[Write Your Mythology] Another of Him

another-of-him

Another of Him

Author: Lulu Kim

Main Cast: Winwin (NCT)

Sub Cast: Cho Anna (OC), Kun (NCT), other

Genre: Myth & Greek, Dystophia

Mythological Creatures: Zeus

Length: Vignette

Rate : Teen/Remaja

Disclaimer : This fanfiction is MINE! Don’t Bash and Don’t Copas!

Cerita hanya khayalan, bukan untuk dipercaya, ditiru atau dipraktikan!!

.

.

Lulu Kim Story Line

.

.

Another of Him

.

.

Usiaku baru 15 tahun saat Papa pulang dengan seorang pria yang ia sebut sebagai ‘anak Papa yang lain’. Namanya Winwin dan dia tiga tahun lebih tua dariku serta dua tahun lebih muda dari kakak kandungku. Hari itu menjadi hari yang panjang karena Papa dan Mama berdebat tentang pria asing itu dan dimana seharusnya dia tinggal. Kun -kakakku tampak tidak perduli. Dia bahkan asik mendengarkan musik di dalam kamar dan memaksaku untuk ikut. Tentu saja, aku menolak. Aku lebih tertarik untuk mengamati pria asing itu dari jauh.

Lalu, setelah beberapa hari tinggal bersama, aku menyadari bahwa kami berbeda. Dia tidak seperti kakakku yang berisik, justru sebaliknya, dia begitu pendiam dan tertutup. Satu hal yang membuatku selalu penasaran adalah sorot matanya. Terlihat misterius namun teduh. Seakan memanggilku untuk mendekat padanya. Semakin mendekat. Dan terus mendekat.

Awal November saat Papa menggelar pesta peringatan pernikahan untuk menyenangkan hati Mama yang terhianati atas hadirnya Winwin diantara kami adalah saat dimana aku dapat melihat sisi lain dari kakak baruku itu. Dia tidak diundang sehingga harus puas terkurung di lantai atas. Yah, seharusnya dia disana. Namun nyatanya tidak.

Oppa!”

Aku memanggil dan dia menoleh. Dari apa yang ia kenakan malam itu, aku tahu dia memang sudah berencana untuk melarikan diri dari lantai atas.

“Anna,” dia menggumamkan namaku pelan, “sebaiknya kau kembali ke dalam.”

Aku mengerutkan dahi. Ini adalah interaksi pertama kami setelah beberapa hari tinggal bersama. Papa, Mama bahkan Kun memang melarangku untuk dekat-dekat dengannya. Namun aku tidak pernah berfikir akan mendapat larangan yang sama dari Winwin.

“Kenapa kita tidak masuk bersama?”

Winwin tersenyum lalu berpaling. Namun entah mengapa, aku justru mengikuti langkahnya. Aku melihat sorot itu lagi. Sorot yang seakan memanggilku untuk mendekat.

“Sampai kapan kau akan mengikutiku?”

“Kau yang memaksaku untuk mengikutimu.”

Jawaban yang konyol, namun tidak cukup untuk membuat Winwin tertawa.

“Kembalilah sebelum kau terluka.”

“Aku tidak akan terluka,” ujarku sembari berusaha mengimbangi langkahnya, “kau akan melindungiku.”

“Kenapa aku harus melindungimu?”

“Karena kau adalah kakakku.”

Kali ini, Winwin tertawa. Jenis tawa yang menghina sebenarnya.

“Dengar Anna,” ujarnya setelah berhenti di depan gang sempit yang sepi dan gelap. “Apakah ada yang pernah bercerita padamu kenapa aku datang?”

“Ya. Papa bilang Mamamu telah meninggal dan karena itu, Papa membawamu pulang. Kau adalah anaknya yang lain.”

“Kau tahu kenapa Mamaku meninggal?”

“Tidak.”

“Kau ingin tahu?”

Aku terdiam. Memandang iris kelamnya yang masih sama. Teduh namun misterius.

“Kau ingin aku tahu?”

Winwin tersenyum lalu dengan gerakan cepat dia mengambil sesuatu dari balik jaket. Sesuatu yang berkilau. Sesuatu yang entah mengapa ia lempar kearahku.

Swing~

Dan aku terpaku saat suara udara itu terasa begitu dekat. Butuh beberapa detik hingga aku sadar bahwa Winwin baru saja melempar sesuatu yang berkilau itu tepat di samping kepalaku. Aku menoleh ke belakang dan terkejut mendapati seseorang telah terbujur kaku dengan wajah yang menghitam. Aku mengenali orang itu. Dia adalah salah satu bodyguard yang Papa sewa untuk menjagaku sejak Winwin hadir diantara kami. Tapi, kenapa wajahnya menghitam? Apa yang Winwin lempar padanya?

“Aku melempar petir,” ujar Winwin seakan menjawab apa yang aku fikirkan. Membuatku reflek berbalik dan kembali fokus padanya meski jujur saja, jantungku tiba-tiba bertalu dengan cepat. “Wanita yang malang bukan?”

“Kau tidak akan melakukan hal yang sama padaku.”

“Kenapa kau yakin sekali?”

“Apakah kau akan melukaiku?”

Winwin tersenyum dan mengeluarkan benda berkilau dari balik jaketnya. Dia kembali melempar dan orang di belakangku yang kembali terkena imbasnya. Mereka adalah beberapa bodyguard Papa yang berhasil menemukan kami, namun Winwin dengan cepat menarikku pergi.

