[Pick Your “C”] Another Way

anotherway

Fanfiction by Mingi Kumiko

| NCT’s Ten | Fantasy, AU! Wizard | Ficlet |

❝Aku enggak mau calon pacarku mengemban beban berat sendirian.❞

.

.

.

“SIALAN, SERIBU SIALAN!!!” decakku penuh emosi setelah membaca pengumuman yang diunggah pada website resmi Monzen University.

.

Iya, iya, aku tahu Monzen University adalah kampus dambaan hampir seluruh insan di negeri ini. Para orang tua akan gencar menggembar-gemborkan apabila anak mereka berhasil lolos tes seleksi mereka yang super ketat—tapi orang tuaku tidak. Namun sepertinya predikat ‘Kampus Impian’ itu lantas membuat para pengurusnya besar kepala.

.

Mereka pikir, karena masuknya menggunakan usaha yang tidak ringan, mereka jadi bisa bertindak seenaknya. Toh, kami juga tidak akan protes dan tunduk-tunduk saja. Tindakan seenaknya yang kumaksud di sini adalah memajukan jadwal daftar ulang seminggu lebih cepat.

.

Aku adalah calon mahasiswa yang berasal dari luar provinsi dan aku telah memesan tiket pesawat sejak jauh-jauh hari agar tidak kehabisan. Mengingat jadwal daftar ulang berada di musim liburan. Itulah masalahnya, karena permintaan tiket membludak, jadi susah untukku mengatur ulang jadwal keberangkatan.

.

“Apa kau butuh bantuan, sayang?” samar-samar kudengar suara bariton menggema di seluruh penjuru ruang kamarku. 

.

Aku berdecih kesal, pasti dia lagi.

.

“Kau senganggur itu ya sampai tak henti-hentinya menguntitku? Bahkan gara-gara kau aku harus membawa serta bajuku ketika mandi, takut-takut kau akan mengintip.”

“Ya ampun, kalau cuma menyelinap ke kamar mandimu sih mudah saja buatku. Tapi sayangnya aku enggak sebobrok itu. Kalau aku lihat semuanya sekarang, nanti aku tidak akan terkejut dong di malam pertama kita.”

.

Demi kokohnya Menara Babel yang dibangun suku Babylonia, andai makhluk sialan bernama Ten Chittapon itu berani menampakkan wujud tiga dimensinya di hadapanku sekarang, sudah kutampol muka tengilnya yang menjengkelkan itu. Bahkan kalau bisa aku membuat giginya rontok dengan bogem mentah yang khusus kuhadiahkan untuknya.

.

Mungkin Ayah tidak serius saat mengatakan bahwa dia adalah lulusan terbaik di Foreland Academy—itu semacam sekolah menengah di dunia penyihir. Lihat saja bagaimana ia bicara, seperti orang yang tidak ada otaknya. Atau mungkin karena aku selalu kesal melihatnya, jadi setiap ucapan yang keluar dari mulutnya belum apa-apa sudah membuatku jengkel.

.

“Aku punya lo, ilmu supaya kau bisa sampai ke kampus barumu tanpa perlu mengatur ulang jadwal berangkat dengan pesawat. Maskapai penerbangan zaman sekarang lebih mengutamakan reputasi baik—anti sogok-menyogok—di atas segalanya.” ocehnya yang mau tak mau harus kudengarkan sampai habis. Aku mengutuk speaker laptopku yang tiba-tiba saja rusak hingga membuatku tak bisa memainkan musik.

.

Tunggu, jangan-jangan itu juga akal bulus Ten supaya aku tak punya media untuk menghindari racauannya?

.

“Aku bisa minta tolong pada Ayahku.”

“Yang benar nih? Memangnya kau masih punya muka ya setelah beberapa hari yang lalu dengan terang-terangan hendak sepenuhnya menjadi Muggle karena obsesimu yang besar terhadap manusia? Dengan apa kau biasa menyebutnya—ah, cinta pertama! Bahkan kau melukai hati Ayahmu dengan mengatakan bahwa penyihir itu makhluk biadab yang harusnya musnah dari peradaban.”

“Tutup mulutmu, bedebah! Ibuku mati dibunuh penyihir. Apa salah jika aku membenci mereka?!”

“Lantas, kalau ibumu mati dibunuh manusia, apa kau juga memutuskan tidak mau mengakui bahwa kau keturunan manusia? Ah, kau terlalu menggeneralisasi hal yang memiliki banyak variasi.” 

.

Ten sukses membungkam mulutku dengan ujaran terakhirnya. Perlahan ia mulai menampakkan diri dan mengambil posisi duduk di sampingku. Aku sedikit memutar badan agar bisa menghadap ke arahnya.

“Jangan lama-lama melihatku, karena semakin dilihat aku akan semakin tampan.” tandasnya yang langsung kuhadiahi dengan cubitan di pinggangnya hingga ia meringis kesakitan.

“Aku enggak mau calon pacarku mengemban beban berat sendirian. Kau sih, selalu memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa minta pendapat orang lain. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Keadaannya sudah begitu. Kau bukannya enggak punya siapa-siapa. Kau hanya masih sulit membiasakan diri dengan keberadaanku yang jelas-jelas selalu ada untukmu.” titahnya. Nada serius Ten membuat aura tengilnya pudar.

