[Vignette] Lucas’s Side

hhh

Written by thehunlulu ©2018

Lucas‘s Side

Starring by [NCT-U] Lucas & [OC] Jane Jung Genre Friendship, Fluff, School-life, Teen Length Vignette Rating Teenager

“… seperti ada api yang berkobar-kobar di dalam dada. Kau tidak pernah tahu, kan?”

:::

“Masih ingat yang kemarin?”

Aku menoleh ke belakang. Angin yang menyulut samar-samar membawa sebuah vokal bariton menyelinap ke dalam telingaku.

Aku—yang awalnya hanya duduk santai hingga terkantuk-kantuk lantaran gemersik dedanunan menggelitik rungu—sontak melebarkan pupil, tentu saja dengan berusaha tidak terlonjak ketika Lucas mendaratkan bokongnya di sampingku. “Sendirian itu membuatmu ngantuk, lho,” ucapnya seraya memberikan satu kotak coffee cream ke arahku. Tanpa melepas senyum, Lucas terus-terusan memandangiku—entahlah, mungkin dia memastikan ujung sedotan itu berhasil masuk ke dalam mulutku dan kopi yang ia berikan akhirnya membasahi kerongkonganku.

Tiba-tiba cahaya yang menelisik di antara celah dedaunan di atasku lenyap. Aku mendongak sebentar, ternyata mendung mulai bertandang. Oh sial, kenapa atmosfer yang melingkupi kami terasa lebih dingin dari sebelum Lucas datang kemari?

“Hoi!” Lucas menyenggolku dengan sikunya. “Masih ingat yang kemarin, tidak?”

“Aaah,” ucapku agak panjang. “Tentu saja aku ingat.”

Lucas seperti tertarik dengan jawabanku barusan. Ia menyedot kopinya cepat hingga kotaknya kempes; antara haus atau terlalu antusias dengan responsku barusan, ah entahlah aku tidak peduli. “Jadi bagaimana?” tanyanya.

“Soal … Renjun?” tanyaku balik, lebih kikuk tepatnya. “Kalau itu tidak masalah, aku sudah minta maaf padanya kemarin. Ah, apa aku terlalu baik ke semua laki-laki, ya? Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan ketika Mark lagi-lagi menyerang Renjun? Pasti kau akan merasa bersalah, kan? Dan pastinya kau akan minta maaf pada Ren—“

“Kau salah, Jane.”

Perkataanku dipotong oleh Lucas secara sepihak. Kini bibirku tak lagi berkeinginan untuk menanyakan apa alasan yang membuat Lucas berkata demikian. Aku membiarkannya terdiam sebentar, sepertinya dia sedang merancang kata-kata tepat untukku agar tidak terjadi cekcok mengingat dia paham betul kalau aku mudah tersulut emosi.

“Walaupun kau tipe gadis yang pintar bergaul, setidaknya kau lebih bisa menjaga jarak dengan Renjun.”

“Lalu?”

Lucas mengembuskan napasnya, agak pasrah. “Yah … semua sudah terlanjur. Tidak apa-apa, deh.” Kini giliran tangannya yang sibuk melonggarkan dasi dari lehernya, manik legamnya menatapku lekat-lekat. “Sekarang lupakan dulu soal Renjun. Lebih baik kau minta maaf pada Mark lebih dulu saja.”

Aku melongo. “Hei, tapi kan—“

No no no no! Aku tidak ingin mendengar kau beralasan ‘aku sedang bertengkar dengan Mark’ atau ‘aku terlalu gengsi untuk minta meminta maaf lebih dulu’, karena dalam situasi ini kau memang salah, Jane.”

Memang benar, dari segala onar yang dilakukan Mark pada Renjun akhir-akhir ini, sumbernya memang berasal dariku. Segera setelah Lucas merampungkan perkataannya, aku menggulirkan bola mata dengan agak jengah.

“Begini … sebagai sudut pandang laki-laki, kalau aku melihat kekasihku lebih memilih untuk membela laki-laki lain, tentu saja aku akan sangat marah. Oh bukan, lebih tepatnya … eum … seperti ada api yang berkobar-kobar di dalam dada. Kau tidak pernah tahu, kan?”

“Cemburu,” sanggahku, berjaga-jaga jika Lucas mengataiku sebagai gadis yang paling tidak peka sedunia.

BINGO!” teriak Lucas hingga nyaris memekik. Ia menjentikkan jarinya kegirangan. “Pada waktu itu Renjun mengajakmu pergi ke suatu tempat, kan? Seantero sekolah pun sudah tahu kalau Renjun itu naksir denganmu, Jane. Tapi kenapa kau malah mengiyakan ajakannya?”

Aku benar-benar kesal dengan Lucas kali ini. Dari jauh-jauh hari aku memang sudah berencana untuk meminta solusi padanya atas cinta segitiga yang terjalin antara aku, Mark, dan Renjun, tapi yang kudapat hari ini adalah nol besar. Alias Lucas malah melimpahkan seluruh kesalahan padaku. Padahal jika dia bisa sedikit waras, pemikiran penuh logika laki-laki tidak semenyakitkan itu, mengingat setiap perempuan pasti melibatkan perasaan dalam menghadapi sebuah masalah seperti ini.

