[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 16 – END)

mylesbianroommate

|| Cast : Jaehyun, Chaeyeon, Yeri, Cha Eun Woo | Genre : romance, hurt/comfort, college-life | Rating : PG-17 ||

Warning : Mature content

.

.

.

Chaeyeon telah sampai di apartemen nomor 315—tempat Jaehyun tinggal. Terjadi pergolakan batin dalam dirinya, bertanya-tanya apakah mendatangi Jaehyun hari ini adalah keputusan yang tepat atau tidak. Tangannya terjulur untuk menekan bel, meskipun ia ragu. Tanpa perlu menunggu lama, seseorang pun langsung membuka pintu dari dalam.

Raut cemas Chaeyeon seketika berubah terkejut. Mendapati sosok Jaehyun di hadapannya dengan penampilan yang berbeda—meskipun ini bukan pertama kali ia melihatnya—membuat degup jantung Chaeyeon mencelos. Jihyun yang sangat ia apresiasi eksistensinya kini tak lagi ada.

“Chaeyeon?” Jaehyun menorehkan raut kebingungan.

Dilihat dari cara Jaehyun menatap, Chaeyeon memprediksi pertemuan pertama mereka setelah kejadian di area asrama tempo hari akan terasa canggung. Pria itu belum sekali pun menunjukkan ekspresi bersahabat.

“Hai.” celetuk Chaeyeon sekenanya, tanpa memanggil nama sapaan atau menggunakan honorfik. Ia kelewat bingung harus dengan apa ia memanggil Jaehyun.

“Ma, masuklah dulu…” Jaehyun mempersilakan dengan sedikit terbata. Pemuda itu lantas mengambil langkah untuk memasuki apartemennya. Mau tak mau Chaeyeon pun mengekorinya dari belakang.

Gadis Jung itu berharap jantungnya tetap baik-baik saja. Gugup, takut, bimbang, semuanya bercampur hingga membuat tubuhnya bergetar. Punggung yang sedari tadi ia pandangi tiba-tiba berhenti dan otomatis membuatnya ikut menghentikan langkah.

Chaeyeon tak pernah menduga bahwa hal yang selanjutnya Jaehyun lakukan adalah membalikkan badan. Kemudian mengambil beberapa langkah untuk mendekat, mengikis jarak antara dirinya dengan gadis itu.

Sebuah dekapan Jaehyun berikan kepada Chaeyeon untuk menyalurkan seluruh hasratnya yang lama terpendam paska perpisahan mereka. Yang dipeluk masih belum membalas dengan reaksi apa pun. Ia tetap berdiri tegak di posisinya semula.

“Aku rindu sekali padamu,” bisik Jaehyun lembut. Frasa itu bagai air hujan yang menyirami taman hati Chaeyeon yang telah lama tandus sejak kepergiannya. Tangannya perlahan menggeladik untuk dilingkarkan pada pinggang pria yang tengah mendekapnya erat itu.

“Aku tahu aku memang pengecut. Tapi terima kasih kau sudah mau datang menemuiku…” lanjutnya seraya menelungkupkan wajah Chaeyeon ke dalam pelukannya.

Chaeyeon tak kuasa meloloskan buliran air mata dari pelupuknya. Membuat kaus putih yang membalut dada bidang Jaehyun terbasahi oleh air mata. Mereka tetap saling dekap, menyalurkan kerinduan yang telah lama menyiksa batin keduanya.

Rengkuhan itu perlahan dilepaskan oleh Jaehyun. Tangannya yang lebar ia gerakkan untuk menangkup pipi milik Chaeyeon. Ia seka air mata yang membuat pipi gadis itu memerah. Tak lama kemudian, ibu jarinya tiba-tiba berhenti bergerak dan lantas memiringkan wajah. Pemuda itu memejamkan mata, Chaeyeon tentu tahu apa yang ingin Jaehyun lakukan setelah itu. Entah dari mana ia mendapat bisikan, namun kini Chaeyeon juga melakukan hal yang sama.

Jaehyun tak lupa menyentuhkan telapaknya pada tengkuk Chaeyeon, mengarahkan kepala gadis itu ke posisi yang nyaman. Jaehyun pun membulatkan bibirnya setelah bibir mereka menempel dengan sempurna. Tangannya lantas menggeladik, menyusuri tiap sisi dari pipi bulat yang Chaeyeon miliki.

