[Ficlet Mix] Her Crush

Mackenzie with 97 line

Her Crush

Written by Berly ©2017
• ᴥ •

| Starring : [NCT‘s] Winwin, [NCT‘s] Jaehyun, [OC‘s] Mackenzie Lee, [BTS‘s] Jungkook, [SVT‘s] Minghao, [SVT‘s] Mingyu| Genre : Friendship, School Life, Fluff, Hurt | Rating : Teen to Up | Duration : (+/-) 1500 words | Length : Ficlet Mix |

Spesial, Mackenzie Lee with 97 line friends, in senior high school grade 2.

“Aku, atau bahkan kalian, tidak akan pernah bisa menebak siapa orang yang tengah bertahta di hatinya.”

***

[1.] Jungkook’s Side

“Could I tell you this time, how I wish you were mine, ‘cause your embrace keeps me warmer.”

Pagi yang cerah ketika langkah Jungkook memasuki mobil bis tour nomor 8—bis yang ditempatkan khusus untuk setengah murid dari kelas 2-F dan setengah murid dari kelas 2-G. Entahlah kebetulan atau memang benar adanya, ia masuk paling terakhir dari arah depan, dan bangku yang kosong tinggal tersisa dua.

Yang satu, ada di sebelah kanannya : terdapat dua bangku berjejer—dengan satunya yang sudah ditempati seseorang perempuan. Jika ia memilih duduk di sana, pastinya ia sudah tahu apa yang akan anak-anak kelas perbuat kelak padanya. Anak kelas akan menggoda Jungkook habis-habisan seusai tour, dengan topik hangat “Jungkook telah duduk di sebelah Ratu Satu SeangkatanJung Chaeyeon selama tour berlangsung”. Atau mungkin, ia akan babak belur oleh gebetan-nya Chaeyeon, bila ia ketahuan berani dekat-dekat dengan Chaeyeon ….

Memikirkannya saja, Jungkook sudah ngeri bukan kepalang.

Mengedar kembalilah bola mata pekatnya ke sisi lain. O, tentu saja di tiga jejer bangku sebelah kirinya terdapat satu bangku juga yang masih tidak berpenghuni. Ia sangat bersyukur, karena bangku itu ditempati oleh … oleh malaikat hatinya, Mackenzie Lee.

Tapi, senyuman Jungkook yang baru terukir luntur seketika, saat melihat siapa yang ternyata juga duduk di sebelah gadis pujaan hatinya tersebut. Winwin. Jungkook rasa anak laki-laki itu selalu ia temukan di samping Mackenzie, di mana pun dan kemana pun gadis itu pergi. Padahal yang Jungkook tahu, Winwin dan Mackenzie tidak memiliki hubungan lebih dalam dari sekadar teman.

“Boleh aku duduk di sini, Kenzie?”

Oh, ya, tentu saja, Jungkook.” Mackenzie tersenyum ramah mempersilakan Jungkook duduk di sebelahnya, sementara Winwin yang menyadari kehadiran Jungkook, ia hanya melihat sebentar presensi Jungkook, kemudian memilih untuk tidak banyak berkomentar.

Alhasil, Jungkook menaruh bokongnya dengan ekspresi cerah di bangku itu. Jungkook, sih, mewajarinya saja, kalau keduanya (Winwin dan Kenzie) selalu bersama. Mungkin kedekatan mereka itu lantaran faktor keduanya selalu berada di dalam kelas yang sama—sejak kelas satu. Sedangkan Jungkook, selalu berbeda kelas dengan Mackenzie. Ia hanya bisa memerhatikan gadis itu dari kejauhan dan menjadi teman satu kegiatan saja.

.

Perjalanan tour menuju daerah Tongyeong agaknya akan memakan waktu lebih lama lagi. Jungkook merasa matanya sudah berat ingin terpejam, namun—

Tuk.

—ada yang menginterupsinya dari arah bahu sebelah kanan. Sontak Jungkook kembali membuka kedua mata, lantas menemukan kepala Mackenzie yang tak sengaja ketiduran, bersandar pada bahunya.

Senyuman tipis mengembang di bibir Jungkook, pipinya agak merona karena tersipu, rasa-rasanya remaja laki-laki itu akan sangat menikmati perjalanan study tour kali ini dalam waktu yang lebih lama, bila seterusnya akan banyak tercipta momen dirinya bersama Mackenzie Lee seperti ini.

