebut surat yang tengah kubawa itu dan melambai-lambaikannya di udara. Aduh, bagaimana kalau nanti dia membacanya?

“Sini kembalikan! Atau kugigit tanganmu!” Aku melompat-lompat, berusaha menjangkau tangan Johnny. Kenapa dia tinggi sekali, sih? Aku jadi tambah kesal.

“Silahkan gigit.”

“Kamu menantangku, ya? Oke.”

“AAAAAAAAAAARGH!”

Aku menggigit lengan Johnny sekuat tenaga, dan cowok itu langsung menjerit sambil mendorong kepalaku ke belakang tanpa melepaskan surat itu dari tangannya. “Kamu ini manusia atau kanibal, sih?” Johnny mengelus-elus lengannya. Aku hanya menatapnya sinis sambil terus merengek meminta suratnya.

Johnny pun berlari ke rumahnya tanpa memedulikanku yang terus menggedor-gedor pintu. Di rumah Johnny sedang sepi, jadi dia punya kuasa lebih untuk melakukan apa pun—termasuk membiarkan tetangganya ini merusak pintu rumahnya. Aku tidak tahu apakah Johnny langsung  membaca surat itu atau tidak. Kalau dia sampai membacanya, aku yakin kalau dia akan tertawa puas sampai menangis. Dia kan sangat kejam, dan sudah bisa dipastikan kalau besok dia akan mengejekku habis-habisan. Aku mengingat kembali tentang apa yang sudah kutulis untuk Jaehyun.

Untuk Jung Jaehyun…

Halo, namaku Stanzi, teman sekelas Illa dan tetangganya Johnny. Aku sangat menyukaimu mulai dari pertama pindah sekolah. Aku suka kamu soalnya kamu cool dan pintar. Serius!

Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar, belum? Cuma tanya, sih, hehehe ^^

Aduh, maaf ya kalau kata-kata yang kutulis ini berantakan 😀 Tapi kuharap kamu mau membalas suratku. Setidaknya kamu harus memberiku jawaban. Kalau bisa, balasnya jangan lama-lama ya J

p.s : Habis dibaca, kertasnya jangan dibuang.

Stanzi adiknya Hansol ^^

Aduh, Tuhan! Bunuhlah aku sekarang!

Aaaahhhh!

.

.

.

Keesokan paginya

“Ini. Kukembalikan surat cinta konyolmu.” Johnny menyodorkan surat milikku saat aku baru menutup pagar rumah dan akan berjalan ke sekolah.

Aku yang baru saja menangis seharian karena jengkel pun hanya menggeleng sambil menepis tangan Johnny. Aku benar-benar membencinya melebihi neraka. Selain masih marah atas perlakuan Johnny kemarin, aku juga malu karena bisa dipastikan kalau dia telah membaca suratku dan tertawa sampai puas.

“Hei, aku minta maaf. Jangan marah, dong, bisa-bisa nanti aku dibunuh Hansol.”

“Kenapa?”

“…?”

“Kenapa kamu suka menggangguku?! Aku benci sama kamu, dan kenapa kamu enggak pernah paham?!” Aku berteriak di depan mukanya. Aku sangat malu karena tulisan amburadulku baru saja dibaca orang lain. Aku malu. Malu sekali. Sumpah.

“Makanya aku minta maaf. Aku janji enggak akan memberitahukan tentang surat itu pada siapa pun,” bujuk Johnny. “Lagian surat kayak gitu siapa yang mau baca? Harusnya kamu punya cara yang lebih modern. Jaehyun bukan cowok yang suka menerima surat cinta.”

Aku melotot. “Jangan menghina tulisanku! Begini-begini, aku menulisnya dengan hati, tauk!”

“Bukannya menulis itu pakai tangan, ya?”

Ya Tuhan ya Kudus ya Santa ya Bunda….

“Oke, aku pakai cara modern; aku akan bicara langsung padanya.” Aku berjalan dengan terburu-buru menuju jalan raya. Tapi saat aku menyebrang di zebra cross, Johnny menarik tanganku.

“Apa kamu enggak malu menyatakan perasaanmu? Jaehyun itu sudah punya pac—“”

“Aku akan lebih malu kalau harus bertengkar denganmu di jalan raya begini!” Aku melepas genggaman Johnny dan segera berjalan di zebra cross cepat-cepat, meninggalkan Johnny yang mematung dengan wajah konyol.

.

.

.

Aku berlari ke kantin, kamar mandi, ruang basket, gymnasium, aula klub judo, ruang kelas, sampai atap gedung. Tapi Jaehyun tidak ada di mana-mana. Kalaupun Jaehyun ada, apa aku sungguhan berani menyatakan perasaan konyolku ini? Soalnya tadi aku hanya asal bicara agar tidak diledek Johnny.

Tunggu—

Bukankah itu Jung Jaehyun?

Tapi, dia dengan siapa?

Seorang gadis?

