[Mini Chaptered] Roller Coaster Love : Jump to The Moon (1/4)

RCL postera

[Par1/4]

Roller Coaster Love : Jump to The Moon

Written by Berly ©2017
• ᴥ •

| Starring : [OC’s] Mackenzie Lee, [NCT’s] Johnny Seo, [NCT’s] Mark Lee, [OC’s] Emerald Lee, [SJ’s] Lee Donghae| Genre : Drama, Friendship, School Life, Comedy, Fluff | Rating : Teen to Up| Duration : (+/-) 2000 words | Length : Mini Chapter |

Prev : PROLOGUE : Chewinggum | Part 1 : Jump to The Moon

.

Mackenzie harusnya menyesal telah meledek drama cinta milik Emerald Lee akhir-akhir ini, karena … drama cintanya sendiri saja telah dirundung kondisi yang tak terduga.

***

Backsound : Aimer – Stars in The Rain

Pukul lima sore, langit cerah musim semi telah menjingga di singgasananya, dimana hal itu sudah menjadi pusat perhatian Mackenzie dari sejak lama; langit, bintang, seluruh konstelasi beserta isinya.

Setelah menyelesaikan kegiatan rutin sore memberikan kucing kesayangannya susu dan makanan, ia kemudian turun dari beranda atas, sekadar ingin mengambil sesuatu yang segar dari dalam lemari refrigerator karena tenggorokannya terasa kering—mungkin es sirup jeruk adalah solusi tepat.

Dilihatnya sosok Emerald di ruang televisi yang tak jauh dari tangga dan dapur. Kakak sulungnya itu sedang sesenggukan bersama tisu yang berserakan di mana-mana, lantaran menonton drama roman picisan (lagi)—tampaknya waktu libur kuliah seharian hanya dimanfaatkannya untuk menontoni film drama terbaru di rumah.

Menurut Kenzie, hidup Emma seluruhnya sudah dipenuhi dengan drama ini dan itu, bayangkan, kisah asmaranya saja benar-benar tak pernah bisa Kenzie tebak endingnya akan jadi seperti apa. Dan sesungguhnya, Kenzie sama sekali tidak tertarik dengan hal berbau percintaan, namun lama-kelamaan ia menjadi sedikit simpatik juga terhadap masalah milik kakaknya yang cukup tak logis itu. Putus dari Doyoung membuat Emma terlihat sangat kurus, ditambah dengan kebiasaannya mengkonsumsi minuman kesukaan yang memang seharusnya “diminum untuk orang yang sedang diet dalam keseharian”, juga tontonan drama kesukaannya yang … tak termasuk dalam golongan kegiatan menyehatkan.

“Hiks, Kenzie, tolong sekalian ambilkan aku yogurt leci-ku di kulkas, ya, sayang,” pintanya, yang kemudian langsung dituruti. Bahaya sekali bila tak Kenzie turuti—seperti merenggut dunia drama seorang gadis yang sedang berputar secara tiba-tiba.

“Kali ini drama apa lagi, Kak Em?” tanya Kenzie berbasa-basi seraya tangan kirinya menggenggam es sirup jeruk, dan tangan kanannya mengantar yogurt leci kesukaan Emma.

“Kau harus menontonnya, Kenz! Aku baru membeli lima film drama terbaru kemarin, dan yang baru kutonton ini sangatlah seru, aku saja sampai berkali-kali menangis!”

Oh, mungkin lain kali akan aku tonton, sayangnya aku sedang ada tugas sekolah yang sedikit lagi harus kuselesaikan di kamar.” Mackenzie beralibi sedikit mengada-ada, agar dirinya tidak ditarik paksa untuk duduk di sebelah Emma, lalu menonton drama yang dapat membuat hari-harinya mendayu dan berhalusinasi.

“Wah, sayang sekali. Padahal aku punya dua film drama lagi yang belum rampung kutonton.”

“Hehe, mungkin lain kali? Mark tadi siang meneleponku kalau ia sedang main di Rumah Led Zeppoli hingga malam, dan … kapan Dad pulang, omong-omong? Apa Kak Emma tahu?” sambung Kenzie bertanya lantaran teringat akan sesuatu.

“Ahh, ternyata Mark sekarang ada di sana? Dad juga mengabariku, pukul tujuh malam nanti ia akan singgah di Led Zeppoli.”

