[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Tentang Joy dan Pertemanan

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Tentang Joy dan Pertemanan ]

|   Johnny  x  Wendy  Nando    |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

‘ Karena, teman selalu saling melindungi‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Kalau saja Wendy bisa diizinkan marah, dia ingin sekali marah. Ingin juga meluapkan kemarahannya pada subjek yang beberapa menit lalu telah berhasil memancing emosinya. Tapi Wendy ingatkan dirinya, kalau subjek tersebut adalah temannya. Dan Wendy tak ingin melukai temannya sendiri, apalagi ini teman selama beberapa tahunnya.

Bukan kepalang kecewa yang dirasa Wendy ketika mendapati Hanna, kekasih—atau yang sekarang berstatus mantan kekasih—Nando tengah duduk manis di dalam kamar kost yang Joy huni. Keduanya Wendy dapati tengah bercengkrama dengan begitu akrab.

Bukannya mau menuduh, tapi Wendy sekarang jelas sudah tahu siapa gerangan oknum yang memberitahu Hanna tentang Nando dan perselingkuhan yang pemuda itu lakukan tempo hari.

Tapi Wendy tidak ingin mengadu, tidak jua ingin menuduh Joy karena toh yang dilihatnya belum tentu membenarkan spekulasi. Akhirnya, Wendy justru memilih mengalah, meninggalkan gedung kostnya untuk kemudian menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas akhirnya di kediaman si kembar Seo.

“Kamu lupa dimana menyimpan kunci kamar lagi?” pertanyaan Nando menyambut Wendy begitu pemuda itu melihat Wendy yang duduk manis di atas kasur Johnny—itu lho, kasur favorit Johnny kalau dia tidur di ruang tengah—dengan memangku stylus dan laptop terpampang di depannya.

“Tidak, kok. Aku memang sedang ingin ke sini. Aih, sana cepat pakai baju!” lekas Wendy memberi titah, pasalnya Nando dengan cuek bicara begitu padahal pemuda itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya.

“Kenapa? Biasanya kamu juga melihatku begini. Ah, apa jangan-jangan kamu tergoda ya? Karena aku mirip dengan Johnny, pasti pikiran mesummu itu sedang berfantasi kalau aku ini Johnny.” lantas Nando berkelakar santai, ia malah melangkah dengan yakin mendekati Wendy—yang memasang wajah dongkol setengah mati—sebelum ia kibas-kibaskan air di helai rambutnya yang basah ke arah gadis itu.

Dih, jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak mau kamu ledek mesum karena aku selalu membiarkanmu begini.” Wendy berucap, ia sarangkan sebuah cubitan kecil di betis Nando, membuat pemuda tersebut malah tergelak.

“Iya, iya. Aku tahu kamu pasti sudah sering berfantasi tentang saudaraku itu. Oh ya, kamu sudah makan belum? Kalau belum aku mau mengajakmu ke tempat makan yang bagus. Mau?” tawar Nando kemudian, hitung-hitung upaya rekonsiliasi bagian kedua, agaknya.

Lagipula, sudah sekian lama berlalu sejak terakhir kali dia dan Wendy menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama.

“Boleh, di mana tempatnya? Tapi aku belum mandi, dan malas kembali ke kost juga.” Wendy kemudian merengut, gadis itu jujur saja saat ini enggan untuk kembali ke kamar kostnya, sebab khawatir dirinya akan secara tidak sengaja berpapasan dengan Joy, atau Hanna.

“Ya sudah, pakai baju Johnny.” Nando menyahuti.

“Kenapa harus bajunya? Aku pinjam bajumu saja.” Wendy merajuk, Nando seolah tidak pernah lelah menggodanya dengan Johnny, sampai-sampai pakaian pun dia enggan meminjamkan.

“Tidak mau, nanti kalau kamu jadi tertarik padaku bagaimana?” Nando menantang, mengingatkan Wendy kalau Nando itu super perfeksionis soal pakaian. Pakaiannya yang masih terlihat kusut saja dia tidak akan mau pakai, apalagi pakaian yang sudah dipinjam Wendy.

“Ya sudah, ya sudah. Terserah kamu saja. Tapi kamu yang ambilkan bajunya, oke?” Wendy kemudian mematikan stylusnya, menguar sudah niatannya untuk menyelesaikan tugas, ajakan Nando sejak dulu tidak pernah mengecewakan.

