[NCTFFI Freelance] Hide & Seek (Chapter 2)

Hide & Seek

By son nocta

Starring : Shady Holles & Lee Taeyong

also appeared another NCTs one by one

Romance, School-life | Chaptered | PG-17

“Sometimes, love just a game that we have to finish it or let it game over.”

——-

Lvl 1

Level 2

Namanya Shady.

Dia berperawakan cukup normal jika disejajarkan dengan anak SMP di sekitar rumahnya. Tapi sikapnya terkadang dianggap tidak normal, lantaran memiliki orientasi pendapat yang selalu berbeda. Ketika orang lain ingin A, ia justru keras kepala terhadap opsi B. Ia juga lebih suka pergi makan siang di kantin sendirian, jika teman akrabnya sedang absen sekolah.

Shady Holles memang sukar untuk membuat dirinya bisa akrab dengan setiap orang.

Pernah suatu kali hal tersebut memberikan efek yang buruk baginya. Sebuah insiden yang hanya akan dialami oleh siswa yang dianggap kurang normal. Walaupun Shady tidak demikian, tapi—bagi orang lain—sikapnya yang terlihat pilih-pilih teman itu membawa pada ketidaknormalan.

Gadis tersebut diasingkan dari pergaulan, dibuat sebagai isu agar setiap warga sekolah menjauhinya. Dia kehilangan teman karib, karena mereka jauh lebih percaya terhadap pendapat orang lain. Bahkan jikalau ada yang mendekat, itu—mungkin—tidak lebih dari rasa kasihan.

Dan, sejak saat itu ….

“Langsung saja sih kalau memang tidak begitu penting.”

Seorang gadis berkepang duduk agak tidak nyaman seraya mendengus di tengah perkataannya. Ia menyeruput segelas teh lemon sambil menunggu jawaban yang ia harapkan. Penting atau tidak, ia harap dirinya bisa segera pulang.

“Aku menolak dijodohkan denganmu,” atensi lelaki di hadapan Shady berubah datar, barangkali mengalami ketidaknyamanan yang sama. Ia seperti merasa diperlakukan tidak selayaknya sebagai seorang relasi penting. Anak dari relasi lebih tepatnya.

“Soalnya aku sudah punya—“

“—aku juga, kok.” Shady tertawa menyindir, “Lagian Doyeong bukan tipeku, sih. Kalaupun dipaksa menikah denganmu, aku lebih baik melajang seumur hidup.”

Lelaki yang ia sebut sebagai Doyeong mengepalkan tangan sangat kuat. Bagaimanapun, sebagai seorang laki-laki, jika ditolak dengan cara yang sedemikian tidak sopannya. Bukan hal mustahil bagi dia untuk enggan menahan diri menumpahkan segelas mocca di kepala sang gadis.

Kepala Shady seketika lengket oleh cairan kopi dan campuran krim putih. Siapa yang menyangka bahwa itu adalah awal di mana ia mulai menolak semua laki-laki yang dikenalkan oleh ayahnya.

<>

“Lee Min Hoo.”

Out!

“Song Joong Ki.”

Out!

“Ji Chang Wook.”

Out!

“Goblin …. “

Ou—tunggu, kalau goblinnya seperti Gong Yoo sih tidak masalah!”

Bermimpi sajalah Shady Holles, memangnya kau secantik apa.

Kemudian, setelah sekian banyak penolakan yang terjadi. Ia merasa dirinya telah menang melawan keinginan ayahnya. Keinginan yang tidak pernah ia ketahui jelas alasannya. Apakah itu karena bisnis atau sebuah wasiat. Wasiat dari nenek moyang yang selalu menginginkan anak cucunya memiliki jodoh sesuai keinginan orang tuanya.

Shady Holles yang lahir di abad ke 19 jelas tidak menginginkan hal tersebut. Lebih-lebih ia sudah mengenal seorang pemuda, sejak hari pertama musim semi di bulan Maret.

Seorang pemuda dengan band-aid di pergelangan tangan kirinya. Pemuda yang menggendongnya dari tengah lapangan voli menuju ruang unit kesehatan.

Saat itu—sebelum kedatangan Jung Jaehyun (yeah, Jaehyun yang itu)—Shady Holles dipaksa mengikuti turnamen antar kelas. Itu adalah pekan barunya menjadi siswi sekolah menengah atas, tapi ia sudah dihadapi oleh masalah yang mengharuskannya mengatakan iya. Beberapa teman sekelas memasang wajah memelas, karena tidak ada lagi yang mau mewakili cabang voli. Salah satu harapan hanyalah Shady, karena anak perempuan sisanya tidak ada yang lebih tinggi dari dia.