“Ah, kalau begitu aku akan ke Led Zeppoli juga saja setelah tugasku selesai! Kak Em, istirahat sajalah dulu menonton dramanya, lagi pula apa kau tidak jengah seharian duduk di sofa seperti itu? Ini tidak baik bagi kesehatanmu, tahu.” Kenzie baru saja akan melengos, namun—

“Eh, Kenz! Aku juga ikut denganmu ke sana, deh. Aku lapar berat, dan sedang malas memasak.”

—Emerald bangkit dari duduknya, mematikan dvd player dan televisi, memunguti tisu-tisunya, kemudian menatap Mackenzie yang sekarang malah memaku keheranan.

“Kau bahkan sampai lupa makan siang? Sudah kubilang, lupakan saja laki-laki sialan yang menyaktimu itu. Akan aku adukan ke Dad, baru tahu rasa,” celetuk Kenzie asal.

“Kamu ini sembarangan saja kalau bicara, apa maksudmu dengan perkataan laki-laki sialan, ha? Doyoung itu sangat baik orangnya. Kamu tahu apa tentang percintaan, pacar saja tidak punya, lalu tentang hobi barumu itu yang menontoni pemuda-pemuda bertelanjang dada sedang gulat, bagaimana kamu mau punya pacar kalau begitu caranya—”

Eiiih … tamatlah jika sudah berdebat dengan Emma … Kenzie akan selalu kalah telak. Emma sama persis dengan ibu mereka yang bawel akan ini-itu. Sudah disakiti, tapi Emma tetap kukuh membelanya. Intinya, Kenzie tidak mengerti dengan persoalan drama cinta Emerald Lee. Tapi setidaknya, Mackenzie telah menyimpulkan satu hal di dalam benak, bahwa: nyatanya Doyoung tidak se-hot John Cena yang memiliki otot dan dada teramat bidang—tempat bersandar para pemujanya. Kenzie pun hanya bisa meremeh ria di dalam hati: ‘You can’t see me, Man!’.

___

Setelah memarkirkan motor otomatic-nya di halaman khusus Led Zeppoli Bakery and Cafe, Mackenzie turun. Ia meletakkan helm, lantas akan menenteng kandang kecil Miho ke dalam rumah keduanya lewat pintu belakang—tentu saja Kenzie tidak mau bila Miho kesepian di rumah utama. Ataukah … Mackenzie harus segera mencarikan teman hidup untuk Miho kelak? Jangan. Dulu. Bisa-bisa Miho ikut terserang drama syndrom seperti apa yang tengah Emerald Lee rasakan lagi …. Mackenzie pun menggeleng untuk berhenti membayangkannya.

Emma sudah turun lebih dulu dari boncengan motor, omong-omong. Bersin beberapa kali di boncengan motor membuat gadis bersurai hitam panjang itu cukup kapok mendekati binatang imut berbulu kelabu tersebut. Alhasil, Emma langsung saja melesat masuk lewat pintu depan, ke dalam suasana hangat Led Zeppoli Bakery and Cafe malam yang selalu beraroma khas, juga sering dirindukan para penikmat dan pecintanya.

Syukurlah, toko roti ibu mereka selalu ramai oleh banyak pengunjung. Kenzie tak hentinya mengembangkan senyuman, sampai ketika dwi maniknya menangkap sosok sang ayah yang tengah terhalang beberapa meja kubikel pelanggan transparan di dalam sana, senyuman Kenzie semakin merekah saja bak bunga teratai mekar.

Ayahnya terlihat sedang mengobrol formal dengan seseorang—yang Kenzie rasa orang itu adalah teman baik sang ayah, ditemani kehadiran beberapa cangkir minuman yang masih mengepulkan asap di meja—pemanis hangatnya obrolan yang sedang diperbincangkan.

Melayang kembalilah pemikiran Kenzie tentang langit, sembari pandangannya ia tujukan lagi ke arah dirgantara malam yang cukup cerah. Mackenzie harus bertemu ayahnya segera, setelah …

Setelah ia masuk lewat pintu belakang Rumah Led Zeppoli, dan tahu bahwa, yang sedang menjadi lawan main PS adik bungsunya di ruangan bermain adalah; pemuda bersurai cokelat gelap, berkulit putih, berdagu lancip bila sedang tersenyum, memiliki suara berat yang cukup menawan, pun Kenzie yakin jika pemuda itu berdiri, pasti perawakannya akan terlihat menjulang bak tiang listrik—tinggi adik bungsunya hampir setara dengan tinggi laki-laki itu, omong-omong.

“Johnny Seo?”

