[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Wenderella

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Wenderella ]

|   Johnny  x  Wendy   |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

‘ Jam sembilan tepat, Wenderella harus kembali ke tempat tinggalnya ‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Mau tidak mau, Wendy harus terbiasa dengan rutinitas baru yang dipaksakannya untuk ia lakukan selama satu pekan ini. Joy bahkan menyebutnya sebagai Wenderella, karena yang Wendy lakukan selama pekan ini hampir mirip dengan yang Cinderella lakukan.

Di pagi buta, sekitar jam empat pagi, Wendy akan menyelinap keluar dari kamar kost dan masuk ke rumah keluarga Seo dengan kunci duplikat yang Bibi Seo berikan padanya. Wendy mulai membereskan kekacauan yang ditinggalkan Johnny maupun Nando semalam, dengan berjingkat-jingkat dan tidak menciptakan suara apapun.

Wendy juga memasakkan sarapan untuk keduanya—catatan, Wendy selalu masak di kostnya sendiri karena khawatir kalau dia masak di rumah Bibi Seo, akan menimbulkan suara yang mungkin membangunkan salah satu dari dua orang yang sekuat tenaga berusaha dihindarinya.

Tapi itu hanya di pagi hari. Karena malamnya, Wendy akan muncul lagi di rumah keluarga Seo dan memasak makan malam setelah membereskan kekacauan yang ditinggalkan si kembar di rumah.

Tepat pukul sembilan malam, Wendy akan kembali ke kostnya, karena di jam itu, pasti salah satu di antara Nando maupun Johnny, datang.

“Wah, kamu terlambat enam menit hari ini.” Joy menyapa ketika Wendy masuk ke dalam kamarnya malam ini.

“Iya, tadi aku mengeringkan pakaian di mesin cuci dulu,” ucap Wendy, mengusap peluh yang tersisa dari sikap berjingkat-jingkatnya.

“Kenapa sih kamu sampai diam-diam begitu, Wen? Toh, mereka pasti tahu kalau kamu yang melakukan itu semua.” Joy berkata, kalau dipikir-pikir, selain Wendy memangnya siapa lagi yang mau repot-repot membereskan rumah orang lain?

Apalagi, Bibi Seo pasti memberitahu kedua anaknya tentang Wendy yang akan menjaga mereka selagi orang tua mereka tidak ada, bukan? Yang Wendy lakukan sekarang malah terkesan sangat konyol.

“Iya sih, kalau dipikir-pikir aku merepotkan diri sendiri. Tapi aku tidak mau bersikap canggung kalau bertemu dengan mereka.” Wendy berkata.

“Ah, karena masalah yang tempo hari kamu bicarakan?” tanya Joy.

“Hmm,” Wendy mengangguk mengiyakan, “tapi aku tetap saja merasa canggung, Joy. Kupikir, ini akhir persahabatanku dengan Nando juga.” Wendy tersenyum getir.

Masih jelas dalam ingatan Wendy tentang bagaimana dekatnya dia dengan Nando, meskipun pemuda itu seringkali bertingkah aneh dan menyebalkan layaknya seorang bipolar, tapi Nando selalu jadi orang pertama yang memahami Wendy.

Tapi Wendy tidak mau menyalahkan siapa-siapa, dia bahkan tidak ingin menyalahkan oknum yang membuat keadaannya dengan Seo bersaudara itu jadi secanggung ini.

“Semua akan indah pada waktunya, anggap saja begitu.” Wendy tersenyum kecil pada Joy yang membaringkan tubuh di tempat tidur Wendy.

Anggap saja, Wendy berpikir positif tentang apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Dia datang lagi tanpa menyapa?”

“Iya, kenapa dia melakukannya? Apa kamu belum minta maaf padanya?”

“Minta maaf pun percuma, dia toh menghindari kita berdua.”

“Kamu saja yang dihindarinya.”

“Apa? Aku? Dia juga menghindarimu, tahu.”

Konversasi kecil itu tercipta di ruang tengah kediaman keluarga Seo sementara dua pemuda yang tinggal di sana tengah menghabiskan semangkuk soup yang Wendy buat untuk makan malam mereka.

“Kenapa dia menghindariku?” tanya Johnny tidak mengerti. Yang punya masalah dengan Wendy sudah jelas Nando, kenapa pula Wendy harus menghindari Johnny?

“Dasar tidak tahu diri.” Nando menggerutu di tengah kesibukannya mengunyah. Dia tentu tidak mungkin dengan terang-terangan mengatakan pada Johnny kalau Wendy menghindarinya karena Wendy mungkin telah mendapatkan perkataan aneh dari Johnny yang berhubungan dengan perasaan kentara gadis itu.

