[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Rekonsiliasi Ramyeon

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Rekonsiliasi Ramyeon ]

|   Johnny  x  Wendy  Nando    |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

‘ Siapa gerangan yang bisa membenci ramyeon?‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Seo bersaudara pulang lebih awal hari ini, Wendy tahu itu, karena dia sendiri juga pulang terlambat. Rapat mendadak di kampus terpaksa membuat Wendy melewatkan tugas malamnya sebagai seorang Wenderella—istilah Joy—dan akhirnya, membuat Wendy sampai di kost setelah lewat jam sembilan.

Wendy baru saja membereskan kamarnya sendiri saat dia kemudian mampir ke kediaman keluarga Seo, berniat membereskan rumah itu sebelum si kembar datang ketika dia menyadari kalau dua orang yang dihindarinya itu sudah ada di rumah.

“Baru pulang, Wen?” sebuah tanya berhasil membuat Wendy berjengit. Sontak gadis itu berbalik, menatap dengan mata memicing ke arah pemuda yang kini mengawasinya di ujung pintu.

“John—Nando?” Wendy bertanya, tak yakin pada pandangannya sekarang karena di tengah penerangan seminim ini si kembar itu bisa terlihat begitu sama persis.

 

“Johnny,” pemuda itu tersenyum, lantas ia melanjutkan. “Nando ada di kamar, sedang main game.”

“A-Ah, kupikir kamu Nando. Karena aku tidak pernah melihatmu memakai kacamata.” ucap Wendy, menunjuk ke arah sebuah kacamata yang sekarang bertengger di wajah Johnny.

“Oh, ini? Aku sedang mengerjakan proyek di lantai atas, sampai kudengar suara gerbang rumah kami di buka. Jadi, selama ini kamu yang setiap hari meluangkan waktu datang ke rumah?” ucap Johnny, sama sekali tak ada rasa canggung dalam konversasi mereka, hal yang hampir saja membuat Wendy lupa kalau sebenarnya dia harus menghindari Johnny sebisa mungkin.

“Hmm, ya. Beberapa kali saja, tidak setiap hari kok.” kilah Wendy, padahal kenyataannya memang setiap hari dia datang. “Aku tidak melihat kendaraan kalian,” kemudian Wendy tersadar, biasanya dia mengenali kedatangan dua orang itu dari suara kendaraan mereka.

Tapi saat masuk ke rumah tadi, Wendy tidak menemukan sepeda motor sport yang kerapkali keduanya pakai.

“Dipinjam teman Nando, motorku juga dipinjam. Kamu tahu anak-anak zaman sekarang bukan?” Johnny berkata, entah mengapa mengingatkan Wendy pada ucapan Tantenya yang pernah mengomentari cara hidup remaja zaman sekarang.

“Balapan liar begitu, maksudmu?” tanya Wendy memastikan.

“Iya. Biasanya Nando ikut, tapi malam ini dia tidak mau.”

Apa? Nando? Terlibat dalam balapan motor liar? Mengapa ucapan Johnny terdengar tidak masuk akal dalam pendengaran Wendy sekarang? Dengan tampang begitu, mana ada yang percaya kalau Nando suka balap liar. Iya kalau Johnny, dandanannya saja sudah membuatnya dituduh sebagai preman kampus.

“Kamu sedang apa, omong-omong?” tanya Johnny kemudian menyadarkan Wendy dari lamunannya.

“Ah, ini, aku sedang masak ramyeon. Apa kamu dan Nando sudah makan?” tanya Wendy, ia kemudian bergerak memasukkan tiga bungkus ramyeon ke dalam panci. Tadinya niat Wendy sih ingin diam-diam masak ramyeon untuk dirinya sendiri, berhubung kompor di kost-kostan sedang rusak.

Tapi apa boleh buat, sekarang dia harus masak untuk tiga orang, bukan?

“Belum, tadinya aku mau langsung tidur, tapi karena kamu menawarkan ramyeon, mana bisa aku menolak?” ucap Johnny menyunggingkan sebuah senyum, dia kemudian melangkah menghampiri Wendy, tanpa bicara apapun membantu si gadis mempersiapkan makan malam mereka.

