[NCTFFI Freelance] Lucky Girl! (Chapter 4)

Chapter 4

Author             : Yurisa

Main Cast        : Winwin (NCT) – Mina (Twice) – Rosé (Blackpink)

Other Cast       : Renjun (NCT) – Yuta (NCT)

Genre              : Romance, friendship, slice of life & family

Rated              : PG-17

Disclaimer       : No comment. Hehe… ^o^

***

“Ah…! Jadi dua perawan tua itu yang memberitahu kalian?” tanya Rosé memastikan. Ketiga siswi itu mengangguk.

“Iya. Tapi kami tidak pernah menyangka, kalau kau penyuka brondong. Terlebih lagi dia seorang Renjun. Ini akan menjadi berita besar di sekolahan!” jawab si gadis berkacamata.

Rosé dan Renjun membulatkan matanya lebar. Mereka sama-sama terkejut.

“Yak! aku pacaran dengan hyung-nya! Enak saja kau bilang aku penyuka brondong!” kali ini gantian, ketiga siswi ini yang terkejut. Rosé kembali berbicara,

“Oh ya. Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa kenal Renjun, eoh? kalian ‘teman’-nya?” tanya Rosé dengan senyum jahil-nya. Renjun mendelik tajam ke arah Rosé,

“Wae? Kau marah, eoh? Aku ini calon kakak iparmu. Boleh dong aku bertanya pada temanmu!”

“Pacar hyung-ku?! Winwin hyung tidak pernah bilang kalau kau pacarnya!” balas Renjun sengit. Rosé terkesiap. Iya juga sih. Rosé hanya pura-pura berpacaran dengan Winwin saat itu. Bukan pacar sungguhan.

“Eyy~ hyung-mu ‘kan pemalu! Mana mau dia cerita padamu, eoh?!” kata Rosé dengan gugup, “Aish, sudahlah! Aku sedang bertanya pada mereka! Kenapa kau memotong pembicaraanku, eoh?! Oh ya, jadi bagaimana tentang Renjun?”

“Kami ini satu sekolah dengan Renjun, eonni. Dia adik kelas. Di sekolah dia sangat terkenal. Dia punya suara yang bagus dan wajahnya sangat tampan.” Kata si gadis berambut ombre.

“Banyak gadis yang tergila-gila padanya, eonni! Setiap hari dia dapat banyak surat cinta!”kata seorang gadis yang satunya lagi.

Rosé melirik ke arah Renjun lalu dengan genit mencolek dagunya. Renjun hanya mendecak sebal,

“Eyy~ si imut yang jahat ternyata sudah besar. Omo! Banyak gadis yang suka padanya~” kata Rosé sambil terus menggoda Renjun. Renjun tetap diam tidak membalas. Ia hanya risih dengan sikap Rosé.

Tiba-tiba, Rosé mengalihkan pandangannya pada tiga siswi di depannya. Matanya menajam lalu raut wajhnya mulai berubah. Sepertinya Rosé marah,

“Oh… dan satu lagi! Kenapa kalian mengejarku, eoh?! Aku baru sadar, kalian juga mengejarku beberapa hari yang lalu ‘kan? Apa berita aku yang punya pacar itu sangat penting untuk kalian, eoh?! Jawab aku sekarang dan masalah kita selesai di sini!” kata Rosé penuh emosi. Ketiga siswi itu langsung terkejut kemudian menunduk takut,

“Maaf, eonni. Kami hanya ikut-ikutan. Kami disuruh mencari Rosé Park si iblis Han-seul oleh… oleh… oleh siapa namanya?” tanya si gadis ombre sambil menyikut temannya.

“Oleh Minasan, eonni!” jawabnya.

“Miina-san? (Semuanya?)” tanya Rosé memastikan.

“Bukan, eonni. Tapi, Minasan! Apa kau mengenalnya?”

“Siapa? Lee Mina, Kang Mina, Jung Mina, Song Mina? Siapa namanya, eoh?!” tanya Rosé tidak sabaran. Suaranya mulai meninggi karena emosi.

“Lengkapnya kami tidak tahu. Kami hanya memanggilanya Minasan. Dia alumni sekolah kami juga, SMA Gyoreumi. Sepertinya kau tidak tahu, eonni. Dia orang Jepang.”

Rosé mengerutkan keningnya bingung.

Mina? Orang Jepang?

Sepertinya Rosé kenal…

***

“Myoui Mina, Hirai Momo, Dong Sicheng dan Ten. Modern Dance Stages.” Ucap seorag wanita setelah mengambil kertas nama di dalam kotak.

“Noona! Kenapa namaku tidak lengkap?” tanya seorang pria bertubuh mungil.