Bibir Chaeyeon yang membulat perlahan mengendur, kini wajah mereka jadi berjarak beberapa senti. Manik keduanya bertemu, dan mereka tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Aku juga rindu padamu.” sebuah ungkapan tulus secara tiba-tiba Chaeyeon ucapkan. Seulas senyum terkulum dari kedua sudut bibir Jaehyun setelah mendengar kalimat itu.

“Aku sangat mencintaimu.”  

“Ngomong-ngomong… sebelum aku ke sini, kau sedang sibuk melakukan apa?” tanya Chaeyeon untuk memecah hening.

“Kau yakin ingin tahu?” Jaehyun mengangkat sebelah alis dan dibalas anggukan polos oleh Chaeyeon.

“Oke, karena kau ingin tahu. Sebenarnya aku baru saja mandi dan berencana tidur cepat.” jelasnya sambil memasang ekspresi penuh makna tersirat.

Sebenarnya Jaehyun bohong. Jelas-jelas ia cuma menghabiskan seharian ini dengan bermalas-malasan. Mana mungkin ia bisa lelah dan sampai mengantuk? Itu hanya alibi. Karena kalau tidak pergi ke kamar secepatnya, Jaehyun bingung harus meladeni kedatangan Chaeyeon dengan cara seperti apa. Enggak mungkin, kan, mereka mengobrol panjang lebar sampai larut malam? Bukan, bukannya Jaehyun enggan berlama-lama menatap paras menggemaskan Chaeyeon yang telah lama ia rindukan. Namun harus diakui, meski sudah saling jujur mengenai perasaan satu sama lain, masih tersisa kecanggungan di dalam benaknya. Ya, semoga saja perasaan itu segera sirna seiring makin lamanya kebersamaan mereka.

“Mau menemaniku?” Tawaran nakal Jaehyun membuat Chaeyeon sontak membelalakkan mata. Namun sebelum gadis itu panik, terlebih dahulu si pria meluruskan ucapannya.

“Hahaha, lupakan saja… aku cuma bercanda.”

“Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu.” ucap si gadis dengan penuh sesal.

“Oh iya, apa kau sudah makan?” tanya Jaehyun dalam usahanya mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau Chaeyeon merasa bersalah karena datang ke apartemennya.

Gadis itu mengangguk, mengiyakan. Jaehyun menghela napas lega. Karena di dalam kulkasnya benar-benar tak ada bahan apa pun yang bisa diolah menjadi makanan layak konsumsi.

“Kau bermalam di sini saja, oke? Besok kita belanja bersama untuk memasak sarapan, bagaimana?” Jaehyun memberikan usul.

“Bermalam di sini?” pikiran gadis Jung itu langsung disambangi dengan khayalan aneh-aneh. Terang saja, siapa pun juga pasti akan panik, kan, saat mendengar seorang lelaki menawarkan hal semacam itu?

“Apartemen ini memiliki dua kamar.” jelas Jaehyun yang langsung berhasil menyingkirkan kepanikan Chaeyeon. Gadis itu pun tanpa pikir panjang langsung mengangguk, pertanda setuju.

“Ayo, kuantar ke tempat istirahatmu.” Jaehyun meraih tangan si gadis untuk ia genggam dan menuntunnya ke ruangan di sebelah kamarnya.

Setelah lampu dihidupkan, terlihatlah suasana ruangan yang berukuran cukup luas. Ada beberapa perabotan dari kayu serta lukisan berunsur realis. Chaeyeon tersenyum ke arah Jaehyun, tanda ia menyukai kamar yang akan ia gunakan untuk istirahat itu.

Tiba-tiba Jaehyun mendekat, melongokkan kepala dan memposisikan bibirnya tepat berada di depan telinga gadis itu.

“Ngomong-ngomong… aku enggak bercanda, lo, saat bilang ingin kau temani tidur.”

Chaeyeon kembali membelalakkan mata—dan ini sudah tak terhitung untuk yang keberapa kalinya. Ritme detakan jantungnya berubah tak beraturan karena kalimat profokatif yang diucapkan pemuda itu.

