Birthday Project 2017-2018

.

Penasaran apa saja agenda NCT Fanfiction Indonesia di periode ini?

.

.

Read More »

Advertisements

[SERIES] ANAK IBU KOST — Edisi: Tahun Baru

|   Anak Ibu Kost  |

[ Edisi: Tahun Baru ]

|   Johnny  x  Wendy  Nando    |

|  Fluff x Slice of Life  |

|   Series   |   Teenagers   |

2017 © Story created by IRISH

thanks for the byuuutiful poster NJXAEM tjintakuh @ Poster Channel {}

Mau ikut denganku malam tahun baru ini? ‘

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Mau ikut denganku malam tahun baru ini, Wen?”

Pertanyaan retoris itu masuk ke dalam rungu Wendy begitu dia duduk di sebelah Johnny malam ini, saat keduanya tengah duduk di bawah temaram lampu teras rumah keluarga Seo.

“Kemana?” kontan bibir Wendy merespon.

“Kemana saja, asal tidak di rumah.” kata Johnny, “…, Ada tempat yang ingin kamu kunjungi, tidak?” sambung Johnny kemudian, dia lemparkan pandang ke arah Wendy yang sekarang menatap dengan pandang tidak percaya.

Seorang Seo Johnny mengajaknya keluar di malam tahun baru?

Read More »

[Bittersweet Cherry Bomb] 01101000 01100101 01101100 01110000

01101000 01100101 01101100 01110000

-LDS, 2017-

NCT Jaehyun, ASTRO Cha Eunwoo, Seventeen DK & Mingyu, Lovelyz Sujeong and OCs // Crime // Oneshot (4K words) // Teen and Up (warning: cursings!)

[based on Marion Correctional Institute’s case, may not be 100% technically accurate]

.

“Walaupun begitu, setiap perbuatan punya konsekuensi dan kami rela menerimanya. Toh, kami tidak punya lagi kehidupan di luar penjara.”

***

Read More »

[Bittersweet Cherry Bomb] WYSIWYG

WYSIWYG

WYSIWYG

(/ˈwɪziwɪɡ/ wiz-ee-wig)

What You See Is What You Get

by Joanne Andante

“Selamat pagi semuanya,” sapa Hyunrae ceria di depan kelas.

Dosen muda itu selalu mengundang kehangatan di antara para mahasiswa yang mengikuti kuliah teknik komputer itu. Para mahasiswa yang sebagian besar laki-laki itu tentu sangat senang bisa diajar oleh seorang dosen yang menyenangkan seperti Cho Hyunrae.

“Selamat pagi, Profesor,” jawab sekitar empat puluh mahasiswa di kelas itu.Read More »

[Chaptered] Troublemakers (Part 7)

TROUBLEMAKERS [Part 7]
By Graenita

Lee Taeyong | Kim Doyoung | Ten | Jung Jaehyun

=======================

Doyoung masih belum bisa ditemukan.

Dan ini sudah masuk hari ke-delapan di mana semua orang masih kesulitan mencari tahu keberadaannya. Sebentar …, bukan  semua orang, melainkan hanya beberapa orang. Tentu saja kau harus menyebutkan nama Taeyong, Ten dan Jaehyun juga. Mereka bertiga adalah yang paling sibuk mencari pemuda bertubuh tinggi kurus tersebut.

Well, sebenarnya kau tidak perlu menyebutkan nama Jaehyun karena ia terlihat tidak peduli pada apa yang tengah menimpa Doyoung. Berbeda dengan Taeyong dan Ten yang hampir setiap hari mengunjungi rumah Doyoung—yang tentu saja masih disegel dan mereka berdua selalu berakhir dengan berdiri di depan pintu gerbang tanpa melakukan apa-apa—Jaehyun lebih memilih untuk melarikan diri dan melakukan segala hal yang selalu ia lakukan setiap hari, seperti … menghabiskan waktu di warnet meski ia selalu adu mulut dengan beberapa pengunjung yang seumuran dengannya. Kemudian ia akan mengayunkan kakinya ke tempat bilyard, membiarkan dirinya terlarut ke dalam permainan kesukaannya hingga malam menyapa meski—lagi-lagi—ia akan bersiteru dengan beberapa orang di sana hanya karena masalah sepele.

Oh, itu memang yang biasa Jaehyun lakukan, tapi hari ini … ia benar-benar tidak melakukan apa-apa setelah menghempaskan dirinya pada kursi putar yang ada di depan salah satu komputer yang ada di warnet. Tangannya yang sudah memegang mouse pun tak bergerak sama sekali. Matanya juga terlihat kosong menatap layar komputer yang berwarna biru di depannya.