“Kau dendam padaku atau bagaimana, sih?! Bukannya aku ingin membalas perasaan Renjun, aku tidak tega saja dengannya!”

Terlonjak, Lucas malah meluncurkan tatapan kampret padaku.

“Aku tahu aku salah, tapi kenapa kau seakan melimpahkan semuanya padaku?! Kau sebagai pihak ketiga seharus—“

“Keempat,” koreksi Lucas.

“—ah, masa bodoh! Kau seharusnya pintar mengambil kesimpulan dari perbuatan kami bertiga, Lucas! Kemudian ketika kau mendengar penuturanku barusan, kau tidak hanya memberiku kritik dan malah menyalahkanku dengan seenaknya sendiri! Perempuan mana yang tidak merasa bersalah ketika kekasihnya memulai perkelahian dengan adik kelas, huh?! Kalau aku tidak bergegas minta maaf pada Renjun, bisa saja esok hari Renjun menghajar Mark balik, bahkan kemungkinan terburuknya ia menghajar Mark dengan membawa teman satu gengnya!”

Aku mendengus sebal.

“Di sini kami betiga memang salah. Renjun yang tiba-tiba mendekatiku, Mark yang kemudian menghajar Renjun, dan aku yang membuat Mark cemburu. Baiklah, aku yang paling salah di sini. Tapi jangan sewenang-wenang kau melimpahkan kesalahan Mark dan Renjun kepadaku!”

Lucas tampak tenang. Kedua obsidian itu masih tersorot padaku, dengan dagu yang ia tumpukan di atas telapak tangannya. Kakinya tahu-tahu sudah bersila, bersamaan dengan bibir merahnya—semerah buah ceri di atas kami—yang mengukir senyum menggelitik.

“Sudah selesai bicaranya, Nona Jung?”

Aku mencebik, enggan melihat wajahnya barang sejemang. “Ck, menurutmu?”

Lucas menegakkan punggungnya dengan sekali hentakan. Telapak tangannya menyentuh rumput hijau yang menjadi alas kami untuk duduk, lantas memotong distansi yang tercipta. Kali ini sikunya benar-benar menempel dengan tanganku. Dua sekon kemudian, Lucas sudah menelengkan kepalanya ke arahku setelah ia menekuk kedua lututnya ke atas.

Sial, wangi parfumnya membuat emosiku perlahan-lahan turun.

Kemudian hilang seakan dihempas angin.

“Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa bersikeras untuk minta solusi padaku?”

Skakmat!

“Jadi kau kemari hanya sekedar kepo tanpa berniat peduli denganku, begitu?” Naasnya, kali ini perkataanku semakin meninggi. Emosi yang sempat raib beberapa sekon lalu kini menggerayangiku lagi. “Jangan-jangan kau kesini karena mendapat perintah dari Mark? Kemudian Mark mendoktrinmu untuk mengikuti segala sesuatu yang ada di hatinya, maka dari itu kau malah menyalahkanku begitu saja. Iya, kan?”

“Kalau memang begitu … bagaimana?”

“AHH MENYEBALKAN SEKALI KUNYUK SATU INI!”

Intuisiku segera bergerak untuk menjitak puncak kepala Lucas. Lawan bicaraku kini bukannya mengaduh atau balik menjitakku, ia malah tertawa jenaka dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Yang benar saja! Tidak mungkin aku sejahat itu, Nona Jung!”

DEG.

Tangan itu … mendarat di atas puncak kepalaku dan mengacak rambutku pelan.

Bukankah respons yang normal jika jantungku sewaktu-waktu menggelinding begitu saja?

Menyebalkan memang, namun aku benar-benar tidak bisa marah dengannya.

“Omong-omong ….”

“Hm?”

“Kalau aku jadi Mark, sudah pasti aku cemburu habis-habisan dengan Renjun, hahahaha.”

Sepersekian detik setelahnya kedua alisku benar-benar tertaut. “Kau satu komplot dengan Mark, kan? Ayo mengaku saja!”

Lucas tertawa renyah. Tatapannya memandang kosong ke depan, seperti menembus gedung olahraga yang terletak jauh di depan kami. “Sudah kubilang tidak, kan.”

“Lalu?”

Entah atas dasar apa tiba-tiba sepasang manik Lucas bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. Kuperhatikan lamat-lamat objek yang begitu menarik atensi Lucas. Ternyata sosok Mark tengah berlari keluar dari gedung olahraga; menggunakan jersey putih tulang sambil berusaha mengambil bola basket yang menggelinding jauh.

Lucas mengemban napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan. “Dan pastinya kalau aku jadi Mark, aku juga akan cemburu dengan Lucas.”

Mendadak, kulepaskan atensi yang semula memandang Mark dari jauh. Kulirik wajah Lucas yang tengah tersenyum kecil sambil menunduk. “Maksudmu?”

“Itupun kalau dia masih sayang denganmu, sih.

Sumpah, aku benar-benar tidak paham ke mana arah pembicaraan Lucas kali ini.

