[NCTFFI Freelance] Let It Be (Ficlet)

Let It Be.

by lalyssnathani

– – –

Kim Doyoung

– – –

PWP, AU, Fluff // General // Ficlet

– – –

First fic in here XD maap kalau kata-katanya nggak rapi dan nggak indah. Criticism and suggestions are needed :*

– – –

Karena itu selalu meluluhkan hatiku, dan aku tidak mau nantinya mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu

.

.

.

Doyoung menjatuhkan diri pada bangku tunggu di lobi rumah sakit. Netranya mengatup dan kepalanya bersandar pada tembok belakang. Tangannya bersidekap seraya merapatkan jas laboratoriumnya.

Hari ini rumah sakit lebih ramai lagi dari yang biasanya ramai, membuatnya bekerja dua kali lipat lebih keras. Apalagi dengan anak-anak koas itu yang masih memerlukan bimbingannya, membuat perhatiannya terbelah menjadi dua, dan itu membuatnya semakin bekerja lebih keras lagi.

Matanya itu kini terbuka, namun kepalanya masih bersandar di tembok dan menengadah ke atas. Hembusan napas lelah akhirnya mencelos keluar dari mulutnya perlahan. Tangan kanannya terangkat, memijat-mijat kepalanya sendiri.

“Oh, ye ajumonim. Gidaryeo juseyo.”

Doyoung menoleh. Netranya berakhir pada gadis yang tengah tersenyum pada seorang pasien. Lalu, sebuah dengus tawa sarkatis terdengar dari mulutnya seraya memalingkan pandangannya dari gadis itu.

Doyoung menopang dagu dan menolehkan lagi kepalanya. Sepersekian menit, manik matanya menuntut untuk memperhatikan gadis tadi. Walaupun ia enggan, nampaknya indranya tak mau mengikuti keinginannya.

Lantas, di sinilah Doyoung. Duduk di ujung bangku tunggu lobi rumah sakit, seraya memerhatikan setiap gerak-gerik gadis yang telah di kunci oleh netranya.

Gadis itu adalah salah satu juniornya. Gadis itu masih menyandang titel dokter muda atau koas di rumah sakit ini. Dan gadis itu adalah salah satu anak didiknya, atau lebih gampangnya dialah pembimbing gadis itu. Hmm, tapi bukankah Doyoung masih terlalu muda untuk jadi pembimbing dokter-dokter muda?

Gadis itu adalah seseorang yang paling sering Doyoung marahi di dalam tim mereka. Gadis itu terlalu polos, atau mudahnya tidak pernah benar-benar becus setiap mengerjakan tugas dan perintah. Gadis itulah yang membuat pekerjaan Doyoung semakin berat. Bukankah tampak lebih mudah jika satu tim dengan dokter muda yang begitu jenius dan dapat diandalkan? Sayangnya itu hanya angan-angan bagi Doyoung. Karena nyatanya… Ya begitulah.

Tapi, karena gadis itu membutuhkan bimbingan lebih daripada yang lainnya, itu membuat perhatian Doyoung nyaris berpusat hanya pada gadis itu saja. Selama satu tahun ini.

Memperhatikan gadis itu kini bukan hanya sekedar kewajiban agar gadis itu tak melakukan kesalahan, namun menjadi suatu kebiasaan. Selalu berada di dekat gadis itu bukan lagi sekedar keharusan agar gadis itu tak melulu ceroboh, namun sudah menjadi kemestian.

Beberapa bulan terakhir, Doyoung merasakan perasaan yang ganjil di hatinya. Dia tidak bisa menerka apa itu pastinya, karena walaupun dia seorang dokter, tetap saja dia bukan psikolog atau Tuhan yang mengerti perasaan. Karena pada nyatanya manusia tidak dapat memahami perasaannya sendiri.

Namun, setelah di pikir dan di ingat lagi, semua itu berawal ketika terlintas sebuah pertanyaan di benak Doyoung.

Bagaimana bisa gadis seimut dia bisa tersesat di rumah sakit? Bagaimana bisa gadis selugu dia kuliah di fakultas kedokteran dan berakhir menjadi koas ‘kurang beruntung’ di rumah sakit ini?