“Kita akan pergi kemana?”

“Menurutmu kemana?”

Aku tidak menjawab dan membiarkannya membawaku ke tempat yang lebih gelap dari sebelumnya. Tidak ada yang dapat kulihat selain wajah Winwin yang memancar dengan iris gelap misterius seperti biasanya.

“Kau bukan putra Papa,” ujarku, “siapa kau sebenarnya?”

“Kau tahu tentang mitologi Yunani?”

“Kau ingin mengatakan bahwa kau bagian dari mitos itu?”

Winwin tersenyum dan seketika itu pula tempat ini menjadi terang meski tidak membuatku merasa lebih aman. Ada sebuah meja panjang di ruangan dengan bangunan yang terlihat tidak utuh ini. Sebagian dinding, atap dan tiang penyangganya sudah runtuh.

“Mamaku meninggal tersambar petir saat kami berdebat,” ujar Winwin pelan. Ada raut sedih dan menyesal yang aku tangkap darinya meski tidak terlalu kentara. “Saat itulah aku menyadari bahwa aku berbeda.”

Aku mengerutkan dahi. Mencoba mengingat cerita tentang mitologi Yunani dan apapun yang berhubungan dengan kekuatan petir.

“Zeus?” gumamku, “kau bukan putra Papa. Kau putra Zeus.”

“Kau benar-benar pandai.”

Entah mengapa, aku reflek berjalan mundur dua langkah. Kupandangi tempat itu dan menyadari bahwa aku tidak sedang di Korea. Tidak ada tempat seperti ini di Korea. Mungkinkah ini di Yunani?

“Kau takut?”

“Apa kau akan menyakitiku?”

“Kenapa aku harus menyakiti ‘adikku’?

“Aku bukan adikmu. Aku bukan putra Zeus.”

“Kau memang bukan putra Zeus,” ujarnya dengan langkah mendekatiku yang terasa terlalu mendramatisir, “tapi juga bukan putra Tuan Cho.”

“Aku tidak memiliki kekuatan apapun.”

“Hanya karena kau belum menyadari bukan berarti kau tidak punya.”

Entah mengapa, aku kembali berjalan mundur dan dia mengikuti setiap langkah yang aku ambil. “Apa yang kau inginkan dariku?”

“Tidak ada,” Winwin tersenyum kecil, “Tapi aku harus membawamu pulang.”

“Pulang kemana?”

“Ke tempat ‘kita’ yang seharusnya. Bersama dengan makhluk-makhluk lain seperti kita.”

Aku menggeleng kuat. Teringat pada Papa, Mama dan juga Kun. Tidak. Aku tidak ingin meninggalkan keluargaku hanya karena ucapan tidak masuk akal dari Winwin.

“Bagaimana jika aku menolak?”

“Aku akan memaksamu.”

Winwin sudah berhenti melangkah saat tembok di balik punggungku berhasil menyenangkan hatinya. Dia tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku perlahan. “Aku tidak akan melukaimu, tapi jika kau tidak mau menurut mungkin aku harus melukai salah satu dari ‘mereka’”

“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh keluargaku!” Aku berteriak dengan mendorong dada Winwin sekuat tenaga hingga membuatnya mundur cukup jauh. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena emosi dalam diriku memberi kekuatan yang tidak terduga. Bukankah wanita memang terkadang seperti itu? Kuat saat terdesak.

“Kau sangat kuat, mungkin inilah kekuatanmu,” ujarnya, “ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa makhluk seperti kita akan menyadari kekuatan yang dimilikinya saat kondisi terdesak.”

“Kita? Jangan konyol! Aku ini manusia biasa!”

“Oh ya? Kalau begitu coba kita tes.”

Winwin kembali mengeluarkan petirnya lalu dengan cepat melempar benda berkilau itu tepat ke arahku. Aku sudah berusaha untuk setenang mungkin, namun tidak dapat kupungkiri bahwa kali ini, aku merasa begitu takut. Aku menutup mata untuk beberapa saat dan ketika aku merasa masih baik-baik saja, aku membuka mata.

“Cara paling efektif mengendalikan seseorang yang berbahaya adalah dengan mengurungnya.”

Aku mengerjap pelan dan menemukan diriku yang tengah mengintip dari celah-celah tangga. Papa dan Mama masih berdebat dibawah mengenai anak baru yang Papa bawa sementara Kun berkomentar dengan headset yang menggantung di lehernya.

“Jangan dekat-dekat dengan Winwin. Dia sedikit misterius dan mengerikan.”

Aku mengangguk lalu mengisyaratkan sesuatu pada Kun hingga kakakku itu menunduk. Dengan suara pelan aku berbisik padanya.

“Kau tahu dimana kita bisa mendapatkan sianida?” tanyaku yang membuat Kun reflek menjauhkan tubuhnya.

“Kau melihat sesuatu tentang anak itu?”

Aku mengangguk lagi.

“Cara paling efektif mengatasi seseorang yang berbahaya adalah dengan membunuhnya sebelum dia melukai kita,” ujarku sebelum berpaling dan kembali melihat Winwin yang terlihat tenang dalam duduknya. Hanya ada satu pilihan, aku atau dia yang akan pergi.

~oOo~FIN~oOo~

Advertisements

One thought on “[Write Your Mythology] Another of Him

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s