“Kenapa Mark harus cemburu denganmu?” Dituntut rasa penasaran, aku malah lanjut bertanya; menyambung perkataannya barusan, bukan malah mempertanyakan arah dari topik yang ia buat kali ini.

“Yah … laki-laki mana yang tidak cemburu melihat gadisnya diperlakukan oleh orang lain dengan perlakuan yang lebih dari sekedar teman—“ Lucas melirikku mantap lantas melanjutkan, “—hingga pipinya bersemburat merah seperti ini?”

Sudah kubilang kan, Jane? Meminta solusi dari sudut pandang seorang laki-laki pasti akan berakhir dengan membawa malapetaka seperti ini.

—fin—


Yaasssshhhhh, ini adalah plot twist yang telah lama kupendam dan baru terealisasikan kali ini :’) buat mba jane, renjun, mark, lucas, dan seluruh staff karyawan kameramen /semua aja sebutin don/, mohon bersabar karena authornya jadi galau sama mereka2 ini ((digiles))

Yang jelas aku juga tida tau kapan berakhirnya cekcok ala-ala anak es em a di antara mereka, semoga saja simbah segera memberi petunjuk agar jane dipertemukan dengan jodoh yang tepat. AMIIN.

Terakhir, mind to review? 🙂

Advertisements

11 thoughts on “[Vignette] Lucas’s Side

  1. Niat hati beres mandi mau push rank Mobile Legends sama Free Fire, eh ada notif twitter dari Donna sama NCTFFI, akhirnya Lauren bertandang disini 😂

    sALPOK SAMA POSTERNYAAA LUCAS GANTENG BANGET :”””

    Oke, intinya, kalo cowo yang ngakunya temen si cewe dan sahabat si cowo, dia gabakal sok sok an ngebantuin masalah si cewe dengan maksud tersembunyi untuk menikung si cowo😅😅

    Oke, ini kok aku yang baper sama Lucas ya :”

    Nice fic don! Keep writing yaa❤❤

    Liked by 1 person

    • EHE KEBETULAN BANGET ITU SI LUCAS SAMA JANE BISA AESTHETIC GITU HUEHEHEHEHE LANGSUNG CAPCUS DEH NULISIN MEREKA ((tanpa menghiraukan perasaan mark)) ((gagitu))

      em…..gimana ya….sebenernya daku pun tidak tau lucas ini orang baru diantara markjane atau hanya sebatas temen yang enak diajak curhat—padahal mah enggak sama sekali. (lucas be lyk: yaelah jane mending jadian dulu sama aku baru aku bisa kasih kamu solusi) /GAK/

      btw makasih kakren sudah mampir dimariii hehehe ❤

      Liked by 1 person

  2. Reader baru nih kaak wkwk
    Aaaaa suka bangeeet 😂😂
    Sumpah aku bacanya serasa aku sendiri yg lagi ngomong sama lucas
    Ish greget gewla wkwk :”v
    Aku sukaaaaaak! ❤🐰😂

    Liked by 1 person

    • hai kak welkam to NCTFFI hihihi 😀

      lucas mah emang gitu, sukanya ngegombal hm bodo amat yang digombalin udah punya pacar apa belom, pokoknya gaspol aja hwhwhw… jangankan yang baca, yang nulispun serasa digombalin sama lucas /oke stop/

      anyway makasih sudah mampir kemari yaa! 😉 ❤ ❤

      Like

  3. WASYYAAHHHH… GEWWLAAHH INI.. DAH AHH GA NGERTI LAGI AKU TUU… HUHUHUU….

    Udah Jane sama Renjun aja. Aku sama Mark. Lalu Lucas, kamu jadi penasehat percintaan aku saja.. /byee!/

    keep writing donjaahh… ❤❤❤
    kadang suka mikir disela-sela baca ficmu.. ‘KOK DONNA BISA BIKIN BEGINIAN SEHH.. GEWLAA, BUK, DIKSINYA BUKAN MAIN. gimana caranya ngerangkai diksi sedemikian rupa hingga bisa seepik ini?’ KEZEELLL THEHUNLULU SENPAINIM SEMAKIN MENJADI JADI!!!

    Liked by 1 person

    • bagaimana saudari dipoy? sudah puas dengan banyaknya oknum yang merebut jane dari mark? atau kurang memuaskan? sebentar…….saya pikir2 dulu buat nyuruh jungwoo dateng abis ini /ga/.
      eiittsss jangan salah, si sableng lucas diem2 sweet juga lho kalo sama jane. mau tau? saksikan kisah selanjutnya 🙂

      terus nih berpegang teguhlah pada kutipan steve jobs sunbaenim “jangan menunggu ide datang baru menulis, menulislah maka ide itu akan datang dengan sendirinya.” atau kutipan kanjel “people just improve to get better.” karena sesungguhnya daku pun kalo terlanjur webe tetep gabisa ngapa2in selain nunggu ilham datang ((bukan ilham smash lho ya)) xD

      BTW MAKASIHH DIPOYY SUDAH MAMPIR DAN NINGGALIN REVIEW! ❤ ❤

      Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s