Mackenzie mematung, terpekur. Jantungnya berdetak tak karuan, kala mendengar suara kakak sulungnya, Emerald—yang agak cempreng—datang dari ruang depan menyuarakan penggal nama itu. Hingga membuat kedua laki-laki yang tadinya sedang asyik tertawa bersama memerhatikan layar televisi, mengalihkan pandangan sejenak ke sumber suara.

“Kak Kenzie?” Lalu kali ini, adalah suara berat milik adik bungsunya—Mark. “Sedang apa di belakang situ?” Mark ternyata sudah menyadari presensi Mackenzie yang sedari tadi berdiri membeku di dekat pintu belakang Rumah Led Zeppoli.

Mackenzie semakin mati kutu saat pemuda bermarga Seo itu menoleh ke belakang—mengikuti pandangan lurus Mark dan Emma—lantas mendapati kehadirannya. Bolehkah Mackenzie pingsan detik ini juga, karena sekarang pemuda itu malah tersenyum sumringah ke arahnya?

Apa yang harus gadis itu lakukan? Mackenzie harusnya menyesal telah meledek drama cinta milik Emerald Lee akhir-akhir ini, karena … drama cintanya sendiri saja telah dirundung kondisi yang tak terduga. Bahkan kisahnya mungkin … sudah lama dimulai tanpa disadari oleh pemeran utamanya sendiri.

___

Sekalipun ia sudah bertatap muka dengan ayahnya di ruang makan Led Zeppoli sekarang, Kenzie enggan bersuara meski secuil. Masalahnya adalah; bagaimana gadis itu bisa leluasa menagih teleskop bintang yang pernah dijanjikan sang ayah, kalau suasana ruang makan rumah keduanya kini tengah dihadiri sosok yang katanya asing-baginya-namun-tak-asing-bagi-keluarganya?

“Dengar-dengar, Johnny, jadi kau memutuskan kembali ke Korea Selatan sendiri untuk melanjutkan pendidikan dan karier-mu, benar?” Suara kepala keluarga Lee menginterupsi seluruh atensi manusia yang ada di lingkup makan malam itu. Martha, Emma dan Mark menyimak dengan seksama.

“Ya, paman. Selain hal tersebut yang adalah keinginanku sendiri, ibu dan ayah di Chicago juga menyetujuinya, karena aku masih punya kerabat di Seoul,” jawab pemuda itu tersenyum ramah sambil mengambil beberapa suwir daging ayam ke dalam mangkuknya dan mulai mengunyah.

“Ah, dan jangan lupakan, kami juga adalah keluargamu di sini, John. Jadi tidak perlu sungkan,” komentar Martha membuat Johnny tersipu.

“Buat apa sungkan, dulu saja … Emma, Kenzie, Mark dan kau Johnny, sering berguling-guling di ruang televisi sambil menontoni film kartun super hero kesukaan, lalu tanpa sadar siang itu kalian semua ketiduran di sana karena melihat si kecil Mark terkantuk-kantuk, ingat tidak?” cetus Martha bernostalgia sejemang.

“Ah! Mom mengingatnya?” Emma tertawa, diselingi tawa sang ayah.

Mackenzie berlagak biasa saja, pura-pura tidak peduli atas apa yang ayah-ibunya dan Johnny obrolkan. Gadis bersurai hitam sebahu itu mencoba sedikit memainkan sumpit dan mencomot banyak lauk yang tersedia, kemudian melahap cumi goreng tepung bersama nasi dalam diam—hingga sebelah pipinya mengembung sempurna.

“Wah, omong-omong, apakah itu berarti kalau … kau juga sedang mencari pasangan hidupmu di sini, boy?” goda Donghae menimpali, lalu kembali terkekeh.

Mark melirik Johnny sambil tersenyum, Emma kembali tertawa tanpa suara, pun Martha memandangi pemuda itu penasaran, namun—

“UHUK! UHUK!”

—Mackenzie terbatuk, tersendak. Buru-buru gadis itu mencari air putih di meja.

Mark kontan menyodorkan segelas air pada kakak keduanya—selama semua mata yang berada di ruangan itu terfokus pada eksistensi Mackenzie.

“Ya ampun, Kyo, kalau makan itu pelan-pelan!” ujar Martha seraya memukul-mukul lembut punggung anak nomor duanya. Sementara wajah Mackenzie memerah padam karena malu atas tingkah anehnya sendiri.

