[NCTFFI Freelance] Lucky Girl! (Chapter 3)

Chapter 3

Author             : Yurisa

Main Cast        : Winwin (NCT) – Mina (Twice) – Rosé (Blackpink)

Other Cast       : Renjun (NCT) – Yuta (NCT)

Genre              : Romance, friendship, slice of life & family

Rated              : PG-17

Disclaimer       : No comment. Hehe… ^o^

***

“Yak! Renjun-ah! Kau tidak mau menahanku, eoh?! aku akan bertengkar dengan pria jepang ini jika kau tidak mau menahanku!”

“Wae? Kenapa aku harus menahanmu? Kau sendiri malah sembunyi di belakang tubuhku, heol!”

“Yak! Kalau kau berani sini lawan aku! Jangan sembunyi di belakang Renjun!”

Yuta langsung menghampiri Rosé yang sedang sembunyi di belakang Renjun. Sekuat tenaga Rosé mencari celah untuk kabur dari Yuta tapi tangannya malah dipegang Renjun.

“Yak! Kenapa kau memegang tanganku?! Aku mau melarikan diri!!”

“Kau bilang aku harus menahanmu! Ini sudah aku tahan. Supaya kau tidak kabur dari sini!”

Rosé mendelik pada Renjun dengan tajam. Anak ini benar-benar menyebalkan!

“Hei, kalian hentikan! apa kalian tidak malu pada tetangga yang lain?” Mereka bertiga dengan cepat melirik ke arah sumber suara. Dilihatnya Winwin yang sedang bersandar di tembok dengan seplastik bahan makanan.

“Oppa! Tolong aku~” ucap Rosé sambil berlari dengan gaya dramatis ke arah Winwin.

“Eyy, ratu drama!” ucap Yuta dan Renjun bersamaan.

***

“Permasalahannya, Rambut caramel yang terkunci di luar memakan satu kotak pizza yang tergeletak di depan pintu apartemen Yuta hyung dengan rasa tidak bersalah. Dan dengan tidak tahu malunya, ia tidak meminta maaf tapi malah mengajak Yuta hyung ribut. Disitulah seorang Renjun datang dan tidak menyelesaikan permasalahnnya… tamat.”

Winwin mengangguk-angguk tanda mengerti dengan kesaksian dari Renjun.

“Kalau begitu, ini aku ganti uangnya, hyung. Dan untuk makan malam, ini ada kimbab untukmu. Maaf karena merepotkanmu…” Kata Winwin sambil tersenyum. Yuta menerima uang dan kimbab itu dengan tidak enak hati. Ditatapnya Winwin dengan rasa bersalah.

“Hei, Winwin-ah. Yang salah bukan kau. Tapi gadis ini. Kenapa malah kau yang repot, eoh?”

“Gwaenchanayo, hyung. Aku juga sedang punya uang. Jadi tidak masalah…” balas Winwin dengan cepat.

“Jaa~ kalau begitu terima kasih. Aku jadi merasa tidak enak padamu. Dan kau! Urusan kita belum selesai!” kata Yuta sambil pergi meninggalkan apartemen Winwin.

Mendengar itu, Rosé langsung meleletkan lidahnya ke arah pintu yang sudah tertutup, “Dasar pria jepang aneh! Wee…!”

“Aish, geumanhae~” kata Winwin sembari menutup wajah Rosé dengan handuk yang ia pegang. Rosé langsung melakukan perlawanan dengan menarik handuk tersebut dan melemparnya pada Winwin.

“Aku bisa mati kehabisan nafas, Winwin-ah~” rajuk Rosé dengan manja.

“Eyy, gadis tidak tahu malu…” kata Renjun sambil memakan sepotong kue. Seakan terpanggil, Rosé langsung menjawab sindiran Renjun.

“Aku ini masih punya rasa malu, Renjun-ah! Kalau kau bilang begitu, aku sangat tidak terima!”

“Oh ya? Contohnya?” tanya Renjun penasaran. Dihentikannya kegiatan makannya untuk sekedar menatap Rosé dengan tatapan merendahkan. Rosé balas menatap Renjun dengan tajam.

“Contohnya? Mmm…, contohnya…. Saat aku keluar dari kamar mandi! Ya, benar! saat aku selesai mandi aku selalu mengganti bajuku di sana. Kau tahu kenapa?!”

Renjun menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya mengerucut seakan tidak tertarik dengan alasan yang Rosé punya.

