[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 5)

mylesbianroommate

My Lesbian Roommate by Mingi Kumiko

{ Main cast : Jaehyun & Chaeyeon | Genre : romance, drama, college life | Rating : PG-17 }

“Kalau kau… kenapa bisa sampai jadi lesbian?”

.

.

“Kalau dilihat-lihat, kau lumayan tampan, ya, Ji?” ujar Chaeyeon dengan raut berpikir. Bibir pria itu langsung mengatup. Perasaan cemas sontak menyergap hatinya, ia khawatir penyamarannya akan terbongkar. Namun Jaehyun tak bisa membiarkan itu terjadi. Penelitiannya belum selesai, Chaeyeon belum boleh tahu bahwa ia adalah laki-laki.

“Eh, tapi generasi muda di Korea, kan, memang susah ditentukan cantik atau tampan. Wajah kita semua terlihat satu tipe.” celetuk Chaeyeon, perlahan mata cerahnya pun kembali.

Jaehyun mengembuskan napas lega diam-diam. Syukurlah penyamarannya tidak jadi terbongkar.

“Kayaknya aku enggak cocok, deh, pakai kumis itu.” kata Jaehyun.

“Hm, ya sudah, deh… Kayaknya kau juga bukan gadis yang suka pakai aksesoris.” Chaeyeon pun kembali meletakkan kumis mainan itu ke tempat semula.

.

.

.

Ternyata letak pertemuan komunitas lesbian itu tak jauh dari toko aksesoris yang barusan mereka kunjungi. Saat melihat kedatangan Chaeyeon, teman-teman satu komunitasnya pun langsung menyambut dengan seruan yang gaduh.

“Lama enggak ketemu, kau jadi tambah kurus, ya, Chae…” oceh seorang gadis berperawakan semampai dengan rambut hitam alami. “Kau jangan lupa makan, dong… pikirkan kesehatanmu.” imbuhnya.

Sejauh ini tidak ada yang aneh dengan kaum lesbian di komunitas ini. Hanya perhatian mereka sedikit lebih besar jika dibandingkan hubungan pertemanan biasa.

“Kau datang bersama siapa, tuh?” celetuk seorang gadis yang sedang duduk di sofa. 

Chaeyeon pun lantas menoleh, “Oh iya, hampir lupa!” Gadis itu berlari kecil untuk menarik Jaehyun ke depan.

“Kenalkan ini Jihyun… Dia temanku di asrama.” kata Chaeyeon. Karena tak tahu harus berbuat apa, pemuda itu pun memilih membungkukkan badan dengan sopan.

“Kok, badannya kekar sekali, sih?” cibir gadis yang mengepang rambutnya tinggi-tinggi tanpa menyisakan sehelai rambut yang menggantung. Pemuda itu kembali dibuat gugup dengan pertanyaan tentang postur tubuh.

“Tapi style dia bagus, kok! Butchy ya?” sahut gadis berambut cepak di sebelahnya. Mata Jaehyun langsung membelalak. Namun dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutannya saat mendapat pertanyaan seperti itu.

“Hush! Kalian ini, orang baru datang juga sudah ditanyai begitu!” sanggah Eunjin yang membuat topik pembicaraan pun langsung teralihkan. Jaehyun pun tidak perlu menjawab pertanyaan aneh mereka.

“Hei, kenapa kalian tidak duduk?” ucap seseorang dengan penampilan paling nyentrik; rambutnya pirang, bergincu amat pekat, serta berbalut jubah penuh bulu. Di mata Jaehyun ia sudah terlihat seperti bintang film yang sedang menghadiri ajang penghargaan bergengsi. Baju tanpa lengan yang ia kenakan pun sedikit turun hingga mengekspos belahan dadanya dengan jelas. Sungguh pemandangan indah baginya.

Tak ada yang mengejutkan dengan perkumpulan ini. Mereka hanya ngobrol hal biasa yang terjadi di keseharian mereka. Namun bedanya, mereka lebih banyak menyertakan skinship seperti berpegangan tangan atau saling merangkul. Kalau dia tidak salah menerka, ada sebagian dari mereka yang memang pasangan kekasih dan tanpa sungkan menunjukkan kemesraan mereka. Dari sini Jaehyun bisa menarik kesimpulan bahwa kaum lesbian sudah memulai upaya untuk menunjukkan ‘keberadaan’ mereka pada khalayak ramai.

Jaehyun tak henti-hentinya meletakkan fokus pada Chaeyeon yang berada di sebelahnya. Gadis itu tak melakukan hal yang sama dengan kawan-kawan sekomunitasnya. Bahkan ia cuma duduk anteng mendengar mereka bercerita. Apakah dia tidak memiliki pasangan? Atau pasangannya tak sedang berada di sini? Benar juga, selama ini Jaehyun belum pernah mengusik tentang kehidupan asmara Chaeyeon. Sepertinya setelah ini ia perlu mencari tahu.

