[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Sagittarius (Series)

sagittarius

Zodiak Love Story

 #Sagittarius

.

Author :: Rijiyo

Cast :: [NCT’s] Na Jae Min as Jaemin & [OC’s] Seo Janet

Sub Cast : [NCT’s] Kim Dong Hyuk as Haechan

Genre :: Romance, Lil’ bit Sad

Length :: Oneshot

Rating :: Teen

.

“….Together with Sagittarius like being in the game world. Full of adventure, challenge, freedom, and sensation.” – Sagittarian

.

Jadi pacarnya Na Jaemin itu senang-senang-susah. Well, aku bahkan enggak tahu sudah berapa kali mengeluhkan sikapnya yang terkadang—demi Tuhan—menyebalkan sekali. Sebenarnya enggak masalah sih soalnya Jaemin itu cowok yang asik, agak flamboyan, lucu (yeah, tentu), imut (apalagi), dan easy going. Tapi yang membuatku bertanya-tanya adalah, bagaimana bisa dia mau jadi pacarku? Atau lebih tepatnya…

Bagaimana mungkin aku mau jadi pacarnya?

Seluruh dunia bisa menjawab pertanyaan ‘kenapa’ dariku. Kenapa bumi berbentuk bulat, kenapa langit berwarna biru, kenapa giginya Renjun ada gingsulnya, kenapa kak Johnny punya tahi lalat di leher, kenapa kak Mark itu ganteng, kenapa siput jalannya lambat, kenapa matahari cuma ada satu sedangkan bintang ada ribuan, atau kenapa Donghyuk sangat lucu sedangkan kak Doyoung harus ritual dulu ketika ingin membuat orang tertawa.

Tapi enggak ada yang bisa menjawab kenapa aku mau jadi pacarnya Na Jaemin.

Aku enggak habis pikir. Mungkin karena bagiku Na Jaemin itu sempurna. Aku enggak bisa berkomentar apa-apa soalnya dia memang sempurna (oke, aku mengulangnya dua kali). Jaemin sempurna dalam fashion, meskipun itu hanyalah seragam yang juga dipakai olehku, Jeno, atau Renjun. Dia memang enggak sempurna dalam semua mata pelajaran, tapi keahliannya di bidang olahraga (terutama sepak bola) benar-benar membuatku harus mengacungkan empat jempol. Aku sering menemaninya latihan sepak bola sepulang sekolah. Aku juga sering nonton turnamennya dan kalau dia menang, dia selalu mengajakku jalan-jalan seharian penuh. Uuuhh… itu so sweet.

Na Jaemin itu ganteng (apalagi kalau seragamnya agak berantakan, yeah, dia terlihat sangat macho) dan kulitnya terlihat sempurna di bawah sinar matahari. Lalu, aku juga sangat menyukai senyumnya (fyi, aku hampir melupakan hal ini). Giginya itu lho, putih sekali. Senyumnya bagaikan candu, yang membuatku ingin melihatnya lagi dan lagi. Kalau Jaemin itu robot, aku pasti sudah memprogramnya supaya dia tersenyum lebar sepanjang hari padaku (bahkan saat marah).

Tapi—sekali lagi—kenapa dia mau jadi pacarku, ya? Soalnya kalau kupikir-pikir, dia punya banyak kenalan cewek. Ya, jujur, dia memang agak genit, apalagi kalau lihat cewek cantik (Hell, cewek mana yang bisa menolak pesonanya?). Hal itu juga yang membuatku sering… umwell, sebut saja jealous. Kata kak Johnny, terlalu jealous itu tanda sayang. Tapi kata Donghyuk, terlalu jealous itu tanda rasis. Aku harus percaya yang mana?

Jaemin itu… dia berjiwa bebas. Dia paling anti sama yang namanya ‘dikekang’. Aku suka sebal, habisnya kalau aku membiarkannya, dia malah semakin genit sama cewek-cewek. Tapi kalau aku jadi posesif, aku takut dia marah dan ujung-ujungnya minta putus (ya Tuhan, ini mengerikan).

