[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Ada Apa Dengan Jantung Ini?

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Ada Apa Dengan Jantung Ini? ]

|   Johnny  x  Wendy  Nando    |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

‘ Pertama kalinya, bagi Wendy, ada seorang pria yang memperlakukannya selayaknya wanita‘

p.s: syid ;~; ngetik part ini bikin baper tauk.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Untuk pertama kali dalam dua dekade kehidupannya, Wendy benar-benar merasa dirinya diperlakukan selayaknya wanita. Nando mengajaknya ke tempat makan yang tidak terhitung mewah, tapi benar-benar tipe tempat makan yang membuat Wendy nyaman.

Wendy bahkan tidak harus merasa terkejut karena harga makanannya, dia bisa memilih sesukanya karena Nando yang membayar, dan juga… harga makanannya tidak terhitung mahal. Wah, tidak salah ide Nando untuk meminjamkan pakaian Johnny pada Wendy.

Melihat bagaimana penuhnya meja mereka sekarang, Wendy bisa pastikan dia pulang dengan perut kekenyangan dan membuncit.

“Wah, baunya sungguh enak!” cicit Wendy, gadis itu baru saja hendak membungkukkan badan guna menggapai semangkuk menu yang ada di depan Nando saat lengan pemuda itu menghentikannya.

“Eh, ada apa?” tanya Wendy.

“Rambutmu bisa terkena makanan, ceroboh sekali.” gerutu Nando, ia kemudian merogoh saku jaket yang ia kenakan, tersenyum sekilas saat menemukan sebuah tali rambut di sana.

Kemudian dengan santai dia biarkan kedua lengannya bergerak semaunya, menata surai panjang Wendy sebelum ia mengikatnya dengan tali rambut tersebut. Sementara si pemilik rambut sendiri mematung.

Demi Tuhan, tidak pernah sekali pun ia mendapatkan perlakuan semanis ini dari seorang pria! Dan sekarang, tatapan beberapa pasang kekasih yang ada di sana pun bersarang pada keduanya. Bisa Wendy lihat pandangan iri, juga secuil kecemburuan di mata gadis-gadisnya, sementara para pemuda di sana justru terlihat memutar bola mata, mungkin jelas terlihat sikap Nando sekarang adalah cerminan sikap seorang player.

“Apa yang kamu lakukan? Aku sudah biasa makan dengan rambut yang terurai, kok.” Wendy kemudian mengajukan protes, dia tidak tahu bagaimana cara Nando mengikat surainya, dan tidak yakin juga kalau pemuda itu mengikatnya dengan rapih.

“Kamu tidak akan kecewa dengan karyaku, tenang saja, Wen. Kamu itu wanita nomor empat puluh enam yang kuperlakukan begini.” ucap Nando, memasang wajah penuh kebanggaan.

“Wah, wah. Setiap enam bulan sekali sejak lahir, kamu mengikatkan rambut perempuan ya?” balas Wendy tidak mau kalah. Mendengar balasan Wendy, tawa Nando justru pecah.

Dia sungguh tidak menyangka jika Wendy bisa dengan cukup cepat menghitung jumlah usia Nando sekarang dibandingkan dengan jumlah wanita yang pernah Nando kencani itu. Setiap enam bulan sejak lahir, kata Wendy. Dan ya, Nando tidak bisa untuk tidak tergelak karena lelucon yang secara tidak langsung berhasil Wendy ciptakan itu.

“Ya, ya, anggap saja begitu. Sudah, cepat makan sebelum makanannya dingin.” Nando menyudahi tawanya, merasa bersalah juga dia karena ditatap dongkol oleh Wendy.

Gadis itu pun akhirnya mengakhiri kekesalannya. Percuma kalau dia menguras emosi dengan meladeni Nando dan perkataannya, hanya akan bikin makan hati. Lebih baik dia makan makanan yang ada di hadapannya, bukan?

“Nando, sedang apa kamu di sini?” baru saja Wendy hendak menyuap nasi ke dalam mulut, sebuah suara sudah menginterupsi konsentasinya.

“Oh, John. Aku pikir kamu tidak akan ada di sini.” Nando berkata santai, sementara Wendy hampir saja tersedak. Dengan heboh gadis itu terbatuk-batuk menyedihkan, selagi maniknya menatap ke arah pemuda tinggi menjulang yang berdiri di sebelah Nando.

“Aku mengajak Nancy ke sini dan oh—hai Wen, aku hampir mengira kamu kekasih baru Nando, jarang sekali melihatmu dengan rambut dikucir begini.” Johnny berkata, dia memperhatikan dandanan Wendy sejenak dengan kening berkerut, tak lama seorang gadis berparas cantik datang menghampiri Johnny, bergelayut di lengan kekar si pemuda sementara Wendy masih berusaha menghentikan batuknya.