Ya, itu sudah sangat jelas menandakan bahwa pikirannya sedang tidak bersamanya. Ini aneh. Jujur, sangat aneh. Tingkah seperti ini sama sekali tidak terlihat seperti dirinya. Baiklah, ia akui ia sering terdiam tanpa sebab seperti ini semenjak mengenal ketiga teman sekelasnya yang menyebalkan itu.

“Hei, Jaehyun.”

Tepukan di bahunya mengejutkan Jaehyun hingga ia hampir tersentak dari duduknya. Didongakkan kepalanya dan mendapati pemilik warnet sedang memandangnya dengan ekspresi yang tidak bersahabat. Seperti biasanya.

“Ya?”

“Kalau kau tidak memainkan game apapun, sebaiknya kau keluar dari sini. Asal kau tahu saja, ada dua orang pengunjung yang sedang mengantri di mejaku dan—“

Belum selesai pemilik warnet tersebut berbicara, Jaehyun sudah berdiri dan mengambil tasnya yang tergeletak di dekat kaki kursi.

“Aku tidak perlu bayar, kan? Semoga harimu menyenangkan.”

Hanya itu yang Jaehyun ucapkan sebelum berjalan keluar. Awan jingga yang cantik menyapa wajah kusutnya ketika ia menghirup udara kota Seoul yang cukup segar dan sedikit dingin. Untuk beberapa detik ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memandang apapun yang bisa dijangkau oleh matanya sebelum berjalan pelan menyusuri trotoar.

Kakinya terhenti secara mendadak ketika ia teringat sesuatu. Dengan cepat ia berbalik dan berlari cukup kencang.

Ada suatu tempat yang harus ia tuju untuk memastikan bahwa apa yang di bayangannya adalah sesuatu yang salah dan konyol.

oOo

“Ten, kita sudah setengah jam di sini,” ujar Taeyong yang baru saja menyandarkan punggungnya pada tiang listrik yang ada di belakangnya. Diluruskannya kedua kakinya yang terasa sakit setelah cukup lama berdiri menemani Ten di depan pintu gerbang rumah Doyoung.

“Hari ini tidak akan ada orang yang mengunjungi rumah ini lagi? Maksud saya, selain orang-orang dari kepolisian.” Ten memutar tubuhnya menghadap Taeyong yang duduk di seberang jalan. Disandarkannya tubuhnya pada gerbang tinggi berwarna hitam dan menghela napas pelan.

Taeyong tak menjawab. Bila ia harus mengingat satu minggu ke belakang, ia yakin hari ini beberapa polisi akan kembali mengunjungi rumah ini. Mungkin untuk keperluan penyelidikan. Entahlah, Taeyong juga tidak terlalu yakin akan hal itu.

“Kira-kira Doyoung di mana, ya?” gumam Ten sembari melangkah ke arah Taeyong.

“Andai aku bisa menjawabnya,” Taeyong ikut menggumam sambil menggeser tubuhnya sedikit ke samping ketika Ten menghenyakkan diri di dekatnya.

Mereka kembali terdiam dengan mata menatap bangunan rumah Doyoung yang besar dan megah di hadapan mereka. Di ingatan mereka kembali terputar bagaimana detik-detik mereka menyaksikan wajah Doyoung muncul di layar televisi untuk beberapa detik. Wajah yang penuh dengan kebingungan dan keterkejutan melihat ayahnya digiring masuk ke dalam mobil polisi sebelum seseorang menariknya masuk ke dalam rumah. Mungkin itu bisa mereka anggap sebagai saat-saat terakhir mereka “melihat” Doyoung sebelum dia menghilang.

Lamunan Ten buyar ketika tiba-tiba sebuah kaleng minuman dingin melayang di depannya dan mendarat di atas pangkuannya setelah sempat membentur keningnya dengan cukup keras. Oh, hal yang sama juga terjadi pada Taeyong. Hanya saja, tangan Taeyong lebih cekatan menangkap kaleng tersebut sebelum mengenai kepalanya.

“Jaehyun!” seru Ten dengan senyum lebar.

“Ucapan terima kasihnya nanti saja,” celetuk Jaehyun datar sambil berdiri di samping Taeyong.

“Saya tidak memiliki niat untuk mengucapkan terima kasih padamu kok.”

Sahutan Ten membuat Jaehyun sedikit kesal hingga ia ingin sekali merebut kaleng minuman yang baru saja ia berikan pada kedua temannya tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Taeyong, mendongak sebentar untuk melihat Jaehyun sebelum kembali menunduk, tangannya sibuk membuka kaleng tersebut.

“Kalian sendiri bagaimana? Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah sudah kubilang kalau anak itu tidak akan muncul di sini. Ayahnya adalah seorang tersangka. Bodoh bila dia menampakkan diri. Kalian tidak tahu bagaimana gilanya reporter sekarang,” ujar Jaehyun.