Jaemin itu juga suka hal yang aneh-aneh. Dia enggak pernah takut melakukan bungee jumping atau nonton film horror tengah malam. Dia juga enggak pernah takut naik roller coaster atau memadamkan korek api dengan lidahnya. Suaranya agak rendah dan dia punya bentuk jakun yang menurutku unik. Dia punya bahu lebar dan aku yakin tubuhnya akan semakin menjulang seiring umurnya yang bertambah. Tapi… apa aku sudah bilang kalau dia juga cowok malas? Ugh, malasnya minta ampun. Dia paling malas sama yang namanya SEJARAH. Dan sudah pasti mengerjakan PR sejarah atau yang berhubungan dengan itu membuatnya enggan untuk menyentuh bukunya.

Aku menggebrak meja cukup keras karena Jaemin daritadi enggak mendengarkanku dan hanya berkutik dengan game di ponselnya. Sebenarnya ini salahku mengajaknya ke perpustakaan (Jaemin alergi sama tempat ini), tapi—ya Tuhan, kurang baik apa aku ini?—minggu depan sudah ujian dan aku mau membantu nilai Jaemin di pelajaran sejarah. Meskipun aku enggak pandai-pandai amat, tapi setidaknya aku masih mampu mengajari jika itu mengenai materi dasar.

“Ayo, Jaemin. Matikan dulu hapemu. Kalau sudah belajar, kamu boleh main lagi.”

“Iya, bentar.”

“Seminggu lagi ujian—“

“Aku tahu, Sweety.”

“Dan kamu harus belajar biar sejarahmu setidaknya dapat tujuh.”

That’s right, baby.”

“Makanya, ayo belajar.”

“Bentar lagi.”

Ugh.

“Lagian kenapa sih kamu bingung? Ujian kan masih seminggu, bukan sehari,” kata Jaemin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. “Syuung! Syuuung! Whoa, mati kamu! Yes! Akhinya aku dapat harta karun lagi.”

Harta karun palamu.

“Tapi Jaemin, kamu kan bisa—“

“Ah, ya ampun! Aku bersumpah kamu sebenarnya bukan siswa. Lebih tepatnya kamu adalah jaksa penuntut yang sengaja dikirim ke sekolah buat membasmi murid-murid nakal kayak aku.”

“Habisnya kamu, sih,” Aku cemberut.

“Oh, ayolah, Pacarku yang cantik. Bisakah kita belajar ini nanti? Um, maksudku, kapan-kapan.”

Aku menggelengkan kepala. “Eng-gak bi-sa.”

Please, ini jam istirahat, Sayang. Aku lapar—aku lapar banget. Gimana kalau aku pingsan pas pelajaran? Oh ya ampun, habis istirahat kan pelajaran matematika. Aku pingsan, aku pasti pingsan.” Jaemin mendramatisir.

“Melewati makan siang enggak akan membuatmu mati.”

Kini Jaemin menatapku. Tapi tatapannya menyebalkan sekali. “Apa kamu lupa kalau aku punya maag? Itu di sebabkan karena aku sering terlambat makan, oke? Kalau maag-nya parah, aku bisa mati karena penyakit itu.”

“Kamu punya maag itu salahmu sendiri. Main game sih main game, tapi jangan sampai lupa waktu, dong.”

Jaemin malah tertawa kecil. Oke, dia membuatku semakin kesal. Untung aku sayang.

“Cieeee… kamu cemas, ya? Lagian aku nggak cuma main game, aku juga harus latihan futsal buat turnamen delapan hari ke depan. Aku itu cowok sibuk, Sayang.”

Tuh, kan.

“Kalau kamu mati beneran tinggal aku kapokin. Nanti aku bakal nulis di batu nisan kamu ‘Si Cowok Sibuk Na Jaemin. Mati karena telat makan siang dan terlalu banyak main game’.”

“Wah, keren!”

Kok malah ‘keren’, sih?

Akhirnya aku pun hanya cemberut. Kupastikan aku enggak akan bisa tersenyum dua jam ke depan. Bel masuk juga mau berdering dan sebenarnya aku lapar. Aku sengaja mengesampingkan laparku demi Jaemin, tapi yang dikasihi malah enggak peka.

Untung aku sayang.

“Iya, iya. Ayo belajar,” ucapnya sambil menarik buku sejarah di depanku.

Eih? Yakin dia mau belajar?

“Siapa, nih? Raja Sukjong?” tanya Jaemin sambil melihat sampul buku sejarah.

Aku berdecak. “Itu Ban Ki Moon. Astaga, kamu benar-benar harus belajar tentang negaramu sendiri, Jaemin. Bahkan sekretaris jenderal PBB pun kamu enggak kenal.”