Winwin juga tampaknya sudah terlelap sedari tadi di sisi jendela, membuat Jungkook bisa lebih leluasa merengkuh Kenzie agar gadis itu bisa bersandar lebih nyaman di bahunya.

Ci0AbHCUYAArlwN

***

[2.] Jaehyun’s Side

“My voice cracks, I wait for it to pass, heart beats fast for words I can’t take back. And so I pray I don’t drive you away, ’cause I’m scared of what I have to tell you.”

Sudah dari sepuluh menit lalu Jaehyun berkeliaran di luar bis nomor 6—bis yang ia tempati—di tempat pemberhentian bis pertama. Jaehyun bahkan sudah buang air kecil. Teman laki-lakinya yang lain berhenti sejenak melihat-lihat benda pajangan lucu di beberapa toko pinggiran. Ya … secara tidak sengaja kegiatan tersebut membuat Jaehyun jadi ikut terbawa, memandangi barang-barang di toko itu juga.

Satu hingga detik kelima, irisnya terhenti pada satu boneka kucing yang cukup menggemaskan.

Kudengar-dengar gadis itu sangat suka dengan kucing.

Terngiang kembali suara teman laki-lakinya dulu saat Jaehyun dan geng-nya tak sengaja membicarakan Mackenzie diam-diam.

Tentunya Jaehyun tahu, kalau ia dan Mackenzie pernah punya insiden perang karena kedua adik mereka cukup dibilang dekat. Tapi, kenapa rasanya ada sesuatu yang timbul menggelitik di hati Jaehyun, kala ia melihat boneka tersebut? Ia kini tengah membayangkan wajah Mackezie yang begitu menyebalkan di paras boneka.

Lalu ketika tangannya akan mengambil benda itu—

“Eitss! Aku yang pertama kali melihat ini.”

—Jaehyun mendesis menatap siapa yang tiba-tiba saja merebut boneka itu dari tangannya.

“Kau ini apa-apaan, Winwin? Jelas-jelas aku yang ada sedari tadi di sini dan tertarik pada benda itu lebih dulu.” Jaehyun menunjuk boneka kucing yang digenggam Winwin.

“Sejak kapan kau menyukai kucing?” tanya Winwin mengintrogasi.

“Itu bukan urusanmu. A-aku ingin membelikannya untuk adikku, kembalikan padaku!” jawab Jaehyun agak gagap, tentu saja karena ia berbohong.

“Winwin? Ada apa ini ribut-ribut?” secercah suara menguar, berasal dari seorang gadis yang baru menghampiri dua laki-laki tersebut. Tentu saja itu suara Mackenzie, Jaehyun sudah tahu betul sifat kedua manusia sepaket itu, bila ada Winwin, pasti ada Mackenzie, bahkan sebaliknya. Jaehyun tiba-tiba saja jadi lebih banyak diam dan bersikap kaku ketika Kenzie hadir.

“Ah, ini, aku menemukan boneka kucing yang sedari-tadi kau cari, Kenz. Bagaimana, katanya kalau menemukan boneka kucing, kau akan membelinya sebagai buah tangan?” ucap Winwin kepada Kenzie, yang langsung direspons kerutan dahi si gadis.

“Boneka itu sangat menggemaskan, tapi seharusnya kau tidak boleh mengambil yang sudah punya orang lain, Win. Kembalikanlah kepada Jaehyun,” ujar Kenzie tidak enak pada Jaehyun, karena tampaknya Kenzie sedikit banyak sudah mendengar ocehan Jaehyun beberapa detik lalu.

Jeda hening sejenak di antara ketiganya.

“Benar, nih?” tanya Winwin lagi memastikan.

“Iya, kita cari boneka kucing yang lain saja,” jawab Kenzie meluruskan.

“Baiklah, kau yang meminta, maka aku akan menurutinya.” Lantas Winwin berlalu setelah memberikan boneka tersebut pada Mackenzie.

Jaehyun yang masih agak kikuk pun menatap apa yang tengah disodorkan Kenzie padanya—boneka kucing abu-abu-pink yang menggemaskan. “Sorry, Jae, aku akan mencari boneka yang lain, jadi yang ini kau ambil saja, ok?”

“Ah, iya. Trims,” jawab Jaehyun singkat, tidak mau memperpanjang alasan lagi.

