[NCTFFI Freelance] Hide & Seek (Chapter 1)

Hide & Seek

By son nocta

Starring : Shady Holles & Lee Taeyong

also appeared another NCTs one by one

Romance, School-life | Chaptered | PG-17

“Sometimes, love just a game that we have to finish it

or let it game over.”

Level 1

Hitung mundur untuk membuat aku berniat memulainya.

Ga….Wa….Tu….

“Shady? Mencoba bermain kucing-kucing denganku, huh?”

Gawat. Ternyata sampai detik ini pun aku masih ketakutan setengah mati mendengar suara manusia berjakun itu. Tidak, tentu saja ini bukan tentang fiksi horor seperti yang tengah kalian bayangkan. Bahkan ini lebih parah dari itu, yeah, lebih membabi buta dan akan membuat kalian memekik tertahan.

Karena, tentu saja aku sedang merasakannya.

Pinggangku ditekuk dengan sangat kuat, kakiku enggan bergerak karena terlalu kaku dan membeku seketika. Aku bersumpah tengah kehilangan fungsi pita suara yang entah terbang ke mana. Aku membekap mulutku sendiri untuk menghindari kemungkinan buruk yang terjadi.

Pertama, aku tidak ingin mendesah. Kedua, aku benar-benar tidak ingin melakukannya. Ketiga, walau segenting apapun—kuharap itu tidak akan terjadi.

“AKH!!!!” Karena, apa yang kulakukan justru meloloskan erangan keras lantaran ‘dia’ menyingkap rok seragamku dengan satu tangan lainnya.

“Taeyong, sudah kubilang ‘kan kalau aku tidak mau?!” Aku berusaha keluar dari dekapan lelaki itu, tapi tidak bisa.

Kendati demikian, Taeyong tak lantas menambah kekuatannya lebih jauh. Mungkin, badan kekar yang ia miliki sudah cukup untuk membuatnya seangkuh itu. Yeah, aku benci karena ia memiliki alasan yang cukup kuat untuk bersifat angkuh. Dan, aku benci telah terlibat dengannya sejauh ini.

“Kau bisa menggigit tanganku untuk melepaskan diri, tapi tidak dilakukan. Itu sama saja kalau kau tidak benar-benar menolak ‘kan?”

Sial. Dia tidak tahu saja aku alergi dengan krim ultra violet milik para lelaki. Jika itu kulakukan, sama saja aku membiarkan diriku hamil dalam keadaan pingsan olehnya.

“Konyol, Shady. Kau pikir sebuah ciuman bisa membuatmu hamil?” Taeyong berkelakar melihat reaksi yang kutimbulkan.

He. He. “Tidak lucu. Cepat lepaskan, Cowok Gila!” Aku memekik tepat di telinganya, tapi itu justru memberi kesempatan untuk membuat kami sama-sama bungkam. Lebih tepatnya aku, di sini, aku korbannya. Ia memutar tubuhku dan melakukan apa yang sedari tadi ia inginkan lewat bibir ranumnya.

Aku merasa langkah kakiku dikontrol untuk bergerak maju, semakin menekan tubuh Taeyong—tidak, dia jelas membuatku menempel padanya. Ini gila. Bagaimana mungkin aku secara sadar—tidak, aku jelas dikontrol—memojokkan Taeyong di dinding. Ia memeluk pinggangku sangat erat dan aku tidak tahu kenapa harus mengalungkan tangan di lehernya. Ini berlangsung cukup lama, hingga aku mengerti mengapa aku bisa bergerak sesuai apa yang dia mau.

Mungkin, ini hanya persepsi kalau aku—menikmatinya.

“Perjodohan bukanlah hal sepele, Shady Holles,” Taeyong membisik setelah melepas tautan bibirnya. “Dan kuharap kau berhenti untuk bertindak sok pilih-pilih.”

Dan permainan itu pun dihentikan untuk kemudian ia lanjutkan, entah kapan. Taeyong dengan permainan petak umpetnya yang mengontrolku seolah akulah pemain utamanya. Karena, dengan begitu ia bisa pergi sesuka hati. Membiarkan aku tertinggal sebagai pihak yang bersalah.

Taeyong, seorang player yang tiba-tiba dijodohkan dengan seorang Shady Holles—sang pemilih dalam hal perjodohan.

Lagipula, abad ke-21 masih mengenal perjodohan apa?!

“Shady Holles, kau sedang apa?!”

Selang beberapa menit setelah kepergian Taeyong, aku terkesiap melihat Jung Jaehyun membuka pintu. Ia menarikku keluar dan menunjuk-nunjuk sebuah plang secara dramatis. Oke, aku tahu aku salah karena telah bersembunyi di dalam toilet laki-laki.  Tapi, itu kan alibi kuat agar laki-laki tidak memiliki tujuan untuk menemukanku di sana. Hanya saja aku tidak habis pikir mengapa Taeyong bisa mematahkannya.

