[Ficlet-Mix] Aku, Kamu dan Ia yang Melihat di Kejauhan

Angelina Triaf ©2018 Present

Aku, Kamu dan Ia yang Melihat di Kejauhan

Lucas & Charlotte | Friendship, Fluff, Teen | T | Ficlets

0o0

[1]

Ada yang berbeda hari ini. Saat Lucas mengajak Charlotte untuk tak ikut makan siang bersama yang lain, gadis berambut pendek itu sadar kalau tak biasanya Lucas begitu. Mungkin ia ingin menceritakan sesuatu, pikir Charlotte, jadilah mereka berdua kini duduk di taman belakang sekolah. Charlotte hanya membawa satu kotak susu stoberi favoritnya, berbeda dengan Lucas yang terlihat memegang dua buah roti isi yang cukup tebal.

“Sudah kuduga kau tak membawa apa pun,” Lucas langsung menaruh salah satu bungkus roti itu di pangkuan sang sahabat, yang disambut Charlotte dengan tatapan mata apakah-kau-tak-bisa-melihat-apa-yang-ada-di-genggamanku-ini.

Baiklah, rencana Charlotte untuk diet hari ini terpaksa gagal. Bukan diet, sebenarnya, melainkan entah kenapa nafsu makannya mendadak hilang sejak kemarin.

Iya, sejak insiden pengakuan dosa yang berujung hal tak mengenakkan terujar begitu saja dan menyebabkan Charlotte terdiam bagai manekin untuk waktu yang cukup lama.

Benar-benar berbeda. Tak ada obrolan di antara mereka. Hanya suara bungkus plastik yang dibuka juga helaan napas Charlotte yang terlampau pelan. Keduanya memikirkan hal berbeda yang mana berindikasi membuat mereka tak ada bahan pembicaraan sekarang ini.

“Lucas,” hingga akhirnya Charlotte-lah yang lebih dulu membuka suara. “Apakah menurutmu aku seharusnya tetap tinggal dan sekolah di Kanada saja?” Masih tak menyentuh rotinya, Charlotte pun hanya memainkan sedotan dalam sela jemarinya.

Lucas yang duduk tepat berhadapan dengan Charlotte sontak berhenti mengunyah dan fokus menatap kedua matanya. “What do you mean?”

What I’m saying is …. Lucas, have you ever thought that you’re living in a ridiculous world? People are just smiling at you and most of them confess about their feeling to you. It’s out of the blue, and weird. You get that?”

So …?” Lucas masih memandangi raut wajah Charlotte yang bisa dibilang cukup serius. Ada apa dengan gadis itu hingga tiba-tiba bisa membahas hal yang menurut Lucas tak ada hubungannya dengan hari yang cerah ini?

So, how about me going back to Ottawa and leave everyone here?”

God, when pigs fly! Kupastikan hal itu tak akan pernah terjadi, Char. How can you even just think about that silly plan? Just hang in there, please.”

Nada bicara Lucas meninggi, tanda kalu ia agak kesal dengan pemikiran konyol Charlotte. Apa salahnya disukai oleh banyak orang? Kenapa justru Charlotte merasa kalau hal itu adalah sebuah beban?

Di sisi lain, hati Charlotte sudah memerintahkan dirinya untuk mulai menangis sekencang mungkin, melepaskan beban akan hal-hal yang membuatnya tak nyaman. Tetap saja, Charlotte hanya terdiam menatap balik pada Lucas yang raut wajahnya terlihat sedikit menyeramkan.

“Jadi, menurutmu aku harus tetap di sini?”

“Ya, benar.”

“Sampai lulus?”

“Selamanya, kalau perlu,” jawab Lucas dengan mantap. Wajah seramnya telah berubah kembali, memancarkan aura yang pada kenyataannya sangat digilai gadis-gadis satu sekolah.

Even you’re a Chinese …,” celetuk Charlotte, mulai meminum susunya.