Priiiit! Bunyi peluit guru-guru mereka per bis sudah berbunyi, pertanda semua murid harus segera menaiki bis masing-masing. Karena hal itu, Mackenzie jadi tidak sempat menemukan apa yang ia cari di toko tersebut. Tampaknya boneka kucing itu tinggal tersisa satu.

Sebenarnya di awal, Jaehyun hanya ingin menatap boneka itu lebih lama saja, untuk mengingat-ingat wajah jelek Mackenzie yang menyebalkan, ia sama sekali tidak berniat membelinya. Tapi tahu-tahu Winwin datang seperti hantu, membuat Jaehyun jadi agak kesal.

Bahkan Jaehyun jadi berbohong dan mendapatkan rasa tidak enak pada Mackenzie. Maka, remaja laki-laki itu pun memutuskan untuk membeli tiga boneka pada akhirnya. Sepasang boneka bebek untuk oleh-oleh kedua adik kembarnya di rumah, dan satu lagi, boneka kucing yang sejak tadi diperebutkan, untuk rasa tidak enaknya kepada … Mackenzie.

Rasa tidak enak, atau …

Entahlah, ia pun tak mengerti mengapa ia rela membeli boneka itu lagi untuk gadis yang paling ia benci di sekolah? Terselip rasa penyesalan, namun terlanjur niat. Jaehyun harap, Winwin tidak akan menyadari tentang kehadiran boneka kucing itu lagi, yang nantinya akan ia berikan kembali pada Mackenzie.

CJH8m-hVAAEE7QA

***

[3.] Minghao’s Side

“Like the sky is high, the winds are cold, and the ocean is wide and blue. Even if i want to hug you tightly, I’m afraid i’ll lose you.”

Kunjungan pertama murid-murid sekolah adalah refreshing ke sebuah tempat study tour yang dekat dengan pantai. Xu Minghao, anak remaja laki-laki itu selalu siap dengan kamera yang menggantung di leher saat turun dari bis nomor 7. Tidak ada yang lebih indah selain memfoto pemandangan-pemandangan di sana. Terlebih dengan air laut dan langit yang terlihat biru membentang, begitu memanjakan netra.

Minghao terus mencari sudut demi sudut angle gambar yang bagus untuk menambah koleksi fotografinya. Tahu-tahu fokus lensanya tak sengaja menangkap sesosok orang yang begitu … indah di dalam lensa. Senyuman alami terpancar dari seorang teman yang Minghao kenal namanya. Mackenzie Lee.

Ckrek.

Minghao mencoba melihat hasil jepretan pertama terhadap sosok tersebut, lengkungan senyum mendadak mengembang di guratan wajah. Minghao kemudian memperhatikan tingkah Kenzie diam-diam, sesekali mengambil angle lain lagi.

Tapi, kala Minghao akan mengambil sosok Kenzie kembali untuk yang ke sekian kali, ada sesuatu yang menghalangi lensanya. Apakah lensanya mengalami badai keburaman akut, atau mendadak rusak karena sosok tersebut sangat mengganggu kegiatan berburu potretnya diam-diam? Kerutan di dahi Minghao pun tercipta karena heran. Ketika Minghao sedikit mendongakkan pandangan, ternyata itu …

“Hey, Minghao, mau memfotoku bersama Mackenzie tidak?” Wajah seorang laki-laki—yang sedari tadi menghalangi pemandangan lensanya—sok dilugu-lugukan sembari menyeringai kini terpampang di hadapan Minghao.

“Winwin?” Minghao mencoba memastikan. Agaknya Minghao sadar karena tertangkap basah telah memotret gadis orang lain tanpa bilang-bilang, makanya pemuda Xi itu langsung menyetujui permintaan Winwin, agar tidak mendapatkan tatapan tidak suka dari Winwin.

Nah, bagus.” Winwin tersenyum lantas melambai-lambaikan tangannya pada Mackenzie, “Mackenzie! Kemarilah, ayo kita foto berdua, Minghao bersedia memotretnya!”

Gadis berambut hitam lurus yang merasa terpanggil itu pun mendekat, membuat Minghao cukup senang karena bisa melihat sosok Kenzie lebih dekat.

“Benarkah? Minghao mau memotretnya?” tanya Kenzie senang.

Minghao mengangguk seraya tersenyum kalem. Sementara kedua orang yang Minghao anggap sedang berpacaran itu memposisikan diri untuk siap dipotret.

“Siap, ya? Aku hitung sampai tiga.” Minghao bersuara untuk mengaba-aba. “Satu, dua, tiga.”  Ckrek!

