[NCTFFI Freelance] Dyre (Chapter 11)

DYRE

Genre  : School Life, Friendship, Love, Comedy, Drama

Main Cast       : [NCT’s] Mark Lee, Johnny Seo, Jung Jaehyun, Jung Hana (OC), Choi Yora (OC), Yoo Raein (OC)

Sub cast          : Other NCT Members, SM Rookies, and others figuran

Rating : Teen

Summary        : Dyre is another word for love

Bintang Jatuh

.

.

.

Mata gadis itu membelalak sebesar mungkin manakala melihat momen yang sebelumnya Cuma bisa ia saksikan di drama.

Iya, Yora baru saja keluar duluan dari supermarket.

Bukannya tidak mau ikut mengantri atau membawakan belanjaan yang semua isinya camilan dan minuman bersoda.

Hanya saja, Yora tidak terlalu suka aktivitas berbelanja, bahkna kalau Moon Taeil memaksanya.

.

.

.

“Ya ampun, barusan mereka ciuman-yang dari jauh kelihatan seperti ciuman bibir-ditempat umum?” pekik Yora yang barusan keluar dari supermarket duluan untuk mencari angin-katanya, sih-

Tapi sepersekon kemudian.

Yora menjauhkan sedikit tubuhnya, karena mendapati ada seorang pria tengah berdiri cukup dekat dengannya.

Yora lantas mendongak, mengetahui bahwa tubuh pria didepannya itu lebih tinggi dari tubuhnya yang mungilㅡ

“Hey, lihat apa?”

ㅡuntuk memastikan siapa yang berani berdiri begitu dekat dengannya.

“Mau lihat apa, itu urusanku, lagian ngapain sih tiba-tiba berdiri sedekat ini? Bikin orang kaget saja” Benar.

Yora langsung memarahi Johnny-pria didepannya itu-yang Cuma menatap Yora datar.

“Kalau bicara itu, perhatikan lawan bicaramu, dong” ujar Johnny dengan cepat meraih ponsel yang barusan Yora pegang untuk mengalihkan atensinya.

.

.

.

Secepat mungkin Johnny berlari menjauh.

Ia rupanya bemaksud meledek Yora agar mau memperhatikannya barang sebentar.

Tapi bukan Yora namanya kalau barang kesukaannya diambil begitu sajaㅡ“Kak Johnny! Kembalikan ponselku!”

ㅡwalau harus keujung dunia, Yora akan tetap megambilnya kembali.

.

.

.

Baru sekitar setengah jalan, tapi Yora agaknya sudah kelelahan.

Peduli Setan, deh! Johnny mau berbuat apa lagi dengan ponsel Yora.

Asal jangan dibuang ke sungai Han saja.

Eh tunggu, Johnny gak akan melakukannya, kan?

Pikiran aneh barusan lantas membuat Yora kembali bangkit.

Tapi Ia memilih untuk berjalan saja kali ini.

Mana mungkin, kan, Johnny akan berlari sampai ujung sungai Han demi bersembunyi dari Yora.

Benar.

Yora melihat seorang Pria tengah berdiri ditepian Sungai Han yang dibatasi oleh pagar besi.

“Kak? Tidur, ya?”

Pria itu tak lain adalah Johnny, yang sedang menutup matanya dan menyatukan tangannya seperti tengah berdoa.

“Aku sedang buat permintaan, barusan aku ngeliat bintang jatuh” jelas Johnny.

Yora yang mendengarnya justru rasanya ingin langsung tertawa sekeras mugkin sambil terjun langsung dan berenang di Sungai Han saat itu juga.

Bahkan untuk bicarapun Yora harus menahan sakit perutㅡ

“Bintang jatuh apanya, sih? Udah, deh jangan menghayal, mana sini cepat kembalikan ponselku”

ㅡkarena tak kuat ingin buru-buru menertawai Johnny.

“Aku yakin, kok, itu bintang jatuh…kamu buat permohonan juga, gih” perintah Johnny dan Cuma direspon oleh gelengan kepala Yora.

“Kalau mau memohon sesuatu itu ya sama Tuhan, dasar aneh! Mana sini kembalikan ponselku!” pinta Yora seraya menengadahkan satu tangannya kearah Johnny.

“Gak mau! Kalau mau ponsel mu kembali, cepat mintalah sesuatu juga, atau aku lempar saja HP mu ke Sungai Han?” Johnny mengulangi perintahnya.

Baiklah kali ini Yora terpaksa menurutinya.

Ia menyatukan tangannya dan memejamkan mata, sepertinya benar sedang memohon sesuatu.

Beberapa lama kemudianㅡ

“Sudah”

ㅡYora kembali membuka matanya.

“Berdoa mu lama juga, minta apa saja?” tanya Johnny.

“Ngapain aku harus kasih tahu Kakak, itu kan rahasia” ketus Yora.

“Huh, pelit, ngomong-ngomong mau tahu tidak tadi aku minta apa?” Johnny sangat percaya diri hendak memberi tahu permitaannya.

Walapun Yora sudah menolak, Johnny kekeuh memberi tahu permitaannya.

