[NCTFFI Freelance] Try Again (Chapter 3)

Try Again [Chapter 3]

Story by cherryjaem

Casts :

[OC] Jang Jahyun

[NCT] Jung Jaehyun

[SVT] Kim Mingyu

[BTS] Jeon Jungkook

[JBJ] Kwon Hyunbin

[THE BOYZ] Kim Younghoon

Genre :

AU, School-life, Teenage, Romance, Friendship.

Length :

Chaptered

Rating :

PG+16

Disclaimer :

Cerita ini murni datang dari otakku yang setengah kental. Para tokoh adalah milik keluarga dan perusahaan mereka, kecuali original character buatanku, BUT JAEHYUN IS MINE!

Ini comeback pertamaku setelah hampir 2 atau 3 tahun hiatus ^^ jadi mohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan yang tak terduga. Karena kesalahan adalah milik manusia sementara sempurna adalah lagu milik Andra dan Tulang Belakang *Krik*

I posted some stories on Wattpad too ^^ please kindly check it, @cherryjaem.

Terima Kasih.

Jaehyun terus saja berjalan menyusuri jalanan Hongdae. Aku pasrah tubuhku ditarik kesana kemari oleh pria menyebalkan itu. dengan memakai seragam sekolah di jam-jam seperti ini sudah pasti orang-orang mengetahui jika kami membolos. Beberapa kali aku mencoba kabur namun dia berhasil menangkapku. Bahkan kini tanganku sudah terborgol dengan tangannya dengan borgol mainan yang ia beli di toko mainan tadi.

Sekarang aku hanya menatapnya yang sedang melemparkan bola-bola basket kedalam keranjang di salah satu game center.

“aku lapar.” Aku terkejut dia tiba-tiba melakukan aegyo di depanku. Apa otaknya masih belum baik?

“makan jika kau lapar, bukan melakukan aegyo.” Ucapku dengan ketus. Dia nampak tidak menyerah. Dia memasang wajah cemberut.

“uangku habis.” Dia mengerjapkan matanya berkali-kali.

Aku menyerah. “kau benar-benar menyeramkan!”

Jaehyun memakan daging itu dengan lahap. Aku bahkan tidak berselera makan. Dia bilang ingin memakan daging. Apa aku ibunya? Aku menegak air putih di hadapanku. Aku melengos saat Jaehyun akan menyodorkan daging didepan mulutku. Jaehyun masih saja memaksaku, namun saat aku membuka mulutku dia justru memutar sumpitnya dan memasukkan daging itu kedalam mulutnya. Lihat senyum bodoh yang menyebalkan itu. aku benar-benar kesal. Aku segera bangkit dari kursi dan keluar restoran yang otomatis membuat Jaehyun ikut terseret keluar karena tangan kami masih terborgol.

“Nae gogi!” dia masih berteriak memanggil dagingnya.

Dengan tubuhku yang semakin lelah, aku hanya menurut saat dia kembali membawaku entah kemana lagi. Kami memasuki pekarangan rumah yang cukup besar. Halamannya cukup luas dan dipenuhi tanaman hijau.

“rumah siapa ini?” Jaehyun hanya menatapku sekilas sambil tetap berjalan.

Jay?” saat Jaehyun membuka pintu, seorang wanita berambut coklat terang datang menghampiri kami.

“Jessica Imo? Sejak kapan disini?”

“What’s wrong with you?” mengabaikan pertanyaan Jaehyun, wanita yang di panggil Jessica Imo oleh Jaehyun memegang wajah pria itu seperti memeriksanya dengan tatapan khawatir. Aku sempat berpikir jika Jessica Imo adalah noona-nya Jaehyun. Wajahnya terlihat muda.

aniyo… hanya luka kecil.”

“apanya yang luka kecil, wajahmu babak belur!” Ah dia bisa bahasa Korea.

Sementara ini aku hanya menjadi patung yang sedang menyaksikan dua orang didepanku sedang berbicara.

“kapan Imo sampai di Korea?” Jaehyun mengalihkan perhatian Jesssica Imo dari wajahnya.

“tadi pagi, Jeno ingin berlibur dan bertemu denganmu.” Jessica Imo membimbing Jaehyun masuk kedalam.