Minghao sengaja mengulang-ulang potretannya dengan alasan hasil terlalu buram dan jelek. Agar ia bisa memotret sosok Kenzie sendirian lebih leluasa.

Ssst … jangan bilang-bilang Winwin.

Kendati foto Winwin dan Kenzie yang sangat bagus akhirnya bisa dibawa pulang oleh pasangan itu, Minghao tetap merasa senang bila Kenzie bahagia. Lagi pula, Minghao sudah puas tadi, karena terdapat banyak foto-foto Kenzie di dalam kameranya.

0df26b8420f3cb38b862d2aa771fba06

***

[4.] Mingyu’s Side

“If I showed you all I really want to … would you stay, dare to push me away? I just can’t return anymore, I’ll be what you wanted, I need, I need you like water.”

Tak terasa, pagi sudah berganti menjadi siang, bahkan sinar matahari tampak sangat menyengat kulit sekarang. Membuat semua murid, termasuk Mingyu, sang anak baru dari kelas 2-H kehausan dan banyak berkeringat. Lantas ia mencoba mencari sebuah sudut kedai minuman atau mesin minuman selama bis masih berhenti beristirahat.

“Hey, Mingyu, mau beli minuman?” kata seseorang temannya yang adalah Jangjoon, kemudian direspons oleh anggukan Mingyu.

“Hey, aku juga ingin ikut!” Dokyeom sang ketua kelas 2-H bergabung, merangkul kedua teman sebayanya—Mingyu dan Jangjoon.

Pandangan Dokyeom dan Jangjoon sudah tertuju pada mesin minuman di salah sudut pertokoan yang tak jauh dari jalan mereka datang, “Bagaimana kalo cola? Ada kopi juga!” tanya Jangjoon sambil menunjuk mesin minuman, yang langsung disetujui anggukan Mingyu dan Dokyeom.

Namun ketika ketiganya sampai dekat mesin minuman itu, langkah mereka terhenti lantaran ada sesosok gadis tengah kesulitan menekan digit tombol mesin tersebut. Bagaikan adegan slow motion, Mingyu malah jadi melamun, karena angin yang lewat menerpa lembut helai rambut gadis itu.

“Mackenzie? Butuh bantuan?/Apa mesinnya rusak?” Berbeda dengan Mingyu, Jangjoon dan Dokyeom lansung bersikap sigap untuk membantunya.

Mingyu menggelengkan kepalanya cepat. Tampaknya ia telah dirasuki sebuah delusi berbahaya tadi.

“Iya, sepertinya mesinnya rusak, deh.”

Kacau. Tenggorokan Mingyu semakin merasa haus saja lantaran mendengar suara merdu gadis bernama Mackenzie itu.

“Masa, sih?/Coba sini, aku akan memakai mesinnya dulu.” Jangjoon dan Dokyeom kembali berisik, namun tak ada hasil yang memuaskan. Mesinnya tetap macet dan malah menelan koin-koin mereka.

Mingyu semakin haus saat memerhatikan lekak-lekuk senyuman Kenzie. Maka dirinya pun jadi tidak sabaran, kakinya langsung saja menendang mesin tersebut dengan kerennya, hingga muncul bunyi kling, blang, blang, blang, blang, blang. Secara otomatis 5 cola yang sama berhasil menggelinding jatuh ke bawah.

Kedua mata Mackenzie berbinar. Tidak hanya Kenzie, Jangjoon dan Dokyeom pun terkejut juga terkesan. “Wah, Mingyu, kakimu hebat sekali, ajaib! Hahaha.”

Mackenzie tersenyum lebar, lantas mengambil dua cola-nya, “Terima kasih, Mingyu, Jangjoon dan Dokyeom, kalau tidak ada kalian, mungkin aku akan semakin kehausan.”

Jangjoon dan Dokyeom berlagak membesarkan kepala menjawab pujian Kenzie.

“Omong-omong, sepertinya kau memang haus sekali, ya, sampai mengambil dua cola begitu?” Ups … Mingyu, kok, mendadak jadi kepo begini dengan gadis bersurai pendek sebahu tersebut.

Oh, tentu saja cola yang satu lagi ini bukan untukku, tapi untuk Winwin. Dah, aku ke bis-ku dulu.” Akhirnya setelah menjawab pertanyaan Mingyu, Kenzie pamit pada ketiganya.

