[NCTFFI Freelance] Suaranada Senja (Chapter 8)

Suaranada  Senja #8 ; Te Amo.

Story by angestita

Romance – HGTG – Angst

Chaptered – PG+12

Mark Lee (NCT) – Nada (OC)

NCT Member

Nggak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Bisa jadi yang kita rencanakan tak bisa berjalan semulus itu. Ataupun sebaliknya, apa yang kita pikirkan buruk bisa saja menjadi sesuatu yang baik. Kita hanya bisa menikmati permainan sang waktu, sembari berharap masih ada kesempatan baik.

Seperti yang dilakukan Nada di tempat itu.

Berdiri dengan perasaan nelangsa luar biasa. Namun, tak mampu berbuat apa-apa. Seluruh indranya mati rasa. Mungkin ini yang namanya penyesalan. Perasaan yang menikam harapan-harapan yang masih muncul kuncupnya.

Dan hanya seperti itu yang dia lakukan, hari demi hari. Berdiri dengan perasaan kacau. Sembari mengumpulkan keberanian yang tunasnya saja tak berani  muncul. Hatinya tak henti-hentinya mensugesti agar dia mau bergerak mendekat.

Namun, hatinya tak pernah seberani itu. Ada ketakutan yang menjerat dan menahannya untuk mendekat. Ketakutan yang berlebihan yang membuat kepalanya pening dan merengut oksigen di paru-parunya. Padahal bisajadi kedatangannya memberi harapan.

Sayangnya begitulah, Nada, wanita yang hanya bisa berdiri dengan gelisah di depan pintu ICU sembari merapalkan doa.

Kesibukan sebagai wanita karier tetap berlanjut. Beriringan dengan semakin sesak hatinya menunggu kepastian. Seperti yang dia lakukan dalam kelasnya, pagi ini di hari Senin.

“Pelanggaran HAM sering dijadikan alasan agar tersangka dapat melindungi diri dari kejahatan yang dia lakukan. Contohnya seperti yang terjadi pada kasus di Kota Semarang akhir-akhir ini. Kejadian itu bermula dar…”

Drrrt <<Suster Anna Calling>>

“Maaf saya punya panggilan telefon darurat. Saya minta izin untuk mengangkatnya,”

Nada segera keluar ruang kelas dan mengangkat telefon.

“Hal…”

“Miss Senja, pacar Anda sudah bangun! Dia sudah sadarkan diri!” pekik bahagia yang menyambut indera pendengarannya membuat Nada terdiam seketika.

Jantungnya berdebar dengan kencang menimbulkan gemuruh yang menyenangkan. Berita itu membuat jantungnya bergetar, meruntuhkan beban yang mengikat rongga paru-parunya selama ini, menjatuhkan embun pagi dari kedua matanya.

Berita itu benar-bebar membawa dampak yang hebat.

“Dia akan segera dipindahkan keruang rawat. Kamu bisa menemuinya segera,” imbuh suara yang ada disana dengan nada haru.

“Oke,”

Langit yang bisa dia lihat dengan kedua matanya terasa sangat biru. Mengingatkannya pada gadis berkemeja biru yang dia temui beberapa waktu lalu. Ah bukan, lebih tepatnya satu bulan yang lalu. Gadis yang hanya bisa menatapnya kaku.

Ingatan itu masih segar. Mungkin karena otak dan hatinya merekam dengan jelas waktu-waktu yang mereka lewati bersama. Walaupun tidak seindah cerita romansa namun cukup membuatnya bertahan untuk tetap disini. Karena ada sesuatu yang belum dia sampaikan.

Sesuatu yang sangat ingin dia katakan pada gadis itu nanti apabila mereka bertegur sapa. Walaupun mungkin saja dia sudah terlambat. Namun, dia akan tetap mencoba. Seperti prinsipnya; sesuatu tidak akan bermakna jika kamu tidak berusaha mewujudkannya.

Dan mengatakan keinginannya sudah menjadi tekad bulatmya.

Sayangnya sang waktu sedang ingin menguji kesabarannya. Ini sudah empat hari sejak matanya terbuka. Namun, kesempatan itu tak kunjung datang. Mungkin kondisinya tak sampai ke telinga gadis pujaan hatinya. Atau mungkin Tuhan ingin dirinya untuk bersabar, menunggu, barang satu dua minggu lagi.