Johnny tersenyum—kali ini lebih percaya diri, kemudian mencoba melanjutkan jawabannya untuk Donghae, “Ah, kalau soal itu, sebenarnya aku belum terlalu serius memikirkannya. Tapi mungkin akan aku pikirkan matang-matang mulai dari sekarang, karena kau telah menyinggung hal itu, Paman Lee.” Johnny kembali tersipu.

“Benar itu, kau harus memikirkannya mulai dari sekarang untuk masa depanmu,” Donghae membenarkan, lanjut mengangguk, menguarkan kekehan kecil untuk merespons.

Cih, pertanyaan dan pernyataan macam apa itu? Obrolan macam apa, sih, ini? Batin Mackenzie yang sudah kehilangan selera makannya. Kenzie berharap, makan malam yang pembicaraannya kurang nyaman dinikmati itu cepat berakhir.

Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah; ia ingin segera mendapatkan teropong bintangnya berdasarkan hadiah ranking pertama di kelas dua yang didapat kemarin, lalu pulang ke rumah utama untuk berburu bintang bulan baru pada jam satu malam di beranda atap.

“Ah, dan aku hampir lupa kalau aku punya satu hutang pada anak gadis nomor dua-ku ini.” Mackenzie tertegun mendengar ayahnya kini mulai menyinggungnya. “Usai makan kau harus mengambil hadiah yang kujanjikan di kamar atas, ya, sayang. Bungkus kertasnya bercorak bintang-bintang, lho,” lanjut Donghae.

“Aku sudah selesai makan, dan aku akan pulang ke rumah lebih dulu!” Tak perlu menunggu makan malam selesai, Kenzie sudah bangkit penuh semangat dari kursinya dan melesat menuju lantai atas, untuk mencari kardus berbungkus kertas bintang-bintang. Terlihat tidak sopan memang, namun gadis itu tidak peduli. Pokoknya ia sudah tidak sabar dengan kehadiran teropong bintangnya.

“Mackenzie, kamu ingin pulang? Biarkan Emma atau Mark yang menemanimu pulang, atau nanti sama Dad saja pulangnya, ya?!” teriak Donghae untuk Kenzie yang keberadaannya sudah melesat ke lantai atas.

“Ah, tidak mau, Dad. Aku masih mau di sini membantu Mom,” sela Emma menolak.

“Aku juga.” Kalau yang ini milik Mark.

Eung … Paman Lee, kalau boleh, biar aku saja yang mengantar Mackenzie pulang.” O … yang satu ini jelas suara Johnny.

“Benarkah tidak apa-apa? Aku masih ada sedikit urusan di Led Zeppoli, pun Martha yang masih sibuk dengan pelanggan spesial yang akan datang sebentar lagi. Selesaikan dulu makanmu, John.”

Johnny mengangguk, “Aku sudah full, paman. Lagi pula, aku sekalian pulang karena baru ingat kalau besok pagi ada urusan lagi.”

“Ah, begitukah? Baiklah kalau kau yang meminta, Johnny. Sering-seringlah main kemari, atau ke rumah utama.” Donghae menyetujuinya dengan ramah.

Perangai remaja perempuan itu lalu muncul lagi dari arah atas tangga, melaju cepat menghampiri ayahnya, lantas mengecup singkat pipi sang ayah. “Trims, Dad, I love you to the moon and back!”

Kemudian ia beranjak cepat menuju kursi ibunya, dan ikut menciumi sisi kening Martha dengan riang. Setelah itu mengusak rambut Mark gemas, kemudian mencubiti kedua pipi Emerald dengan gembira, “Aku pulang duluan, ya?!” katanya gembira.

“Eh, tidak boleh pulang sendiri, kamu harus ditemani, ini sudah malam!” sergah sang ibunda yang kini membuat langkah Kenzie tersendat.

“Umm, baiklah, siapa yang ingin pulang bersamaku?” tanyanya. Mackenzie pun mulai memandang polos satu per satu wajah orang-orang yang ada di ruang makan itu.

Not me.Well, itu suara sarkasme milik Emma.

Me too.” Kalau yang ini milik Mark. Ia juga sebal, rambutnya jadi berantakan karena ulah Kenzie.

“Lalu siapa? Tidak ada yang mau menemaniku. Jadi aku pulang bersama Miho saja, deh. Ya, Mom. Ya, Dad?”

“Johnny yang mau mengantarmu dan Miho pulang,” recok Emma.

Mackenzie membeku, sedikit melongo tak percaya, “Apa? Ta-tapi aku, ‘kan … bawa motor …?”