“Ya enggak kenal, lah. Memangnya kapan aku kenalan sama dia?”

Aku enggak menggubris ucapannya meskipun aku ingin tertawa. Aku membuka buku sejarah itu dan mulai mengajarkan apa yang kutahu.

“Kamu sering keliru membedakan Putri Inyeong dan Putri Yisun. Yang ini Putri Inyeong. Cantik, kan?”

“Nggak. Cantikan kamu.”

“Jaemin, aku serius.”

“Aku juga serius. Masa aku harus bilang kamu jelek?”

Aku menghembuskan napas. Sabar. “Ini Raja Sejong. Dia raja dari—“

“Wah, jenggotnya lumayan panjang, ya?”

“Jaemin! Kok malah ngomongin jenggot, sih?”

“Iya, iya, maaf. Oke, lanjut.”

“Kalau ini Dangun Wanggeom. Nama dari pendiri Gojoseon, kerajaan pertama Korea yang meliputi wilayah Liaoning, Manchuria dan Semenanjung Korea.”

“Oh….”

“Dangun adalah pendiri kerajaan Gojoseon, yang dikalkulasikan tepat pada tahun 2333 SM.”

“Oh….”

“Walau istilah Dangun dikenal secara luas sebagai nama pendiri, ada pula yang mengartikannya sebagai gelar ‘kepala suku besar’ yang digunakan oleh semua penguasa Gojoseon berikutnya. Terus—“

“Janet?”

“Ya?”

Love you.”

Duh, anak ini benar-benar.

Untung aku sayang.

.

.

.

Hari ini adalah ujian pertama. Aku menuggu Jaemin di depan kelas dengan buku sejarah karena aku ingin mengajarinya lagi supaya dia enggak lupa materi yang selama ini kuajarkan. Seminggu penuh kemarin aku terus mengajak Jaemin belajar meskipun anak itu masih enggak berubah kalau sudah lihat buku sejarah. Untung aku selalu bawa jantung cadangan, kalau enggak, mungkin dari dulu aku sudah mati karena terlalu kesal padanya.

Dan apa lagi sekarang?

Dia enggak datang-datang. Aku ingin meneleponnya, tapi enggak punya pulsa. Sekarang sudah hampir jam tujuh tapi dia tetap enggak nampak. Hingga aku melihat Donghyuk yang berlari ke arahku dengan tergesa.

“JANET!” teriaknya.

“Apaan, sih? Nggak usah teriak napa,” komentarku saat kami sudah berhadapan.

Donghyuk memegang dadanya dulu sebelum bicara, “Net, aku dapat kabar dari ibunya Jaemin. Beliau barusan menghubungiku. Ini… buruk.”

Tiba-tiba hatiku mencelos duluan sebelum tahu ada masalah apa sebenarnya. “Jaemin kenapa?” tanyaku kemudian.

Aku menunggu jawaban Donghyuk. Setelah ia membuka mulut dan menjelaskan semuanya, untuk pertama kali dalam hidupku, aku ingin tertawa keras setelah mengetahui kenyataan yang sangat lucu ini.

.

.

.

Sepulang ujian, aku langsung ke rumah sakit bersama Donghyuk. Tadi pagi Jaemin mengalami kecelakaan parah saat mau berangkat sekolah. Gara-gara hal ini, sepanjang ujian pikiranku enggak keruan dan aku jadi sering salah fokus. Bahkan beberapa soal yang tadinya kuanggap mudah, seketika kemudahan itu lenyap dan diganti dengan kecemasan. Aku bahkan sampai dimarahi guru Nam karena terlalu banyak melamun. Sebelumnya aku sudah bilang kak Johnny kalau aku mau ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan Jaemin.

Jaemin masih di rawat di UGD. Sayangnya, siapa pun masih enggak diperbolehkan masuk kecuali dokter dan suruhannya. Isi kepalaku menghitam, lalu memutih lagi. Bahkan lelucon Donghyuk enggak mampu menenangkanku. Aku enggak berani menebak separah apa akibat kecelakaan itu. Aku hanya berdoa, siapa tahu nggak ada luka serius sehingga dia masih bisa sekolah dan ikut latihan sepak bola. Apalagi, kemarin Jaemin bilang kalau dua hari sesudah ujian dia mau turnamen di Ilsan. Na Jaemin kan enggak bisa hidup tanpa main bola.