“Ya, Shad. Kamu cantik deh!” Itu juga awal di mana Shady mengenal Sowon. Pasalnya, waktu itu Sowon langsung memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah ia dapatkan. Shad? Seketika wajah Shady langsung memerah dan mengangguk setuju.

Ia berharap masa SMA membuatnya jauh lebih baik lagi. Di mana anggukannya adalah langkah awal. Awal di mana ia bisa tertawa bebas tanpa perlu ketakutan akan pendapat orang lain.

WE GOTTA BEAT ALL! YO YO YO.”

Selama satu babak, permainan berjalan baik-baik saja. Kelas 1-C mampu mengungguli lawan untuk mendapatkan 25 poin. Shady bisa tersenyum sumringah melihat anggota timnya merasa bersyukur mengajak dia bergabung. Sampai akhirnya insiden itu terjadi, insiden di mana tim dari cabang perlombaan basket tidak sengaja lalai akan bola mereka.

Shady bisa mendengar namanya diteriaki sangat nyaring serta dibubuhi kalimat peringatan. Tapi, pandangannya justru fokus pada boli voli yang siap untuk di-passing. Kemudian pandangan itu berangsur ubah, membuat dirinya limbung lantaran sebuah bola lain yang berjalan menggilir ke arahnya. Gadis itu terpeleset dan jatuh mengenai lantai lapangan.

Samar-samar dirinya mendengar beberapa anak laki-laki memaki nama seseorang.

“Jae, kau gila, ya?!”

“Kalau kepalanya pecah bagaimana?!”

“Aku tidak mau ikut-ikutan ya, kamu tanggung jawab sendiri.”

Selanjutnya, Shady dibopong oleh Jung Jaehyun menuju kisah cinta sesungguhnya yang gadis itu inginkan. Secara harfiah, itu adalah awal Shady Holles bisa jatuh hati pada Jaehyun.

<>

Belum genap satu tahun sejak Shady menemukan rumah di sampingnya kosong. Hari itu, ia mendapati beberapa mobil pengangkut barang parkir di sana. Sampai-sampai depan rumahnya juga ikut menjadi sasaran.

“Ma, ada penghuni baru?” Shady mencolek adonan roti milik ibunya lantas mengintip dari balik jendela.

Dia bisa melihat beberapa pria dewasa mengangkat almari, televisi, serta barang-barang berat lain. Di sisi lain ada pria yang kelihatan berumur 30 ke atas tengah berbincang lewat ponselnya. Kemudian, seseorang di samping bangku sopir yang entah bagaimana wujudnya. Penglihatan Shady tertutupi oleh topi hitam yang orang tersebut kenakan.

“Iya, relasi Ayah yang tinggal lama di Jepang.”

Shady terdiam cukup lama. “Gawat dong.”

Mama melayangkan satu alis, “Gawat kenapa?”

“Gawat ‘kan kalau misalkan dia punya anak laki-laki. Kemungkinan besar aku dijodohkan lagi,” ia lantas bergidik setelah mengatakannya.

Mama tertawa renyah.

Shady mengambil langkah untuk duduk di hadapan ibunya. Ia berpangku wajah lalu menghela sangat panjang. “Ma, aku mungkin tidak pernah menanyakan soal ini. Tapi aku mulai merasa kalau aku perlu tahu, alasan Ayah menjodohkan anak satu-satunya di umur yang semuda ini.”

Gadis itu sedikit banyak berharap dapat mendengar alasan yang masuk akal. Sehingga dirinya bisa mempertimbangkan bagaimana jalan terbaik, agar ia mampu menghentikan rencana sang ayah. Hanya saja, sang ibu tidak lebih dari memberikan senyuman hangat sambil mengelus puncak kepala Shady.

“Supaya mengurangi biaya hidup, mungkin?”

Yah, Mama …. Padahal sudah serius begini ngobrolnya,” desah gadis itu yang berlalu keluar dari dapur.

Malam hari setelah konversasi singkat di dapur, jendela di seberang kamar Shady menyala. Dia pikir mustahil bagi orang dewasa tidur di lantai atas, walaupun tidak menutup kemungkinan tapi ia penasaran. Jika memang itu benar, maka ia bisa bernapas lega. Tapi, jika relasi dari ayahnya memiliki anak laki-laki bagaimana? Shady tentu harus berwaspada.

Siluet manusia bersurai panjang muncul di balik jendela itu. Presensinya begitu tinggi dan gadis itu bisa bernapas lega hanya karena siluet yang ia lihat.