Hey, aku memang benar-benar tidak tahu. Kami bahkan tidak berdebat sekalipun.” Johnny berusaha membela diri. Sementara Nando sendiri memilih diam. Dia seratus persen yakin, kalau mata Johnny sudah dibutakan mendadak karena sama sekali tidak menyadari ketertarikan yang Wendy berikan padanya.

Mau nyata-nyata meledek Johnny sebagai makhluk tidak peka pun Nando enggan, sebab dia tahu Wendy akan kena masalah juga kalau Johnny tahu tentang perasaan Wendy. Dan tidak, Nando tidak mau memperkeruh masalah. Dia saja belum berbaikan dengan Wendy.

“Bukannya kamu tidak suka keju? Kenapa membeli cheese cake?” tanya Nando, mengedikkan dagu ke arah kotak berwarna kuning menyala yang Johnny letakkan di sebelahnya.

“Oh, itu untuk Wendy.”

“Wendy?” ulang Nando.

“Iya, dia ‘kan suka cheese cake.” sahut Johnny, tatapannya tertuju pada televisi meskipun mulutnya sibuk makan.

“Kenapa kamu belikan? Dia mungkin bisa salah paham.” pelan-pelan Nando masuk ke dalam area ‘pribadi’ yang seharusnya dia jaga dari Johnny agar saudaranya itu tidak menaruh curiga pada Wendy.

“Ucapan terima kasih, tentu saja. Dia sudah banyak membantu kita seminggu ini. Coba bayangkan akan sekacau apa rumah ini kalau Wendy tidak datang pagi dan malam hari.” Johnny menuturkan.

Nando sendiri hanya memutar bola mata jengah. Saudaranya ini dinilai Nando terlampau naif untuk jadi seorang pria. Apa Johnny bahkan tidak paham kalau tindakannya bisa membuat gadis manapun salah paham dan berpikir kalau Johnny tertarik pada gadis tersebut?

Tapi tidak, Nando jelas mendengar kejujuran dari bibir Johnny. Yang artinya, tujuan pemuda itu membelikan cheese cake memang benar-benar untuk sekedar berterima kasih saja.

“Lalu kapan kamu berikan itu padanya?” tanya Nando akhirnya, percuma berusaha menjelaskan kekonyolan di balik tindakan Johnny itu, karena menjelaskan pada Johnny sama saja dengan Nando yang mengakui kalau saudaranya itu tolol.

“Setelah ini. Aku akan antarkan sebentar ke kamar kostnya. Kamu bilang dia ada di kamar nomor sepuluh di lantai tiga, bukan?”

“Biar aku saja yang memberikannya.” Nando berucap.

“Tidak, biar aku saja.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kembali pada Wendy dan kegundahannya di kamar. Gadis itu tengah dicecar puluhan pertanyaan oleh Joy, tentang apa yang sudah terjadi di antara Wendy dengan si kembar, sampai tentang asal muasal rasa tertarik Wendy pada Johnny padahal yang lebih lama menghabiskan waktu dengan Wendy adalah Nando.

“Aduh, kamu tidak mengerti, Joy. Johnny itu kelewat maskulin, caranya bicara saja sudah sangat berbeda dengan Nando.”

“Oh, jadi kamu suka padanya hanya karena suara, begitu?” tanya Joy kemudian.

“Bukan itu saja, dia juga sangat baik—ya Nando juga baik padaku, sih. Tapi baiknya Johnny itu berbeda, dia baik pada semua orang. Dan yang jelas, dia juga tidak pernah berusaha menyakiti hati orang lain. Kamu mungkin tidak pernah lihat, tapi aku tahu benar Johnny adalah tipe yang seperti itu.”

Joy sempat terbahak sesaat saat mendengar penjelasan Wendy tentang alasan yang membuatnya menyukai Johnny. Tapi mau ditertawai juga, Wendy mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.

“Tapi kalau kamu mau bersama dengan Johnny, artinya kamu harus merebut dia dari pacarnya.” Joy kemudian berkata.

“Tidak, tentu saja tidak.” Wendy berucap.

“Apa? Kenapa?” Joy menyernyit bingung.

“Aku ‘kan bilang itu alasanku menjauhi Johnny, aku tidak mau dekat dengannya kalau pada akhirnya akan membuat kekasihnya salah paham dan berpikir kalau aku berusaha merebut Johnny darinya. Joy, aku memang suka pada Johnny, tapi aku tidak berusaha merebutnya dari siapapun.” Wendy menuturkan.

“Oh… Kalau begitu kenapa kamu tidak dengan Nando saja? Toh, kamu sudah mengenal Nando lebih lama daripada Johnny, bukan? Dan juga, menunggu Nando putus dengan kekasihnya bukanlah penantian yang lama.” Joy berucap, mengingatkan Wendy pada kebiasaan berganti-ganti pacar yang selama ini melekat pada Nando.