Aku habis akal hingga kehabisan rasa malu di depan Jaehyun.

“Kau yang sedang apa! Aku ‘kan sedang buang hajat, toilet wanita sedang direparasi tau!” Sesaat aku mengumpat di dalam hati. Bisa-bisanya aku bicara begitu di depan Jaehyun, pujaan hatiku. Aww, maksudku ketua kelas sekaligus pengisi kekosongan di hati Shady Holles.

“Oh, maaf. Aku tidak tahu tentang itu. Sungguh, aku minta maaf.”

Jung Jaehyun membungkuk berulang kali. Seluruh wajahnya memerah hingga ke daun telinga.

“Tidak masalah, Ketua Kelas. Kupikir kau juga tidak mungkin sengaja melakukannya.” Benar, Shady Holles. Rendah hati lah sedikit. Jaehyun bukan orang yang bisa kau marahi, karena kau tidak akan sampai hati melakukannya.

<>

Pekan ini aku mempunyai agenda praktik memasak di klub tata boga. Harusnya aku bersemangat, tapi sayang itu tidak bisa kulakukan. Jung Jaehyun tiba-tiba berhenti menjadi ketua kegiatan, mungkin karena ia ingin fokus dengan klub basketnya. Aku tidak begitu sedih, sih, soalnya kami sudah sering bertemu di kelas. Tapi, tetap saja porsi melihat maha karya Tuhan yang amat indah itu menjadi berkurang.

Memang sulit menaruh hati pada lelaki yang menyimpan terlalu banyak kelebihan.

Lalu, sesuatu menambah kesuraman pada penglihatanku. Seperti yang kuceritakan di awal, meskipun ini bukan tentang fiksi horor. Tapi, apapun itu—jika tentang Lee Taeyong, segalanya tidak jauh lebih mencekam dari lelaki itu. Presensinya, sorot matanya, juga langkah kaki yang ia sengajakan terdengar berbunyi tak-tak-tak.

Dia menatapku tajam lalu beralih memerhatikan sekitar. Taeyong membungkuk lantas mengucapkan salam begitu sopan. Kalau kubilang, itu pencitraan. Karena, sejauh ini klub tata boga hanya memiliki anggota berjenis kelamin perempuan (untung-untung ketua kami selalu laki-laki). Jadi, mungkin saja Taeyong yang notabene seorang player berusaha menarik hati para perempuan di sini.

Aku sih tidak mau tertarik.

“Aku harap kalian bertahan.”

“Apa-apaan itu, harusnya kan mohon bantuannya,” aku menyela diam-diam.

Sowon menyikut, “Pst, Shady, ramahlah sedikit. Kalau kubilag sih, dibanding Jung Jaehyun. Bagiku pesona dia jauh lebih kuat lho, Shad.”

“Se—won, dia itu setan. Setannya dari para setan. Satan sih kalau kubilang!”

Gadis itu mencebik, “Kau tidak waras, sih, kalau kubilang!” Sowon memodifikasi perkataanku dan aku tersinggung.

Dia tidak tahu saja topeng apa yang ada di balik wajah Taeyong. Masih untung jika itu topeng Gong Yoo, tapi kenyataannya ia menyimpan sikap tak puas di balik wajah flamboyan itu.

“Shady Holles, krimnya terlalu berat. Ini membuatku ingin muntah, kau tahu.”

Taeyong meludah di hadapanku, seperti menyesali sejauh mana dia telah menjilat fla yang kubuat. Dia berjalan dengan angkuh menuju meja lain. Menjilat lalu mengumpat, begitu terus sampai aku muak mendengar ucapannya.

Bahkan jika itu terjadi di posisi Jaehyun, ia tidak pernah sekali pun membentak kami.

Oh ayolah, ini hari pertama. Tapi, kenapa dia bisa sejahat itu? Apa dia tidak bisa melakukan evaluasi yang lebih manusiawi? Dia baru menjadi ketua klub lho, bukannya penanggung jawab klub ini atau bahkan kepala sekolah.

Akan tetapi, yang terjadi di sini justru ….

“Mungkin ini karena dia berada di kelas A?”

Baddas!”

“Tidak masalah sih bagiku, soalnya dia tampan.”

“Laki-laki perfeksionis auranya memang berbeda ya,” imbuh Sowon, tidak mau kalah sintingnya.

“Kalian kuperbolehkan untuk pulang,” ujar Taeyong di sela helaan napas tak puasnya. Jelas saja ia begitu, karena setelah kami selesai membereskan seluruh peralatan memasak. Ia justru memberikan wejangan sepanjang mungkin yang ia bisa, agar telinga kami memanas. Ini memangkas waktu pulangku. Hanya saja, yang lain justru terlihat menikmati hal tersebut.

“Dan Shady Holles, kau bisa tetap di sini.”