“Donghae Samchon tidak ikut?”

“nanti dia menyusul.” Aku benar-benar ingin pulang. Si tengik Jung Jaehyun belum membuka borgol sial ini.”ah siapa gadis cantik ini?” Jessica Imo akhirnya menyadari keberadaanku.

Aku sedikit terkejut, Aku segera membungkuk dan memperkenalkan diri. “Annyeong haseyo jeoneun Jang Jahyun imnida, bangapseumnida.

“teman Jaehyun?”

Ne.” Jawabku.

Aniyo.”  Jawaban yang sangat Jaehyun sekali.

Jaehyun Imo mengangguk paham, kemudian tersenyum jahil. “kalau begitu, pasti yeojachingu?”

“Aniyo.”

“Joltae andwae!”

Aku menatapnya tajam. Dia benar-benar menyebalkan. Hanya wanita gila yang mau menjadi yeojachingu namja cerewet dan menyebalkan sepertinya. Jessica Imo hanya tertawa.

“aku paham jika kalian masih malu mengakuinya.” Jessica Imo tersenyum dan segera berlalu entah kemana meninggalkanku dengan namja cerewet ini.

“cepat lepaskan borgol sial ini, aku ingin pulang.” Tanpa berkata apapun dia segera mengeluarkan kunci borgol dari saku celananya. Tanganku akhirnya bebas setelah mendapatkan kemalangan seharian ini. “Meonjeo ganda– Oh!” belum sempat aku melangkah dia sudah mencekal kembali tanganku.

Dia dengan wajah menyebalkan menunjuk pipinya. Aku memerah, apa dia meminta cium? Jung Jaehyun pasti sudah gila. Aku menatapnya bingung. Dia masih saja menunjuk pipinya dan aku bergeming.

“ck! Kau harus bertanggung jawab mengobati lukaku.” Ucapnya kesal. Ah… minta di obati. Kupikir- “kau pasti berpikir akan menciumku atau tidak, iya kan?” Sial tebakannya benar.

“ti-tidak, Ya! Aku akan berpikir ribuan kali untuk itu!” sahutku tak kalah kesal, kesal karena dia terus saja menggodaku. Tadi apa dia bilang? Bertanggung jawab? Apa pula yang harus aku pertanggung jawabkan? “kau obati saja sendiri! Aku pulang!” tanpa pikir panjang lagi aku segera keluar dari rumah besar itu. menyebalkan.

***

Jaehyun masih belum masuk hari ini. Kudengar Jungkook, Mingyu dan Hyunbin akan menjenguk Jaehyun. aku mengajak Minkyung untuk ikut juga, namun ia menolak mentah-mentah.

“kau gila! Aku tak mau masuk kandang harimau.” Begitu katanya. Lagipula dia juga harus berlatih. Akhirnya aku sendirian bersama ketiga pria ini. Aku berjalan di belakang mereka, sampai saking fokusnya aku tidak tahu jika Hyunbin yang tepat berada didepanku berhenti. Mereka memutar tubuh menghadapku.

eodiga?” tanya Hyunbin.

“ikut kalian menjenguk Jaehyun.” aku tersenyum secerah mungkin. Mereka saling tatap kemudian dengan kompak berteriak didepan wajahku.

“ANDWAE!!”

“dan sejak kapan kita begitu dekat?” tambah Hyunbin, Jungkook dan Mingyu mengangguk. Mereka berbalik dan kembali berjalan, aku tetap mengikuti mereka dengan menjaga jarak. Mereka berhenti dan berbalik menatapku, aku segera berhenti dan menatap ke arah lain. Mereka kembali berjalan begitu pula aku. Namun saat didepan gerbang mereka bertiga berbalik dengan tiba-tiba dan berjalan dengan cepat kearahku. Aku membeku.  Hyunbin dan Mingyu memegangi kedua lenganku dan mengangkat tubuhku dengan mudah. Mereka membawaku kembali kedalam sekolah. Aku meronta namun tenagaku tidak seberapa dibandingkan tenaga dua pria besar ini. Kami cukup menjadi tontonan banyak siswa, bagaimana lagi, ini jam pulang sekolah. Hyunbin dan Mingyu memasukkanku kedalam kelas dan menutup pintunya, meminta beberapa anak yang belum pulang untuk menahan pintunya agar aku tidak keluar sampai mereka keluar gerbang.

