[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Tidur Bersama

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Tidur Bersama ]

|   Johnny  x  Wendy  Nando    |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

‘ Bukan salah Wendy, tapi bibi Seo yang menawarkan ‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Bulan ini sungguh jadi bulan yang berat bagi Wendy. Selain harus berhadapan pada fakta bahwa si kembar sudah tahu tentang perasaan ‘suka’ yang Wendy rasakan untuk Johnny, dan niatan untuk mendekati Nando kalau saja Johnny tidak menerima perasaannya, gadis itu juga dihadapkan pada praktek lapangan yang melelahkannya minta ampun!

Bayangkan saja, Wendy harus ikut praktek lapangan di sebuah perusahaan penerbitan komik online. Dan akhirnya, dia jadi ikut-ikutan melembur seperti para seniornya, karena kebetulan masuknya Wendy di sana bersamaan dengan waktu launching beberapa komik baru.

Alhasil, selain kurang tidur, Wendy juga jadi kurang makan. Belum lagi, Wendy itu pelupanya tidak bisa ditoleransi. Seperti sekarang, dia baru saja sampai di Seoul jam lima sore tadi dan Joy belum sampai di kamar kost. Sedangkan Wendy sendiri sudah kehilangan kunci kostnya, sebab dia lupa dimana menaruh benda itu.

“Wendy? Sudah pulang dari praktek lapangan?” bagai mendengar suara malaikat penyelamat, Wendy sontak mendongak saat didengarnya vokal bibi Seo menyapa.

“Ah! Bibi Seo! Aku kehilangan kunci kamarku…” Wendy merengek pada wanita paruh baya itu sembari memeluknya, melepas rindu pada si ibu kost sekaligus harap-harap cemas supaya tidak mendapat omelan karena sudah menghilangkan kunci kamar.

“Astaga… Kamu itu selalu saja lupa dimana menaruh kunci kamar. Coba hitung, berapa kali Bibi harus mengganti grendel pintu kamarmu karena kamu kehilangan kuncinya?” tanya Bibi Seo, mengomel juga pada Wendy karena ini bukan kali pertama gadis itu kehilangan kunci rumahnya.

“Maaf, aku selalu kelelahan tiap habis praktek lapangan, jadi aku tidur di kantor saja, karena menghemat waktu…” sesal Wendy, kalau dipikir-pikir, sebenarnya jarak dari rumah kost menuju kantor tempat Wendy praktek hanya memakan waktu sekitar satu sampai satu setengah jam dengan kereta bawah tanah.

Tapi bagi Wendy dia lebih baik tidur di kantor sekalian daripada harus terlambat bangun esok harinya dan terlambat sampai ke kantor. Lagipula, setiap hari dia pasti selesai kerja sekitar jam sepuluh atau sebelas malam.

“Ya sudah, ayo masuk dulu ke rumah. Nanti Bibi telepon ahli kunci. Kamu sudah makan?” tanya Bibi Seo sembari menggeret tubuh menuju gerbang rumahnya. Bagaimana tidak, Wendy masih menempel di tubuh wanita paruh baya itu seperti permen karet.

“Aku sudah beli jajanan tadi di jalan, karena aku sangat lapar. Bibi Seo tahu, terakhir kali aku mandi itu dua hari yang lalu.” kata Wendy membuat Bibi Seo kembali mengomel.

Augh! Kamu itu perempuan, Wendy, harus pintar menjaga kebersihan diri. Kapan kamu mau menikah kalau mandi saja masih harus Bibi ingatkan?” omel wanita paruh baya itu membuat Wendy terkekeh kecil.

Maklum, kedua orang tua Wendy tinggal di Vancouver, dan tidak ada banyak waktu bagi Wendy untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Jadilah, tak ada yang mengomeli Wendy kalau bukan Bibi Seo.

“Buat apa menikah? Aku mau bekerja saja mencari dollar.” kata Wendy santai, sementara sekarang dia bawa tungkainya melangkah masuk ke rumah Bibi Seo, rumah yang selalu terasa bagai rumah sendiri bagi Wendy.

