[NCTFFI Freelance] In Fact (Ficlet)

In Fact

By ravenclaw

Nakamoto Yuta (NCT) & Kim Rin (OC) | Fluff, Friendship, Idol Life, Drama, Hurt/Comfort | Teen | Ficlet

Kamu harus tahu sebenarnya.

0o0o0o

Aku mencintaimu.

Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Atau mungkin sedikit lebih atau kelebihan.

Aku sangat mencintaimu.

Ah, ini sepertinya sangat tepat.

Aku tidak tahu awalnya dari mana, mulainya bagaimana dan kenapa menjadi semakin rumit seperti saat ini. Seperti saat kamu sedang masuk ke dalam ruangan ini dan kamu melihatku tanpa sengaja. Sedangkan aku menunggumu supaya kita bisa saling bertatapan. Kamu mundur satu langkah, membuat orang sekitar bingung dengan sikapmu dan kamu hanya bilang tidak apa-apa, kamu belum terbiasa saja.

Aku tahu kamu akan menjawab itu. Menjawab yang itu, bagian tidak apa-apa dan kamu belum terbiasa. Aku paham maksud dari perkataan itu. Aku sangat paham. Mengingat perlakuanmu padaku selama sebulan terakhir ini.

Bahkan sampai saat ini aku masih mengingat topik apa yang kita bahas sebulan yang lalu. Di kafe tempat kita bertemu sebelum-sebelum-sebelumnya, kamu berkata akan sibuk dengan proyek komikmu di salah satu aplikasi baca komik. Aku tersenyum sembari mengungkapkan kata-kata penyemangat untukmu. Lalu kamu memintaku untuk menemaniku mencari komik untuk menjadi bahan referensimu. Aku meminta maaf padamu karena lusanya aku harus pergi dan besok aku harus latihan untuk kegiatan lusa itu. Kamu bilang tidak apa-apa tanpa menanyakan apa yang akan aku lakukan lusa besok. Lusa dimana kita tidak sengaja bertemu.

Lusa itu sebenarnya aku pergi bersama teman-teman kerjaku, mengadakan fanmeet di salah satu gedung yang disewa agensiku. Lusa itu aku tidak memikirkan apa-apa. Yang kupikirkan saat itu hanyalah kapan acara ini selesai dan kapan aku bisa bertemu denganmu lagi.

Tetapi saat itu aku juga tidak tahu, bagaimana bisa sosok sepertimu yang jarang mengikuti media, datang di acara itu. Aku tidak pernah sedikitpun membocorkan siapa aku di hadapanmu. Bahkan aku tidak pernah memberitahumu alasan sebenarnya kenapa aku pergi dari kota kelahiranku ke kota tempat aku bekerja sekaligus tempat di mana aku menemukanmu.

Bagaimana aku bisa tahu kamu datang saat itu? Tentu saja aku mengenalmu. Buat apa aku mengenalmu lebih dari tiga bulan kalau aku tidak mengerti kebiasaan menggemaskanmu itu.

Kamu saat itu hanya duduk diam saja, terlihat bingung apa yang harus kamu lakukan di antara ratusan wanita yang datang saat itu. Kamu sesekali menatap ke depan dan sesekali menunduk ke bawah, melirik ponsel hitammu. Aku paham itu.

Saat panitia menyuruh para audience berdiri, kau hanya mengikuti. Bahkan aku sempat berpikir, apakah kalau panitia menyuruhmu untuk mencium pipiku, apakah kamu juga mengikutinya.

Ah, maafkan pikiran anehku ini.

Saat panitia menyuruh para audience untuk naik ke panggung, berinteraksi dengan kami, aku juga termasuk, aku hanya berpikir untuk mempersiapkan senyum terbaikku ketika kamu berdiri di depanku nanti.

Tapi sayangnya, reaksimu berbeda saat kita saling bertatapan. Kamu menatapku bingung, seolah berkata mengapa aku ada di sini, di barisan ini. Dan aku hanya tersenyum lebar kepadamu yang masih bingung.

Kamu kaget. Aku tahu.

Kamu bingung. Aku tahu.

Dan aku hanya bisa apa, hanya tersenyum kepadamu, seolah aku tidak melakukan kesalahan apapun kepadamu. Yang sebenarnya, sudah membohongimu sejak kita pertama kali bertemu sekitar lima atau enam bulan yang lalu.