“Lalu kau sendiri? Kenapa kau kemari?” Taeyong kembali bertanya setelah meneguk minumannya.

Baiklah. Sampai pada titik ini, Jaehyun sudah merasa jengah dengan mereka berdua.

“Kau juga khawatir pada Doyoung? Itukah alasanmu datang kemari?” Ten ikut bertanya, kedua tangannya meremas kaleng minuman yang sudah habis isinya.

“Hei, aku—“ Jaehyun yang bermaksud membantah langsung menoleh ke kanan tubuhnya saat ia mendengar suara deru mobil.

Ten dan Taeyong seketika berdiri dan terlihat panik.

“Polisi. Mereka datang lagi. Cepat pergi dari sini!” seru Ten seraya melesat pergi meninggalkan Taeyong dan Jaehyun.

Jaehyun tidak mendapatkan kesempatan untuk mencerna situasi yang sedang terjadi di tempat ini karena Taeyong sudah lebih dulu menarik tangannya.

Keputusan yang tepat, Anak-anak. Bukankah lebih baik pergi dari sana daripada ditangkap polisi karena terus-menerus mengamati  rumah seorang tersangka korupsi? Itu sama saja tindakan yang mencurigakan meski sebenarnya kalian hanya ingin menunggu kemunculan teman kalian.

Ten menolehkan kepalanya ke  arah Taeyong yang ada di sebelah kanannya dan Jaehyun yang ada di sebelah kirinya. Dua temannya itu hanya terdiam di halte bus yang sepi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Sungguh, berdiam diri di tempat seperti ini selama hampir lima belas menit membuatnya tidak nyaman. Ditambah suasana di antara mereka yang masih diliputi kebingungan.

“Jae—“

“Diamlah. Aku sedang tidak ingin diajak bicara oleh siapapun,” potong Jaehyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati jalan yang ada di depan mereka. Beberapa mobil melintas dan itu sama sekali tak mengalihkan perhatian Jaehyun yang sejak tadi terpusat pada udara kosong yang ada di depannya.

“Taeyong?” Kali ini Ten mencoba mengajak Taeyong berbicara. Untungnya, temannya tersebut memberikan respons meski hanya sebuah “hmm?”

“Ke mana lagi kita harus mencari Doyoung?” tanya Ten dengan nada pelan.

Jaehyun yang masih bisa mendengar bisikan Ten lantas mendengus keras hingga membuat kedua temannya menoleh ke arahnya.

“Semua orang terlihat tidak peduli dengan hilangnya anak menyebalkan itu, dan hanya kalian berdua yang begitu khawatir padanya. Menyedihkan, bukan?” ujar Jaehyun, jengah.

Ten perlahan mengepalkan tangannya. Oh, mungkin apa kata Jaehyun memang benar. Mungkin hanya dirinya dan Taeyong yang khawatir pada Doyoung. Itupun bila Taeyong benar-benar khawatir pada temannya tersebut.

“Dia akan baik-baik saja. Aku yakin itu.” Taeyong yang menyadari perubahan raut wajah Ten, lantas menepuk pelan punggung pemuda berambut hitam tersebut.

“Seberapa yakin?” Jaehyun menoleh ke arah Taeyong. “Seberapa besar rasa yakinmu hingga kau bisa mengatakan bahwa Doyoung akan baik-baik saja? Lee Taeyong, apa kau bisa menghitung sudah berapa kali dia memberitahu kita bahwa ayahnya adalah orang yang baik? Kau tahu bagaimana rasanya dibohongi oleh orang tuamu yang selama ini kau banggakan? Huh, di mana-mana semua orang tua sama. Mereka memanfaatkan hati anak-anak mereka yang lemah.”

Jaehyun kembali membuang wajahnya ke arah lain. Ada emosi yang mulai terbendung di dalam hatinya ketika menyebutkan kata-kata terakhir tersebut.

Meski tidak bisa melihat ekspresi wajah Jaehyun, Ten bisa merasakan ada yang berbeda pada diri Jaehyun. Seolah ada perasaan marah yang tertahan cukup lama di dalam sana. Dan Taeyong, ini yang kedua kali baginya melihat Jaehyun seperti itu.

“Aku tidak segan-segan mencongkel mata kalian. Jadi, berhentilah melihatku seperti itu.” gumam Jaehyun tanpa berniat memandang kedua temannya.

Lebih baik turuti saja apa kata Jaehyun. Ya, turuti saja daripada Jaehyun benar-benar melakukan apa yang baru saja ia katakan.

