[NCTFFI Freelance] Gardenia (Oneshot)

Gardenia

story by Rosé Blanche

 Lee Taeyong [NCT], Jung Jaehyun [NCT], Lee Taeyeon [OC]

Drama, Family, Hurt/Comfort

PG

Oneshot

Previous :
A | B | C | D | E | F

.

Don’t you want to let her know?

.

Lee Taeyeon tahu, ia harus dapat mengatasi semua ini sesegera mungkin.

Langkah gadis itu terhenti tepat di hadapan sebuah bangku taman, tepat ketika pemandangan rontokya dedaunan cokelat mengambil alih. Rupanya, angin cukup enggan bersahabat hari ini. Musim gugur telah tiba, maka terhitung delapan tahun sudah mereka tak bersua.

Sempat terukir kurva getir untuk sesaat di bibir Taeyeon. Ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah pepohonan, setidaknya sebelum jam perkuliahan dimulai. Sang gadis beringsut mendekat, kemudian menyibak dedaunan yang memenuhi bangku. Tak perlu waktu lama untuknya mendudukkan diri di sana.

Sambil menyandarkan punggung, sepasang kelopaknya berangsur terpejam. Secara tanpa sadar, entah mengapa otaknya mengumpulkan kembali memori yang tersimpan. Namun sayang, kenangan pahitlah yang mendominasi.

Belum lewat setengah menit Taeyeon berdiam diri, tahu-tahu saja bahunya terasa ditepuk bersamaan dengan munculnya suara, “Memikirkan kakakmu lagi, huh?”

Sedikit demi sedikit netra sang gadis terbuka, dan sekon berikutnya mereka bersitatap. Entah kapan atau bagaimana pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya itu berhasil datang tanpa suara, yang jelas lontaran tanya itu membuat Taeyeon mau tidak mau kembali mengulas senyum kecut. “Memangnya kenapa?”

“Tidak, hanya saja kurasa akhir-akhir ini kau jadi sering kepikiran. Kenapa? Masalah skandal itu lagi?”

Helaan napas meluncur dari bibir Taeyeon, menambah eksistensi kepulan asap putih meskipun tak terlalu kentara. “Entah ini sudah wanita keberapa yang mengaku menjadi korban, dan aku … aku … bahkan tidak tahu lagi siapa yang harus kupercaya ….” Dalam sekejap, lapisan bening telah menyelimuti bola mata Taeyeon. “Bodoh, kan? Padahal dia adalah kakakku sendiri ….”

Jaehyun masih tak berkutik, lantaran ia mengerti kalau gadisnya tak suka orang-orang tahu bahwa ia sedang menangis.

Katanya, ia akan tampak menyedihkan.

Karena itu, diam dianggapnya sebagai pilihan terbaik untuk sekarang. Hingga tahu-tahu saja dalam benaknya terbesit sebuah pemikiran, ia pun mengeluarkan dengus tawa singkat. “Setidaknya kau harus percaya sedikit kalau kakakmu tidak semesum itu.”

Oppa!”

Sebuah tawa Jaehyun loloskan begitu saja, namun segera ia hentikan lantaran tersadar bahwa sang gadis tidak sedang ingin diajak bercanda. Mungkin, gelisah yang menerpa kali ini lebih besar. Tapi, memang wajar saja. Siapa yang tidak khawatir kalau saudaranya terlibat kasus yang tak kunjung selesai walau sekian bulan telah terlewat?

Taeyeon pun juga sama khawatirnya, karena toh ia hanya seorang gadis biasa.

“Yang namanya menjadi aktor sekaligus penyanyi terkenal di Hollywood itu tidak mungkin luput dari gosip, Tae. Apalagi jika punya tampang bak pangeran, kemungkinan bahwa skandal itu akan melibatkan wanita akan jadi naik berkali lipat. Memang resiko orang tampan, sih ….”

Terjadi jeda selama beberapa saat. Untuk sejemang mereka berdua terdiam, hanyut dalam pemikiran masing-masing.