“YA!!!! KWON HYUNBIN! JEON JUNGKOOK! KIM MINGYU! KELUARKAN AKU!!” aku berteriak sambil menggedor pintu, namun apa daya mereka yang diluar sana takut pada Hyunbin dan teman-temannya itu.

Mereka semua terkejut saat aku tiba-tiba muncul didepan rumah Jaehyun. Jessica Imo segera menyambutku. Setelah mereka bertiga mengunciku, aku segera menelpon Kang ajjusi yang masih berada di sekolah Injun yang tak jauh dari sekolahku untuk segera menjemputku dan membawaku ke rumah keluarga Jung. Mereka bertiga menaiki kendaraan umum sedangkan aku menaiki mobil pribadi, tentu saja aku bisa menyusul mereka dengan cepat.

“Oh.. Jahyun-ssi dan teman-temannya Jay, ani,  Jaehyun.

Mereka bertiga sibuk saling pandang karena bingung bagaimana Jessica Imo mengenalku. Aku segera membungkuk kemudian mereka mengikutiku.“annyeong haseyo.” Sapa kami berempat.

Jessica Imo mengajak kami masuk dan segera menuju kamar Jaehyun. saat kami masuk, Jaehyun sedang bermain bersama seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran Injun.

“oh kalian datang.” Jaehyun menatap kami sekilas. Detik berikutnya dia menatap tajam kearahku dan membuat anak laki-laki itu bersorak riang. Dia menang dan Jaehyun kalah. “Jeno keluarlah sebentar, ada teman-teman Hyung.” Anak laki-laki yang dipanggil Jeno itu menekuk wajahnya dan dengan terpaksa pergi meninggalkan kamar. Hyunbin, Jungkook dan Mingyu segera berhambur menuju Jaehyun. sementara aku hanya berdiri didepan pintu

“kalian kenapa membawanya??” Jaehyun menunjukku yang masih berdiri dengan dagunya.

“itu gwishin.” Jawab Jungkook. Aku membuang napas dengan kasar, semoga kekesalanku ikut terbuang bersama karbon dioksida. Aku mengabaikan ucapan Jeon Jungkook dan kemudian menghampiri Jaehyun. Mingyu dan Hyunbin sudah mengambil alih permainan yang tadi Jaehyun dan Jeno mainkan.

“bagaimana keadaanmu? Lebih baik?”

“Ya, kau bisa melihatnya sendiri.” Aku sedikit lega. Ruam di wajahnya perlahan mulai menghilang dan perban di kepalanya juga sudah dilepas hanya tersisa kapas kecil disana. Jaehyun menyodorkan krim yang dijangkaunya dari laci meja kamarnya. Tanpa diminta aku segera mengoleskan krim berwarna putih itu ke wajah Jaehyun. Laki-laki itu justru memejakan matanya. Aku tak tahu sejak kapan suasana kamar ini begitu hening. aku tidak berani mengalihkan mataku untuk melihat keadaan sekitar dan hanya fokus pada wajah Jaehyun yang ada di hadapanku.

Aya!! Kenapa kau menekannya?!” Teriakan Jaehyun membuyarkan pikiranku. Apakah aku menekan lukanya tadi? Dia kemudian menegok ke arah temannya yang melihat kearah kami dengan tatapan tidak percaya. Bahkan mulut Mingyu sampai terbuka. Sepertinya ia juga menyadari suasana hening di kamar ini. “kau mengoleskannya terlalu kuat.”

“apa?” Jaehyun kemudian meminta Jungkook untuk melanjutkan mengobati lukanya. Aku memutar mataku dan memilih keluar dari kamar laki-laki ini.

***

Noona!

Eonni!

Jahyun noona…

Suara-suara kecil itu terus memanggil seiring langkahku yang semakin dekat. Mereka berlarian menghampiriku dan memelukku. Mereka adalah anak-anak dari panti asuhan yang aku kunjungi. Aku sudah berkunjung beberapa kali kesini, tak heran jika mereka langsung memelukku saat aku menginjakkan kaki disini. Aku menggendong Jisung yang menangis karena tidak bisa memelukku karena terhalang beberapa anak yang lebih besar darinya, dia yang paling kesil disini.