.

.

.

Jaehyun dan Chaeyeon kembali ke asrama sekitar pukul tujuh malam. Setelah membuka pintu, Gadis Jung itu langsung mengempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menghela napas berat dan menyembulkan poninya ke atas.

“Kok, sepertinya kau enggak happy saat kumpul sama teman-temanmu tadi?” celetuk Jaehyun yang membuat Chaeyeon sontak menoleh.

“Iya lah… mana bisa aku happy saat semuanya lagi membahas pacar, sedangkan aku enggak punya.” Chaeyeon merutuk frustasi.

Sebelah bibir Jaehyun pun tertarik. Ini adalah saat yang tepat untuk menggali informasi.

“Memangnya pacarmu ke mana?” tanya Jaehyun.

“Ugh, Ji! Aku enggak mau bahas itu. Enggak penting.” tolak Chaeyeon mantap. Pria itu pun menelan ludah. Sebelumnya ia pikir, Chaeyeon akan langsung menjawab saat ditanyai begitu. Namun ternyata ekspektasinya meleset.

Tak menyerah, Jaehyun pun coba mencari topik pembahasan lain agar bisa memancing Chaeyeon untuk bicara banyak.

“Ini perasaanku saja atau memang benar adanya, gadis yang model rambutnya seperti cewek Jepang itu… perhatian sekali, ya, padamu?”

“Maksudmu Eunjoo eonnie?” balas Chaeyeon. 

Pemuda itu pun mengendikkan bahu, “Mana kutahu?”

“Dia itu suka padaku, Ji. Tapi aku tak bisa membalas perasaannya.”

“Lo, kenapa?” Jaehyun memasang ekspresi seratus watt, benar-benar ingin tahu.

“Eung… ya, enggak mau saja. Lagi pula dia juga seorang femme, sama sepertiku.”

Jaehyun pun manggut-manggut, berlagak seolah ia paham. “Please, dong, ceritakan tentang mantan kekasihmu.” kata pria itu lagi.

Gadis lesbian itu lantas bangun dengan wajah kesal. “Oke, oke… karena kita teman, jadi harus saling berbagi. Akan aku ceritakan padamu.” tandas Chaeyeon yang langsung menggurat ekspresi semringah di wajah Jaehyun. Lelaki itu pun mengambil langkah seribu untuk duduk di sisi kanan ranjang Chaeyeon.

“Mantan kekasihku namanya Kim Sae Rin, dia sangat cantik, badannya juga bagus. Kami baru putus sekitar sebulan yang lalu.”

“Sebentar, bukannya tadi kau bilang tidak suka dengan femme?”

“Dia bukan femme, Ji. Saerin itu soft butch. Kepribadiannya memang agresif, tapi masalah penampilan, dia tetap feminin.”

Lagi-lagi Jaehyun cuma bisa manggut-manggut. “Terus, kenapa kalian putus?”

“Bagaimana, ya, caraku menjelaskannya? Hm, intinya sekarang dia sudah kembali jadi straight karena orang tuanya benar-benar mengupayakan kesembuhannya. Dan kudengar, bulan depan ia akan bertunangan dengan seorang pria.”

“Lo, memangnya homoseksual bisa sembuh, ya?” bingung Jaehyun.

“Ya… tergantung, sih. Setahuku, kalau dia jadi lesbian karena salah pergaulan, sembuhnya lebih mudah daripada yang sejak kecil sudah memiliki orientasi menyimpang.” tandas Chaeyeon.

“Menurutmu, mengapa seseorang bisa sampai memiliki orientasi seksual menyimpang?” tanya Jaehyun. Ia merasa obrolan semakin seru untuk dilanjutkan.

“Banyak hal, Ji. Ada yang karena salah didikan. Misalnya dia terlahir sebagai perempuan, namun sejak kecil didandani seperti lelaki atau diberi mainan anak laki-laki. Bisa juga karena trauma di masa lalu terhadap laki-laki. Atau mungkin karena dia tidak merasakan orgasme terhadap lawan jenis, jadi memilih untuk mendapat kepuasan dari sesamanya, pokoknya banyak.” celoteh panjang lebar dari Chaeyeon direkam dengan baik oleh Jaehyun di memorinya.

Mereka pun diselimuti keheningan setelah penjelasan Chaeyeon usai. Namun Jaehyun masih merasa obrolan mereka perlu dilanjutkan. Kapan lagi ia bisa menemui mood gadis itu untuk menjabarkan secara rinci tentang gaya hidup kaum lesbian?