“Tapi itu kalau kau mau, aku enggak memaksa.” kata Jaehyun lagi. Ia pun menarik wajahnya dan kembali berdiri tegak.

“Selamat istirahat,” Jaehyun mengelus pucuk kepala Chaeyeon, kemudian melangkahkan tungkai untuk meninggalkan kamar.

“Aku ada di kamar sebelah jika kau butuh sesuatu.” tandasnya, lantas benar-benar pergi dari hadapan Chaeyeon.

Meski punggung pemuda itu telah benar-benar hilang dari pandangan, namun bisikan yang terasa penuh gairah itu terus terngiang di serebrum. Kakinya bergetar hebat seiring dengan degupan jantung yang kian tak karuan. Ia yakin Jaehyun tak main-main. Dan sekarang Chaeyeon tak tahu harus berbuat apa.

Terjadi kontradiksi batin dalam dirinya.

Haruskah aku pergi? Atau tetap berada di sini?

Di atas ranjangnya yang amat besar, Jaehyun tengah berbaring seraya berusaha memejamkan mata. Tiba-tiba ia mendengar suara engsel pintu berdecit. Saat menoleh, didapatilah sosok gadis berbalut dress putih tanpa lengan yang sedikit memamerkan belahan dada (Chaeyeon tentu melepas jaket tebal yang ia kenakan saat hendak tidur. Awalnya gadis itu pikir hanya perlu mampir sebentar—estimasinya cuma satu sampai dua jam—untuk membicarakan hal yang ingin ia sampaikan pada Jaehyun, kemudian kembali ke asrama. Namun siapa sangka pemuda yang ia cintai itu malah menganjurkannya menginap).

Mata tajam pria itu dengan tajam menyorotinya, membuat gadis itu makin gugup dan memperkecil laju tungkai.

Degupan jantung Chaeyeon pun dibuat mencelos saat melihat Jaehyun yang telah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana levis.

Oh Tuhan, mengapa dia tidak memakai atasannya?

 

Langkah Chaeyeon terhenti sebelum lututnya menyentuh ranjang berseprai putih bersih itu. Chaeyeon tidak siap, baginya ajakan Jaehyun terlalu buru-buru, namun ia terlalu takut untuk mengutarakannya. Ia khawatir Jaehyun akan pergi dari sisinya jika menolak. Bagaimana mungkin Chaeyeon membiarkan itu terjadi saat ia telah menyadari bahwa satu-satunya yang ia butuhkan adalah pria di hadapannya itu?

Jaehyun terkejut bukan kepalang. Ia pun beringsut dari posisi nyamannya di kasur untuk mendekat ke arah gadis yang tengah tertunduk murung itu. Kini ia telah ada di hadapan Chaeyeon. Tangannya menggeladik ke area dagu si gadis, membuat wajah merona itu mendongak dan mata mereka pun bersirobok.

“Aku tidak menyangka kau akan ke mari, dan… kau terlihat cantik dengan gaun itu.” ucap Jaehyun tak lupa disertai seringai. Bibir Chaeyeon pun mengatup, matanya terbelalak. Detak jantung yang sudah berpacu makin dibuat menggila karena ulah pemuda itu.

Secara tiba-tiba Jaehyun mengangkat Chaeyeon ke gendongannya. Pria itu lantas membaringkan tubuh si gadis di atas ranjang. Sekon berikutnya, Jaehyun langsung memposisikan dirinya senyaman mungkin agar bisa menatap Chaeyeon dengan amat dekat. Jadilah kini ia menyandarkan kepala gadis itu ke lengannya, sedangkan tangannya yang lain masih tak jemu berkutat di area pipi Chaeyeon.

Bagaikan boneka, Chaeyeon begitu patuh dengan alur yang Jaehyun buat. Ia tak sama sekali berkelit atau menghindar, justru mempersilakannya jika ingin melakukan hal yang lebih.

“Aku suka saat kau menatapku seperti itu.” sebuah frasa lembut Chaeyeon ucapkan setelah keduanya saling bersitatap cukup lama.

Yang mendengar ucapannya pun lantas memiringkan kepala, “Kenapa?”

“Tatapanmu membuatku merasa dicintai. Terima kasih, karenamu aku jadi bisa merasakan hal itu.” Gadis itu tersenyum seraya berusaha membendung mata yang hendak beranak sungai.