“aigoo…” aku tersenyum mendengar suara Nyonya Kim, pengelola panti asuhan ini. “Jisung-ie wae ureo?” Nyonya Kim mengambil Jisung dariku.

“kau harus tumbuh besar, ne...” aku mengusap kepala Jisung lalu ikut berjalan bersama Nyonya Kim setelah menurunkan Jisung kembali, ia lalu ikut bersama yang lain bermain.

Kami membicarakan banyak hal tentang tempat ini dan anak-anak yang kini sudah besar. Mereka tumbuh dan berkembang dengan baik di bawah pengawasan Nyonya Kim dan tentu saja dibantu oleh pengurus yang lain. Aku menyumbangkan hasil kerja paruh waktuku disini. Meski jumlahnya tidak seberapa, namun aku rutin menyumbangkanya. Saat aku dan Nyonya Kim duduk di ruang tamu, tiba-tiba Sungkyung datang padaku.

eonni, ada teman eonni didepan.” Ucap Sungkyung. Aku terkejut tentu saja, selama ini aku selalu sendirian kemari dan Minkyung bahkan tidak tahu, tapi apa kata Sungkyung tadi, temanku?

“kau membawa teman? Aigoo, kenapa tidak diajak masuk?” tanya Nyonya Kim. Aku otomatis menggeleng.

“anda tahu aku selalu sendiri kesini.” Jawabku.

“tapi Oppa tampan itu memakai seragam yang sama seperti eonni.”

“Oppa?” Sungkyung kemudian langsung menarikku ke depan, tempat anak-anak bermain tadi. Aku melihat seseorang yang sedang bermain basket dengan anak-anak dengan posisi membelakangiku. Seragamnya memang seragam sekolahku. Dia terlihat menjulang diantara anak-anak itu.

Aku terkejut saat ia membalikkan badannya. Dan mata kami bertemu.

“Jung Jaehyun?!” dia melambaikan tangan kearahku dan kemudian kembali bermain dengan anak-anak, bahkan Sungkyung sudah berada disana.

Namjachingu-mu?” tanya Nyonya Kim. Aku menggeleng dengan keras. “bagaimana bisa dia ada disini?” gumamku.

Kini aku dan si tengik Jung Jaehyun tengah berada di depan minimarket sambil memakan ramyeon. Dia terus saja berkicau karena lapar dan membuatku hampir gila. Dia memakan ramyeon dengan lahapnya seperti tak ada hari esok.

“Ya! Bagaimana kau bisa sampai di panti asuhan Bunga Matahari?” dia tetap sibuk dengan mangkuk ramyeonnya. Hah… dia benar-benar seperti penguji kesabaranku. “Jung Jaehyun!” kali ini aku berteriak memanggil namanya sekaligus mengambil mangkuk ramyeonnya.

wae?!”

“daedabhae.”

Dia menatapku dengan tajam. Aku sedikit takut dengan tatapannya.

“aku mengikutimu. Kau puas?” Ia merebut ramyeonnya kembali dan memakannya. Dia bilang mengikutiku? “jangan terlalu percaya diri aku hanya bosan.” Lanjutnya sambil memasukkan suapan terakhirnya. Dia kemudian mengambil ramyeonku selagi aku mencerna kata-katanya.

“Ya!”

***

Hari ini aku memilih membolos les. Ya, sejak ayah menemukan aku tak pernah masuk les dan justru bekerja paruh waktu, aku berhenti dari pekerjaan itu. sayang sekali harus berpisah dengan orang-orang disana. mereka sangat baik namun aku berjanji akan berkunjung kesana.

Jalanan Hongdae sepertinya tidak pernah sepi. Baik turis maupun masyarakat lokal selalu memenuhi tempat ini. Hal yang aku sukai dari Hongdae adalah disini banyak pertunjukkan musisi-musisi jalanan yang sayang untuk di lewatkan. Suara-suara mereka tak kalah merdu dengan suara para penyanyi terkenal. Ada juga pertunjukan dance, namun aku idak begitu berminat.