Suasana halte kembali hening karena ketiga pemuda tersebut mulai membiarkan diri mereka terlarut dalam pikiran mereka masing-masing. Ya, mungkin mereka terlalu larut hingga mereka tidak menyadari ada sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka.

“Hei, Anak-anak!”

Ten hampir terperanjat dari duduknya ketika terdengar suara klakson mobil yang cukup nyaring. Pandangan mereka bertiga tertuju lurus pada mobil tersebut dan alis mata Ten seketika terangkat sempurna setelah mengenali siapa yang ada di dalam mobil tersebut.

“Paman!” Tangannya menunjuk Paman Park yang mengisyaratkan mereka bertiga agar mendekat ke mobil.

Dengan cepat Ten mendekati mobil tersebut dan memberondong pria paruh baya tersebut dengan banyak pertanyaan.

“Paman tahu di mana Doyoung? Ini sudah hampir satu minggu Doyoung tidak masuk sekolah dan kami sangat khawatir padanya. Apa Paman tahu di mana dia? Apa dia baik-baik saja? Apa polisi juga membawanya ke kantor polisi? Apa dia tidak mempunyai ponsel? Saya sama sekali tidak bisa menghubunginya.”

Paman Park merasa terharu dengan semua pertanyaan Ten. Ia lantas tersenyum hangat. Matanya bergerak memandang Taeyong dan Jaehyun yang masih ada di halte.

“Masuklah ke dalam mobil. Kurasa Doyoung memang membutuhkan teman-teman seperti kalian. Masuklah,” ujar Paman Park.

Tanpa berpikir panjang Ten kembali ke halte dan menarik Taeyong dan Jaehyun. Bahkan ia tak ragu mendorong kedua temannya tersebut ke dalam mobil dengan sedikit kasar karena ia terlalu bersemangat. Bahkan ia tak peduli pada umpatan Jaehyun setelah ia hampir membuat kepala pemuda bertubuh cukup tinggi tersebut membentur kaca mobil yang ada di sebelahnya.

Mungkin kata maaf akan ia ucapkan setelah mereka bertemu Doyoung nanti. Ya, Doyoung adalah yang paling penting untuk saat ini.

oOo

Sebuah helaan napas panjang untuk kesekian kalinya kembali terdengar mengisi kesunyian ruang tengah yang penuh dengan bungkus makanan ringan yang berserakan di mana-mana. Setelah hampir semenit tak ada tanda-tanda pergerakan dari sudut mana pun, helaan napas tersebut kembali terdengar. Bahkan kurang dari dua detik sebuah erangan pelan ikut terdengar.

“Aku hanya menyuruhnya membeli beberapa bungkus ramen, tapi kenapa sejak tadi belum juga kembali sih? Apa minimarket pindah tempat?” gerutu Doyoung sambil menyembulkan kepalanya dari balik sofa. Rambut hitamnya terlihat acak-acakan, seolah sudah beberapa hari ia tidak menyisirnya. Raut wajahnya begitu kusut hingga beberapa jerawat kecil muncul di beberapa bagian wajahnya.

Kondisi Doyoung saat ini … benar-benar memprihatinkan.

Tidak terlalu sih. Tapi tetap saja …

Ditendangnya kaleng minuman bersoda yang sudah kosong ke dekat kaki meja ketika ia berjalan menuju dapur kecil yang tak jauh dari ruang tengah. Namun, langkahnya terhenti ketika terdengar suara pintu terbuka dari arah pintu utama.

“Paman, aku sudah kelaparan sampai ….”

Doyoung terpaksa menggantungkan gerutuannya saat menolehkan kepalanya ke arah pintu. Mulutnya sedikit ternganga takkala menyadari orang yang baru saja masuk ke dalam villa-nya bukanlah Paman Park, melainkan ….

“Terlalu sering makan ramen tidak baik untuk kesehatan. Maka dari itu, saya memaksa Paman agar membelikanmu nasi dan sup hangat,” ucap Ten muncul sambil mengangkat kedua tangannya yang membawa dua kantong hitam.

Doyoung sepenuhnya membeku di tempatnya, memandang pemuda bertubuh lebih pendek darinya tersebut berjalan santai ke arahnya dan meletakkan apa yang sejak tadi di bawanya ke atas meja makan. Matanya bahkan semakin melebar setelah mendapati dua temannya yang lain pun juga muncul. Taeyong hanya mengulas senyum padanya sebelum menepuk bahunya pelan. Sedangkan Jaehyun hanya menghela napas kasar tanpa berniat untuk menyapanya. Pemuda berambut gelap itu hanya melempar dirinya ke atas sofa yang ada di ruang tengah dan memejamkan mata untuk beberapa detik sebelum menggerutu pelan.

“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian nanti.”

 

tbc