[NCTFFI Freelance] Lucky Girl! (Chapter 1)

Chapter 1

Author             : Yurisa

Main Cast        : Winwin (NCT) – Mina (Twice) – Rosé (Blackpink)

Other Cast       : Renjun (NCT) – Yuta (NCT)

Genre              : Romance, friendship, slice of life & family

Rated              : PG-17

Disclaimer       : No comment. Hehe… ^o^

***

Melihat Mina dari jendela ruang balet setelah selesai mengajar adalah sebuah kebiasaan bagi Winwin. Melihatnya menari dengan pakaian balet hitam membuat Mina terlihat cantik dan elegan. Sangat pas dengan julukannya, Black Swan.

“Apa kau sudah selesai mengajar?” tanya gadis itu sambil membuka jendela ruang balet. Winwin terkesiap lalu mundur satu langkah,

“Ne. Aku sudah selesai mengajar. Apa kau ada waktu setelah pulang dari sini?”

“Mmm, sepertinya tidak. Aku sudah dijemput di depan sanggar. Maaf, Winwin-ah~”

Mendengar itu, Winwin sedikit kecewa. Tapi tidak apa. Masih banyak waktu untuk mengajak Mina pergi bersamanya. Jika ditanya bagaimana tentang perasaannya pada Mina, Winwin hanya butuh tiga kata untuk mewakilinya.

‘Aku suka Mina’

***

‘Hyung, hari ini aku pulang cepat. Kalau kau sudah pulang dari sanggar, belikan aku takoyaki dari kedai Yuta hyung, ya~ aku sangat lapar. Di rumah tidak ada makanan. Please~^^’

Winwin tersenyum setelah membaca pesan dari Renjun, adiknya. Bahkan sebelum Renjun mengirim pesan, Winwin sudah ada di kedai takoyaki sedari tadi. Takoyaki Yuta adalah yang terbaik. Itulah alasannya, Winwin harus mengantri selama 30 menit untuk mendapatkannya.

“Takoyaki special untuk si imut Renjun~ dan untuk tetanggaku yang imut, kuberi potongan harga dua puluh persen. Ini…” ucap Yuta sambil memberikan satu kotak takoyaki pada Winwin.

“Ah~ terima kasih, hyung.”

Setelah mendapatkan takoyaki, Winwin berencana langsung pulang saja. Besok ada kelas pagi di kampus dan tugas makalahnya belum selesai sampai sekarang. Malam ini, Winwin bertekad untuk mengerjakan tugasnya sampai selesai.

Saat sampai di halte bis, Winwin melihat segerombol siswi sma berlarian seperti mencari seseorang. Tampang mereka terlihat menyeramkan dan baju mereka juga sangat berantakan. Karena tidak mendapatkan apa yang mereka cari, gerombolan itu langsung putar balik dan mencari ke tempat lain. Kalau boleh jujur, Winwin sedikit takut pada mereka.

Bugh! Tak!

“Awww…”  Winwin meringis kesakitan saat seseorang menabrak tubuhnya. Dan kotak takoyaki yang ia pegang sudah jatuh di atas trotoar dengan isi yang bercerceran.

“Aigoo~ sayang! Maaf aku tidak sengaja menabrakmu. Apa kau sudah menunggu lama? Omo! Apa kau terluka? Dan takoyaki-ku? Aish, jinjja! Maaf aku tidak sengaja~ Kalau kau mau marah, salahkan saja mereka! Dari tadi mereka terus mengikutiku. Dasar kurang kerjaan!”

Winwin menatap gadis berambut caramel panjang yang menabraknya dengan kening yang berkerut. Wajah polosnya terlihat bingung dan juga heran dengan si gadis yang tiba-tiba sok akrab dengannya.

“Yak! Kenapa kau menyalahkan orang lain, eoh?! Salah sendiri karena kau kabur dari kami!” balas seorang wanita bertubuh tinggi besar. Winwin menatap wanita itu dengan ngeri.

“Aku ‘kan sudah bilang, aku mau bertemu pacarku. Dari tadi dia sudah menelponku. Dia sudah menunggu satu jam di halte bis!”

“Yak! Kau jangan coba-coba berbohong, mawar sialan! Hei, apa benar kau pacarnya?” tanya seorang wanita kurus dengan mukanya yang galak pada Winwin.

“Heh?Aniy– NE!” kalau Winwin jujur, tentu saja gadis ini bukan pacarnya. Tapi sialnya, gadis ini malah mencubit pinggangnya dengan cukup keras, membuat Winwin terpaksa berkata bohong.