Ia berkata bahwa semoga ia bisa lebih dekat dengan seorang gadis.

Ia juga ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu, tapi Ia takut karena gadis itu suka marah-marah padanya.

Tunggu, Johnny tidak lagi sedang membicarakan Yora kan? Memang apa salahnya terlalu percaya diri? Johnny juga sering seperti itu.

Yora dibuat makin terkejut manakala Johnny tiba-tiba saja berlutut dihadapannya.

Yora seketika mundur dengan perlahan.

Tenang, Dia tidak mundur untuk menceburkan diri ke Sungai Han, kok.

Diperhatikannya tangan besar Johnny tengah merogoh saku celana.

Mengeluarkan sebuah benda yang selama beberapa menit ini membuat Yora harus berlari untuk mendapatkannya kembali, berlebihan.

Tapi bukan itu atensinya sekarang.

Yora masih memperhatikan Pria didepannya itu.

Sekarang Johnny mulai mengatakan sesuatu setelah tangannya memegang ponsel Yora-yang barusan ia ambil dari sakunya-.

Ia bilang kalau ia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.

Ya, Johnny menyatakan perasaannya pada Yora dengan ponsel yang jelas-jelas memang sudah milik Yora, sebagai ganti bunganya.

“Aduh apaan sih, Kak, jangan konyol! Cepat bangun!” ujar Yora buru-buru mengambil ponselnya dan meninggalkan Johnny yang masih berlutut.

“Ra, tunggu! AH!”

Ada yang tak beres.

Johnny agaknya terjatuh saat bangun dan buru-buru berlari, sampai-sampai Ia tidak memperhitungkan batu didepannya yang membuat kakinya sekarang terkilir.

.

.

.

“Kak!” Untung.

Galak-galak begitu, Yora masih punya rasa kasihan, kok.

Buktinya Ia buru-buru berbalik dan menghampiri Johnny yang menggerang, menahan sakit sambil memegang mata kakinya yang masih terbalut sepatu.

“Ra, sakit…” Bukannya mengambil kesempatan.

Johnny memang sedang kesakitan, Ia merengek seperti bayi karena Johnny memang bukan tipe Pria kuat, bisa dilihat kan, kelakuannya sehari-hari saja konyol begitu.

“Makanya jangan aneh-aneh. Duh bengkak begini, sebentar” ujar Yora setelah Ia melepas sepatu Johnny perlahan dan sekarang tengah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Terus aku bagaimana jalan pulangnya?” tanya Johnny seolah tengah berkonsultasi pada seorang dokter yang tengah mengobati luka pasiennya.

Yora tidak menimpali karena terlalu fokus mengobati kaki Johnny yang terkilir dengan obat pereda rasa nyeri yang selalu Ia bawa kemana, pun.

Maklum Yora adalah atlet taekwondo bersabuk hitam disekolah.

.

.

.

Setelah selesai meyemprotkan obat pereda rasa sakit miliknya disekitar memar Johnny, Yora berkata “Bisa jalan, kan? Pelan-pelan” sambil berdiri duluan, memperhatikan Johnny yang masih menahan rasa sakit.

“Yang benar saja, kamu gak lihat memar ku sampai biru gitu? Bantuin dong” pinta Johnny.

“Haduh, iya-iya tapi jangan modus, ya” Yora pun membantu Johnny bangun.

Tunggu, ini tak beres, maksudnya, getaran apa ini?

Yora merasa ada getaran yang Johnny berikan saat tanganya mereka bersentuhan.

“Modus apasih, kamu sebentar aja jangan ngomel dong, sakit nih” Johnny malah makin terlihat seperti bayi karena merengek.

Bahkan Mark-usianya jauh lebih muda dari Johnny-yang kemarin Yora lihat terkena bola basket yang dilempar Jaehyun, baik-baik saja tuh.

“Iya-iya, maaf, pelan-pelan kalau sakit”

Peduli Setan dengan rasa sakit yang Johnny rasakan.

Yora tidak paham kenapa jantungya malah makin berdegup kencang saat Ia bisa mendengar deruan nafas kesakitan Johnny yang sedikit membungkuk karena tangannya tengah ia kalungkan ke pundak Yora.

Jangan-jangan bintang jatuh yang tadi lewat sedang bekerja mengabulkan permohonan Johnny.

.

.

.

“Loh, Kak Johnny, kok, jalannya pincang gitu?” Mark langsung bertanya saat Ia melihat Johnny yang harus dibantu berjalan.

“Kenapa lagi dia? Memang kalian darimana? Kupikir tadi nyusul Mark dan Hana” tanya Raein pada Yora yang baru saja membantu Johnny duduk dibangku taman yang Mark barusan berikan.

“Tadi terkilir” singkat Yora sambil menyeka keringat yang mengucur dari keningnya, maklum Johnny kan berat.

Dan harus membantunya berjalan sambil menahan degup jantung yang kelewat kencang, membuat muka Yora jadi makin memanas.

“Duh, -ssaem, lain kali hati-hati dong” ujar Jaehyun yang sedari tadi Cuma memperhatikan percakapan temannya-temannya sambil memakan snack yang ia pegang sendiri.

tbc

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s