“Motornya nanti dibawa pulang olehku dan Kak Emma,” timpal Mark singkat.

Ternyata Kenzie hampir saja lupa kalau masih ada eksistensi manusia tinggi satu itu di ruangan ini. Tamatlah riwayatnya. Padahal tujuan awalnya ia pulang cepat-cepat adalah untuk menghindari kontak mata, bahkan menghindari kontak obrolan dengan Johnny Seo.

__

Bagaikan lintah yang telah diberi garam, Mackenzie jadi mengekrut tidak berkutik. Gadis itu berhenti bersikap beringas kala Johnny menyodorkan sebuah helm kepadanya. Jarak Led Zeppoli dan rumah utama keluarga Lee memang tidak terlalu jauh jika menaiki kendaraan, hanya berbeda beberapa blok perumahan. Namun bila jalan kaki, ya, lumayan terasa jauh juga.

Tadinya, bila Emma dan Mark tidak mau mengantarnya dan Miho pulang, ia akan memutuskan untuk naik angkutan umum saja, atau nekat berjalan kaki bila perlu. Tapi … kalau sudah begini keadaannya, ia jadi tidak enak untuk menolak.

Johnny yang sudah siap dengan motor ninjanya berkata, “Naiklah.” Membuat Mackenzie lumayan gugup untuk bergerak setelah memasang helm.

“Bagaimana kalau, kita jalan-jalan dulu?” ucap Johnny ketika bokong Kenzie sudah sampai pada jok belakang motor pemuda itu.

“A-apa?!” tanya Kenzie terkejut, semakin gugup. Johnny pun langsung melesatkan motornya ke jalan raya, tanpa menunggu persetujuan dari orang yang ditanya.

“Masih pukul delapan, aku sedang ingin jajan tteokpokki dan hot bar, sebelum pulang.”

“Tap—”

“—Oh, ayolah, Kenzie. Aku tahu kalau kau ingin cepat-cepat membuka hadiah barumu. Tapi apa salahnya kalau kau kuajak menemaniku sebentar—teman kecilmu yang baru datang ke Seoul lagi ini? Lagi pula kemarin kita bertemu di rumahmu juga sangat sebentar,” bujuk Johnny seperti sedang memohon.

Mackenzie terdiam, ia menyadari kalau sangkalannya tadi sangatlah tidak sopan dan tidak mengenakkan. Eh, tapi … sejak kapan, sih, gadis itu mulai bersikap sopan dengan Johnny?

#NowPlaying Aimer – Moon River

Baiklah. Baiklah. Mackenzie akan mengaku. Ia tidak ingin menolak karena sebenarnya dirinya sangat senang bisa berinteraksi lagi dengan Johnny setelah sekian lama tidak bertemu. Gadis itu ingin kecanggungan di antara keduanya menghilang, maka—

“Baiklah. Asal kau yang teraktir, sih, aku tidak keberatan.”

—gadis itu menurutinya dengan respons datar, sedikit gurauan.

Johnny tertawa renyah. Tawa yang sangat dirindukan Kenzie kembali menguar di riak telinganya. Apakah Mackenzie tengah bermimpi sekarang?

“Baiklah. Aku yang akan traktir kau jajan malam ini. Apa kau siap?” Johnny kembali bersuara dengan bersemangat.

“S-siap … untuk apa?” Mackenzie kembali bersikap gugup, takut bila ia akan salah tanggap terhadap ocehan Johnny yang agak tidak jelas lantaran gemuruh angin menyamarkannya.

“Siap untuk melompat ke bulan bersamaku?”

“Apa?” Tolong katakan kalau Mackenzie sudah salah menangkap kalimat Johnny barusan.

“Hitungan satu sampai tiga, kau harus berpegangan erat bila tidak ingin jatuh dari motorku, kau mengerti?”

“ … ”

“Satu, dua, ti—”

Mackenzie membulatkan kedua matanya, “—Kak Johnny!!!” Melesatlah motor tersebut menembus jalan raya malam hari dengan kecepatan yang lumayan membuat jantungan. Angin malam itu mengibar-ngibarkan baju kedua orang yang menumpanginya.

Senyuman Johnny terlihat mengembang sempurna, sedangkan rona merah tengah menjalar pada pipi pualam Kenzie, karena kedua tangan gadis itu kini sedang menggenggam erat bahan kemeja biru tua yang Johnny kenakan, berjaga agar ia tidak jatuh.