 “Oke! Kalau kalian mau kencan, silakan saja! Tapi kami mengikuti dari belakang.”

“Aish, wae?! Aku mau kencan dengan oppa-ku kenapa harus diikuti dua wanita jalang macam kalian, eoh?!” teriak si gadis caramel dengan penuh emosi. Suaranya yang meninggi malah membuat Winwin ingin tertawa. Suaranya seperti anak kecil!

Si wanita kurus terlihat sangat marah saat dikatai wanita jalang. Tangannya terkepal seakan ingin meninju si gadis caramel. Temannya pun terpaksa menahannya agar tidak ribut di tempat umum. Sedangkan si gadis caramel bersembunyi di balik tubuh Winwin,

“Rosé Park, sialan! Siapa yang kau panggil jalang, eoh?!”  teriak si wanita kurus. Beberapa orang yang ada di halte bis mulai memperhatikan mereka. Melihat keadaan ini, Winwin jadi merasa tidak enak. Lebih tepatnya merasa malu.

“Ya sudah. Kalau mau lihat orang pacaran, silakan saja! Dasar perawan tua, huh!” ucap si gadis yang bernama Rosé kepada dua wanita tadi. Pandangan Rosé lalu beralih pada Winwin.

“Ayo, sayang! Kita jalan-jalan~” ucap Rosé senang sambil menggandeng tangan Winwin. Sedangkan Winwin kembali memasang wajah bingungnya saat si gadis mengajaknya pergi berkencan. Bagaimana ini?!

***

“Kau tahu? Daya tarik seorang lelaki agar terlihat tampan dan seksi adalah jidat! Maka dari itu kau harus menunjukkan jidatmu dengan bangga! Dan juga, pakaianmu. Tentu saja, ini lebih keren dan seksi daripada yang tadi, bukan?”

Winwin merutuki dirinya sendiri saat ia dengan pasrahnya mengikuti Rosé ke mall. Tentu saja, dengan dua wanita jomblo yang mengikuti mereka sedari tadi.

Sekarang, Winwin dan Rosé ada di café kecil di dekat parkiran. Beberapa orang memperhatikan Winwin dan Rosé dengan tatapan geli sekaligus heran.

Bukannya apa-apa. Hanya saja, gaya berpakaian mereka terlihat begitu nyentrik untuk pasangan muda yang tengah berkencan.

Jaket jeans biru ditambah celana jeans rombeng-rombeng dengan gaya rambut yang aneh. Winwin dengan gaya rambut lepek berkilau dan Rosé dengan rambut caramelnya yang mencolok. Benar-benar terlihat seperti pasangan gangster.

“Apa aku tidak bisa pulang sekarang? Ini sudah malam…” kata Winwin dengan wajah yang memelas. Tentu saja. Ini sudah jam 9 malam dan Winwin masih kepikiran tentang adiknya, Renjun. Ia sama sekali belum menghubungi Renjun, karena Rosé terus mencegahnya memegang handphone.

“Pulang? Tentu saja kita akan pulang! Tapi kau antarkan aku pulang ke rumah, ya~ kalau tidak, kau bisa dimarahi eomma dan appa-ku. Hehehe…”

Winwin hanya mengangguk pasrah saat mendengar jawaban Rosé. Saat di toko baju, Rosé bilang kalau dia butuh bantuan Winwin untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Tidak ada maksud tertentu. Rosé hanya ingin kabur dari jeratan dua wanita tadi. Hanya itu.

***

Winwin terdiam kaku saat tiba di rumah Rosé. Ralat, maksud Winwin apartemen. Lebih tepatnya, apartemen tua yang gelap dan menyeramkan. Dua wanita itu masih setia mengikuti di samping apartemen Rosé.

“Kenapa sepi sekali? Apa kau sedang sendirian?” tanya Winwin penuh perhatian. Menanggapi itu, Rosé hanya tersenyum,

“Ne. Eomma dan appa sedang tidak ada. Aku sendirian. Apa kau mau menemaniku?” tanya Rosé dengan suara yang pelan. Meski pelan, suara itu masih bisa terdengar oleh dua wanita itu.

Tangan kanan Rosé perlahan terangkat untuk menyentuh wajah Winwin, “Tidur bersamaku?” ucapnya dengan suara yang lebih pelan. Kali ini tidak ada garis senyum di wajahnya. Winwin tidak menjawab. Ia masih terlalu bingung apakah ini masih dalam suasana acting atau bukan.