Sebenarnya, tidak mudah pula bagi Jaehyun untuk mengatakan semua itu terlebih pada saudari sang sahabat sendiri. Apalagi, gadis itu adalah kekasihnya. Tapi, Jaehyun tak mungkin juga berlagak lemah bila tujuannya memang ingin menguatkan.

Hanya saja, beberapa hal memang tak selalu berjalan semulus itu.

Semua ini bermula ketika lima bulan yang lalu, Taeyong dirumorkan berada di sebuah bar pada suatu malam. Entah apa yang membuatnya terlalu larut dengan alkohol, sampai-sampai dua wanita sekaligus menjadi korban pelecehannya.

Setelah itu, berbagai tuntutan tak kunjung berhenti menyerang. Bahkan beberapa minggu usai dua tuntutan pertama, muncul lagi secara beruntun wanita lain yang mempermasalahkan hal sama. Katanya, mereka juga pernah menjadi korban Taeyong.

Skandal yang memalukan, tentu saja.

“Aku membencinya ….”

“A—Apa?”

Akibat terlalu berputar-putar dengan  pemikiran diri sendiri, Jaehyun sama sekali tak menyadari bahwa air mata itu telah mengucur dari pelupuk Taeyeon. Meninggalkan jejak terang di pipi tirusnya sampai ke dagu, kemudian menetes hingga membasahi sweter rajut yang dikenakan sang gadis.

“Aku membenci Taeyong-Oppa! Aku benci laki-laki berengsek seperti dirinya!”

Teriakan tertahan yang meluncur otomatis membuat Jaehyun beringsut mendekat, kemudian mendekap kekasihnya dalam diam. Membiarkan Taeyeon terisak di bahunya, membiarkan air mata itu jatuh layaknya dedaunan kering musim gugur.

Seraya mengusap-usap punggung sang gadis, Jaehyun berbisik, “Tidak seharusnya kau berkata seperti itu. Toh sebenarnya Taeyong juga …,” Jaehyun memberi jeda sejenak, antara yakin dan tak yakin apakah ia memang harus mengucapkan ini, namun ia melanjutkan, “… menyayangimu.”

Sontak Taeyeon menarik tubuhnya menjauh. Memberi jarak di antara dirinya dengan Jaehyun, kendati ia masih tak dapat menghentikan laju likuid bening itu. Dengan wajah memerah menahan amukan, ia berkata, “Menyayangiku? Memang kau tahu apa? Atas dasar apa kau bisa bilang begitu, huh?”

Pada akhirnya, tangisan Taeyeon masih berlanjut dan membuat Jaehyun dilanda panik setengah mati.

“Kalau pun ia sayang padaku, kenapa ia tidak pernah sekali pun memberi kabar?! Kenapa ia tidak pernah pulang bahkan untuk sekedar menjenguk Ibu yang sedang sakit-sakitan?! Kenapa ia menelantarkan kami berdua, sampai-sampai Ibu harus terpaksa menggunakan tabungan pensiun Ayah demi membiayai kuliahku, sedangkan ia di sana bergelimangkan harta?! Kenapa—”

“Taeyeon, hentikan!”

Sentakan Jaehyun membuat Taeyeon bungkam seketika, namun sama sekali tak menghentikan isakan sang gadis. Lagi pula, sepertinya untuk kali ini Taeyeon memang hendak membiarkan kesedihannya meluap secara keseluruhan.

Ia sudah terlalu kesal.

Ia sudah terlalu lama menggantung harap.

Ia sudah terlalu lelah merindukan sang kakak selama bertahun-tahun, menanti dengan sebuah ujung yang tak pasti. Ironinya, rasa rindu itu pun menjadi terselimuti oleh rasa benci.

Sekali lagi, Jaehyun membawa Taeyeon ke dalam dekapannya. Ia tetap bertahan bungkam dalam posisi demikian, sekaligus menunggu redanya tangisan sang gadis.