Girl, don’t be racist. Apa salahnya dengan orang Tiongkok yang betah tinggal di Seoul?”

Percakapan ditutup dengan tawa dari keduanya. Pikiran yang rumit, mengingat mereka bahkan belum genap menginjak usia dewasa. Tapi begitulah remaja, dipenuhi hal-hal ajaib yang menurut orang lain bisa saja sangat konyol.

By the way,” kali ini mereka sama-sama memandang lapangan luas yang di sana terdapat banyak murid bermain basket. Salah satunya adalah Jihoon, kalau Lucas tidak salah lihat. “Apakah kau melihat itu? Ada Jihoon di sana,” ucapnya sembari menunjuk tepat pada si empunya nama.

“Lalu?” tanya Charlotte dengan sebelah alis terangkat.

“Lalu …. O, lihat, ada banyak bunga bermekaran di kepalamu!”

“Lucas! Stop it!”

.

[2]

Musim berbeda dengan orang-orang yang sama. Senyuman Charlotte yang tetap menyilaukan juga Lucas yang meskipun tak melakukan apa pun tetap saja tampan. Tempat mereka saat inilah yang berbeda. Sebuah taman yang tak lagi sama, juga ukuran kedewasaan yang sedikit naik dari level sebelumnya. Perguruan tinggi yang baru saja mereka pijaki beberapa minggu ini. rasanya menyenangkan tetapi seribu kali lipat memacu adrenalin dari masing-masingnya.

“Ren-Jun lagi?” Lucas merespons dengan cepat kala jemari Charlotte menjauhkan ponselnya dari telinga. Si cantik hanya terkekeh melihat wajah Lucas yang bahkan sudah hampir menyemburkan tawa.

“Lucu, ‘kan? He called me every five minutes since I woke up today and will call me again all day long in the same time.”

It’s funny, Char, isn’t it?”

Totally.”

Lucu bahwa Charlotte yang menggadangkan diri ingin pulang kampung beberapa bulan lalu justru terjebak dalam romantisme menggelikan di Seoul. Anehnya, ia mulai terbiasa dengan hal-hal menggelikan tersebut. Rasanya seperti Ren-Jun memiliki sihirnya tersendiri untuk membuat Charlotte bahagia bagaimanapun caranya.

Lucas benar-benar berusaha menghentikan tawanya untuk yang satu ini. “Padahal kau sendiri yang bingung dengan perasaanmu. Kau ingat tidak bagaimana wajah Ji-Hoon saat tahu kabar kau dan Ren-Jun pacaran? Dasar ratu tega.”

“Hei, Tuan Tampan, salah siapa aku jadi seperti ini? It was your fault with your tiny-bitty antek-antek―kenapa bicaraku campur aduk begini, ya? Hahaha ….”

I always ask you if you want to be my girl but you also ALWAYS say no, Miss Alejandra, so what should I do then?”

I’ve already been your girl, Lucas. Always.”

But not my girlfriend.”

“Siapa sudi punya pacar yang otaknya separuh sepertimu, huh?”

Berdebat dengan Charlotte memang tak akan ada habisnya. Maka Lucas mengalah dan mulai membuka bekal makan siangnya. Kali ini Charlotte yang menyiapkan bekal untuk mereka berdua, roti isi kesukaan Lucas.

Duduk berdua dengan Charlotte di taman membicarakan hal-hal konyol ini membuatnya teringat kenangan masa itu. Seperti sebuah kebetulan yang banyak orang bilang bernama déjà vu. Faktanya, mereka memang pernah melalui saat-saat tersebut.

“Lucas.”

Nada panggilan Charlotte kali ini berbeda, sangat malah, seakan ada hal yang ia sembunyikan sedari tadi.

Just tell me what it is, Aleah.”

Aleah, panggilan sayang Lucas untuk Charlotte yang hanya diucap saat gadis cantik itu menangis dalam pelukannya.

Seperti saat ini.