Akhirnya, Wendy menunggu selama beberapa menit, membiarkan Nando mengambil handuk berwarna pink—handuk yang dibeli bibi Seo tiga warna: pink, biru, dan merah tua—untuk digunakan tiga orang itu tentu saja, dan mengambilkan pakaian Johnny di kamarnya.

“Ini, sudah sana mandi. Jangan lama-lama, ya. Kalau kamu terlalu lama mandi, aku tinggal.” Nando bicara dengan nada mengancam. Wendy tahu perkataannya cuma bercanda, tentu saja. Tapi entah mengapa dia mengantisipasi juga.

Buktinya, dalam waktu tak sampai sepuluh menit Wendy sudah menyelesaikan mandinya. Hey, jangan katakan sepuluh menit itu lama, biasanya Wendy menghabiskan setidaknya setengah jam di dalam kamar mandi.

Gadis itu kemudian mengenakan kemeja berwarna biru tua yang Nando ambilkan—milik Johnny, dan dipenuhi aroma Johnny!—yang ia balut dengan sweater berwarna senada—milik Johnny juga, demi Tuhan!

“Kamu tidak perlu bedak atau semacamnya itu, kan?” tanya Nando saat melihat Wendy merapikan rambutnya di depan kaca sambil memerhatikan wajah.

“Tidak, aku begini saja sudah cantik.” Wendy berkata penuh percaya diri.

Nando sendiri mengangguk mengiyakan, tidak berniat meledek kali ini. “Iya juga, sih. Ya sudah, ayo cepat keluar. Aku belum panaskan mobilku.”

Sepeninggal Nando, Wendy malah melongo. Apa Nando baru saja dengan santainya mengiyakan pendapat Wendy? Padahal biasanya pemuda itu paling semangat meledek Wendy kalau sudah bicara soal kecantikan.

Setelah sedikit membereskan ruang yang tadi ia gunakan, Wendy kemudian keluar dari rumah, mengunci pintu depan rumah keluarga Seo dan tak lupa mengunci pagarnya juga. Nando sendiri sudah duduk manis di balik kemudi, menunggu Wendy.

Sempat Wendy melihat eksistensi Joy dan Hanna di lantai dua kost-kostan tempat ia tinggal, keduanya seolah menatap tak senang. Meski Wendy tidak bertukar pandang dengan mereka, tentu saja pandangan tak senang itu bisa Wendy rasakan.

“Sudah siap?” tanya Nando saat Wendy akhirnya duduk mapan di sebelahnya dengan seatbelt terpasang rapat.

“Siap, kapten!” Wendy bersorak, ia lupakan sejenak pandangan tak senang dua orang itu. Toh, dia bukannya akan pergi macam-macam dengan Nando. Keduanya hanya akan pergi makan malam, sebab di rumah tak ada bahan makanan, dan Wendy sedang tak ingin makan ramyeon.

“Oke, kita berangkat, letnan!” Nando menyahuti sorakan Wendy dengan sama gilanya. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sembari jemarinya bergerak menyalakan radio mobil.

Umm, Nando, boleh aku bertanya soal hubunganmu dengan Hanna sekarang?” tanya Wendy tiba-tiba. Seperti biasa, Nando sudah hafal benar kalau Wendy bukan orang yang suka basa-basi.

“Kami putus, tentu saja. Memangnya kenapa?” tanya Nando.

“Tidak ada. Aku hanya ingin tahu.” ucap Wendy, satu sisi dirinya begitu ingin memberitahu Nando tentang kebenaran yang ada, tapi satu sisi hatinya lagi menolak tak ingin bersuara.

“Kamu mau bilang apa, Wen?” tanya Nando membuat Wendy tersentak.

“Apa?” Wendy menatap tidak mengerti.

“Kamu tidak berencana untuk mengungkapkan perasaan padaku atau apa kan?” ucap Nando sambil tergelak.

“Jangan bodoh, mana mungkin aku begitu. Umm, hanya saja, ada yang menggangguku sejak kita bertengkar tempo hari. Kamu tahu sendiri kan aku tidak suka terus ada kesalah pahaman di antara—”

“Aku sudah tahu, kok.”

“Kamu sudah tahu?”