Mingyu masih berdiri mematung memandangi punggung gadis itu, lalu perlahan meminum cola-nya sekitar tiga tegukan, bersama Jangjoon dan Dokyeom.

“Siapa itu … Winwin? Apa Winwin itu perempuan?” gumam Mingyu, nyaris tidak terdengar oleh siapapun, bahkan pada kedua temannya yang berjarak dekat sekarang. Mingyu kembali meneguk cola-nya hingga tetes terakhir.

Sepertinya … Mingyu masih merasa haus.

Haus akan rasa penasarannya pada gadis bernama Mackenzie.

b75c0e353d0787930518ff63ba697db5--twitter-update-pledis-

***

[5.] Winwin’s Side

“Because we’re together, I’m able to smile. And because it’s you, I’m able to cry. Like this, how could there be anything I can’t do? No matter when and where you are … even if we’re unable to be together, we will always, like we have … have smiles blossom. I will become the spring to your smiles.”

***

*Winwin’s POV*

Yang aku pikirkan sejak aku berangkat bersama Mackenzie di dalam bis adalah … guratan bahagia di wajahnya. Dirinya tampak senang sekali tentang rencana study tour ini. Aku pun merasakan hal sama.

Namun ketika Jungkook datang, kemudian ikut duduk di tempat bangku bis kami, aku langsung memasang wajah kecut. Entahlah … kupikir Jungkook memang suka dengan Kenzie, terpampang jelas dari air mukanya. Apa lagi … aku agak terkejut saat terbangun dari lelapku di tengah perjalanan tour, melihat Kenzie tertidur dengan kepala bersandar di pundak Jungkook, dan Jungkook juga tampak tertidur pulas dengan nyaman di sana.

How sweet they are … NO! Kenapa aku mendadak jadi seperti obat nyamuk di sini?

Diam-diam, aku mengubah senderan kepala Kenzie yang tadinya bersender pada Jungkook, jadi bersender pada pundakku—tanpa membangunkan kedua insan itu. Lalu aku memutuskan untuk kembali tertidur bersama senyum kemenangan.

Kau tidak bisa mengambilnya dariku, Jungkook.

.

Kemudian saat gerombolan bis tiba di peristirahatan pertama, aku yang sedang mencarikan buah tangan—boneka kucing—yang diminta Kenzie, akhirnya tak sengaja menemukan benda itu di sebuah toko pernak-pernik pajangan. Tapi … mataku secara bersamaan, ikut menangkap sosok yang kini terpaku di hadapan benda itu. Jaehyun? Sedang apa dia berdiri menatap boneka kucing dengan ekspresi gemas seperti itu?

Karena aku mendadak mengambil boneka yang Jaehyun pandangi dan ia tidak terima boneka itu diambil, aku dan Jaehyun jadi menimbulkan perdebatan aneh, ditambah Mackenzie yang tahu-tahu datang di antara kami. Akhirnya aku gagal membawa boneka kucing untuk Kenzie.

Kata Jaehyun … ia ingin membelikan boneka untuk kedua adiknya di rumah, salah satunya adalah boneka kucing itu. Dan sepertinya boneka kucing tersebut hanya tinggal tersisa satu di toko.

Baiklah. Kali ini aku akan percaya padanya. Pada orang yang paling tidak disukai Kenzie di sekolah—lantaran Jaehyun sering bersiteru dengan adik bungsu Kenzie yang adalah Mark.

.

Lalu kala semua murid-murid berkumpul di dekat pantai dan menikmati alam. Aku tak sengaja mendapati Minghao sedang asyik memotret pemandangan … atau … Mackenzie?!

Hah … yang benar saja? Ia sedang memotret Mackenzie dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi?? Oh ayolah, laki-laki remaja itu tidak bisa seenak jidatnya saja mengambil gambar Mackenzie seorang diri. Dia harus mengambil fotoku bersama dengan Mackenzie juga. Itu baru keren.

Akhirnya, setelah aku memberanikan diri untuk berbincang-bincang dengan Minghao, aku jadi bisa membawa pulang fotoku bersama Mackenzie yang langsung tercetak dari kamera polaroid Minghao yang keren itu. Meski aku tahu, bagaimana ekspresi Minghao ketika aku memergokinya memotret Kenzie sembunyi-sembunyi,. Aku akan membiarkannya kali ini. Itu memang haknya, tapi lihat saja bila suatu hal buruk tahu-tahu terjadi pada Kenzie karena ia menggunakan foto-foto itu secara ilegal. Akan aku pastikan, ia tidak akan lolos dari kejaranku, Xu Minghao.

