[NCTFFI Freelance] Dyre (Chapter 12)

DYRE

Genre  : School Life, Friendship, Love, Comedy, Drama

Main Cast       : [NCT’s] Mark Lee, Johnny Seo, Jung Jaehyun, Jung Hana (OC), Choi Yora (OC), Yoo Raein (OC)

Sub cast          : Other NCT Members, SM Rookies, and others figuran

Rating : Teen

Summary        : Dyre is another word for love

Rasa Simpati

.

.

.

Hari semakin malam, dan Yora pun memutuskan untuk pulang duluan.

Bukannya tidak mau tanggung jawab karena sudah membuat Kakak sahabatnya kesakitan begitu.

Lagipula, itu salah Johnny sendiri, kenapa bertindak aneh.

Dan lagi, Ibu Yora sudah menghubungi anaknya itu berulang kali, itu alasannya.

Maklum, Yora kan anak semata wayang, mungkin Ibunya khawatir.

.

.

.

“Kayanya, aku juga harus pulang, kasihan kak Hana, dia kelelahan” ujar Mark setelah beberapa menit Yora pergi dari sana.

“Loh, Hana kenapa? Kayanya dia baik-baik saja tadi, ah jangan-jangan modus” ledek Raein yang malah mendapati Hana tengah memelototinya.

Mark langsung membela “Tidak, kok, kalau begitu, kami pulang dulu, ya” lanjutnya seraya membungkuk pada ketiga orang didepannya dan langsung menggandeng tangan Hana untuk pulang.

Hening sesaat karena Cuma tinggal Jaehyun dan Raein disana.  Oh jangan lupa, Johnny sedari tadi masih kesakitan dibangku taman “Kayanya kita gak mungkin naki bis, deh” ujar Jaehyun melihat kondisi Johnny yang kakinya masih memar.

“Kenapa memangnya?” Raein menimpali pernyataan Jaehyun seraya sedkikit mendongak karena Jaehyun tengah berdiri disampingnya.

Tak butuh beberapa menit, mobil sedan hitam sekarnag tengah terparkir dijalan aspal tepian Sungai Han.

Jaehyun segera mendekat dan sedikit membungkuk saat salah satu kaca mobil itu perlahan terbuka.

Sejurus kemudian, Ia membukakan pintu belakang mobilnya, kemudian menghampiri Johnny dan membantunnya masuk kedalam mobil.

Tidak, kok, Raein tidak ditinggal, Ia sempat melongo saat Jaehyun kemudian mempersilahkannya naik bersama Johnny yang sudah duduk dijok belakang mobil itu.

Yah, walaupun akhirnya mereka semua memang masuk kedalam mobil dan membawanya kesuatu tempat, sesuai perintah Jaehyun pada si sopir yang sedang menyetir disampingnya.

.

.

.

“Benar gak mau dibawa kerumah sakit?” tanya Jaehyun sedikit menengok kebelakang agar bisa menatap lawan bicaranya.

“Gak usah, nanti diapartemen biar aku kompres pakai air hangat. Hitung-hitung kasih pelajaran, biar gak centil lagi” ujar Raein sambil memelototi kakaknya itu.

Jaehyun terekeh “Yasudah, pak, kita berhenti sebentar lagi, ya” pinta Jaehyun sangat sopan pada sopir didalam mobil itu yang menimpali dengan anggukan kepala.

.

.

.

Sesampainya diapartemen.

“-ssaem, hati-hati, biar kubantu” ujar Jaehyun, dengan sabar Ia membantu Johnny turun, bahkan sampai masuk kekamar apartemen.

Raein mengikuti dari belakang dan berkata “Makasih, Jaehyun” saat sebelumnya ia menyuruh Jaehyun untuk duduk sebentar diruang tengah apartemen.

Tapi Jaehyun menolak karena “Kasihan pak Lee-yang agaknya sopir dari mobil sedan hitam tadi-nanti dia kelamaan nunggu”

“Yasudah kalau gitu, aku antar untuk turun, ya” pinta Raein yang dijawab anggukkan oleh Jaehyun.

.

.

.

Jaehyun sadar ada yang tak beres.

Buktinya sedari tadi Ia melihat diam-diam Raein meliriknya dengan tatapan bingung “Ada apa?” tanya Jaehyun.