“Iya, soal Joy yang memberitahu Hanna, aku sudah tahu. Lebih tepatnya, aku tahu dari Hanna. Kami bertengkar cukup hebat saat putus kemarin, dan Hanna mengatakan bahwa temannya melihatku tengah berselingkuh. Tanpa sengaja dia menyebut nama Joy, dan aku ingat Joy itu teman kostmu.

“Aku sudah tahu, tapi aku sengaja tidak memberitahumu, Wendy.”

“Kenapa begitu?” tanya Wendy makin tidak mengerti. Ia sungguh tidak paham, kalau Nando sudah tahu tentang Wendy yang tidak bersalah, kenapa terus mendiamkannya dan tak mengatakan apapun?

“Karena aku tahu Joy itu teman dekatmu. Dan aku tidak mau hubunganmu dengannya merenggang hanya karena aku. Masalah Hanna adalah masalah pribadiku, tidak ada sangkut pautnya denganmu, atau Joy.

“Melihatmu bicara begini, aku tahu kamu pasti baru tahu kalau Joy lah orang yang mengadukanku pada Hanna. Kalau kamu belum bersikap apapun padanya, biarkan saja. Kamu tidak perlu marah pada Joy. Kalau mau marah, marah saja padaku, aku ‘kan yang sudah menuduhmu seenaknya?” Nando menatap sejenak ke arah Wendy, sebuah senyum ia sunggingkan pada gadis yang sekarang patuh jadi pendengarnya itu.

Sementara benak Wendy sendiri mengelana. Ia paham benar alasan Nando tetap bungkam. Pemuda itu tak ingin hubungan Wendy dan Joy jadi berantakan karenanya. Ya, memang Nando sudah kenal benar bagaimana Wendy dan bagaimana sempitnya lingkar pertemanan gadis itu.

Kalau saja Wendy kehilangan Joy sebagai sahabat, tidak bisa Nando bayangkan bagaimana kacaunya Wendy nanti.

“Ingat, kalau kamu mau marah, marah padaku saja, tidak perlu marah-marah pada Joy dan membuat masalahnya jadi semakin rumit. Kamu juga tidak perlu merasa bersalah karena hubunganku dan Hanna berakhir. Kamu tahu sendiri tidak sulit buatku mencari kekasih baru, bukan?” Nando lagi-lagi mengingatkan.

Akhirnya, Wendy bisa menjawab penuturan panjang pemuda itu dengan sebuah anggukan mantap.

“Iya, aku tidak akan marah-marah pada Joy, kok. Aku juga tidak akan marah padamu, asalkan kau mentraktirku malam ini.” Wendy kemudian berucap.

Mendengar perkataan Wendy yang terdengar santai, Nando akhirnya bisa rileks.

“Mau berapa porsi, Tuan Puteri?” ucapnya dengan nada didramatisir. Wendy juga tidak mau kalah saing, dia segera memasang wajah sombong bak puteri raja, sebelum ia kemudian mengibas surai panjangnya dan berkata:

“Tiga porsi, Panglima-ku!”

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Daku udah bilang kalo di part ini Nando bakal dominan, LOLOLOL, dan yes aku berhasil juga ngebangun imej banyak omong plus suka bikin baper ala Nando, dong. Dia itu seasyik ini anaknya, saking aja vangsat suka demen mainin cewek, di part depan ketauan deh berapa banyak mantannya Nando ini.

Enggak kayak Johnny yang setia sama satu cewek, sampe-sampe MbakWen enggak punya harapan sama sekali buat nungguin jomblonya si Johnny, HARHARHARHAR.

Oh ya, tunggu part yang berikutnya, ya! Part itu paling bikin perasaan aku baper pas ngetiknya itu…

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

 

Advertisements

5 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Tentang Joy dan Pertemanan

  1. Walaupun aku gak ngikutin series ini tapi tulisan irish gak pernah mengecewakan ya. Aku ttp bs ngerti ceritanya biar gak baca yg sblmnya. Keren, keren, Keep writing ya!

    Like

  2. Benar perkiraanku kalau si joy tersangkanya 😈 Aduh disini nando bikin klepek-klepek ya, untung wendy kuat iman jadi klepek-klepeknya sama Bang Johnny aja 😂

    Wah bisa-bisa tuh Nando sama Johnny suka sama Wendy semua tuh 😛 Nah, secara nando udah berstatus single tinggal nunggu Johnny 😂

    Keep Writing Kak Irish, walaupun ini comment udah telat banget 😂 Ditunggu kelanjutan seriesnya 😊

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s