Pengakuan tulus Chaeyeon dibalas dengan senyum simpul oleh Jaehyun. Tangan yang awalnya berada di pipi pun perlahan naik untuk mengelus pucuk kepala Chaeyeon. Pria itu kemudian mendaratkan sebuah ciuman di keningnya. Gadis itu menutup matanya dalam-dalam, coba merasakan kehangatan yang Jaehyun salurkan melalui ciuman itu.

Jaehyun kembali menatap Chaeyeon dengan sorot yang sama, teduh dan menenangkan.

“Jangan salah paham, aku tak akan merenggut semuanya darimu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu malam ini.” Jaehyun kembali memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya ke telinga Chaeyeon. Mata gadis itu ikut memejam seiring dengan sentuhan lembut bibir Jaehyun yang tengah melumat lehernya sesaat. Jaehyun kembali mengelus pipi merona itu, mengarahkan wajah Chaeyeon untuk sebuah ciuman yang hangat dan nyaman.

Jaehyun menggigiti bibir gadis di hadapannya itu dengan ringan, tak berupaya mencari celah untuk memasuki rongga mulutnya. Tanpa ia sadari, tubuh yang awalnya berada di samping Chaeyeon pun kini telah berpindah posisi menjadi menindihi gadis itu. Dapat ia rasakan kulit dingin Chaeyeon menggelantung di area lehernya. Bahkan gadis itu sempat meremas kulit punggung Jaehyun yang tak terbalut apa pun.

Setelah merasa cukup, Jaehyun pun mengendurkan bibirnya yang membulat. Masih dengan posisi menindihi gadis itu, Jaehyun tersenyum tulus, “Kau mau, kan, bersamaku di sini sampai besok pagi?”

Chaeyeon hanya tersenyum, dan ia tahu kalau Jaehyun bisa mengartikan senyumannya itu. Karena Jaehyun tak perlu meragukan hati yang Chaeyeon miliki untuknya.

Pagi hari, tepat pukul tujuh. Jaehyun coba membuka matanya yang masih berat. Sinar matahari yang menelusup dari ventilasi membuatnya mengerjap-ngerjap. Tepat setelah matanya sepenuhnya terbuka, secara jelas ia mendapati paras yang amat cantik saat tengah memejamkan mata. Dia adalah Chaeyeon, gadis yang menemaninya tidur semalaman.

Tangan kanannya yang tersampir di pinggang Chaeyeon pun ia arahkan menuju pipi. Ia ingin mengelus semburat kemerahan yang terlihat seperti buah cherry itu. Seulas senyum perlahan mengembang dari kedua sudut bibirnya, ia ingat bahwa hal semacam ini bukan pertama kali ia lihat. Dulu, saat berhadapan, ia hanya mampu menahan degupan jantungnya yang membuncah tidak karuan. Namun sekarang gadis itu benar-benar ada di hadapannya dan dapat sepenuhnya ia miliki. Jaehyun merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, ia benar-benar tidak ingin membiarkan Chaeyeon jauh dari sisinya lagi.

Karena mulai merasakan geli di area wajahnya, Chaeyeon pun perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Samar-samar ia melihat wajah Jaehyun yang sudah menyambutnya dengan senyuman merekah bagai bunga di musim semi.

“Nyenyak sekali, ya, tidurnya?” tanya Jaehyun sambil memiringkan wajah. Chaeyeon pun langsung menunduk karena malu. Ia merutuki dirinya yang memang susah bangun pagi.

“Aku senang, kok, melihatmu tidur dengan pulas. Malah bagus, ‘kan?” Jaehyun perlahan menarik dagu Chaeyeon agar gadis itu tak menelungkupkan wajahnya lagi. Tiba-tiba pemuda itu melongokkan wajahnya, mendaratkan sebuah ciuman ringan di bibir sang kekasih.

Manik pekat mereka saling bersirobok, sesekali saling melempar senyum, dan jadi salah tingkah. Chaeyeon mengangkat tangannya untuk menyentuh dahi pria di dapannya itu. Ia lantas menyisir surai sang kekasih yang masih diwarnai pirang menggunakan jemari, berusaha menata poni Jaehyun agar menutupi bagian kening—model rambut yang selama ini Jaehyun gunakan saat menyamar menjadi perempuan.