“Enggak, kok. Eh, Jaehyun, itu tadi…” belum sempat Raein meyelesaikan pembicaraannya, Jaehyun dengan cepat memotong.

“Dia pak Lee, sopir pribadiku” benar saja, mata Raein dibuat semakin membulat mendengar pernyataan Jaehyun.

.

.

.

Oke, sekarang Raein paham bahwa Jaehyun ternyata berasal dari keluarga konglomerat.

Tapi Raein kembali berpikir satu hal, kenapa Jaehyun bisa sebegitu punya rasa simpati yang menurut Raein cukup besar untuknya?

Tak salah, sih. Tapi, Jaehyun barusan sampai memanggil sopir pribadinya untuk mengantar Raein dan Johnny pulang.

Padahal selama ini Raein lihat, Jaehyun selalu pulang pergi sekolah secara mandiri.

Raein menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, Ia memandangi sekali lagi wajah berbinar milik Jaehyun yang tidak bisa sedetikpun tidak tersenyum, menurut Raein.

Ini aneh, tapi sepertinya, getaran  itu kembali muncul.

Sama seperti saat mereka naik sepedea sama-sama. Bedanya saat ini jantungnya seperti tak kuat lagi untuk berdegup dan runtuh seketika.

Apalagi Ia tahu bahwa rasa simpati Jaehyun cukup besar.

Jaehyun sendiri tak elak merasakan hal yang sama, ada yang tak beres.

Oke, Ia akui, sejak Ia menabrak Raein tanpa sengaja,  dan menggandengnya menuju kelas.

Saat dimana mereka makan eskrim bersama dan hal lainnya.

Bukankah belakangan Jaehyun sangat dekat dan melakukan hal-hal seru dengan Raein?

Jaehyun mengaku sekarang, sepertinya Ia mulai suka Raein.

.

.

.

“Rey…” Jaehyun memanggil ragu Raein .

“Kenapa, Jaehyun?” Raein menimpali sambil mengangkat kedua alisnya dan menatap Jaehyun.

“Ah, tidak. Aku Cuma mau bilang kalau besok tepat seminggu sebelum ujian, belajarlah lebih rajin” pinta Jaehyun pada Raein yang tanpa dikomando pun, Raein akan melakukannya.

Kalaupun tidak, Raein itu otaknya kelewat cerdas.

Ia hanya perlu membaca materi sekilas, kemudian dengan cepat bisa menawab soal.

Begitu Yora bilang saat beberapa hari lalu Ia tak sengaja berpapasan dengan Jaehyun di depan ruang musik dan memintannya  untuk membicarkan sedikit rahasia Raein.

“Pasti bakal aku lakukan, kamu juga, ya, tapi jangan Cuma sama Kimia, sama matematika, dan pelajaran lain juga” Raein terkekeh.

Ia paham bahwa Jaehyun maniak rumus Kimia, makanya Ia bilang begitu pada Jaehyun.

“Haha, iya, siap, Bos!” jawab Jaehyun kemudian memberi hormat bak prajurit yang telah menerima perintah dari  komandannya.

Raein terkekeh lagi.

“Ngomong-ngomong makasih banyak, ya, aku kaget tadinya kok tiba-tiba kamu keliatan akrab banget sama pengemudi mobil yang tadi berhenti didepan kita” timpal Raein.

“Hmm kita ya… Oh, Raein Kamu ingat tidak?”

“Apa?”

“Saat itu kamu minta maaf sama aku soal kekeliruan kamu yang nyangka aku ini tertutup” ujar Jaehyun sambil memasukkan dua tangannya kesaku celananya.

“Terus?” Raein tiba-tiba jadi bingung sambil mengingat kejadian yang barusan Jaehyun bilang.

“Aku minta kamu buat traktir aku eskrim sebagai ucapan maaf” Jaehyun terkekeh.

Raein langsung beropini kalau “Oh, kamu mau kubelikan eskrim sebagai ucapan terima kasih juga?” tawarnya.

“Tidak” pungkas Jaehyun.

“Lalu?” ayolah Jaehyun, Raein benar-benar bingung sekarang.

Hening sesaat, kemudian Jaehyun menatap dalam wajah Raein dan berkata “Jadilah pacarku”

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s