Mendengar ucapan Joy, Wendy akhirnya menghela nafas panjang.

“Tidak semudah itu, Joy. Nando bukan tipe yang mudah untuk didekati. Dan juga, dibanding Johnny, sikap Nando padaku jauh lebih dingin. Nando hanya menganggapku teman, tidak lebih. Setelah yang terjadi kemarin, aku pikir dia bahkan tidak lagi menganggapku teman.”

Diam-diam, Wendy merasakan kesedihan menyelinap ke dalam batinnya. Dia tidak pernah mengharapkan kerenggangan semengerikan ini dengan Nando, tidak juga dia ingin jatuh hati pada Johnny kalau tahu akhirnya akan begini.

Tapi bukan Wendy namanya kalau dia menyerah di tengah jalan. Perasaannya patut untuk diperjuangkan, itu yang Wendy percaya.

“Nah, makanya kamu harus—aduh, sebentar, perutku tiba-tiba sakit.” Joy berucap panik sambil memegangi perutnya. Efek terlalu banyak menertawai Wendy, perut Joy agaknya jadi sensitif.

“Aduh, kita ‘kan sedang serius cerita,” Wendy menggerutu, tapi toh dia biarkan juga Joy bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu, hendak kembali ke kamarnya sendiri.

“Eh? Apa ini?” Joy tiba-tiba saja berucap saat pintu kamar kost Wendy terbuka. Rupanya, entah sejak kapan sebuah kotak berwarna kuning menyala sudah bertengger di sana.

“Wendy, untukmu.” Joy mengangkat kotak tersebut, membuat atensi Wendy bersarang ke arah kotak tersebut.

“Dari siapa?” tanya Wendy tidak mengerti.

“Oh, isinya cheese cake. Eh tapi, bukannya ini dari toko tempat Rosé  bekerja? Mungkin dia memberikanmu seperti janjinya tempo hari.” Joy berucap, sementara Wendy bangkit dan meraih kotak tersebut.

“Ah, iya benar, ini toko tempat Rosé bekerja. Untung saja dia masih ingat janji itu,” Wendy terkekeh, teringat pada konversasi yang pernah dilakukannya dengan penghuni kost lantai dua bernama Rosé.

“Ya sudah, jangan dimakan dulu sebelum aku kembali, oke?” Joy memperingati.

“Oke, cepatlah kembali.” Wendy berucap.

Ah, tentu gadis itu tidak tahu, kalau di tempat sampah yang terletak di seberang kamarnya, sebuah kertas berisikan ucapan terima kasih telah dibuang secara sengaja oleh pengirim cheese cake tersebut.

FIN

IRISH’s Fingernotes:

ECIEH MBAWEN, ITU SIAPA TADI YANG NGUPING ACARA GOSIP ENTE SAMA JOYYI? WKWK. NANDO ATAU JOHNNY YA KIRA-KIRA, ENTAHLAH. DI SERIES BERIKUTNYA APA BAKAL KEJAWAB SIAPA YANG NGUPING ITU? ENTAHLAH, WKWKWKWKWKWK.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

6 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Wenderella

  1. mbak irish tolong ya klo ini akhirnya gantung apa sad bisa ada yg naruh bom panci di rumah mbak .g

    ga rela bgt pokoknya klo wendy musti sedih 😦

    Like

  2. OMEGAT! SENENG BANGET SIH KAK BIKIN ORANG KEGANTUNG TERUS ABIS ITU DIKEJUTIN PAKE STUN GUN (?)
    SEPERTI YANG KURASAKAN TIAP BACA INI 😦

    Like

  3. Sebelumya maaf ya Kak Rish aku komennya sekalian sama yg sebelumnya. Nah, bener kan yg tukang ngelapor si Joy //dipikir Joy hansip apa -_-// Aduh si Wenderella suruh jagain si anak kembar wkwkwkwk… Kalau menurutku yang naruh cheese cakenya itu si Johnny soalnya yg gak tau perasaannya Wendy kan si Jon. Aduh tambah rumit nih ceritanya -_- Kasian nih si Mbak Wen masalahnya bakal lebih besar yg satu belum kelar etdah tambah satu lagi -_- Kapan badai di kehidupanmu berlalu Mbak Wen? //gemes deh//

    Ditunggu kelanjutan seriesnya Kak Irish dan ngalir terus idenya buat lanjutin nih series sampai mbak Wen hidupnya damai, tentram, bahagia //maksa// . Keep Writing and Hwaiting //nggak cuma buat authornya tapi juga Mbak Wen ^^// 😉 ❤

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s