“Kau memang sangat cantik,” ujar Chaeyeon lirih. “Tapi aku tetap menyukaimu meski kau adalah pria tampan.” imbuhnya yang disusul dengan kecupan singkat di dagu Jaehyun. Pipi gadis itu seketika memerah atas tingkah lakunya sendiri.

“Jadi, kan, beli bahan untuk sarapannya?” tanya Jaehyun.

“Harus jadi, dong!” sahut Chaeyeon antusias.

“Kau mandi dulu sana… biar aku siapkan baju gantimu.” Jaehyun mulai bangkit dari posisi berbaringnya dan hendak beringsut dari kasur.

“Maksudmu… kau menyuruhku pakai bajumu, begitu?” tukas Chaeyeon.

“Kau lupa, ya, kalau aku punya banyak persediaan baju wanita?” ucap Jaehyun dengan vokal yang ia naikkan satu setengah oktaf—agar serupa dengan suara Jihyun saat sedang bicara pada Chaeyeon.

Tawa pun pecah dari kerongkongan Chaeyeon. “Maaf, aku lupa.”

.

.

.

Setelah sampai di supermarket yang ada di dekat apartemen, mereka pun mengambil troli dan mendorongnya bersama. Jaehyun terus saja mengambil bahan makanan yang menarik hatinya tanpa punya ide akan diolah menjadi apa nantinya.

“Kau, kan, tinggal sendirian… belanja sebanyak ini untuk apa? Nanti kalau lama-lama disimpan jadi busuk. Kan, sayang.” heran Chaeyeon terhadap tingkah Jaehyun.

“Itu berarti kau harus pintar-pintar mengolahnya.” ujaran Jaehyun sontak membuat Chaeyeon berjengit.

“Maksudmu?”

“Aku suka kalau kau memasakkan makanan untukku. Selama kau tidak ada, aku rindu telur dadar dan ramyun buatanmu.” Chaeyeon lagi-lagi dibuat tersipu akibat ucapan manis Jaehyun.

Pria itu lantas menghentikan lanju trolinya tiba-tiba. “Mau, kan, memasak untukku?” tanya Jaehyun. Chaeyeon mengarahkan otot matanya untuk menatap sepasang manik kelam milik Pemuda Jung itu.

Ia lantas mengangguk sambil tersenyum dengan tulus, “Tentu saja aku mau.”

Mereka lantas mendorong troli lagi untuk mencari saus gochujang. Saat sampai di tempatnya, Chaeyeon dan Jaehyun pun tak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan berpenampilan boyish yang juga sedang berbelanja. Netra milik Chaeyeon langsung meletakkan fokus padanya hingga gadis itu beralih menuju kasir.

“Dia tipemu, ya?” Jaehyun menggoda.

“Enggak juga.” balas Chaeyeon singkat.

“Tapi dia maskulin banget.”

“Jaehyunie…” tanpa sadar Chaeyeon itu merajuk dengan menyebut nama asli lelaki itu. Ini pertama kalinya bagi Jaehyun mendengar gadis itu menyebut namanya. Dan kalau dipikir-pikir, kedengarannya imut juga.

“Memang susah, sih…” ucap Chaeyeon sambil mengerucutkan bibir. “Maka dari itu jangan pernah tinggalkan aku.” imbuhnya. Jaehyun balas memiringkan kepala, karena ia tahu Chaeyeon belum merampungkan ujarannya.

“Karena kau adalah satu-satunya lelaki yang akan kucintai. Kalau laki-lakinya bukan kau, aku tidak mau.”

“Kok, kedengarannya itu seperti ancaman?” Jaehyun lagi-lagi berkelakar. Karena kesal, gadis itu pun langsung menghadiahinya dengan cubitan keras di pinggangnya.

“Aduh, aduh, sakit!” Jaehyun berjengit namun tak dipedulikan oleh Chaeyeon.

Tanpa diduga, Jaehyun pun langsung merangkul Chaeyeon. Ia tarik tubuh gadis itu agar lebih mendekat. “Pun, bagiku… hanya kau satu-satunya gadis yang akan aku cintai.”