Sekarang sudah tidak apa-apa ‘kan?

Sebelum dia berbalik ingin pergi ke tempat tidur. Tirai itu terbuka, menunjukkan presensi yang ia elu-elukan akan baik-baik saja—soalnya dia pasti perempuan. Begitu ia tahu kenyataannya, baru napas itu menjadi tercekat, penuh ketakutanan.

Tatapan tajam pemuda di seberang sana menusuk wajahnya. Tidak cukup dengan itu, ia membuat muka Shady memanas, lantaran tetangga barunya hanya memakai celana pendek sambil handukan kepala. Dia juga dibuat salah tingkah. Ia berjalan ke sana ke mari tak tentu arah, mencari aktivitas yang tepat agar tidak terlihat sedang mengintip.

Shady kemudian melihat pemuda itu menuliskan aksara di udara.

‘M-E-S-U-M’

<>

“TIDAK MAU!”

Awalnya itu hanya mimpi yang membuat Shady terbangun lebih pagi di hari Minggu. Mimpi  mengerikan yang hanya akan dialami oleh anak laki-laki yang hendak mengalami pubertas. Kemudian, setengah dari mimpi itu berubah menjadi kenyataan saat ia melihat wajah tetangga barunya.

Seorang pemuda duduk menyandar sambil memainkan ponsel di samping Shady. Kakinya menyilang serta satu tangan lain dimasukkan ke kantung celana.

“Sudah bangun ya, istri … ” pemuda itu menjeda untuk menoleh ke arahnya.

“ … mesum.”

“MAMA, SIAPA YANG MEMASUKKAN BEDEBAH INI KE KAMARKU SIH?!”

Ketika itu tentang perjodohan, maka Shady akan mengganggap calon pilihan ayahnya sebagai musuh bebuyutan. Entah ia diberitahu atau tidak, tapi ia sudah memulai perang sejak dirinya berusaha keras turun dari gendongan pemuda tadi.

Terjatuh, bangun, berlari, ditangkap dan digendong lagi. Siklus tersebut terus berputar sampai Shady memilih melangkah sendirian.

“Tolong biarkan aku berjalan dengan kakiku sendiri. Untuk itu, aku harus mandi terlebih dahulu, oke?”

“Tetap kutunggu.”

Tensi gadis itu naik hingga ubun-ubun, “Aku tidak akan kabur, sumpah!”

Ia bahkan mengumpat secara diam-diam pada punggung lelaki yang berangsur meninggalkannya menuju ruang keluarga.

Sejak saat Shady menolak untuk mengikuti otaknya yang memberontak ingin kabur. Dia menyesali sumpah yang telah ia buat. Jika harus memutar waktu, ia lebih baik berlari dari kenyataan, tanpa harus percaya pada karma tentang sumpahmu adalah takdirmu. Setidaknya dengan cara itu ia bisa selamat dari perjodohan kesepuluh kalinya. Perjodohan dengan lelaki bernama Lee Taeyong. Sebuah perjodohan yang membawa mala petaka terhadap kehidupannya. Karena, perjodohan kesepuluh kali itu tidak mampu ia gagalkan.

Ia tidak bisa membuat Lee Taeyong mengundurkan diri dari permainan. Bahkan sebaliknya, Shady Holles diseret untuk menjadi pemain utama di mana lelaki itu bersembunyi di baliknya.

*

Extra Thoughts :

It seems when you want someone, they don’t want you.

And when someone wants you, you don’t want them.

Be careful, when you both want each other,

something has to come around and

mess it up ..

a/n :

  • Ssup! Aku lupa ngasih tau kalau ini cerita berepisode kkkk
  • Pernah dipublish di wattpad dengan cast pd101 (barangkali sudah pernah baca)
  • Kritik sangat diapresiasi karena ini fiksi chapter yang ga banyak beta HAHAH
Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Hide & Seek (Chapter 2)

  1. Hai Kak. Siapapun yg bikin ff ini. Ff-nya bagus dan penjelasannya enak. Shady beruntung banget kali punya suami kayak TY. Kalau nggak mau, ketimbang mubazir ambil aku aja ya (dibalang author😆)
    Keep Writing and Hwaiting! Ditunggu chapter selanjutnya 😄

    Oh ya, aku Alda 02L. Salam Kenal 😊

    Like

    • Hai, alda. Sudah kejawab kan ya siapa yg bikin? aku. HAHAH

      Wah seriously, aku pikir diksinya terlalu menye menye dan bakalan bikin pusing.

      Makasih ya alda buat review-nya, silakan ambil si taeyong kalau mau kkkk

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s