“Oh, Johnny. Aku tidak tahu kamu akan ke sini juga.” Wendy berucap, pura-pura tidak merasa canggung padahal sebenarnya dia malu bukan kepalang.

Rasanya seolah sedang kepergok selingkuh, padahal dia tidak berbuat salah barang satu pun—“Oh, tadi kupinjamkan pakaianmu pada Wendy, kamu tahu aku tidak suka pakaianku dipakai orang lain, bukan? Dipakai olehmu saja aku tidak suka.”—ya, kecuali kesalahan fatal ini.

Tatapan yang Nancy berikan pada Wendy sekarang sungguh tidak bisa diartikan. Wendy sendiri tidak paham, kalau senyatanya kemeja dan sweater yang ia kenakan adalah pemberian Nancy pada sang kekasih. Nando sudah tahu, sih, tapi pura-pura bodoh saja.

Dia bahkan sudah tahu kalau akan bertemu Johnny dan Nancy di sini. Lantas apa pula tujuannya bertingkah begitu mengerikan?

“Johnny, ini kan—”

“—Sudah tidak apa, Wendy meminjamnya, sayang.” Johnny memotong ucapan Nancy, takut Wendy tersinggung karena ucapan gadisnya, mungkin.

Tapi tidakkah Johnny tahu kalau sekarang saja Wendy sudah cukup patah hati?

“Ah, maaf. Aku tadi lupa menyimpan kunci kostku di mana. Dan Nando mengajak makan malam di luar, jadi… aku terpaksa meminjam pakaianmu.” ucap Wendy, terpaksa berbohong pada Johnny soal dia lupa tempat menaruh kunci kamar kost, padahal benda itu bertengger dengan aman di dalam tasnya.

“Iya, tidak masalah, kamu bisa pakai bajuku, kok.” Johnny tersenyum kecil, tidak memamerkan kebohongan apapun, tidak juga berusaha memamerkan kebaikan apapun pada Wendy.

Sikapnya sekarang jelas Wendy baca sebagai usaha menjaga sopan santun, meskipun sebenarnya dia ingin berkata tidak, atau jangan, pada Wendy. Tapi dia menjaga sopan santun. Mereka sedang ada di tempat umum dan konversasi tentang hal semacam ini tak akan enak untuk didengar siapapun.

“Apa Nando sedang menang lotere? Dia jarang sekali membelikan makanan sebanyak ini. Selamat ya, Wen, kamu pasti jadi wanita pertama yang ditraktirnya makan sebanyak ini.” Johnny kemudian berkata, ia senggol pelan lengan saudara kembarnya itu, sementara Nando sendiri memasang wajah tidak berdosa.

Tidak tahu dia kalau sekarang jantung Wendy sedang melompat tidak karuan karena alasan yang tidak jelas. Karena kedatangan Johnny dan kekasihnya, karena pandangan tak mengenakkan hati yang kekasih Johnny lemparkan, atau karena untuk kedua kalinya dia diperlakukan dengan luar biasa berbeda oleh seorang pria?

“Tidak masalah, sih, aku sudah pernah bilang padamu kalau Wendy itu ada di level yang berbeda dalam prioritasku, bukan?” Nando membanggakan diri. Dan oke, lagi-lagi Wendy bertanya-tanya. Prioritas apa yang sedang Nando bicarakan sekarang?

“Ya sudah, kalau begitu aku dan Nancy ke dalam dulu. Kami tadi dapat tempat di dalam. Selamat makan, ya. Maaf sempat mengganggu kalian.” Johnny berkata, ia sempatkan diri untuk menepuk puncak kepala Wendy dengan gemas, sebelum akhirnya ia gamit lengan kekasihnya—yang sejak tadi memilih bungkam, karena dongkol mungkin—dan membimbing langkah gadis itu pergi.

“Nando, kamu pasti sengaja ‘kan?” ucap Wendy sepeninggal Johnny.

“Iya, memang sengaja.”

“Apa? Kamu sengaja membawaku ke sini supaya bertemu Johnny dan Nancy, jadi semua orang bisa dengan jelas melihat kalau aku suka padanya, begitu?”

“Tidak, bukan begitu.” Nando berkata dengan santai, sesekali ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Lalu apa?” tanya Wendy dongkol.

“Supaya kamu tahu kalau kamu itu berbeda.”

“M-Maksudnya?” alis Wendy kini berkerut mendengarnya.

Nando, dengan sabar meletakkan garpunya di piring, sebelum ia menyandarkan kedua lengannya di atas meja, meneror Wendy dengan tatapan.

“Karyawan yang bekerja di sini, separuhnya adalah temanku dan Johnny. Yang sering datang ke sini juga teman-teman kami. Dan juga, yang sekarang datang ada beberapa teman kami. Jadi, kamu harus tahu kalau kamu itu kami perlakukan berbeda.

