[Ficlet] What’s The Problem?

What’s The Problem?

story by ayshry

Ji Hansol – Yoon Jooeun

AU!, Sad/Ficlet/G

***

“Sebenarnya, kau kenapa?”

Entah sudah berapa lama hening menyelimuti hingga kemudian Jooeun memberanikan diri untuk bersuara. Tatapnya terpaku pada sosok di sampingnya yang sedari tadi membisu, membuatnya memikirkan berbagai hal yang tak seharusnya dijadikan masalah. Karena Jooeun tahu, ada sesuatu yang berbeda dari kekasihnya saat ini.

“Jika ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah. Tidak biasanya kau diam seperti ini. Seperti bukan Hansol yang kukenal saja.”

Hansol yang tadinya menatap kedua ujung sepatunya dalam diam mulai mengalihkan pandang pada gadisnya. Senyum simpulnya terukir, membuat Jooeun tambah ketar-ketir bersamaan dengan prasangka buruk yang rasanya kian memelintir.

“Ayolah! Jangan membuatku penasaran seperti ini, Kak! Aku sudah menunggumu untuk berbicara dan tak menganggu sedikit pun selama tiga jam penuh.”

Kalo ini, hanya embusan napas berat yang menjadi jawaban dari kicauan Jooeun.

“Oke, jika kau memilih untuk terus-terusan diam seperti ini, maka aku akan–“

“Jooeun-a ….” Bibir Hansol pada akhirnya terbuka dan nama gadisnyalah yang ia lafalkan lirih.

“Hm? Sudah selesai bermain diam-diamannya?”

Hansol mengulas senyum. “Aku merindukanmu.” Sekon berikutnya, Hansol sudah menarik gadisnya ke dalam pelukan, merengkuhnya erat seakan enggan melepaskan. Apakah rindu sebegitu besarnya mempermainkan Hansol hingga ia makin pendiam?

“Kau kenapa, sih?” Pikiran Jooeun makin dipenuhi tanda tanya. Rindu katanya? Padahal setiap hari selalu bertatap muka dan bisa ditebak justru Jooeun suka membuat ulah yang memicu emosi sang pemuda. Lantas, sejak kapan seorang Hansol berubah menjadi sosok yang mudah terlarut dalam romansa?

Hansol terkekeh namun belum ada tanda-tanda ia akan melepaskan pelukan. Sedangkan Jooeun yang bingung hanya mampu membalas pun memberi tepukan-tepukan pelan di punggung si lelaki.

“Ah … aku benar-benar merindukanmu.” Hansol berbisik. “Terlebih jika aku tak lagi bisa memelukmu seperti sekarang. Ketika aku tak lagi bisa menikmati aroma tubuhmu yang memabukkan. Saat aku tak lagi bisa mendengar tawamu yang mampu menular. Dan–“

“Hei? Apa yang sedang kau ocehkan, hm?” Merasa tak nyaman dengan rentetan kata yang menelusup telinganya, dengan sedikit paksaan, Jooeun hendak melepas rengkuhan. Tetapi Hansol leboh dahulu mengeratkan hingga si gadis mulai merasa kesal bercampur cemas. “Ji Hansol!”

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja ….”

Hening kembali menyapa, dan kepala Jooeun makin dipenuhi pertanyaan yang membuatnya menumpuk kekhawatiran. Ada apa sebenarnya?

Sementara Jooeun masih mencoba menyambungkan satu per satu ingatan, pelukan yang erat pun mulai terasa longgar dan akhirnya dilepaskan. Tersisa tangan besar yang mencengkeram bahunya dengan kokoh, seakan memaksa agar si gadis hanya memaku tatap pada seseorang yang berada di depannya.

“Kau … baik-baik saja?” Jooeun kembali bertanya dan sebuah senyuman menjadi jawaban. “Lalu … kenapa?”

“Apa?”

“Kenapa kau bertingkah seperti ini?” Jooeun semakin cemas.

“Hei, Joo, dengarkan aku. Kau … maksudku, kita sudah lama bersama, bukan? Dan kau tahu dengan pasti bahwa hanya kau satu-satunya gadis yang berhasil merebut hatiku.” Hansol terdiam sejenak. “Gadis galak yang entah bagaimana justru membuatku terperangkap dalam cintanya dan aku bahkan tak tahu bagaimana cara mengeluarkan diri dari kebahagiaan yang selalu kau suguhkan.”

“Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan, huh?”

Hansol kembali mengulas senyum.

“Baiklah. Aku akan mengatakannya. Yoon Jooeun … aku ingin … kita mengakhiri hubungan ini.”

“A-apa? Kau … kau bilang apa barusan?”

“Maafkan aku.”

“Ji Hansol!”

“Maafkan aku, Jooeun-a. Tapi kurasa, ini yang terbaik. Maaf.”

“Tapi kenapa? Apa masalahnya? Kenapa kau tiba-tiba … ASTAGA!”

Hansol bangkit dari duduknya. Melepaskan tangan dari pundak gadisnya, serta-merta mengabaikan teriaka Jooeun yang menagih penjelasan lantas mulai menyeret tungkai.

Di sisi lain, Jooeun kini bergeming. Seluruh inderanya seakan kehilangan fungsi. Tubuhnya kaku. Bibirnya kelu. Memandangi punggung si lelaki yang kian menjauh, tanpa sadar setitik cairan bening mengaliri pipi tirusnya. Lagi, lagi dan lagi. Hingga isakan menyanyat hati membelah heningnya malam yang makin kelam. Tanpa bintang-bintang. Tanpa cahaya rembulan. Dan tanpa seseorang yang mampu menjadi penerang pun penenang.

“Ji Hansol berengsek!” erangnya di sela-sela isakan yang kian menguat.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang melekat, Jooeun meraih ponselnya dari dalam tas selempang. Mencari sebuah nama dari kontak teleponnya, lantas menghubungi seseorang.

Tidak butuh waktu lama hingga teleponnya tersambung. Lekas setelah mendengar suara lelaki di seberang sana, Jooeun berujar di sela-sela isakan:

“Nakamoto … hiks, b-bisa kau jemput a-aku sekarang?”

-Fin.

with love, mbaay ❤

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] What’s The Problem?

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s