“Ren-Jun. Anak itu … mungkin hanya terbawa perasaan sesaat, tapi aku dengan bodohnya membuka lebar pintu hatiku untuknya.”

Tanpa diberitahu pun Lucas sudah tahu maksud dari perkataan Charlotte. Karena bagaimanapun juga, sekonyol apa pun sifatnya, Lucas ialah orang yang paling peka sejagat raya. That’s what Charlotte says every time everywhere.

“Ia menceritakan hari-harinya di sekolah, tak lupa menyebut nama Jane di tiap menit percakapan kami. Lucu, ‘kan?”

.

Fun Fact:

Ye-Ri masih sibuk menuliskan berlembar-lembar catatan saat ia absen lantaran sakit minggu lalu. Walaupun tangan sibuk menuliskan huruf demi huruf, kedua maniknya menyipit memerhatikan gadis di sebelahnya yang menerawang memandangi suatu arah.

“Hei, sedang melihat apa?” tanya Ye-Ri sebentar.

Si jelita berambut cokelat ikal nan panjang menoleh, tersenyum kecil pada Ye-Ri. “Tidak, hanya saja dua orang itu terlihat serasi bersama.”

Begitu Ye-Ri mengikuti arah pandangan temannya tersebut, sontak ia tertawa tanpa bisa terkendali.

What’s wrong?”

Nope. Why? Are you interested with that guy, or …?”

The girl is so beautiful like an art, and the boyhe’s pretty handsome. They’re a perfect couple. They’re cute being together.”

Dalam hati Ye-Ri semakin merasa geli, lalu tiba-tiba saja ….

“Aku harus minta bantuan Mark atau Woojin untuk mengenalkan Yu-Qi dengan Lucas,” gumamnya.

“Kau mengatakan sesuatu, Ye-Ri?”

“Ah, tidak …,” sanggah Ye-Ri cepat. “Yu-Qi, makan siang nanti bareng denganku, ya?”

Agak lama berpikir, tapi setelahnya si cantik yang ternyata bernama Yu-Qi itu mengiyakan ajakan Ye-Ri.

Ada yang datang lalu pergi. Ada yang berakhir lalu berkembanglah permulaan yang lain. Hidup ini hanya tentang di jalan mana manusia memutuskan untuk melangkah, begitu pula yang tengah dialami para remaja yang sedang beranjak dewasa itu.

FIN

  • Spoiler tida ya spoiler tida yaaa hahaha xD
  • Nama Char itu Charlotte Alejandra Jo, Aleah diambil dari Alejandra yang pengucapannya ‘alehandra’.
Advertisements

One thought on “[Ficlet-Mix] Aku, Kamu dan Ia yang Melihat di Kejauhan

  1. HOAAASTAGAH AKU AMBYAR BAYANGIN LUCAS NGOMONG PAKE BAHASA INGGRIS.
    Secara dia kalo ngomong pake bahasa alien gak jelas xD
    Hal pertama yang kusuka dari fic ini adalah gaya bahasa yang kamu pakai sesusai sama perubahan usia mereka dari SMA ke perkuliahan, kayak…gimana ya…kerasa aja gitu bedanya percakapan mereka ketika masih remaja sama awal masuk kuliah, dan itu membantuku membangun imajinasi.
    Entah kenapa aku merasa ini sahabat rasa pacar, dan agak menyayangkan mereka ga pacaran, tapi gapapa aku suka cara Lucas dengan gamblang bilang “I always ask you if you want to be my girl but you also ALWAYS say no” , PD-nya dapet banget kayak Lucas yang asli ❤
    Pemilihan nama untuk OC cewek juga cantik, demi apa Lucas pake punya panggilan kesayangan :") dia emang boyfriend material sekali, meskipun kelahiran 99
    Overall aku sukaaa, dan sepertinya akan menjelajah fanficmu yang lain 😀

    xoxo,
    Tina.

    Like

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s