Baru setelah beberapa menit terlewat, gadis itu bergumam, “Bukannya aku mengincar hasil dari kerja keras Taeyong-Oppa, tetapi tidak bisakah … tidak bisakah aku bertemu dengannya? Bahkan untuk sekali saja? Ini sudah lewat bertahun-tahun dan … dan …. Oh, entahlah. Sekarang aku harus bagaimana?”

Sejatinya, Jaehyun juga tidak begitu mengerti apa yang harus ia lakukan untuk saat ini. Ia bukanlah orang yang ahli dalam menenangkan ataupun meluluhkan seorang gadis, namun setidaknya ia mengetahui satu hal.

Ia mungkin tahu apa yang harus Taeyeon lakukan.

“Taeyeon-ah ….”

“Ya?”

“Apa pun yang terjadi, tolong berjanjilah padaku untuk tidak membenci kakakmu. Kumohon?”

-oOo-

Jaehyun mengempaskan diri ke tempat tidur, bersamaan dengan tangannya yang menempelkan sebuah ponsel ke telinga. Nada sambung terdengar di sana, namun tak perlu menunggu lama untuk mengubahnya menjadi suara bariton yang khas.

Mendengarnya membuat Jaehyun spontan tersenyum.

Ada apa? Hari ini aku benar-benar lelah, Bung. Bisakah kau kembali menelepon besok—

“Enak saja!” protes Jaehyun seketika. “Kau sendiri yang berjanji meneleponku malam ini, kan?”

Terjadi jeda sejenak. Baik Jaehyun maupun sang penerima panggilan tak bersuara, hingga tiba-tiba pemuda di ujung telepon itu menjawab, “Oh? Tumben sekali kau ingat? Memang ada yang perlu kaubicarakan?

Jaehyun menghela napas panjang. Ia baru tersadar kalau orang satu ini, rupanya pintar sekali dalam hal tebak-tebakan. “Honestly, yes. Ini soal Taeyeon.”

Ah, Taeyeon?” Jaehyun memang tak dapat melihat wajah sang kawan, namun seratus persen ia yakin, bahwa sebuah senyum pastilah sedang terukir di bibirnya. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Ia baik-baik saja, kan? Tolong ingatkan dia untuk selalu memakai baju tebal, sebentar lagi musim dingin—

“Kau ingin aku jadi pengasuhnya atau apa sih, Tae?!” gerutu Jaehyun dengan suara kesal yang dibuat-buat.

Haha, bukan begitu. Maaf, tapi kau tahu sendiri kalau kondisi ibuku akhir-akhir ini sedang tidak sehat, jadi kurasa hanya kau yang bisa kuandalkan untuk menjaga adikku, eh?

Lagi-lagi Jaehyun tak langsung memberikan jawaban, secara entah mengapa dadanya terasa sesak. Beberapa sekon ia biarkan berlalu begitu saja, sebelum ia kembali menyahut, “Tidak bisakah kau … pulang untuk beberapa hari?”

Untuk sejemang ia menantikan jawaban, namun suara itu tak kunjung muncul sampai-sampai Jaehyun mengira bahwa sambungan mereka terputus. Namun, tepat saat Jaehyun hendak membuka mulut, pemuda itu terlebih dulu menjawab, “Maaf, aku tidak bisa.”

“Tapi kenapa?” ujar Jaehyun frustrasi. “Hendak beralasan karena kau adalah orang terkenal yang hidupnya penuh dengan kasus-kasus rumit, begitu? Karena tidak ingin menyusahkan keluargamu? Karena kau takut kalau nama Taeyeon ikut dibawa-bawa dalam skandalmu, begitu?”

Kalau iya, lalu kenapa? Salahkah jika aku mengkhawatirkan mereka?” Karena Jaehyun tak menjawab, lantas Taeyong melanjutkan, “Aku hanya ingin Taeyeon dan ibuku hidup aman, tidak lebih. Tidak bertemu denganku dan tidak muncul ke publik akan lebih baik, daripada mereka harus menanggung malu karena mempunyai kakak dan anak sepertiku.