“Kalau kau… bisa sampai begini, karena apa?” celetuk Jaehyun tiba-tiba. Namun menyadari ada yang salah dengan susunan kalimatnya, ia pun buru-buru menimpali, “Sori… mungkin tidak seharusnya aku tanya begitu.”

Chaeyeon memaksakan dirinya untuk mengukir senyum simpul. Matanya berkaca-kaca dan pipinya mulai memerah.

“Lima tahun yang lalu, ibuku dibunuh oleh ayahku yang tukang mabuk saat sedang hamil calon adikku. Dia memukul kepala ibu dengan botol sampanyenya, hiks. Bahkan saat mabuk, ia berkali-kali mencoba untuk memperkosaku. Dia lelaki biadab!” Chaeyeon tak lagi kuasa membendung air matanya untuk lolos dari pelupuk.

Jaehyun yang melihat—sekaligus dalang dari jatuhnya air mata Chaeyeon—pun langsung dibuat cemas. Ia merasa gagal menjadi laki-laki karena telah membuat seorang gadis menangis, meskipun kini ia tengah menyamar.

“Aku benci sekali sama laki-laki, Ji. Mereka kasar.” imbuh Chaeyeon dengan tetap terisak, bahkan kini tangisannya menderas.

Jaehyun pun merentangkan tangannya, ia dekap tubuh gadis di hadapannya itu untuk menyalurkan kehangatan yang ia miliki. Berharap pelukan itu bisa sedikit menenangkan hati Chaeyeon yang telah ia buat kalut.

.

.

.

Setelah begah yang mereka rasakan setelah mengonsumsi ramen instan—sebagai menu makan malam—hilang, dan setelah beberapa tugas pemberian dosen sudah selesai Chaeyeon kerjakan, kedua penghuni kamar nomor 210 itu pun memutuskan beristirahat di atas ranjang mereka masing-masing.

Saat Jaehyun merasa roommate-nya itu sudah tertidur pulas, ia pun langsung membuka ponsel untuk mengetik sesuatu di aplikasi pengolah data. Ia agak kesulitan merangkai tiap huruf menjadi sebuah kata karena ruangannya gelap. Namun semampunya Jaehyun berusaha menyelesaikan tulisan itu agar besok pagi Eunwoo sudah bisa membacanya.

Setelah kurang lebih dua jam mengetik, Jaehyun akhirnya berhasil menuliskan cerita yang ia alami hari ini. Tak lupa ia menyertakan asumsi serta opini pribadinya ke dalam data mentah itu.

“Penjara seumur hidup tetap tak akan bisa membalas kebengisanmu selama ini! Kau harusnya enyah dari muka bumi! Bahkan neraka terdasar pun tak akan sudi menerima pria sekeji dirimu!”

Sebuah ucapan yang lirih yang terdengar penuh sarkasme menginterupsi Jaehyun yang berupaya untuk terlelap. Pemuda itu lantas beringsut dari kasur dan menghidupkan lampu. Saat ruangan telah terisi oleh cahaya, ia pun menghampiri ranjang milik Chaeyeon.

“Karenamu aku kehilangan adik yang sudah lama aku dan ibu inginkan!” gadis itu kembali mengigau. Leher dan pelipisnya dipenuhi keringat serta wajahnya memucat. Jaehyun langsung dibuat khawatir. Nampaknya teman sekamarnya itu telah disambangi mimpi buruk. Ia bergegas membuka kulkas untuk mengambil air.

“Chae, bangun…” gugahnya sambil menepuk-nepuk pundak Chaeyeon dengan pelan. Beberapa sekon kemudian, mata gadis itu pun mengerjap, ia bangun dengan deru napas yang tak beraturan. Segera Jaehyun sodorkan air dingin yang telah ia tuangkan ke dalam gelas kaca.

“Minumlah dulu,” katanya. Chaeyeon pun meraih gelas itu dan meneguknya hingga hanya menyisakan separuh.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jaehyun.

Gadis Jung itu langsung mendongak dan menatap wajah Jaehyun dengan bibir mengerucut serta mata yang berkaca-kaca. Chaeyeon bergeming, tak kuasa melontarkan ujaran barang sekata pun.

Entah dorongan dari mana yang ia dapat, namun melihat ekspresi memohon itu, Jaehyun tak bisa berdiam diri. Ia membawa gadis itu ke dalam dekapan hangatnya untuk yang kedua kali. Tangannya ia gerakkan untuk mengelus pucuk kepala Chaeyeon.

“Aku takut dia muncul di dalam mimpiku lagi, Ji…” ucap si gadis sambil terisak. Ia terus menahan rasa sesak di dadanya dengan mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Jaehyun.

“Jangan takut, Chae… aku di sini.” ujar Jaehyun menenangkan.