“Karena aku malu kalau Winwin sampai melihat kulit mulusku! Apalagi jika lilitan handuknya lepas. Itu sangat berbahaya! Winwin bisa pingsan saat melihatku telanj–  aih! aku jadi malu~” Rosé langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Suara cekikikan yang imut keluar dari mulutnya membuat Winwin yang sedang memasak ikut tersenyum.

Krauk Krauk Krauk

Renjun kembali memakan kue-nya. Kali ini dengan gigitan yang lebih keras seakan-akan kue itu adalah seorang Rosé Park si gadis mesum yang mengajaknya ngobrol. Seumur-umur, Renjun belum pernah mengobrol ambigu dengan Winwin. Dan dalam dua hari terakhir, Renjun sudah dua kali pula terjebak dalam obrolan ambigu bersama si gadis caramel.

“Kalau begitu, kau tidak pantas disebut ‘gadis tak tahu malu’. Karena nyatanya, kau masih punya rasa malu…” kata Winwin sambil menghidangkan tiga piring nasi goreng kimchi di atas meja. Rosé tersenyum senang lalu memakan nasinya dengan lahap.

“…Karena itu, kau lebih pantas disebut  ‘ gadis tak tahu diri’ bukan?” kata Winwin menuntaskan kalimatnya.

Pfft!

Mendengar itu, Renjun berusaha menahan tawanya. Winwin hyung terlalu polos dan jujur!

Di sampingnya, Rosé langsung berhenti makan dan menatap Winwin tidak percaya. Tiba-tiba wajah Rosé memerah, membuat Winwin dan Renjun penasaran,

“Winwin-ah, apa kau sedang menggodaku, eoh? hentikan~ Aku jadi malu…” katanya dengan suara yang imut. Winwin langsung terkekeh geli,

“Kenapa kau jadi malu?! Aku menyindirmu, bodoh~” kata Winwin dengan bercanda. Rosé langsung memukul bahu Winwin dengan pelan.

“Ayy, hentikan~ Aku sedang malu, Winwin-ah…” kata Rosé sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Winwin balas memukul bahu Rosé dengan pelan juga.

Terciptalah suasana yang tiba-tiba romantic bagi Rosé dan juga Winwin. Seorang anak SMA yang melihat kemesraan di depannya hanya bisa merengut sambil memakan nasi goreng kimchi-nya. “Aku rasa kalian sama-sama bodoh…” gumam Renjun dengan sebal.

***

“Aku ingin bekerja sebagai pengajar. Apa di sanggar tempatmu bekerja ada lowongan?”  tanya Rosé penasaran. Winwin tetap memfokuskan matanya pada layar TV yang sedang menayangkan drama kolosal.

“Aku tidak tahu. Besok akan aku tanyakan. Memangnya kau bisa tari apa?” tanya Winwin sambil menatap Rosé yang ada di sampingnya. Rosé tersenyum,

“Gangnam style.” Jawab Rosé dengan singkat. Renjun yang sedang mengerjakan PR di meja depan TV langsung tertawa dengan keras. Sedangkan Winwin hanya tersenyum miris sambil menghela nafas dengan berat,

“Kalau begitu, aku tidak harus bertanya besok. Kau sudah gagal di seleksi pertama, nona Rosé…”

“Heol! Aku bahkan belum buat surat lamaran, Winwin! Kenapa sudah ditolak?!” Winwin tidak menjawab. Ia kembali focus menonton drama di TV.

“Ini. Ini uang untukmu.” Winwin mengernyit heran melihat Rosé yang berdiri di depannya tiba-tiba memberi dua lembar uang 10.000 won padanya.

“Untuk apa? Kau dapat uang darimana?”

“Setiap pagi dan sore, ada kegiatan senam sehat di taman. Pagi untuk ibu hamil dan sore untuk lansia. Aku jadi pendamping instruktur senam di sana. Dan ini bayarannya. Untukmu…”

“Kenapa kau tidak pegang sendiri saja? Ini uangmu…”

“Aku sudah banyak merepotkanmu, Winwin. Jadi ini untukmu. Aku selalu mendapat makanan dari para peserta senam. Jadi kau tidak usah khawatir kalau aku kelaparan.”

Winwin lalu menerima uang itu dengan ragu. Rosé langsung tersenyum senang dan kembali duduk di tempatnya.