“Nama aslimu susah dieja, Mr. Ten!” balasnya cepat. Ten langsung cemberut membuat temannya yang lain tertawa. Mina dan Winwin langsung melempar senyum satu sama lain. Wanita itu kembali berbicara,

“Kalian berempat akan membuat penampilan bersama. Untuk koreografi, akan ada bagian yang berpasangan. Silakan tentukan pasangannya sendiri, oke?”

***

Winwin tidak pernah menyangka jika kesempatan untuk menari bersama Mina akan datang secepat ini. Ten dan Momo. Winwin dan Mina. Itu sudah menjadi kesepatan mereka bersama.

Dalam rangka penerimaan dan penyambutan murid baru, sanggar tari su-jeong akan menampilkan pementasan tari yang terbagi menjadi beberapa stage. Penampilan ini akan diisi oleh para pengajar dan juga murid senior. Termasuk Winwin dan Mina.

“Kau adalah pria paling beruntung di dunia, Dong Sicheng. Pertama, menari bersama gadis yang kau suka. Kedua, makan takoyaki gratis saat kedaiku sudah mau tutup.”

“Eyy~ hyung, jangan seperti itu. Aku tetap akan membayarnya…” jawab Winwin sambil memelas. Yuta tersenyum,

“Terserah kau, Dong Sicheng. Oh, ya. Kau bilang Renjun akan ke sini ‘kan? Kalau begitu, akan kubuatkan satu porsi lagi untuk si imut.” jawab Yuta sambil berlalu. Winwin mencegatnya dengan berteriak,

“Eh, hyung! Aku pesan dua porsi!” kata Winwin cepat. Yuta mengerutkan keningnya bingung,

“Kenap–“

“Winwin hyung! Aku tidak mau pergi keluar bersamanya lagi. Dia sangat menyebalkan! Seharian ini dia terus menggangguku, hyung…”

Belum tuntas Yuta bicara, Renjun langsung memotong ucapannya sambil berjalan ke arah Winwin. Ia lalu duduk di samping Winwin dengan memasang wajah sebalnya.

“Yak! Apa ini hukuman yang pantas untukku?! Kalau kau marah padaku, kenapa kau menyuruhku membawa belanjaanmu, eoh?!” teriak Rosé yang masuk ke kedai dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Kedua tangannya bahkan lehernya, dipenuhi gantungan tas belanja milik Renjun.Saat Yuta melihat Rosé masuk, otomatis Yuta memasang tampang judes-nya. Dagunya tiba-tiba terangkat menunjukkan kesan merendahkan Rosé.

“Yak! Untuk apa kau kemari?” tanya Yuta dengan judes. Rosé yang melihat wajah sombong Yuta jadi emosi. Rosé langsung merubah pose tubuhnya mengikuti gaya Yuta. Gantungan tas belanja yang bersarang di tubuh Rosé, membuat kesan Rosé sedikit berbeda dari Yuta.

“Makan takoyaki.” Balas Rosé tak kalah judes. Mendengar itu, Winwin hanya terkekeh geli. Rosé sangat imut.

***

“A-anu… Ja-jadi begini, sebelum pergi dengan Renjun, aku ganti baju di kamarmu. Aku juga membawa jus ke sana. Aku menyimpan jus itu di dekat ranjang. Tidak sengaja, jus-nya tumpah ke kasur karena tersenggol baju yang aku lempar. Kasurmu basah dan aku langsung membawa air  sabun untuk membersihkannya. Dari luar kamar, Renjun berteriak menyuruhku untuk segera berangkat. Karena tergesa-gesa, aku langsung keluar dan belum sempat menjemur kasurmu. Karena itulah, kasurmu basah sampai sekarang… Tamat.”

Mendengar cerita Rosé yang panjang kali lebar itu, Winwin hanya terdiam. Ditatapnya dengan nanar ranjang yang sudah basah kuyup itu dengan perasaan sedih dan kesal.

“Winwin-ah, apa kau marah?”

Ya. Tentu saja Winwin marah. Perasaannya begitu kesal dan juga sedih. Rasanya, Winwin sangat ingin menangis. Tapi entah kenapaa, air matanya tidak mau keluar di depan Rosé dan juga Renjun.

“Winwin-ah, jika aku membereskan kamarmu dan menjemur kasurmu sekarang, apa kau mau memaafkanku?” tanya Rosé hati-hati. Winwin menoleh,

“Menjemurnya sekarang?” tanya Winwin dengan polos. Rosé tersenyum, lalu mengangguk dengan semangat.

***

“Omo, omo! Lihat tulangnya! Ouch~ Aku rasa itu akan patah, hyung… Aigoo~”

“Yak! Kalau tidak mau membantuku, tutup mulutmu, Renjun-ssi!”