Jaehyun tersenyum sambil memamerkan lesung pipinya, begitu pula dengan Chaeyeon yang lantas mengulum kurva indah dari kedua sudut bibirnya. Sorot matanya berbinar, menatap lelaki di hadapannya dengan penuh penghargaan.

“Sampai kapan pun, tidak akan kubiarkan kau jatuh hati pada wanita tampan, Chae.”

– END –

yeayyy akhirnya bisa kuakhiri FF ini. makasih untuk semua yang udah mau baca, yang komen, yang like, yang sudah selalu menunggu ff ini up, tanpa kalian saya mah nugu gitu ;))

aku tau ini masih banyak kekurangannya, doakan saja aku ada ide untuk menggarap bonus chapter. minta kritik saran ya, jangan langsung capcus. makasih sekali lagi ^^ sampai jumpa di ff selanjutnya ~~

tae-soo

Advertisements

21 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 16 – END)

  1. Aawww…cocuit 😍😍 chaeyeon yg digombal kok aku yg baper ya 😅😅. Btw ka, nasib eun woo dkk gimana? Bikin sequel buat mereka dong 😊

    Liked by 1 person

  2. Udah habis??? Yaaah kok udah end??? Terus ini nasib Yerim & Eunwoo gimana? Kok gk dijelasin sih mbalel? Padahal kupikir konfliknya bakalan nambah secara Eunwoo ternyata mengidap hormon pelangi. Siapa tau Jaehyun kaget, lalu menjauh, terus gimana gitu //terserah kamu ji terserah -_-// Buset jangan mentang-mentang puasa udah kelar, nulis ff yg bikin imajinasiku melayang wkwkwkwk itu apaan itu bobok bareng, pake kisseu segala huwaaaaaaaaaaaaaaaaaa sakit hati dedeq T_T Btw chapter ini full Jaehyun & Chaeyeon moment ya ^^ Meskipun aku masih cenat cenut tiap baca ff mereka, tapi aku bahagia kok asalkan jaehyun bagahia :’) //terserah kamu ji terserah -_-// Padahal dari dulu aku bayangin si Jaehyun bahagia sama Chaeyeon, dan Si Eunwoo bahagia sama Yerim (?) Lah ternyata endingnya jauh dari ekspektasi wkwkwkwkwk Dan ini kayak dramkor ya, end di part 16 😀 Biasanya kan ff chapternya mbalel cuma sampe 12 xD Pokoknya di sini dikit-dikit Kiss, yaa ampun T_T Untung cuma ff -_-

    Tau gk mbalel, kukira yg mereka kisseu di kamar itu bakal berlanjut jadi ehem-ehem xD Habisnya Jaehyun pake melumat leher segala kan dakuh jadi gakuku T_T

    Oh ya, Bon apetit itu ff baru kah? Mau dipublish di sini lagi ceritanya?

    Liked by 1 person

    • saya lelah sama FF ini karena bikin baper sendiri. mau nge-end cepet2 aja 😦 yerim dan eunwoo kan cuma pemeran pembantu jadi enggak usah kujelasin lah, mereka sudah bahagia dengan jodoh yang kuberikan hahaha. eunwoo saeron masih ongoing kok, eunwoo juga pelan2 jadi straight karena baper sama saeron ^^
      hehehe sampe apal kamu ffku end gak pernah lebih di chapter 12
      iya, ff baruuuu ~ baca juga ya kalo nganggur XD
      makasih ya ji udah ngikutin dari awal sampe akhir, biarpun banyak silent readers aku jadi tetep semangat krn kamu selalu komen ;))))))

      Like

  3. AMBYAR AMBYAR LEL..
    AKU BACA INI DI ANGKOT PAS PULANG DARI MATOS.. NGEMPET SENYUM TERUS. TAKUT DILIATIN. WKWKWK

    Hatiku dugun dugun tauu baca part skinshipnya JaeYeon. Duuuuuhhh aku kira bakal lanjut ke…..
    Eh ternyata nggaaa. Yaaaaaah../penonton kecewa/ /ditampol/

    Buat yang penasaran endingnya Eunwoo gimana.. Tenang aja Eunwoo aman kok sama daku dan kita hidup bahagia selamanya O:) /diamuk massa/