Kamu hanya diam saat itu. Hanya menyodorkan sebuah kaset mini album grupku, menyuruhku untuk menandatanganinya. Tanganmu nampak bergetar saat kamu menerima kaset yang entah kamu bisa mendapatkannya dari mana. Setelahnya sebelum aku mengobrol denganmu, menahanmu sebentar. Kamu pergi begitu saja cepat-cepat, seolah aku adalah makhluk yang harus dihindari.

Dan aku mulai sadar, mengapa kamu bersikap seperti itu kepadaku. Berlari menjauh dari gedung tempat kita bertemu dan mengacuhkan setiap notifikasi dariku. Karena aku salah telah membohongimu. Mengatakan aku adalah orang jauh yang tinggal di negara seberang untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan.

Aku tahu aku salah. Sudah membohongimu bahkan sejak pertama kali kita bertemu di kafe itu, saat kita memperebutkan kursi di sana yang berakhir kita saling mengenalkan diri. Aku tahu itu.

Saat itu aku hanya berpikir untuk membandingkanmu dengan yang lainnya. Apakah kamu mengenalku, apakah kamu aku ini siapa, apakah kamu sama dengan lainnya, apakah kamu melihatku sama seperti lainnya. Dan aku tahu apa jawaban yang tepat.

Tidak.

Kamu tidak mengenalku. Kamu tidak mengetahui aku siapa. Kamu tidak sama dengan lainnya. Kamu melihatku tidak sama seperti lainnya.

Aku sadar sudah mempermainkanmu. Kamu mau mengenaliku hanya insiden tidak sengaja di kafe itu, kamu mau tertawa denganku yang padahal sedang mempermainkanmu, kamu melihatku berbeda dan aku terjebak saat ini.

Tapi faktanya, aku mencintaimu.

Ah, bukan itu.

Aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak tahu apakah kamu juga begitu.

Aku tidak begitu yakin soal itu, mengingat kelakuanku padamu sebulan yang lalu. Mengakibatkan kamu mengacuhkan segala notifikasi dariku.

Aku sudah cukup tersiksa atas kebohonganku ini. Tolong, jangan membuatku semakin bersalah dengan tindakan acuhanmu itu. Aku tidak suka.

Setidaknya balas tatapanku ini, meskipun kamu enggan. Setidaknya lirik aku sebentar, meskipun kamu pura-pura sibuk di depan, bersama Ilyanna, menyiapkan presentasi yang sebentar lagi akan dimulai.

Kamu tahu, aku tidak suka diacuhkan, apalagi oleh orang yang sudah kupercayai sepertimu.

“Bukankah dia yang kemarin datang di acara kita?” tanya Mark memastikan.

“Dia kan, yang disenyumi oleh Yuta hyung, benar kan?” sambung Jaehyun.

Semua orang mulai membicarakanmu. Aku diam saja. Begitu juga kamu. Lebih tepatnya diam canggung. Ilyanna juga begitu, menyikut lenganmu, memberi pertanyaan yang ditanggapi oleh raut mukamu yang memerah sekaligus tampak canggung. Kamu hanya mengangguk dan hendak memulai presentasi.

Tanpa kamu jelaskan, aku tahu apa yang Ilyanna tanyakan kepadamu.

Kamu membuka suara, memperkenalkan diri di hadapan kami yang belum mengetahui siapa kamu. Karena kamu anggota baru didalam pertemuan ini. Wajahmu serius menjelaskan presentasi. Aku tahu itu adalah bidangmu, segala desain menjadi tanggung jawabmu. Kamu menjelaskannya dengan baik, mengacuhkanku yang jelas sekali hanya fokus kepadamu.

Maka dari itu, setelah kamu selesai mempresentasikan dan memberi waktu sesi tanya jawab, aku segera mengacungkan tangan yang hanya direspon helaan napas darimu.

“Silakan, kau ingin tanya apa?” sambut suara Ilyanna.

Aku mengangguk singkat dan menatapmu. Menahan napas sejenak sebelum aku membuka suara.

“Saya, Nakamoto Yuta. Ada yang ingin saya tanyakan kepada Kim Rin.”

Terdengar sorakan dari berbagai pihak. Kamu diam dan aku pun diam. Kita saling menatap seolah menghiraukan lainnya.

“Aku sangat mencintaimu. Apakah kau juga begitu?”

Thanks, ini receh sangat.

Advertisements

One thought on “[NCTFFI Freelance] In Fact (Ficlet)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s