“Donghyuk, aku takut Jaemin kenapa-napa,” lirihku hampir menangis.

“Cowok centil kayak dia enggak bakal kenapa-napa. Percaya, deh.”

“Tapi kalau emang kenapa-napa?”

“Ya pukul aja kepalanya. Bilang kalau kamu marah soalnya dia enggak bisa hati-hati pas di jalan.”

Aku berusaha tersenyum untuk menghargai ucapan Donghyuk.

Tak lama kemudian, orang tua Jaemin dan seorang dokter muncul. Aku dan Donghyuk langsung membungkuk hormat pada mereka. Aku sempat bertanya pada ibunya Jaemin tentang bagaimana keadaan anaknya. Ibunya Jaemin menghela napas, mengelus rambutku, kemudian berucap, “Jaemin koma. Entah sampai kapan. Ya maklum, Janet, kecelakaannya lumayan parah. Bahkan pengendara motor yang nabrak Jaemin pun masuk rumah sakit juga.”

“Apa… apa Jaemin baik-baik saja? Maksudnya, um, kakinya. Dia kan mau turnamen sehabis ujian.”

Ibunya Jaemin tersenyum. Beliau menjelaskan semuanya dengan detil. Saat sudah tahu jawabannya, aku jadi ingin memukul kepalaku sendiri karena menyesal telah bertanya demikian. Lagi-lagi, aku ingin tertawa keras setelah mengetahui kenyataan yang sangat sangat sangat lucu ini.

.

.

.

Seminggu kemudian.

Good night, Super Jaemin! Gimana keadaannya? Udah baikan?” Aku tersenyum sembari menarik kursi untuk duduk di samping Jaemin yang masih berbaring. Setelah berhari-hari lamanya, Jaemin akhirnya membuka mata dan aku kebetulan menjadi orang pertama yang menyaksikan. Dia juga enggak bisa ikut ujian dan rencananya mau menyusul saat sudah diperbolehkan pulang.

Aku enggak mampu meninggalkan sisi tempat tidur Jaemin meskipun hari telah larut dan para dokter mendesakku untuk kembali lagi lain waktu (mereka menganggap kalau kami masih anak-anak, well, padahal kami sudah 17 tahun). Kupikir saat ini aku harus ekstra menemaninya, karena bagaimana pun, Jaemin sedang terluka. Aku berencana untuk berkata terus terang padanya tentang akibat kecelakaan itu, meskipun ada rasa takut ia akan kecewa dan berakhir merusak seluruh fasilitas rumah sakit.

Aku bertanya pada diriku sendiri bagaimana cara mengatakannya. Bagaimana caraku mengumpulkan keberanian untuk berbicara tentang akibat kecelakaan itu tanpa membuatnya semakin terluka. Tapi, bagaimana pun caranya, apa pun yang kulakukan, Jaemin pasti akan tetap kecewa. Meskipun aku nggak ada hubungannya dengan masalah ini, tapi entah kenapa aku ikut merasa bersalah saat akan mengatakannya.

 “Biasa aja. Udah nggak terlalu sakit, kok,” ucapnya sambil beranjak duduk.

“Teman-teman kemarin sudah ke sini, tapi kamu masih belum bangun. Mereka semua cemas, terutama Donghyuk. Lagian kamu lama banget sih tidurnya, kan aku kangen.”

Jaemin tertawa. “Ya enggak lah, aku enggak mau mati dulu. Kan aku belum tobat, belum sungkem sama ibu, dan belum nagih utangnya Donghyuk. Oh iya, aku juga kangen nih sama kamu. Habisnya saat itu aku nggak tahu kalau bakal kecelakaan. Motornya kencang banget pas aku mau nyebrang, terus saking kagetnya aku sampai enggak bisa lari, terus… booom! Aku ketabrak, deh. Eh pas bangun, tahu-tahu aku sudah ada di sini,” jelasnya.

“Terus?”

Jaemin menatap sekeliling dan mengeluh, mengusapkan tangan pada wajahnya yang terasa kaku seluruhnya. “Iya, rasanya kadang masih sakit, kayak ditindih batu-bata,” gumamnya, memijat bagian kakinya yang dibebat perban. “Berapa lama aku tidur?”

“Kurang lebih seminggu,” jawabku.

“Wah, keren! Aku berasa kayak putri salju. Eh, tapi jangan-jangan, kamu habis nyium aku, ya? Makanya aku bangun?”