Omong-omong, terima kasih untuk traktiran cola-nya dari Mackenzie yang baik hati siang itu. Karena kebetulan aku memang sedang kehausan!

Aku pikir, semua laki-laki yang dekat dengan Kenzie telah mengira bahwa aku adalah orang yang Kenzie suka. Tapi … kalian semua salah. Aku, atau bahkan kalian, tidak akan pernah bisa menebak siapa orang yang tengah bertahta di hatinya. Kalian tidak akan percaya dengan pernyataanku yang satu ini. Tapi … itu memang benar adanya. Kalian tidak pernah bisa membaca pemikirannya yang kapan saja bisa berubah.

Apa pun keputusan yang ada di dalam dirinya … aku akan selalu mendukung. Setidaknya, aku terus berusaha untuk menjadi teman yang baik untuknya saat ini.

Bukankah itu keputusan yang terbaik?

WINWINa

***

Halo teman-teman semua, Berly mau minta maaf karena kali ini Roller Coaster Love ternyata akan sedikit telat jam post-nya. Tapi kalian tenang aja, kisahnya gak akan ngaret banget kok, karena sudah dipersiapkan dengan matang. Semoga kalian yang menunggu, sementara tergantikan dulu sama kisah spesial Mackenzie bersama 97 friends ini ketika mereka semua masih kelas 2 SMA. Hehe. Have a nice day buat kalian yang sudah mampir baca! Semoga suka! Salam hangat.

-Berly

Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet Mix] Her Crush

  1. Yeayy… First Comment 🎉

    Ya Allah I’m shocked, Kenzi dikelilingi para cogan. Aku kapan ya bisa kayak gitu /ngarepnya jangan ketinggian, Al. Masuk sana ke negeri dongeng -_-/ Dari Jungkook aku dibikin senyum-senyum sendiri terus lanjut partnya Jae yg cintanya terselubung benci /Jae kamu harus ngalah sama Jane karena aku dukung Mark-Jane 😂/ Minghao si anak cina yg tukang stalker sampai si mingyu yg tendangannya super sekali 😂 mingyu kenapa nggak ikut taekwondo aja ? Tendangannya mubazir lo kan bisa ngelindungin Kenzi 😂😂😂
    Dan terakhir anak cina alaynya NCT, Mas Menang-menang 😂😆 Mas menang-menang yg sabar ya karena terjebak friendzone

    Kalau masalah postingnya telat jam nggak apa-apa kali kak. Yg penting nih series tetep lanjut. Keep Writing and Hwaiting! 😄✊
    Love U Kak Ber💕
    Ditunggu lanjutan seriesnya dan karyanya yg lain 😊

    Liked by 1 person

    • Hai lagi Alda! 😂😂😂😂 tolongin ber karena pas ber baca komentarmu ber ketawa melintir sambil menggelinding /ga! XD KARENA KAMU RESPONS CERITA INI BENERAN SAMA DENGAN APA YANG BER BAYANGKAN. TOLONG KATAKAN APAKAH KITA BERJODOH, AL? kwkwkwk. /gagitu ber, caps jebol ber/
      Oh iya, maaf karena agak tertunda lanjutan RCLnya yaa hehehe, bakal segera ber rampungin kok! Makasih banyak Al semangat sama supportnya, semoga harimu menyenangkan! Kamu juga keep writing, lho! ❤

      Liked by 1 person

  2. kak kenz ceritanya mau nyaingin dd cheon apa gimana ini wkwk xD gapapa kenzie sama jaehyun aja abisnya kata donna jane mau disuruh putus aja dari mark ehe :3 semangat terus nulisnya tanteku muah ntar njel mau kambekin seo fams holiday aja yha stay tune HA HA HA /peluk ty/

    Like

    • IYA, KENZIE MAU NYAINGIN CHEONSA PARK SAMA EMERALD LEE DEMI KEMAHSYURAN HIDUPNYA /plak
      wkwkwk, Jane tengah dibumbung awan kebingungan sama kaya kenzie apa gimana ini? iyaudah gih, putusin mark sana /lalu mark gantung diri gegara diputusin jane/ semangat nulis juga kanjeeel, makasih udah mampir, TAPI JANGAN NULIS SEO FAMS JUGA AH, GA SAYANG SAMA KOKORO ADE APA! /digebuk

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s