Jadi, waktu-waktu penantian itu dia habiskan untuk melacak satu bulan hidupnya yang tertinggal. Face time dengan sahabat-sahabatnya; Jaemin, Jeno, Haechan. Atau menstalk akun-akun musisi yang dia gandrungi.

Namun ada kegiatan yang sangat ia suka yaitu menatap langit. Seperti yang dia lakukan sekarang ini.

Hingga suara ketukan pintu membuatnya menoleh tanpa minat. Saat ini masih sangat pagi bagi orang tuaanya untuk pulang dari kantor. Jadi, dia fikir tamu yang datang hanyalah dokter ataupun suster yang bertugas mengecek kondisi tubuhnya.

Dan saat daun pintu terbuka untuknya, Mark, hanya mampu tersentak di posisi bersandarnya. Tamu yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“Hallo!” dia menyapa kaku sembari masuk ke dalam ruang inapnya.

Sementara itu Mark hanya mampu terdiam tanpa expresi. Ini sungguh keajaiban yang luar biasa.

“Aku dengar kamu sudah sadar. Senang melihat kamu baik-baik saja,”

Mark masih enggan bicara, mungkin, dia belum menemukan kalimat yang pas.

“Well, aku terkejut ketika mendengar kau hilang di pendakian waktu itu. Tapi, aku sangat bersyukur bahwa kamu masih selamat. Walaupun dalam kondisi yang tidak bisa dibilang baik,”

Ada jeda panjang diantara mereka. Mark mencoba untuk menatap dalam mata wanita itu. Setelah lama mereka tak bertemu ternyata ada perasaan rindu yang terselip manis di dalam hatinya.

“Ak-ku, sebenarnya ingin mengejarmu ketika kita bertemu di SB satu bulan yang lalu. Aku yakin kamu salah paham. Jadi, aku datang kesini untuk mengklarifikasi kalau aku dan Jaehyun hanya teman. Kami tidak punya hubungan apa-apa, jadi jangan berfikir yang tidak-tidak,”

Mark mendesah lega walaupun masih ada rasa mengganjal di dalam hatinya. Namun dia cukup berterimakasih wanita itu mau menjelaskan hal menjengkelkan itu padanya.

“Dan jangan marah apalagi menghindariku karena aku tidak suka,”

Wanita itu sekilas menundukkan pandangan matanya dan raut mukanya berubah sedih.

“Ada satu lagi yang ingin aku sampaikan, jangan pernah melakukan tindakan bodoh dengan pergi naik gunung seperti itu lagi, aku tahu kamu anak Mapala tapi kamu masih junior,”

Untuk kali ini Mark tak mampu menahan bibirnya untuk tersenyum. Dia benar-benar merasa bahagia.

“Jangan pernah buat aku khawatir karena itu bisa membuatku setres. Cukup jaga dirimu baik-baik,”

Wanita di hadapannya terlihat benar-benar melunak. Dia benar-benar seperti mahasiswa saat OSPEK dibanding Dosen F. Hukum yaang terkenal dingin.

“Terimakasih karena telah datang dan menjelaskan semuanya. Jangan khawatir karena aku baik-baik saja. Tentang kejadian di SB waktu itu aku juga ingin bilang kalau aku cemburu Anda pergi dengan mahasiswa lain sementara Anda menolak  ajakan makanku. Mungkin itu masalah yang sepele. Tapi untukku itu adalah masalah besar. Karena aku tidak suka wanita yang aku sayang pergi dengan laki-laki lain, tapi, aku fikir lebih baik kita lupakan masalah ini saja bagaimana?”

Nada tidak menjawab dia hanya bisa menatap Mark dengan tatapan sulit diartikan.

Pria itu tersenyum gentle, “Karena setelah kejadian itu aku ingi  mengenal Anda lebih dalam Miss Nada. Bukan sebagai dosen namun sebagai wanita. Jadi, apakah Anda berkenan?”

Beban yang dia tanggung selama ini sudah lepas. Dia sudah mengatakannya. Perkara hasil itu akan datang memgikuti usaha.

TBC

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s