Kau tahu? Soal skandal-skandal itu, sebenarnya tidak semua dari mereka salah, meskipun kadang yang menyebar di media agak dilebih-lebihkan. Tapi serius, dalam dunia hiburan … well, terjerumus itu semudah menjatuhkan diri pada kolam renang, aku mengakui itu.

“Karena itu dari dulu kau melarangku dan Taeyeon untuk memasuki dunia hiburan?”

Jangan mengada-ada, kapan aku pernah melarang Taeyeon? Tanpa kusuruh menghindar pun, ia juga tidak akan mau, tahu! Kau tahu sendiri kalau dari dulu ia ingin menjadi arsitek. Tapi kalau kau sih … beda cerita lagi.

“Dasar ….”

Sekilas mereka berdua tertawa kecil, sebelum pada akhirnya Taeyong melanjutkan, “Omong-omong, uang bulanannya sudah terkirim? Sudah kauberikan pada ibuku?

“Tentu saja,” jawab Jaehyun lekas. “Kalau boleh tahu, kenapa kau melebihkannya kali ini? Apa … ibumu dan Taeyeon sedang ada kebutuhan tambahan?”

Sebenarnya tidak juga, hanya saja … mungkin aku ingin Taeyeon sedikit bersenang-senang? Well, aku tahu ia baru saja memeras otak setelah melewati minggu-minggu ujian, dan tidak ada salahnya kalau ia memanjakan diri dengan berbelanja atau pergi ke salon.”

“Dan saat nanti ibumu memberikan Taeyeon uang berlebih, sudah pasti adikmu itu bakal menabungnya.”

Kalau begitu, haruskah lain kali aku langsung memberikannya dalam bentuk barang?

“Kau ini benar-benar ….”

Sekali lagi mereka berdua tertawa. Jaehyun masih berbaring, namun pandangannya kini tak lagi tefokus pada langit-langit. Kepalanya menghadap ke arah kiri, kemudian terhentilah tatapannya pada sebuah vas porselen berisikan bunga-bunga berwarna putih di dekat jendela.

“Tae, omong-omong apa kau masih tetap ingin aku merahasiakan semua ini dari adikmu?”

Sang pemilik nama kembali terdiam. Butuh beberapa saat sebelum pada akhirnya ia menjawab, “Tentu. Kurasa tutup mulut adalah pilihan yang terbaik untuk sementara, secara dia itu mudah sekali menangis. Ingat saat kami berpisah di bandara dulu? Kau sendiri yang mengatakan kalau mata anak itu bengkak pada hari esoknya.

“Lantas kenapa kau pergi meninggalkannya, bodoh?”

Ayolah, kau tahu aku tidak punya pilihan. Semenjak ayahku dimakamkan, kondisi ibuku terus menurun. Taeyeon juga masih kecil pada saat itu. Memang ayahku punya tabungan, namun kurasa tidak akan cukup jika dipakai untuk membiayai pendidikan Taeyeon sampai tuntas sekaligus membelikan obat untuk ibuku. Maka—

“Maka kau putus sekolah dan memutuskan untuk menerima tawaran produser asal Amerika itu?”

Karena aku butuh pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat, Jae.”

Tak ada respons dari Jaehyun. Perlahan rautnya berangsur murung, diikuti dengan tubuh yang beranjak dari pembaringan. Tungkainya melangkah mendekati sudut ruang, tempat di mana vas tersebut berdiri. Jaehyun berjongkok, kemudian disentuhnya kelopak putih itu perlahan. Tahu-tahu saja ia melanjutkan, “Yakin kau meninginkanku untuk tetap diam? Bahkan soal rasa sayangmu padanya? Don’t you want to let her know?”

Sembari menunggu jawaban, ia mengamati bunga itu dengan saksama.