“Aku sudah cukup beruntung karena kau sudah merawatku dengan baik.Uang itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebaikanmu, tuan Dong Sicheng…” gumam Rosé tanpa menoleh pada Winwin. Winwin yang mendengarnya hanya tersenyum kecil karena merasa dipuji.

***

“Hyung sudah janji mau mengantarku pergi ke itaewon!”

“Tapi ini benar-benar mendadak, Renjun-ah… hyung harus pergi ke sanggar sekarang. Kalau tidak, hyung bisa dipecat. Apa kau tidak bisa pergi ke sana sendirian?”

“Aku bisa pergi sendirian ke sana. Dan terakhir kali aku pergi sendiri, aku dibawa ke tempat penitipan anak hilang oleh seorang ahjumma!”

Winwin menghela nafas dengan berat. Renjun memang sangat jarang keluar rumah. Selama 2 tahun tinggal di Seoul, Renjun masih belum hafal seluk-beluk jalanan Seoul. Ia hanya tahu rute-rute jalan yang sama di sekitar sekolah dan apartemen saja. Sangat berbahaya jika Renjun sampai tersesat atau hilang.

“Aigoo~ di hari minggu seperti ini adikku ingin jalan-jalan ke itaewon? Dengan senang hati noona akan mengantarmu, Injunnie~”

“Ah, benar! Kau bisa pergi bersama Rosé, Renjun-ah… Kalau pergi bersamanya, kau tidak akan tersesat.”

Rosé langsung memberikan wink-nya pada Winwin karena sudah setuju dengan usulannya. Renjun mendengus sebal lalu kembali merajuk pada Winwin yang sudah ada di depan pintu.

“Hyung, jebal… Aku–”

“Jaa~ Ini uangnya. Aku berikan uang lebih untuk kalian makan di itaewon. Dan satu lagi, jangan membeli barang yang tidak berguna. Beli barang yang kau butuhkan saja, oke? Selamat berkencan dengan Renjun, Rosé-ya~” kata Winwin sambil melambaikan tangannya pada Rosé.

“Wohooo! Jalan-jalan ke itaewon…! Yeay~ Ayo bersiap-siap Renjun-ah! Omo! Baju apa yang harus aku pakai? Ah, baju ini sangat lucu! Oh, atau yang ini saja?”

“Hyung, Andwaee…!”

***

Renjun terus merengut dengan memasang tampang badmood-nya. Berjalan-jalan di itaewon adalah hal yang menyenangkan. Tapi jika itu bersama Rosé lain lagi ceritanya. Rosé terus berbicara membuat Renjun pusing sendiri.

“Apa kau tidak sadar? Kita ini nampak seumuran, tahu~ Orang-orang di sini pasti mengira kalau kita adalah sepasang remaja yang sedang berkencan…”

Renjun tidak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya kecil dengan tangan yang berusaha menghindar dari genggaman Rosé. Renjun merasa risih.

“Eyy, kalau begitu berhentilah menggandeng tanganku. Kau seperti tante-tante genit!” gumam Renjun dengan pelan.

“Yak! kalau kau sampai tersesat dan dibawa ke tempat penitipan anak hilang, aku juga yang malu! Dan lagi, tante-tante genit?! Heol! Aku ini seumuran dengan hyung-mu, tahu! Wajahmu memang imut, Renjun-ah. Tapi kau benar-benar jahat! Si imut yang jahat! Huh!”

Renjun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi. Orang-orang mulai memperhatikan pertengkan antara adik dan noona ini dengan heran. Sedangkan Rosé tidak peduli. Ia sibuk menyilangkan tangan di depan dada karena ia masih marah pada Renjun.

“Omo! Bukankah itu Rosé Park? Si iblis Sekolah Han-Seul?”

“Oh ya! itu benar dia.”

“Hey, ayo kita ke sana!”

Rosé memasang raut bingung dan kagetnya bersamaan. Tiga gadis yang sepertinya masih sma berjalan cepat ke arahnya. Secara reflex, Rosé menggenggam tangan Renjun.

“Renjun-ah, ayo kita kabur.”

“Tapi aku belum beli sepatu.”

“Eyy! Nanti saja. Sekarang ayo kita lari!”

“Yak! Yak! Jangan menarikku seperti itu. Aww! Sakit…!”

Ketiga gadis itu nampak keheranan melihat Rosé berlari. Mereka pun langsung berlari juga untuk mengejar Rosé, “Hey! Kenapa kau lari, eoh?!”

***

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s