Bagaimana perasaanku saat ini, ya, melihat Jaehyun yang sedang merangkul cewek di taman belakang sekolah? Sakit? Kaget? Takjub? Apalagi cewek itu teman sekelasku, namanya Luisa. Apa aku tidak perlu menyatakan perasaanku? Harusnya aku, kan, cemburu. Aku bahkan tidak merasa sakit hati sama sekali. Masa rasa sukaku selama ini tidak lebih dari sekedar kagum? Tapi aku selalu berdebar kalau berpapasan dengannya. Aku bahkan sering berkhayal jadi istrinya (fyi -_-.

Persetan bagaimana kata hati. Aku berlari menghampiri mereka berdua dan memasang ekspresi datar. “Jaehyun, aku menyukaimu.”

“Maaf?” balas Jaehyun.

Luisa ikut melongo.

Sumpah, aku langsung mati kutu. Aku memang sedang memberitahukan perasaanku, karena memendam perasaan seorang diri itu tidak baik untuk kesehatan. Lalu, sebelum Jaehyun kembali berbicara, seseorang menarik tanganku.

“Maaf, ya, Jaehyun. Dia memang agak sinting, jadi mohon dimaklumi.”

Johnny?

“Hei, kenapa kamu bisa ada di sini—“

“Aku memang harus ke sini untuk mengurusi cewek sepertimu.”

Ini benar-benar gila.

Johnny menarik tanganku menuju depan kelas. Lagipula dia tahu dari mana kalau aku ada di sini?

“Lepaskan tanganku!” seruku.

“Kenapa kamu masih nekat memberitahukan perasaanmu? Jaehyun, kan, sudah punya pacar.”

“Lagi pula untuk apa lagi kamu mencariku? Masih belum cukup, ya, pertengkaran kita pagi tadi?”

“Apa, sih, yang membuatmu jadi begitu pemarah?”

Aku terdiam.

“Dengarkan aku dulu, Stanzi.…”

Sebenarnya apa, sih, yang diinginkan anak ini? Dia mungkin akan mengatakan tentang lagu-lagu ciptaannya atau menyuruhku untuk mendengarkan lelucon basinya yang sama sekali tidak lucu itu.

“Setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu punya inspirasi untuk menulis lagu. Dan sebagian besar lagu ciptaanku itu bercerita tentangmu.”

Apa yang dia katakan barusan?

“Aku enggak paham,” jawabku lugu.

“Tentu. Kamu, kan, memang bodoh.” Johnny mengacak rambutku beberapa kali, lalu berjalan dengan santai menuju kelasnya. Aku agak bingung mendengar kalimatnya tadi. Kenapa rasanya begitu ganjil, ya? Lalu, saat aku berbalik badan hendak masuk kelas, aku kembali mendengar suara Johnny. Dia meneriakiku dari belakang dan sukses membuat jantungku hampir rontok.

“Stanzi, ingat baik-baik kalau aku enggak bakalan kalah ganteng dari Jaehyun. Seminggu ke depan kamu pasti akan berubah pikiran dan memintaku jadi pacarmu.”

Johnny Kromosom itu cowok jahat. Percayalah!

Aaaaaaaaaaaaaaaargh!!!

.

.

.

.

.

_Fin_

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Karena Johnny (Oneshot)

  1. satu2nya yang bikin aku enggak paham itu narasi tentang mikro ekonomi. apa nyambungnya ya sama kegabutan dia waktu dipersilakan duduk sama johnny?
    hahaha ngakak hadis riwayat bukhori pake nyempil.
    wahh rijiyo, tulisanmu jadi makin bagus di tiap ff. ini sudut pandangku sebagai pembaca loh ya, bukannya aku sok master atau gimana. tapi pemilihan diksimu emang unik.
    nice fic, keep writing ~~

    Liked by 1 person

    • Kyaaaa mbalel~ Yg narasi tentang makro bla-bla-bla itu sebenernya juga ngawur. Kan zizi jadinya suka ngelantur kalau ketemu om John ehe ❤ ❤ ❤ Hadist riwayat bukhori harus ikutan nyempil demi kemaslahatan kita semua :))

      Thankseu dah baca & komen mbalel ❤

      Like

  2. Jhonny kromosom wkwk ._. Jadi inget mapel bio ngek ngek

    duh Jhonny beneran bisa menang ganteng dari Jaehyun? Emang bakal Hansol restuin kamu taken sama Stanzi?

    Wkwkwk

    lucu ffnya.
    Ada after story ga? Seminggu kemudian-nya gitu… Hehe.

    Like

    • Halo kak-Hanachie. Sebelumnya makasih sudah baca & komen ff receh ini ehe ❤ ❤ ❤

      Johnny gak kalah ganteng kok dari Jaehyun, itu emang Stanzi aja yg terlalu sinis sama dia sampe gk mau ngaku xD After Story??? Hmmm gimana ya??? Ihik ditunggu aja ya kak 😀 😀

      Like

  3. “Zi, menurut hadist riwayat Bukhori ; menuduh itu enggak baik”

    Serius aku beneran ngakak baca ini >< /sakit perut nahan ketawa\. Masalahnya sejak kapan si Hansol tobat wkwk. Ya Allah ini ceritanya ahahahaa

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s