Keduanya selesai tak sampai sepuluh menit, Johnny kemudian membawa panci berisi ramyeon tersebut ke ruang tengah rumahnya, sengaja membiarkan aroma ramyeon menguar ke penjuru rumah supaya seorang lagi yang sejak tadi mengurung diri di kamar dengan game akan tersadar dan merasakan kelaparan yang sebenarnya juga menyiksanya sejak tadi.

“John, kamu masak—ah, Wendy.” Nando tersenyum begitu didapatinya Wendy yang muncul dari pintu dapur, sementara Johnny mengekor di belakang Wendy masih dengan apron yang terpasang di tubuhnya.

Hey, apa-apaan apron itu. Kamu terlihat konyol.” komentar Nando kemudian tergelak. Well, diam-diam Wendy merasa bingung juga.

Seingatnya dia belum berbaikan dengan Nando sampai-sampai Nando sudah bisa bersikap senetral itu saat ada dirinya. Dan kalau Wendy tidak salah ingat, tadi Nando juga tersenyum padanya, bukan?

“Wah, wah, perutku jadi benar-benar lapar karena mencium bau ramyeon ini. Aku kenal benar kalau Wendy yang memasaknya, dia selalu memasukkan sayuran, jadi aromanya berbeda.” Nando kemudian duduk dengan mapan di depan meja kecil yang Johnny siapkan untuk makan malam mereka.

“Aku juga terkejut saat melihatnya mengendap-endap di dapur tadi,” Johnny berkata, dia lepaskan apron yang tadi jadi bahan tertawaan Nando, sebelum dia kemudian duduk di sebelah Nando, menyisakan ruang kosong bagi Wendy untuk duduk sementara gadis itu masih melarikan diri berpura-pura mengambil minum untuk mereka.

“Nando, kamu mau orange juice? Aku tadi membelinya di—astaga.”

“Ada apa?”

“Kenapa?”

Wendy mengerjap beberapa kali, diperhatikannya si kembar yang sekarang tengah duduk menunggunya. Gadis itu baru saja sadar kalau keduanya mengenakan kaos serupa, dan sama-sama memakai kacamata dengan frame yang sama persis juga.

Umm, Johnny bisa kamu lepas kacamatamu? Aku sungguh tak bisa membedakan kalian sekarang. Apalagi Nando sudah dua bulan ini tidak potong rambut.” ucap Wendy, menatap dua pemuda itu bergiliran, seolah bicara pada masing-masing dari mereka padahal Wendy sendiri juga kesulitan mengenalinya.

“Ah, maaf, maaf. Aku lupa.” Johnny tersenyum, dia lepaskan kacamatanya, lalu dia acak surainya agar Wendy mengenalinya dengan lebih baik.

“Aku sudah terlihat seperti Johnny sekarang?” tanyanya membuat Wendy tersenyum kecil dan menjawab dengan anggukan.

Wendy kemudian duduk di ruang kosong yang dua orang itu sisakan padanya. Ia letakkan tiga gelas kosong dan sebotol air putih yang dibawanya, juga semangkuk kecil kimchi yang pagi tadi ia masukkan ke dalam kulkas.

“Nah, ayo kita makan.” ucapnya.

Ketiganya kemudian mulai menyantap ramyeon tersebut bersama, tanpa bicara apapun. Beberapa lama makan dalam diam, Wendy kemudian teringat pada kimchi yang sejak tadi belum disentuh mereka.

Ragu, Wendy mengambil potongan kimchi dengan sumpitnya sebelum ia meletakkan benda tersebut di mangkuk mungil yang Nando gunakan.

“Tanda damai?” ucap Wendy membuat Nando menatapnya sejenak dan tersenyum.

“Suapkan padaku, kalau begitu.” canda Nando membuat Wendy merengut. Nando sendiri tergelak, entah mengapa ekspresi kesal Wendy yang semacam ini selalu menghiburnya.

“Tidak ada untukku?” Johnny bertanya dengan nada menuntut.

“Memangnya kamu butuh berdamai dengan Wendy?” tanya Nando.