“Aku mentraktirmu, dengan baik hati membiarkanmu naik mobilku—padahal tidak satu pun kekasihku pernah naik mobil denganku—dan bahkan Johnny begitu saat tahu kamu memakai pakaiannya. Apa kamu tidak sadar, Wendy?

“Tanpa harus jadi kekasih Johnny dan tidak juga harus mendekatiku dengan terpaksa meskipun aku dan kamu sama-sama tidak mau, kamu tanpa sadar sudah jadi prioritasku dan Johnny, tahu.”

Wendy sekarang terperangah. Pasalnya ucapan Nando sekarang terdengar sungguh tidak masuk akal dalam pendengarannya. Mana ada di dunia ini orang yang menomor satukan orang lain selain kekasihnya? Mari kita kesampingkan orang tua dan saudara sejenak, siapa yang akan jadi prioritas berikutnya bagi seseorang? Tentu saja kekasih, bukan?

“Dan apa tujuannya kamu memberitahuku tentang hal itu?” tanya Wendy kemudian.

Mendengar ucapan Wendy—yang sedikit-sedikit mulai memahami maksud dari penuturannya tadi—Nando akhirnya tersenyum.

“Supaya kamu tidak kecewa kalau sampai akhir, perasaanmu pada Johnny tidak terbalas. Kamu juga tidak perlu membelok padaku kalau Johnny tidak mau kamu jadi kekasihnya. Kamu tahu, kalau saja kamu bukan Wendy yang kami kenal, mana bisa aku dan Johnny menolak perasaanmu, Wen.

“Tapi karena kamu itu Wendy yang kami kenal, kami justru semakin tidak bisa menolakmu, dan tidak juga bisa memilih. Bayangkan, bagaimana kalau kami berdua sama-sama menyukaimu, memangnya kamu bisa memilih atau menolak salah satu dari kami? Lagipula, kamu itu terlalu manis dan menggemaskan untuk ditolak.

“Dan kamu juga tahu, ikatan pertemanan kita itu jauh lebih erat dari ikatan kasih yang aku, Johnny, maupun kamu nanti bina dengan kekasih kita masing-masing. Daripada menginginkan salah satu dari kami untuk jadi kekasih, mengapa kamu tidak ingin memiliki kami berdua saja sebagai teman dekatmu?”

Seketika, benteng yang telah Wendy coba untuk ciptakan selama beberapa hari ini runtuh. Pertanyaannya tempo hari—yang tak sempat ia ungkapkan—tentang siapa pemberi cheese cake yang menaruh benda lezat tersebut di depan kamar kostnya juga sekarang teramat jelas sudah jawabannya.

“Nando, kamu yang malam itu memberiku cheese cake ya?” tanya Wendy lirih.

“Bukan aku yang memberinya, tapi Johnny.” jawaban Nando malah membuat Wendy makin terbelalak. Johnny? Jadi pemuda itu—

“Jadi Johnny mendengar apa yang aku bicarakan dengan Joy?”

“Bukan cuma Johnny, tapi aku juga mendengarnya, Wen. Kami berdua yang mengantar cheese cake itu ke kamarmu.”

Bisakah… Wendy berharap ia dihilangkan dari muka bumi ini sekarang?

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Ini enggak tahu, sebenernya Nando sama Johnny itu udah bikin rencana apa buat Wendy sebelumnya, dan enggak tahu juga perasaan mereka sebenernya gimana, maunya mereka Wendy harus gimana, dan Wendy seharusnya gimana.

ENGGAK PAHAM, untuk pertama kalinya aku ngerasa enggak paham sama pemikiran dua orang—kan mereka kembar, ya—kayak gini. Tapi Wendy juga sekarang ada di titik galau, dia ini baru aja ditolak atau diterima sebenernya? Itu kata-kata Nando semacem kode buat nyuruh Wendy ngejauh atau makin ngedeket?

HAHAHAHAHA, SUDAHLAH BIAR CERITA AJA YANG NGEJAWAB APA YANG BAKAL TERJADI SAMA MEREKA NANTINYA.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

3 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Ada Apa Dengan Jantung Ini?

  1. Greget…. Greget… Greget…
    Wendy pasti bingung banget mau ngapain dia apalagi setelah tau kalau Johnny tau dia suka sama Johnny 😂 Aku tau rasanya jadi kayak mau hilang di bumi rasanya atau nuker muka kita ke orang lain 😂 Semangat mbak wen! Aku padamu dah mbak 😆 Ditunggu kelanjutannya Kak Irish 😂 Greget pisan euy 😂 Keep Writing 💖

    Like

  2. Kok gue sedih baca part ini 😦 penasaran apa yg si kembar maksud huhuu, gue pengen Johnny sma wendy karena suatu keinginan yg terkabul itu menyenangkan wkwk, tpi wendy nando lucuu ><

    Kak irish gue mau bilang makasih bikin 'anak ibu kost' ini, seru banget, gue berasa kek nonton haha.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s