“Yak! Sekarang kita sudah tahu siapa jalang sebenarnya ‘kan? Huh, dasar gadis murahan! Kajja, kita pulang. Ini sudah selesai!” ucap si wanita kurus pada temannya. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Rosé dan Winwin yang terlihat bingung.

“Aish, dasar para perawan tua!” umpat Rosé dengan penuh penekanan. Rosé lalu berbalik dan memasang kunci untuk membuka apartemennya.

“Kalau kau mau pulang, pulanglah… Aku sangat berterima kasih padamu hari ini. Maaf karena merepotkanmu. Aku–“

Bugh!

Belum selesai Rosé berbicara, sebuah tas jinjing berukuran sedang melayang tepat mengenai wajah Rosé. Gadis itu terlihat marah lalu mengumpat dengan kasar pada seseorang yang ada di dalam apartemennya.

“Yak, gadis sialan! Kalau tidak mampu bayar sewa lebih baik kau mati saja! Hidup itu butuh uang! Dan gadis pengangguran sepertimu tidak dibutuhkan di dunia ini!”

“Ahjumma bawel sepertimu tahu apa, eoh?! Apa aku menyusahkanmu hingga sebegitu teganya kau menyuruh gadis cantik sepertiku mati?! Kau sendiri pengangguran sejak lahir! Hanya hidup dengan biaya dari orang tua dan suami saja kau bangga, eoh? Lulus SMA kau sudah punya anak, bukannya itu sedikit memalukan?!”

Rosé dan seorang ahjumma –yang sepertinya pemilik apartemen terus beradu mulut didepan Winwin. Bukannya mau kurang ajar atau pun tidak tahu kondisi, hanya saja suara Rosé yang unik saat  berteriak malah membuat Winwin ingin tertawa. Itu sangat lucu. Mati-matian Winwin menahan tawanya agar tidak memperkeruh suasana.

“Sudah! Pergi saja sana! Bukannya kau mau tidur dengan pacarmu tadi? Tinggal saja dengannya! Dan peras hartanya sampai kau muak dengan yang namanya uang. Dasar gadis sialan!” ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan Rosé yang sedang memunguti pakaian yang berceceran di lantai.

“Eyy! Dasar nenek lampir! Kalau mau usir ya usir saja! Kenapa malah membuang bajuku, eoh?! Dasar sialan!” umpat Rosé dengan suara yang tertahan.

***

‘Winwin hyung, kau dimana? Kenapa lama sekali?’

‘Win-ge aku sangat lapar~ apa kau tidak akan pulang, eoh?!’

‘Hyung, aku menginap saja di rumah Mark hyung. Kau sangat lama! Besok pagi aku pulang. Jangan telpon aku! T_T Aku sedang marah padamu, hyung~^^’

Winwin tersenyum kecil melihat deretan pesan yang dikirim oleh Renjun. Adiknya ini sedang marah tapi malah ber-aegyo sambil mengirim emoticon yang lucu. Sangat imut!

“Tuan Dong Sicheng! Winwin sajangnim! Aku akan memperlakukanmu dengan baik~
Oh, salah! Aku akan berlaku baik di depanmu~” ucap Rosé dengan begitu senang. Suaranya yang imut membuat Winwin kembali tersenyum.

“Kau bohong padaku tadi. Dimana orang tuamu, eoh?” tanya Winwin dengan wajah polosnya. Rosé tersenyum sambil mengayun-ayunkan tas jinjing-nya.

“Di Australia~ ~ Oh, Winwin-ssi! Cerita hidupku akan kuceritakan besok dengan lengkap. Baterai-ku sudah hampir habis dan butuh untuk tidur. Jadi, ayo kita segera pulang! Pulang ke rumahku~” ucap Rosé sambil bersenandung kecil lalu berjalan mendahului Winwin.

“Itu rumahku, Rosé-ssi!” balas Winwin tidak terima. Dikejarnya Rosé yang sudah berjalan cukup jauh di depannya. Menjadi orang baik bukanlah hal yang sulit bagi Winwin. Winwin hanya tidak tega jika seorang gadis seperti Rosé harus tidur di jalanan.

Nilai lebih bagi Winwin karena ia adalah orang yang ‘baik’. Winwin adalah laki-laki polos dari Cina yang senang membantu orang lain, termasuk Rosé. Walau tidak mengenal Rosé sama sekali, bukan berarti Winwin harus mengabaikannya ‘kan?

Dan Rosé ‘beruntung’ karena yang menolongnya adalah Winwin. Bukan orang lain.

***

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s