    Next project Mbak Jicu sama Mas Taeyong yaaa?? Okee ditunggu yaa, Lel! Semangaaat 🙆🙆🙆🙆🙆

    Liked by 1 person

  4. Kyaaaa~ gak terasa gue udah ngikutin ff ini dari awal tapi eh malah habis aja T.T
    Yaampun endingnya sweet banget nggak terduga banget thor 😆 gara-gara nih ff gue jadi ngeship JaeYeon yaampun. Keep jjang thor terus bikin karyanya!! 😀

    Like

  5. Author, aku sukaaaaaak banget sama ceritamu wkwk /meskipun aku jarang kasih feedback komen wkwk -maafkan-\, tapi, boleh ya aku kasih beberapa kritik? Hehe
    Pertama, aku ngerasa alurnya kecepetan pasca Jaehyun keluar dari asrama. Chaeyeon juga terlalu cepet /menurutku\ buat nerima Jaehyun gitu aja, terutama dia lesbi. Menurutku sih, cocoknya, antara Jae & Chae harusnya ada adaptasi di hubungan mereka dulu. Meskipun saling suka, aku pikir proses adaptasi perasaan Chaeyeon sama Jaehyun harusnya agak panjang. But overall, semuanya bagus 🙂

    Like

  6. Ini dia ff yang ditunggu-tungguin dan maaf banget aku komennya telat Kak Lel 😀

    Pertama kaget banget pas liat update-an kalau ini chapter terakhir TT Bakal kangen deh sama JaeYeon nantinya karena yang baca dibuat senyum sampai teriak2 gak jelas 🙂 Di ending chapternya jiwa nakalnya Jaehyun keluar ya 😛 Hampir mau ngeskip siap2 takut ada maturenya ternyata nggak lebih //fyuh// Walaupun alurnya emang agak kecepetan tapi aku tetep suka kok. Dan juga ditunggu bonus chapternya kalau Kak Lel sempet //hehe berharapnya sih gitu// Kasihan tuh nasibnya Eunwoo, Yeri, sama Saeron nggak jelas. Seneng juga kalau akhirnya JaeYeon bahagia dan Chaeyeon kembali straight ^^

    Ditunggu juga buat karya baru yang diatas tuh castnya kan uri leader, TY 😉 Keep Writing Kak Lel and Hwaiting! ^^ ❤

    Like

  7. hahaha langsung nemu chap endingnya, baka liana.
    mengapa aku ingin menggulung jaehyun dan menggorengnya biar jadi lumpia di scene tengah2 itu duh jae baju dipake baju ya tolong dan jgn pegang2 mbak chaeyeon dia terlalu precious
    tapi itu gak terlalu mature kok. sini tak ajarin gimana bikin nc. aku suka gemes lihat scene mu yg ‘menegangkan’ itu krn deskripsinya selalu sangat mengundang tapi gak mampu memuaskanku. hah pikiran lu kotor amat sih li
    sadly sexual tensionku yg tidak teresolusi di sini juga sama dengan ekspektasiku terhadap feelnya. jadi ya waktu si chae ngomong di kasur ke jae ttg perasaannya itu sdh yg ‘aw…’ gitu tapi cepet bgt berakhirnya 😦 tau2 udh scene belanja aja yg feelnya manis tapi ringan, tidak seberat dan sedalam yg di kasur itu. bukannya menyuruhmu bikin adegan ranjang lagi tapi aku butuh scene di mana chae bener2 bilang jae sebagai penyelamatnya, well…
    tapi sekali lagi itu cuma pendapat lho ya.
    congrats sdh menyelesaikan ff chapternya! kamu adalah motivasiku memplot banyak ff chapterku yg terbengkalai :’)
    keep writing lel!

    Like

    • ya mauku langsung naena kak tapi kok…. apa ya XD aduhh aku tuh suka menggelinjang sendiri kak baca cerita 17+ di wattpad aja aku skip bagian begituannya HAHAHA
      ajarin dong kak, kasih aku link FF NC yg bagus coba tpi castnya kalo bisa grup generasi ketiga saja wkwkwk
      MIMPI AKU DIBILANG MEMOTIVASI SEORANG LDS-NIM OH MY GOD WHAT OH MY GOD >///<
      makasih yaaa kakli sudah memberiku banyak sekali masukan XOXO ❤ ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s