“Rosé-ya, sepertinya kasurku berat. Sini biar aku bantu…”

Winwin langsung berjalan ke arah Rosé, namun dengan cepat Rosé mengelak.

“Jangan! Ini sudah menjadi tanggung jawabku, Winwinnie~ kau tidak usah repot, oke?” Kata Rosé sambil tersenyum manis. Winwin hanya diam. Rosé kembali berjalan sambill menggendong sekaligus menyeret (?) kasur Winwin ke arah balkon. Punggungnya sudah terasa pegal karena kasur Winwin ternyata sangat berat.

Dugh!

Kasur itu sudah berdiam di tempat jemuran. Rosé langsung berjalan sempoyongan ke arah ruang tamu lalu jatuh terduduk di atas sofa.

“Ini. Minum dulu, Rosé…”

Glek Glek Glek

Rosé langsung menghabiskan segelas air dalam tiga kali tegukan. Ia tidak bicara karena nafasnya masih terengah-engah, Renjun langsung menghampirinya lalu duduk di sebelah Winwin.

“Hei, apa tulangmu ada yang patah? Badan kurusmu sangat mengkhawatirkan saat mengangkat kasur tadi…” kata Renjun dengan polos.

“Yak! apa kau tidak bisa mengaca, eoh?! Badanmu juga kurus, bocah!” balas Rosé tidak terima. Winwin hanya terkekeh geli mendengar suara imut Rosé yang meninggi.

***

“Aku tidur di sofa sedangkan kau tidur di lantai. Ini sangat aneh, Rosé-ya…” ucap Winwin sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya pada sandaran sofa. Ditatapnya Rosé dengan khawatir, “Dan lebih aneh lagi, karena kau tidur di karpet belakang sofa. Kenapa tidak tidur di dekat meja saja, eoh?” kata Winwin melanjutkan.

Setelah membereskan bantal dan selimut, Rosé langsung berdiri dengan lututnya lalu mensejajarkan tubuhnya menghadapWinwin, “Eyy~ kau itu tidak boleh sakit, yeobo… Besok kau harus pergi mengajar di sanggar ‘kan?”

“Yeobo? Apa sekarang aku suamimu?” tanya Winwin dengan polos. Rosé mengangguk dengan semangat, “Ne, sekarang kau suamiku. Dan Injun adalah anak kita~”

“Heol! Apa aku sedang menonton sebuah live drama?” tanya Renjun dengan sinis sambil membawa sekaleng cola dari kulkas.

“Omo! Renjun-ah kau belum tidur? Ini sudah malam, sayang~ Cepatlah tidur dan cuci kakimu, arrachi?” kata Rosé menasehati. Renjun mendengus sebal lalu segera kembali ke kamarnya.

“Aigoo, anakku yang imut! Ayo suamiku, kita tidur~” kata Rosé sambil menarik selimutnya lalu tertidur di atas karpet belakang sofa. Winwin ikut menarik selimutnya dan tertidur di atas sofa. Mata Winwin belum terpejam, sesuatu melintas di pikirannya,

“Istriku~ kau tidak mau tidur di sofa bersamaku, eoh? Tertidur di pelukanku~” kata Winwin menggoda Rosé. Ia sedang ingin bercanda.

Dugh!

Winwin tersentak kaget. Rosé menendang sofa dengan kaki panjangnya yang kurus,

“Aigoo~ berhentilah menggodaku, yeobo~ aku jadi malu… Bagaimana kalau Injun sampai dengar, eoh?” jawab Rosé sambil malu-malu. Winwin terkekeh geli. Sangat menyenangkan bercanda dengan Rosé. Rosé sangat imut.

Cklek!

Tiba-tiba lampu ruang tamu mati. Terdengar suara Renjun berteriak dari kamarnya,

“Kalian berhentilah bercanda! Ini sudah malam! Aku mau tidur!”

Mendengar itu, Rosé dan Winwin hanya tertawa. Ternyata Renjun menguping dari tadi.

***

Advertisements

5 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Lucky Girl! (Chapter 4)

  1. Geblek roje. Btw minari ngapain tuh narget roje? Dan Sicheng tolong dikondisikan gombalannya kasihan renjun
    Sebenernya adegan lucunya nyampe cuman Krn agak terlalu cepat dan byk adegan yg tiba2 muncul rasanya agak susah dinikmati. Lain kali pake penyekat aja misal tanda bintang tiga atau kalimatnya ditata yg lebih bagus ya biar gak terlalu lompat2 adegannya.
    Keep writing!

    Like

    • Makasih udah nyempetin komen, Kak… Hehe~

      Makasih juga buat sarannya ^o^ aku masih newbie di dunia tulis-menulis, jadi perlu banya belajar… 😀

      Keep reading juga~ ^o^

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s