Ada satu sosok lagi yang tampak sangat menikmati kebersamaan mereka saat ini, adalah Miho, sosok buntal berbulu kelabu itu sedang terbuai angin malam yang lewat, hingga membuatnya tertidur pulas di dalam kandang hijau toscanya.

Malam yang cerah rupanya akan tampak semakin cerah, bagi keduanya, ah tidak, ketiganya.

***

-Tbc-

So … how’s part 1? Mind to riview?
Check also : 
Hello, Long Time No See, Stranger 
Nantikan, part cerita Mini Chapter Drama Romance lainnya
dari Berly ; Roller Coaster Love hanya di blog NCTFFI tercinta!
Terbit setiap Kamis sore menghiasi bulan Juli, so stay tune!

Advertisements

11 thoughts on “[Mini Chaptered] Roller Coaster Love : Jump to The Moon (1/4)

  1. Si Johnny anak orang dibawa kabur aja :v Sok-sokan mau ngelompat ke bulan lagi /bilang aja kalau sirik, Al 😒/
    Akhirnya nih series terbit juga hehe hari Kamis cepet banget perasaan datengnya 😅 Si Winwin belum keliatan batang hidungnya ya? :v

    Gak tau mau ngomong apa lagi deh saking bagusnya nih ff 😊 Semangat ya Kak Ber ngelanjutin nih series. Ditunggu kelanjutannya. Semoga tidak terserang WB 😄 Keep Writing and Hwaiting 🙌 💕

    Liked by 1 person

    • Wah, haiiiii Al! Thank you lagi sudah mampir ke part satu hehe. Iyaya seminggu itu kerasa cepet banget hffft. Winwin udah muncul kok, dia selalu muncul malah, di pikiran Ber :’) /IYABER/ wkwkwk abaikan.
      Anyway makasih banyak semangatnya lho! Semangat juga buat kamu, keep writing and have a nice day, ya, Al! ❤ 😀

      Liked by 1 person

  2. nyonya seoooo!

    Ini lucu banget serius aku ketawa2 sendiri bacanya apalagi pas kenzie keselek gara2 johnny HAHAHAHAHA YAAMPON TOLONG YA JOHN JANGAN SINGGUNG SOAL STATUS ASMARA NANTI KENZIE GABIDA TIDUR LOOHH XD

    ini lucu banget kabeeerr, ditunggu momen2 mereka di warung tokpoki yha, terus akhirnya ketemu winwin yang jadi obat nyamuk /GA/

    KEEP WRITING NYONYA SEO QU YANG MANIS MWAH SALAM HANGAT DARI KEPONAKAN OM EHEH UNCHHH :*

    Liked by 1 person

  3. KABEEEER KUSENGAJA BACA SEKARANG BIAR GK LUPA, SOALNYA APDETNYA KAN HARI KAMIS DOANG YA 😋😋😋 Aku spisles sebenernya, ngekek mulu sama karakternya Emma yg suka nonton drama, mirip diri sendiri 😲 Belum lagi pas Emma belain Doyoung padahal Doyoung udah nyakitin, itu deskripsinya ucul sekali 😂😂😅

    Si John belum apa2 udah ngajak to the moon and back aja 😒 Mungkin dia kepingin cepet2 tancap gas (?) biar Kenzi gk diklaim sama Sicheng /GA/ Mungkin efek kangen sehabis lama berpisah //lalu digolok kaber bikos zok tau//

    Sesuai harapanku, John berjiwa-jiwa somplak di sini, makanya aku menikmati banget alurnya. Apalagi yg makan malam bareng2 di Led Zepolli itu aduh nuansanya hangat banget, jadi berasa ikutan main 😍😍😍

    Nice fic Nyonya Seo kesayangan…. Ji tunggu next chapternya ya 😊😊😊😊😊

    Liked by 1 person

    • JIYOOO HALOOOO, maaf baru bisa bales komentarmu sekarang karena tadi cuma sempet baca doang. Aku seneng banget kalo Jiyo nikmatin alurnya, jadi tambah semangat nih buat nyelesaiinnya! 😊😊😊😊 wkwkkw karakter Emma emang ngeselin ya Ji? /lalu ber ditimpuk sama yang punya OC/
      XD aku ketawa baca komenmu yang tentang Johnny main tancap gas aja! Tapi hari ini sayangnya Ber baru bisa ngepost pengganti cerita RCL dulu hehe, belum bisa ngepost lanjutannya, semoga Ji gak kecewa ya! Sekali lagi makasih Ji sudah mampir kemari! ❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s