Aku mengistirahatkan diriku di bangku yang tak jauh dari sebuah pertunjukkan seni. Aku mendengarkan suara-suara konstestan yang menurutku sangat bagus. Setelah itu aku memasang headset di kedua telingaku mendengarkan lagu-lagu melalui ponselku. Aku terkejut dengan kedatangan seorang laki-laki yang begitu tiba-tiba.

jogiyo, bisakah kau membantuku?”

Aku waspada meskipun dia tidak terlihat seperti orang jahat tapi tetap saja. Dia membawa gitar di tangannya.

Ne?” aku bingung karena tidak mendengarkan dia dari awal tadi.

“aku akan tampil, tapi temanku mendadak tidak bisa datang.” Ujarnya.

Aku tak tahu harus bagaimana. Aku ingin membantunya tapi aku tidak mengenalnya. Dia terus membujukku, sepertinya memang benar-benar mendesak. “Namaku Kim Younghoon, aku siswa Sekolah Seni Kirin.” Dia seperti mengetahui kekhawatiranku.

Dengan ragu aku mejabat tangannya yang terlulur didepanku. “Baiklah, aku Jang Jahyun-“

“-siswi SOPA. Aku tahu.” Sahutnya memotong ucapanku. Aku mendelik kearahnya. “ah… maaf.”

Setelah aku setuju untuk membantunya. Ia menyerahkan pemilihan lagunya padaku, ia bilang ia bisa menyesuaikan semua lagu. Aku memilih lagu milik solois Juniel.

“apakah kita akan berduet?” dia mengangguk. “kita pakai lagu milik Juniel dan Jung Yonghwa, judulnya Fool. eotteyo?”

“call!” dia bersorak dan kemudian berhenti, “wait kau bisa bermain gitar?” Aku mengangguk. Dia memukul kepalanya, “ahh, yeoksi, siswi SOPA.”

Kemudian kami berlatih dengan serius dan hanya memakan waktu 15 menit kami menghapal lirik dan chord gitarnya sampai nama Younghoon di panggil. Aku memakai jaket serta tudungnya. Meminimalisir segala kemungkinan ada yang mengenaliku.

ehm…”  Kim Younghoon mengecek suaranya melalui mic. Aku berada disampingnya dan sudah memegang gitar melihatnya menghitung tanpa suara. Kami bersama-sama memulai petikan gitar memulai lagu.

(skip)

Riuh tepuk tangan mengakhiri penampilan kami. Aku segera turun dari panggung dan mengambil tasku. Saat hendak melangkah pergi, aku seperti melihat Jaehyun diantara kerumunan penonton diujung barat.

Namun aku menengok kebelakang saat Kim Younghoon memegang tanganku. Dia yang seperti mengerti jika aku merasa risih segera melepas genggaman tangannya.

“maaf.” Aku kembali mencari sosok Jaehyun di keramaian tadi, namun tak ada. Tunggu, sejak kapan aku peduli pada keberadaan Jaehyun hingga aku harus repot mencarinya di antara kerumunan orang-orang disini? Aku segera menghilangkan pikiranku itu.

“kau melihat sesuatu?” aku terkejut ternyata Kim Younghoon masih disini.

“tidak. Maaf Younghoon-ssi, aku harus segera pulang.”

“jjam-“

Aku tidak mempedulikan ucapan Kim Younghoon dan secepat mungkin berlari darinya. Aku terus berputar di tempat ini, dan tanpa aku sadari, aku kembali mencari Jaehyun yang kukira masih ada disini. atau mungkin tidak disini. atau hanya kepalaku yang mulai tidak beres karena terus terbayang-bayang Jung Jaehyun. ah entahlah…

To Be Continue…

Aku tambahin pemain baru, kenalin, Kim Younghoon dari The Boyz, aku juga ga terlalu tau sih, Cuma aku suka dia pas jadi model MV-nya IOI yang Whatta Man… gemes… dia rada mirip Sehun gitu, iya ga sih? Eh gatau deh…

untuk WGM, aku juga mentok belom bisa lanjut, malah ada beberapa ide cerita baru lagi, huft… aku belom bisa publish, soalnya takut macet ditengah jalan, nanti kalo semisal udah ada bayangan gimana mau lanjut, mungkin nanti bakal di pos.

Dan makasih udah mau mampir J

Advertisements

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s