“Astaga… anak satu ini memang percuma kalau diomeli.” gumam Bibi Seo sambil menutup gerbang rumahnya, “Wendy! Handukmu Bibi jemur di atas, mandilah dulu!” teriak Bibi Seo saat didengarnya langkah Wendy menaiki tangga kayu jati rumahnya.

“Siap!” vokal Wendy terdengar samar-samar menyahuti.

Selagi Bibi Seo menyiapkan makan malam untuk kedua anaknya, Wendy akhirnya membersihkan diri di kamar mandi yang ada di atas. Dia kemudian turun setelah dengan acak meraih pakaian si kembar yang ada di jemuran.

“Bibi, ini baju Nando, bukan? Johnny katanya tidak suka kalau pakaiannya dipinjam orang lain.” kata Wendy, memastikan kalau dia tidak sedang memakai pakaian yang salah.

“Oh, biasanya yang pakai kaos-kaos oblong begitu ya Nando. Mau makan malam dulu? Bibi sudah telepon ahli kunci, katanya satu jam lagi baru bisa datang.” tutur Bibi Seo sambil menata piring di ruang makan.

“Tidak, ah. Aku mengantuk, boleh aku tidur di ruang televisi?” tanya Wendy.

“Eh, jangan di sana, tadi Nando sempat bicara kalau temannya akan datang. Coba kamu tidur di kamar Johnny dulu sementara, nanti kalau mereka datang, Bibi bangunkan.”

Kamar Johnny? Memangnya anak satu itu punya kamar?

“Lagipula Johnny biasanya tidur di kampus, atau di rumah temannya. Daripada kamu tidur di ruang televisi dan jadi tontonan teman Nando, lebih baik tidur di kamar Johnny saja.” ucap Bibi Seo lagi.

“Ah, oke, oke. Nanti bangunkan aku kalau kunci kamarku sudah dibenahi ya, Bi.”

“Iya, sudah sana tidur dulu sebentar.” kata Bibi Seo.

Wendy akhirnya menurut. Gadis itu masuk ke dalam kamar yang berada di dekat ruang tamu, kamar Johnny. Sempat dia terpana sejenak saat tahu bagaimana rapinya kamar pemuda yang secara penampilan, terlihat bak preman kampus itu.

“Wah, dia rapi juga ternyata. Kamarnya harum, pula.” gumam Wendy sambil membaringkan tubuh di kasur Johnny yang ada di lantai.

“Dia memang suka kasur di lantai begini ya…” kata Wendy.

Entah, karena kamar Johnny yang kelewat nyaman, atau karena Wendy memang mengantuk, mau tak mau gadis itu akhirnya juga menenggelamkan diri di balik selimut tebal yang ada di kasur Johnny.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pagi menyapa, Wendy terbangun saat mendengar cuitan burung kecil milik tetangga depan rumah Bibi Seo. Gadis itu baru saja akan meregangkan tubuhnya saat dia sadar, ada sesuatu yang janggal pada tubuhnya.

Ugh!” hampir saja Wendy menjerit keras-keras kalau dia tidak segera menutup mulut rapat-rapat. Pasalnya, sekarang seorang Seo Johnny terlelap di sebelahnya, dalam jarak kelewat dekat.

Lengan kekar pemuda itu bahkan melingkar di tubuh Wendy, dengan cukup erat. Apa Wendy sedang dianggap guling atau sejenisnya? Tapi, kenapa Bibi Seo tidak membangunkannya!?

Tidak, lupakan sejenak soal Bibi Seo. Sekarang Wendy harus bagaimana melepaskan diri dari Johnny? Belum bertindak, Wendy sudah grogi duluan. Keringat sebesar biji jagung sudah mulai membasahi tubuhnya.

Gawat, ini gawat!

Perlahan, Wendy menggerakkan lengannya, berusaha mengangkat lengan Johnny yang melingkar di tubuhnya dan—hap! Berhasil. Setidaknya lengan pria itu sekarang sudah tidak lagi melingkari tubuh Wendy.

Sekarang, kaki panjang si pemuda yang jadi masalah. Karena sepertinya, Wendy sudah dianggap guling sungguhan, kalau melihat bagaimana kaki pemuda itu juga melintang di atas kedua kaki Wendy.