Seingat Jaehyun, bunga ini Taeyeon berikan sebagai hadiah sekaligus tanda atas perasaannya. Tanaman dengan mahkota putih lebar tersebut dinamakan bunga gardenia. Jika Jaehyun mengingat-ingat awal mula mengapa Taeyeon memilih bunga ini, ia ingin tertawa saja lantaran alasan Taeyeon benar-benar menggemaskan.

Saat itu adalah hari kelulusan sekolah menengah akhir. Semua berjalan seperti biasa, namun siapa yang menyangka kalau Taeyeon akan datang ke rumah Jaehyun sembari membawakan vas porselen yang lengkap dengan bunganya, kemudian menyatakan cinta begitu saja?

Jaehyun sendiri pun hampir tidak percaya. Namun mengingat rasa ketertarikan yang sempat ia pendam untuk beberapa waktu pada Taeyeon, maka Jaehyun menerima gadis itu.

Omong-omong soal jenis bunganya, Taeyeon mengatakan, bahwa ia telah menyukai Jaehyun sejak awal menjadi murid sekolah menengah akhir, namun ia tidak pernah berani untuk menyatakan. Barulah ketika mereka lulus, perasaan itu pada akhirnya tersampaikan.

Sebuah kisah tentang mencintai secara rahasia?

Jaehyun juga pada awalnya berpikir demikian, namun kini ia tersadar.

Barangkali bunga gardenia dapat diartikan lebih dari itu.

Ya, lebih dari sekedar mengagumi dari kejauhan.

Kurasa Taeyeon tak perlu tahu, secara ia tipikal yang mudah sekali terbebani oleh pikiran. Cukup ia memikirkan masa depannya dan juga kesehatan ibu kami, itu saja, tidak usah ditambah-tambah lagi dengan keadaanku sekarang. Dia itu hatinya rapuh, perasaannya pun mudah tersakiti.

Karena itu, aku butuh bantuanmu untuk menguatkannya, Jae. Kumohon, gantikan aku untuk membuat Taeyeon menjadi seorang gadis tangguh. Jadi, sampai saat itu tiba, biarkan saja aku—sebagai kakaknya yang tak kalah payah ini—mencintai dan menyanyanginya secara diam-diam. Oke?

fin.
-oOo-

Gardenia means secret love.

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Gardenia (Oneshot)

  1. Ya Tuhan Taeyeong-ie apa yang kamu lakukan di luaran sana? Jangan mentang-mentang rambutmu berubah jadi pink, kamu malah semakin meluluh lantahkan hati banyak cewek!! //tobat ji tobat -_-// Btw entah kenapa karakternya Taeyeon di sini kayak “aku” banget muehehehehe secara aku kan cengeng & gampang kepikiran kalau ada masalah sesepele apa pun :””’) Enak banget punya pacar Jaehyun & Kakak Taeyong, beruntungnya jadi Taeyeon sumpah :v Dan entah kenapa (2) aku malah bayangin Taeyeon SNSD di sini T_T Aku baru tahu ada bunga namanya Gardenia, kukira ff ini tentang taman bikos ada Garden-gardennya HAHAHAHA //menggelinding//

    Nice fic chel & keep writting qaqa cantik :* ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    • Astaga maapkan Ji aku baru keliatan komen inii:””))

      Huahahah iya sih dia rambutnya ganti pink entah napa (3) tingkat gemesinnya langsung nglunjak:”) dan aku juga benernya sempet juga kepikiran Taeyeon SNSD, tapi aku nyari” nama cewek yg depannya Tae” gitu biar cocok sama Mas Taeyeong getohh, dan karena di antara semua nama yang terpampang di google Chel paling suka Taeyeon, jadi ya….. //penjelasan ga penting apa ini// ya pokoknya gitu lah ya😂😂😂

      Ada kok Ji, bunganya cantik, secantik dirimuh~

      As always, thank you udah mampir dan bacaa:3❤

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s