Aku meninju pelan lengannya. “Iya, aku habis nyium kamu. Kalau enggak kucium, kamu nggak bakal bangun-bangun,” candaku.

“Ayah sama ibu mana?” tanyanya.

“Mereka udah pulang dari tadi. Kan capek nungguin kamu terus. Mumpung aku baru datang, jadinya mereka minta tolong sama aku.”

Jaemin melihat jam dinding, lalu menatapku. “Udah malem, lho. Kamu enggak dimarahi kak Johnny?”

“Enggak apa-apa. Aku udah bilang, kok. Kak Johnny tadi habis ke sini, sama kak Doyoung juga. Tapi mereka udah pulang duluan.”

Keadaan jadi hening lagi. Aku berusaha menghiburnya dengan menanyakan ini-itu (setidaknya aku enggak mau dia berhenti bicara, soalnya aku sangat merindukan suaranya). Aku terus bertanya padanya seputar sepak bola. Siapa pemain sepak bola faforitnya. Siapa klub sepak bola kesukaannya. Kenapa dia ingin menjadi pemain sepak bola. Dan sebagainya. Meskipun aku nggak paham betul apa yang dijelaskannya, tapi bagiku sudah lebih dari cukup melihat Jaemin yang masih banyak bicara. Namun saat dia mulai memijat kakinya lagi, aku mulai khawatir. Aku takut dia akan bertanya yang aneh-aneh.

“Tulang kakiku kok rasanya kaku, ya? Jangan-jangan aku lumpuh?” tanyanya setengah tertawa miris.

Nah, benar, kan? Aku enggak tega menjawab pertanyaannya dengan jujur. Aku mengernyit, enggak mampu bertemu pandang Jaemin. Tapi Jaemin itu pacarku dan sampai kapan pun aku enggak akan pernah bisa menyembunyikan sesuatu darinya. “Kakimu patah. Kamu dilarikan ke ruang operasi dan mereka menyambungnya kembali.”

“Apa?”

“Iya. Kamu patah tulang, terutama di kaki.”

“Masih bisa sembuh, kan? Aku masih bisa main sepak bola, kan?” Wajahnya penuh harap.

Aku menghembuskan napas. “Sayangnya enggak. Kamu enggak bisa main bola lagi, Jaemin. Mereka memasukkan pipihan besi di tulangmu, para dokter bilang kamu harus istirahat total dari olahraga.”

“Apa?” tanya Jaemin lagi, menatapku tak percaya.

Aku menghela napas, lalu bangkit dan meraih catatan yang disematkan di ujung tempat tidur. Aku membolak-balik halamannya, membaca diagnosa para pasien dengan nada mengejek hanya untuk mencerahkan suasana. Ketika selesai, aku merendahkan catatannya dan menghela napas lagi, kembali terduduk di kursi. Aku tersenyum cerah sambil menggenggam tangannya. “Tapi kamu enggak pernah tahu, kalau kamu mampu berlari lagi, kamu bisa menentukan standar dan menjadi keajaiban yang dibicarakan para dokter, kan?”

“Terus maksudnya aku harus percaya sama keajaiban, gitu?”

Aku mengangguk. “Iya. Keajaiban itu pasti ada, Jaemin.”

Aku tersenyum, namun tidak dengan Jaemin. “Masalahnya, ini menyangkut tentang duniaku. Sepak bola itu segalanya bagiku. Aku enggak punya bakat selain itu.”

“Kamu kan bisa menari.”

“Emangnya menari itu enggak pakai kaki, hah?”

“….”

“Berapa lama aku menunggu kakiku sembuh?”

Aku menggeleng.

“Apa mereka semua sudah tahu?”

“Tentu. Tapi mereka enggak ada yang berani mengatakannya duluan padamu, termasuk ibumu. Aku… sebenarnya aku juga enggak tega. Memberitahukan kenyataan buruk padamu itu seperti kesalahan terbesar bagiku.”

“Ada kemungkinan untuk sembuh, kan? Meskipun aku enggak bisa main sepak bola lagi, tapi setidaknya aku masih bisa berjalan dengan kakiku sendiri, kan? Aku enggak mau pakai crutch atau kursi roda.”

Aku tersenyum, naik ke ranjang, kemudian memeluknya. “Kalau kamu mau berdoa dan berusaha, semuanya pasti jadi mungkin.”