“Iya, karenamu dia juga—” ucapan Johnny terhenti saat Wendy meletakkan kimchi juga di mangkuknya. Sekon kemudian senyum justru muncul di wajah pemuda Seo tersebut.

“Astaga, Wendy benar-benar tahu cara berbuat baik pada orang lain.” ucapnya sambil kemudian menyantap kimchi tersebut.

“Aku hanya merasa tidak nyaman kalau harus bersikap canggung pada kalian berdua.” ucap Wendy terus terang, agaknya gadis itu sudah cukup lama mempersiapkan diri untuk menghadapi keduanya.

Di luar dugaan Wendy saja, keduanya ternyata sudah tampak tidak ambil pusing dengan masalah tempo hari. Khususnya, reaksi Nando lah yang sekarang membuat Wendy tersenyum.

“Kalau kupikir-pikir, kamu tidak mungkin bicara aneh-aneh pada Ibu. Jadi aku juga merasa bersalah karena sudah menuduhmu mengadukanku.” ucap Nando.

“Aku sudah berulang kali memberitahunya, dia saja yang tidak mau percaya padaku.” Johnny membenarkan ucapan Nando, sekaligus sedikit menyalahkannya, sih.

“Tidak masalah, aku tidak marah karena Nando begitu, aku hanya merasa takut saja. Karena selama ini Nando tak pernah begitu.” ucap Wendy teringat pada sikap Nando yang benar-benar di luar kebiasaannya.

“Kamu hanya tidak tahu kalau dia itu lebih ‘ganas’ daripada aku.” Johnny berkata.

Manik Wendy sekarang membulat. Dia sungguh tidak mengerti darimana Johnny menemukan kata-kata aneh untuk digunakan, terutama karena sekarang kalimat itu justru terdengar mengintimidasi.

“Kamu menakutinya, lihat? Dia sampai tidak bisa mengunyah. Lupakan saja, Wen. Anggap saja, karena kami kembar jadi sifat kami juga bisa serupa.” Nando berkata.

Ah, benar juga. Mereka kembar, tentu saja meskipun mereka terlihat begitu berbeda, akan ada kalanya mereka bertindak serupa.

“Yang terpenting sekarang kita sudah berbaikan, bukan?”

Wendy mengangguk mengiyakan ucapan Nando. Dia kemudian kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Untuk malam ini, entah mengapa ramyeon terasa dua kali lipat lebih enak di lidah Wendy.

Karena malam ini makanan favoritnya itu sudah jadi jalan untuk berbaikan dengan dua orang yang tak bisa ia hindari? Entahlah, yang jelas Wendy merasa jauh lebih baik karenanya.

“Omong-omong, tumben sekali kamu mau makan ramyeon selarut ini.”

“Memangnya kenapa?” Wendy menatap Nando tidak mengerti.

“Kamu tidak takut pipimu membengkak esok hari?”

Sialan, ucapan Nando sekarang agaknya berhasil membuat Wendy kehilangan nafsu makan, pada ramyeon sekalipun.

FIN

IRISH’s Fingernotes:

CIE CIE MBAWEN UDAH BAIKAN CIE SAMA DUA MAS COGAN INI CIE.

Ini ceritanya, kayak mereka lagi iklan mie instan, di tengah pertengkaran pun mie instan tetap bisa menciptakan kedamaian, gitu temanya. LOLOLOLOL. Tapi eksekusinya so awkwardmianek.

Eniwei, belum kejawab ya tentang siapa yang kemarin nganter cheese cake ke kostannya Wendy? Cie, cie, dua part ke depan kita bakal dibuat baper sama Nando dulu ya, baru nanti Johnny beraksi.

CIE KODE KERAS.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

2 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Rekonsiliasi Ramyeon

  1. Huhuhuhu akhirnya updte, sudah lama menunggu-nunggu.

    Senengnya skg mba wen sudah legaan karena baikan sama nando’john ehehhehe, iya masih penasaran banget apakah itu .as john atau nando, di tambah lagi masi bertanya-tanya siapa sebnernya yang ngaduin nando ke mama seo…..

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s