Duh, bagaimana juga sih keadaannya saat Johnny pulang? Apa dia tidak melihat Wendy yang tertidur di kasurnya? Atau dia memang sengaja—tidak, tidak mungkin Johnny sengaja. Dia bukan pria seperti itu.

Akhirnya, pelan-pelan Wendy menarik kakinya satu persatu, dan begitu berhasil terlepas dari kekangan Johnny, Wendy lekas melompat berdiri dari kasur itu. Wendy perhatikan sekilas bagaimana Johnny sekarang tertidur begitu pulas dan bahkan tidak merasa terganggu sedikit pun karena ulah Wendy barusan.

Pemuda itu pasti memang punya kebiasaan tidur lelap seperti saat ini.

Tidak! Jangan perhatikan wajah Johnny yang tidur.

“Ayo pulang.” Wendy berkata pada dirinya sendiri, dia kemudian mengendap-endap keluar dari kamar Johnny, bahkan membuka celah sekecil mungkin di pintu karena takut suara pintu mungkin saja membangunkan Johnny dari tidurnya.

Begitu sampai di luar kamar, pemandangan yang menyambut Wendy justru lebih mengerikan lagi. Nando ada di ruang kosong di depan rumah, bersama tiga temannya. Mereka tengah membahas soal motor yang diparkir di teras rumah keluarga Seo.

Segera, Wendy merapatkan diri ke pintu lagi. Karena di ruang tengah yang jadi tujuan keduanya, Wendy bisa melihat dua orang perempuan ada di sana. Satunya pasti pacar Nando yang baru, satunya lagi mungkin pacar temannya Nando.

Tapi tidak! Bagaimana ini?!

Wendy akhirnya masuk lagi ke dalam kamar Johnny, mengatur nafasnya yang sekarang beradu dengan degup jantungnya yang menari-nari.

“Bagaimana ini? Aku harus lari kemana?” Wendy lekas memutar otak, beberapa kali dia mondar-mandir di dekat kasur Johnny sementara si pemilik kamar masih terlelap di kasurnya.

“Jendela.” akhirnya Wendy sampai pada satu konklusi luar biasa nekad.

Jendela kamar Johnny memang cukup besar, dan bisa jadi satu-satunya jalan keluar bagi Wendy untuk saat ini. Karena dia tidak punya pilihan. Mau ke ruang tengah, mau nyelonong pulang melewati Nando, atau berdiam di kamar Johnny, ketiga-tiganya tidak jadi pilihan yang menyenangkan.

Akhirnya, dengan nekad Wendy membuka jendela kamar Johnny, ditelannya saliva yang sekarang terasa begitu mengganjal di mulut, sebab jarak dari jendela menuju ke tanah itu lumayan tinggi juga.

Tapi tak ada pilihan lain.

Wendy kemudian menyelipkan tubuhnya di celah yang ada di jendela, sebelum dia—

BRUGK!

“Nando, suara apa itu?”

“Oh, pasti tetangga sebelah. Biasanya pot bunganya jatuh dari jendela.”

—bukan pot bunga, tapi Wendy yang jatuh. Dan bisa dipastikan setidaknya kaki Wendy akan keseleo setelah ini.

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Karena percayalah … menumpang tidur di rumah orang lain itu enggak baik, Mbak Wen. Yah, meski ada varokahnya karena bisa bobo bareng sama gebetan :”>

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Advertisements

7 thoughts on “[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Tidur Bersama

  1. irish halooo
    lah ni makhluk gimana caranya bisa kejepit/? si johnny. buset gak mati ya si wendy dipeluk daddy youngho, aku aja geli mbayanginnya
    itu nando tau gak sih kalo itu wendy? kalo tau kan gereget, kali dia lagi ngelindungin wendy ha
    masih penasaran gimana caranya johnny masuk dan hal itu/? terjadi hahaha
    keep writing!

    Like

    • XD mbakLi!! buakakakkakakak ini kan ceritanya diketekin sama gebetan, dipeyuk meskipun si gebetan enggak menotis… kisah dibalik layarnya nanti deh kak Li XD masih aku rencanain sekomedi apa /plak

      Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s