Cetak! Seseorang pasti sedang memainkan pisau di tubuh sebiji wortel, atau mungkin aku hanya berhalusinasi. Lalu, kuyakinkan diri memaling muka dengan mode gerakan melambat. Saat itu aku meringis, “Teman-teman, ini mungkin karena aku tadi membuat kesalahan yang fatal.”

Aku mengacungkan kedua telapak tangan. Berusaha agar tidak terlihat menipu, meskipun aku tahu muslihat apa yang diperbuat Taeyong.

Muslihat yang kupikir akan mengarah pada rating 18 yang justru lebih rendah dari itu.

“Kupikir kau akan berbuat macam-macam.”

Taeyong memasukkan tangan ke dalam saku celana. Alih-alih menjawabku, dia menggumam, meniup-niup helaian bunga sakura yang hendak bertandang di wajahnya.

Kami tidak pernah sedekat ini sampai bisa berjalan pulang bersisian. Taeyong dan Shady Holles itu seperti dua hal yang mustahil bisa dipertemukan. Dia dari kelas A dan aku—syukur-syukur—mampu mencapai kelas B. Dia bergolongan darah AB dan itu tidak akan pernah bisa akur dengan gadis bergolongan darah A.

“Jangan bego, Shady Holles. Tidak semua hal bisa dilakukan di sekolah.”

Sudah kubilang ‘kan, dia itu benar-benar tidak tahu diri. Aku menendang tungkainya tanpa tedeng aling-aling dan ia langsung mengerang keras. Saat itu aku mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumah lebih unggul. O, satu hal lagi, rumah kami bahkan berdampingan.

<>

Pukul sebelas malam, kedua mataku masih enggan terlelap. Bahkan dengan memandangi satu-satunya foto Jaehyun yang kumiliki tidak cukup membuatku mengantuk. Kemudian, pintu jendelaku berdenyit sendiri.

“Siapa?” aku mencicit sambil bergerak hati-hati.

“Rapunzel.”

Hee—aku sih kenal suara ini. “Rapunzel kenapa di luar? Pangerannya pergi ke mana?”

“Pangeran dijodohkan dengan perempuan bego di samping rumahnya.”

Sial.

“Tidak perlu dibukakan saja, ya?” pintaku setengah mendecak.

“Buka sendiri juga bisa.” Tiba-tiba Taeyong sudah duduk di dalam bingkai jendela kamarku. Ia bersedekap dan membuatku terperangah selama sepersekian detik. Dapat kekuatan darimana?

“Aku tidak bisa tidur, karena mungkin aku mulai tidak terbiasa tidur sendirian.”

Ap—“Alasan macam apa?!” Aku mendorong tubuhnya agar kembali pergi keluar. Dia berbahaya jika terus berada di dalam sini. Kalau sekolah saja bisa ia manfaatkan untuk  berbuat tidak-tidak padaku. Bagaimana dengan kamar yang hanya diisi oleh aku seorang?

Taeyong menahan pergerakan tanganku lantas meloncat dari jendela. “Andai saja aku datang lebih awal, mungkin aku akan izin terlebih dahulu pada orangtuamu. Tapi, ini sudah terlanjur larut malam.”

Ia menutup jendela kamarku sebelum akhirnya membuatku terjebak di atas tempat tidur.

“Taeyong, kuperingatkan kau … “ aku mendesis di depan wajahnya.

Saat Taeyong mengunci pergelangan tanganku, kulihat dia menemukan sesuatu yang—TIDAK!

“Jung Jaehyun?”

“Kembalikan!”

“Dewan perwakilan dari kelas 2-B?” sudut bibirnya terangkat sangat tinggi.

“Kubilang kembalikan!” Aku hampir saja memekik kalau aku lupa ini sudah tengah malam.

Taeyong berjongkok, berdiri, lalu berjongkok lagi. Dia bermain-main dengan tinggi badanku yang tidak mampu menggapai kertas di tangannya. Tempat tidurku semakin berbunyi, walalupun hanya aku sendiri yang rusuh dan melompat-lompat tak karuan.

“Dia tidak jauh lebih baik dariku,” cibir Taeyong.

“Masuk akal—jika kulihat dari ujung sedotan.”

Lelaki itu tiba-tiba memasukkan Jaehyun ke dalam bajunya. Itu akan jauh lebih sulit untuk kuambil dibanding mencoba meraih dari atas kepalanya. Tapi, coba saja atau tidak sama sekali.

Aku berhasil meraih ujung kaus putih milik Taeyong. Membukanya perlahan, namun sampai detik ini pun dia tidak mengelak.

Jadi sekarang tidak masalah bagiku untuk membuka baju lelaki itu seluruhnya. Tidak, sampai Taeyong menarik bajuku bersamaan dengan aku yang berhasil mengambil foto itu darinya.

Mataku membelalak dan lelaki di hadapanku tersenyum tipis.

“Aku tidak suka kau banding-bandingkan, Shady Holles.”

*

Advertisements

3 thoughts on “[NCTFFI Freelance] Hide & Seek (Chapter 1)

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s