Dan pertanyaan itu terbesit ketika ia kesal pada gadis itu, yang telah salah mendiagnosis pasien.

Bukankah semua pembimbing juga akan kesal apabila juniornya sampai salah diagnosa?

Tapi semuanya tiba-tiba menjadi aneh. Gadis itu menangis deras sekali setelah di bentak habis-habisan oleh Doyoung. Namun nyatanya Doyoung justru tertawa tertahan karena menganggap junior perempuannya itu imut sekali saat menangis. Dan Doyoung berakhir memeluk gadis itu agar banjir air matanya berhenti.

Oke, Doyoung mulai bergidik geli ketika mengingat kembali kejadian itu. Entah setan apa yang merasukinya ketika ia berbuat macam itu. Konyol sekali dia.

Tapi, kejadian yang hampir 4 bulan lalu itu tak lantas membuat atmosfir mereka canggung. Karena nyatanya sekarang Doyoung masih saja memaku netranya pada gadis itu. Menggerakkan maniknya mengikuti kemana gadis itu melangkah.

Dan ketika ia sadar, dia menegakkan tubuhnya dan memandang antara heran dan terkejut. Gadis dengan jas koas nya itu kini berada di depannya. Dan lagi, lamunan Doyoung telah usai sepersekon lalu.

“Mau kopi, sunbaenim?”

***

Aku masih bingung sejak satu tahun lalu. Kenapa kamu memanggilku sunbaenim? Kenapa bukan seonsaengnim atau euisangnim?Apakah aku terlalu muda untuk menyandang titel itu? Atau terlalu tampan?

Kenapa kamu tidak peduli walaupun sebenarnya tahu bahwa akhir-akhir ini aku tidak hanya sekedar memperhatikanmu?

Aku harap kamu tidak lagi selalu bertingkah imut. Oh, kamu memang imut. Atau tersenyum manis sekali. Karena itu selalu meluluhkan hatiku, dan aku tidak mau nantinya mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu, Ryu Sujeong!

***

Doyoung tersenyum seraya mengangguk dan mengambil gelas plastik kopi dari tangan kanan gadis itu. Lalu, gadis pendek itu duduk di samping Doyoung, dan mereka menikmati kopi bersama-sama.

Doyoung menyeruput kopinya seraya melirik pada gadis di sebelahnya sekilas. Ia kini memperingati dirinya sendiri untuk tidak seakan-akan berani melontarkan kalimat-kalimat konyol seperti tadi. Karena semua hanya akan menjadi seakan-akan. Karena semuanya hanya akan terlontar dalam benaknya. Karena jika ia seperti itu, tak akan pernah ada momen-momen seperti sekarang. Jadi, biarlah semuanya berjalan sesuai alur ceritanya.

-FIN-                                           

Ahh… Annyeonghaseyooo, Lalisa Nathani imnida. Penname dunia per-fanfic-an lalyssnathani XD dan aku… Aku… Aku… Dari garis 03, ehehehehehe…

Fic pertamaku disini. Jadi mohon bimbingannya, kritik dan saran juga :*

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Let It Be (Ficlet)

  1. Hai dek lal 😂😂😂
    Aku Alda 02L, salam kenal ya 😊

    Ceritanya bagus kok lal. Suka sama ceritamu, penjelasannya mengalir aja jadi yg baca juga enjoy. Si Doyoung disini pedenya tinggi ya ‘atau terlalu tampan?’ Sumpah aku mau ngakak bagian itu untung inget ada di kendaraan umum😅😂 Baru kali ini juga baca couple DoJeong 😂

    Keep Writing ya lal and Hwaiting! 😊 Ditunggu karya selanjutnya 😄

    Like

    • Hai kak da XD salam kenal juga~!

      Makasih loh kak da atas pujiannya XD lal jadi seneng kalo kak da suka sama ceritanya, hehe XD :V iya nih kan si Doyoung terlalu tampan buat di panggil dokter, mendingan di panggil ‘suamiku’ aja XD XD Iya ya, lal juga ngira baru kali ini ada couple DoJeong, nggak tau kenapa lal kok bikin couple mereka XD

      Makasih kak da atas kunjungan dan pujiannya. Makasih makasih makasih :*

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s