Jaemin menunduk tanpa membalas pelukanku. Dia memijat kakinya lagi dan aku terhenyak ketika mendapati sebulir air menetes di gips-nya. Aku mendekapnya semakin erat dan mengelus rambutnya. Saat itu pula suara tangisannya semakin keras. Menjadi isakan yang memilukan. Semakin kencang dan kencang seiring berjalannya waktu. Tangisan itu enggak kunjung berhenti.

“Kakimu sakit sekali, ya?” tanyaku dengan prihatin. Jaemin hanya mengangguk sambil terus terisak.

Dia melepaskan pelukanku perlahan. Saat itulah aku sadar. Aku salah jika bertanya demikian padanya. Karena sebenarnya aku enggak perlu bertanya kenapa dia sampai menangis seperti itu. “Jaemin, jangan nangis….”

Kini Jaemin menjatuhkan kepalanya di dadaku dengan lemas. Aku segera menangkap tubuhnya dan merengkuhnya dengan erat. Aku mengelus kepalanya sambil terus mendengarkan suara isakannya yang memenuhi ruangan.

Malam itu, Jaemin menangis dipelukanku selama berjam-jam hingga bajuku basah karena air matanya.

.

.

.

Dua minggu telah berlalu. Kemarin Jaemin sudah boleh pulang. Hari ini aku main ke rumahnya dengan membawa oleh-oleh kecil. Kak Johnny sempat mengantarku, tapi dia enggak mau ikut masuk soalnya mau ke rumahnya kak Doyoung.

Jaemin langsung mengajakku main ke kebun yang berada enggak jauh dari rumahnya. Aku sempat menolak karena kedatanganku ke sini untuk menemaninya di rumah, bukan untuk jalan-jalan. Tapi karena dia ngotot, ya sudah kuiyakan. Aku ke tempat itu sambil mendorong kursi rodanya. Pacarku ini bahkan terlihat baik-baik saja saat para tetangga menatapnya iba.

“Wah, sudah lama aku enggak ke sini. Aku suka main di sini sama Jeno,” katanya setengah berteriak.

“Main apa?”

“Ya main apa aja. Kadang juga cuma duduk-duduk kalau nggak ada kerjaan.”

Jaemin sempat nekad mau berdiri dan berjalan di tanah. Tapi aku langsung melarang karena tanahnya agak berlumpur akibat alat penyiramnya nggak ada, namun bukit ini hampir nggak berpenghuni kecuali anak-anak yang bermain di kejauhan. Jaemin juga mengagumi mereka beberapa saat dan bertanya-tanya bagaimana rasanya untuk mampu berlari kembali, namun aku tahu ia mencoba untuk membuat kekecewaan enggak terlalu nampak di wajahnya.

“Asyik ya kalau masih bisa jalan. Berasa bebas.”

Aku hanya menghela napas.

“Aku mau coba berdiri sendiri, ah,” pungkas Jaemin.

“Tapi kakimu kan masih belum sembuh total. Yakin kamu mau jalan sendiri?”

Jaemin mengangguk dengan muka seperti anak kucing. Duh, bagaimana mungkin aku menolaknya?

“Sini deh, kubantu.”

“Tapi pegangin aku terus, ya? Kalau aku jatuh lagi dan kakiku putus jadi dua kan enggak lucu.”

“Iya.”

Jaemin menggenggam kedua tanganku. Dia mulai berdiri perlahan dari kursi rodanya. Jaemin sempat meringis menahan kakinya yang kaku. Bahkan saat baru dua langkah, ia terhuyung enggak seimbang karena kaki-kakinya enggak mampu menahan bobot tubuhnya, tetapi Jaemin—yang selalu pantang menyerah—terus menahannya setiap kali ia hendak terjatuh. Saat aku mengambil satu langkah mundur, Jaemin melangkah maju layaknya bayi yang belajar berjalan. Jaemin sesekali merengek sambil memegangi tanganku erat-erat. Bukannya ia enggak tahu bagaimana cara berjalan, hanya saja kaki-kakinya lupa bagaimana cara berfungsi. Aku sedih sekaligus bahagia karena posisi kami saat ini terlihat seperti ibu dan anak.

“Puji Tuhan, kakimu sudah bisa jalan!” teriakku antusias.