.

Mungkin aku harus memberi sedikit penjelasan agar kalian paham dengan situasinya. Jadi, aku adalah seorang half-blood. Ayahku seorang penyihir dan ibuku adalah manusia biasa. Di dunia sihir, ada peraturan yang mengharuskan seorang half-blood memilih identitas sejatinya saat usianya sudah tujuh belas tahun.

.

Aku tepat berusia tujuh belas tahun seminggu yang lalu dan aku memilih menjadi seorang Muggle seperti ibu. Awalnya keputusanku ditentang oleh Ayah. Karena pesan terakhir ibu pun, sebaiknya aku memilih menjadi penyihir saja. Tapi setiap kali mengingat bagaimana cara ibu terbunuh—penyihir merapalkan mantra avada kedavra hingga membuat tubuh ibuku kejang-kejang—aku selalu dibuat ngeri dan kembali menitihkan air mata.

.

Sebenarnya satu lagi alasan mengapa aku lebih memilih menjadi manusia. Aku sedang memiliki hubungan dengan manusia biasa—namanya Lucas, omong-omong. Kami saling mencintai dan setiap hari aku selalu membayangkan skenario romantis ketika kami menikah kelak. Aku ingin hidup damai selaiknya manusia biasa.

.

Kalau Ten, dia adalah anak dari sahabatnya ayahku. Dari kecil kami sudah dijodohkan. Tapi aku tidak mau. Bukan karena apa-apa sih, semua cuma perkara hati. Aku tak pernah bisa mencintainya sekeras apa pun usaha Ten mendekatiku. Untungnya dia bukan tipe pemaksa. Aku tahu Ten sakit hati, tapi dia kan seorang periang yang memiliki seribu satu cara untuk membuat perasaannya selalu bahagia. Jadi aku tidak perlu terlalu merasa bersalah.

.

“Oke, sekali ini saja. Aku minta tolong karena ini mendesak. Bagaimana caranya? Pakai mantra apa?” pada akhirnya aku membuang jauh-jauh seluruh gengsi agar Ten mau membantuku sampai ke kampus baru tanpa perlu mengubah jadwal keberangkatan.

“Kita tidak perlu mantra, pokoknya kau siapkan saja tenaga untuk berjalan.”

“Ten, aku tahu kau sering bertingkah layaknya orang tidak punya otak. Tapi yang benar saja, kau mengajakku berjalan dari Suncheon ke Seoul?!”

“Ya ampun, siapa sih yang sebenarnya tidak punya otak? Kenapa juga aku harus mau capek-capek berjalan kaki dari Suncheon ke Seoul?!” Ten mendorong keningku dengan jari telunjuknya. “Aku akan mengajakmu melewati Wormhole untuk sampai ke sana.” imbuhnya.

Oh my god, are you for real? Apakah hal semacam itu benar-benar ada di dunia ini?!” aku membeliakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja Ten katakan.

“Manusia biasa mana tahu dengan hal-hal di luar nalar semacam itu.” cibirnya yang cuma kubalas dengan decihan kesal. 

.

– END –

.

Wormhole (lubang cacing) : Materi berbentuk bola yang terdapat di alam semesta yang dapat digunakan sebagai “jalan pintas” menembus ruang dan waktu sehingga jarak yang ada di antara alam semesta menjadi lebih pendek.

Aku enggak mau minta maaf kalau cerita ini jelek karena gimana2 nulisnya juga mikir LOL

Makasih untuk yang sudah mau baca, jangan lupa komen ya ^^

Advertisements

9 thoughts on “[Pick Your “C”] Another Way

  1. bagus leeeeeeel
    ten minta ditampol apa sini aku punya panci wajan sama hati aku, mau minta ditampol pake yg mana?
    bisa dibeginiin juga ya harpot au-nya ehe lucu
    keep writing ya!

    Liked by 1 person

  2. Kangen teeeen, ciye banget aku-nya punya pacar muggle sama wizard :’) karakternya ucul, kapan aku bisa kaya—ah sudahlah. Btw tadinya ber mau pake warmhole juga, tapi sekarang jadinya masih mikir-mikir bikoz lely udah pake wkwk. keep writing ya lel! ❤

    Liked by 1 person

  3. Ya Tuhan, mendadak kangen sama Ten :’3 Dia kenapa ucul sekali di sini huweeeee kirain Ten ini pacarnya si ‘Aku’. Untung Ten anaknya always happy, jadinya fine-fine aja meskipun perasaannya gk kebales :’) Entah kenapa Ten harus selalu menguntit, bahkan sampe takut cewek itu dikuntit sampe ke kamar mandi. Imajinasinya yalord, tapi namanya orang kesal ya. Bahkan belum apa-apa sudah jengkel duluan :’) Tapi kalo aku mana bisa jengkel sama Ten?? Aku padamu, Mas :* ❤ Unik banget angkat tema penyihir, meskipun cuma ficlet, tapi unsur fantasy-nya kentara bgt ^^ Keep writting mbalel-kuh muah muah muah :* Istrinya Jaehyun akan selalu menanti ff mu //meskipun bacanya suka ngaret -_-//

    p. s : Ya Tuhan, aku ini komen apa? -_-

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s