Aku mulai melepaskan tanganku tapi Jaemin malah menjerit, “Kubilang jangan lepasin aku! Nanti aku jatuh, Net.”

Aku tertawa keras. “Tapi kamu emang sudah bisa jalan. Kamu harus jalan sendiri biar kakimu tambah kuat.”

Aku pelan-pelan melepaskan tangan Jaemin di pundakku dan membiarkannya berjalan sendiri beberapa langkah. Jaemin sempat berteriak lagi, tapi aku hanya bisa bertepuk tangan bahagia seperti ibu yang bangga melihat anaknya sudah bisa jalan. Ketika Jaemin hampir mencapai jarak beberapa meter, kakinya mulai terlihat melemah dan akhirnya ia tersungkur ke depan. Dan sebelum ia jatuh ke tanah, aku cepat-cepat menangkap tubuhnya yang lebih besar itu hingga aku hampir ikutan terjatuh.

Kini wajah kami dekat, sangat dekat. Aroma jeruknya yang segar dapat tercium hidungku dan perutku serasa bergetar. Aku merasakan ada emosi yang aneh dalam hatiku dan jantungku kembali rusuh. Aku enggak dapat memastikan apa yang ada di atmosfer pada sore ini yang menggantikan kata-kata kami. Ini adalah titik buta dalam memoriku—menjadi enggak mampu menemukan bentuk pembenaran dalam bahasa apa pun. Otakku terbakar menjadi abu dan debunya terbang. Sesuatu nampaknya telah jatuh dari ujung hatiku.

“Kan sudah kubilang jangan lepasin aku,” desisnya. Napasnya menyapu wajahku.

“Enggak. Buktinya kamu enggak jatuh, kan?” ucapku. “Ayo, kita latihan lagi.”

Aku kembali menegakkan Jaemin agar ia enggak bersandar dengan posisi aneh padaku. Latihan kami hampir sukses dan Jaemin telah mampu berjalan sendiri beberapa langkah sebelum ia kembali jatuh di pelukanku. Aku sangat gembira melihat Jaemin meskipun ia masih sering jatuh hingga membuatku kewalahan menangkap tubuhnya. Hingga insiden ‘jatuh’ yang kesebelas, aku mulai curiga.

“Kamu pura-pura jatuh, ya?” tanyaku dengan posisi memeluknya.

Jaemin menyeringai yang membuatku langsung salah tingkah. “Yah, ketahuan, deh.”

“Oh… jadi dari tadi kamu modus?”

“Habisnya kamu makin cantik sih kalau dilihat dari dekat.”

“Kamu belum pernah dipukul pakai toa, ya?”

“Enggak apa-apa, pukul aja yang keras. Sakitnya pasti enggak sebanding saat kamu pukul aku pakai kata ‘putus’.”

Pipiku semakin merona. “Jaemin, kamu… kamu….” Sialan. Aku ingin melepaskan pelukan ini karena aku takut Jaemin bisa merasakan debaran jantungku.

“Janet, ngapain sih kamu bawa-bawa tomat segala?”

“Tomat? Mana? Enggak, tuh.”

Jaemin menyeringai lagi, lalu mendekatkan wajahnya.

Sialan. Benar-benar sialan. Jantungku pasti sudah rontok ke mana-mana. Ini… ini manis. Jujur, sebenarnya baru kali ini Jaemin mencium pipiku semenjak kami pacaran. Rasanya itu… aduh bagaimana, ya? Sialan. Jantungku… ya Tuhan, lebih baik aku mati saja daripada begini. Ternyata yang dimaksud tomat itu adalah rona merah di kedua pipiku.

“Eh, tapi sekarang kok tomatnya tambah merah, ya? Jangan-jangan, tomatnya mau dimerahin lagi?”

Oke, Jaemin. Terus saja membuatku mati kutu.

.

.

.

Malam harinya, aku resmi enggak bisa tidur dan memilih mengirim pesan pada Donghyuk—yang kebetulan juga belum tidur—untuk menceritakan luapan perasaanku. Tapi bocah setan itu malah mengatakan kalau itu bukan luapan perasaan dan membalas Kakaotalk-ku hanya dengan dua kata, JANGAN ALAY.

.

.

_Fin_

Kangen Nana 😥 Kangen senyumnya, matanya, tingkahnya, tawanya, semuanya 😥

Advertisements

4 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Zodiac Love Story #Sagittarius (Series)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s