Selang beberapa menit kemudian, gadis lesbian itu mulai bisa mengurangi intensitas air matanya untuk jatuh ke pipi. Rengkuhan mereka pun perlahan mengendur dan napas Chaeyeon sedikit demi sedikit dapat kembali teratur.

Jaehyun menumpukan kedua tangannya di bahu mungil milik Chaeyeon. Ia tatap gadis itu lamat-lamat dengan air muka serius.

“Hanya pikirkan hal-hal baik yang berkemungkinan terjadi. Kalau kau memiliki dendam, anggap saja itu tidak ada, oke?” Jaehyun memberi petuah agar Chaeyeon merasa tenang.

Yang dituturi pun mengangguk patuh. Melihat kondisi kawannya yang mulai membaik, Jaehyun pun memutuskan untuk kembali ke ranjangnya. Namun langkahnya itu urung ia lakukan saat tiba-tiba Chaeyeon menghalaunya pergi dengan memegangi tangannya.

“Temani aku tidur…” ucap gadis itu dengan raut memelas. 

to be continued

Menindaklanjuti(?) berbagai opini mengenai sikap Wonwoo yang terkesan amat pasrah di chapter sebelumnya… jadi gini guys, mungkin bagi kalian memang enggak realistis kalau Wonwoo mendadak percaya padahal Chae cuma sekadar megang lengannya Jihyun (okay, sebagian besar dari kalian mungkin menebak plotnya si Wonwoo bakalan ngotot dan minta bukti lebih, and then Chae nyium Jihyun, gitu kan?). 

Mungkin ini salahku yang kurang jelas memberi deskripsi kalau sebelum menghadang Chae di hari dia ingin membeli kopi, Wonwoo itu udah berkali-kali nodong Chae, maksa-maksa dia nerima cintanya Wonwoo padahal Chae udah berusaha nolak dengan halus. Hingga ada Jihyun yang mumpung bisa dimanfaatin, Wonwoo juga udah ada di titik capek. 

Misal nih si Wonwoo tetep maksa, aku malah ngerasa status kejantanan Wonwoo itu patut dipertanyakan, ngebet banget? maksa amat? kalo lo sayang relain kek, trima kenyataan kalo gebetan lo enggak pernah naruh empati buat lo. Lahh, ngapa jadi panjang gini sih wkwkwk. Ya pokoknya itu, aku hanya ingin menyampaikan sudut pandangku sebagai author ^^

Okayy, sudah kujelaskan yaaa faktor yang membuat Chaeyeon benci sama laki-laki? Please jangan suruh bikin versi flashback karena nanti jatohnya genre thriller aku enggak pernah kuasa bikin yang ada darah2an.

Hmmm, apa lagi ya? mungkin tentang suasana di komunitas. jadi aku sempet baca kalau komunitas lesbian itu enggak beda sama komunitas orang normal pada umumnya (kaya komunitas dance cover, cosplayer, pecinta kucing, dll). soalnya kan tempatnya juga di KFC, bukan klub malam… jadi enggak sampe mesra-mesraan yang vulgar gitu. mangkannya di sini Jaehyun cuma didiemin ala anak baru yang masih blah-bloh engga sampe yang digrepe2.

Sekian a/n yang teramat panjang dan nirfaedah ini… makasih buat yang sudah mau baca, jangan lupa voment, sampai jumpa di chapter selanjutnya 🙂

Bonus penampakan Saerin

Bonus penampakan Saerin

Ehhh btw, ada yang suka produce 101 gak? Mau promo, baca FF ku dong… tinggal klik gambarnya aja untuk menuju ke cerita atau klik linknya, makasih 🙂

PRODUCE 101 Fan Fiction by undefined
 Read 
Struggle『kang daniel』 by undefined
Read 
Advertisements

24 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 5)

  1. Hmmmm… Kapan nih kebongkarnya. Mel udah bikin skenario sendiri nih di otak. Kebayang ntar chae udah demen aja sama jae, eh tahunya jae itu cowok. Terus ya, visualnya saerin knp sekilas kayak renjun sih, heolll mbanya imut2 gimana gitu 😁 dan itu author notenya seolah menjawab komenku yg kemarin wkwkwkwk oke, vibenya nyaman banget kaklel, aku bacanya tanpa beban gitu, s

    Liked by 1 person

  2. Sorry lel baru baca skrg

    duhh Jae perhatian bgt ya sm Chae :3

    aku juga rada kasian sm chae :3

    lanjut lel, kali ini aku mulai tergila-gila *-*
    keep writing ^^

    Liked by 1 person

  3. Ini aku bacanya tadi subuh pas bangun tidung, terus langsung melek pas meresapi (?) masa lalunya Chaeyeon T_T Terus tolong ya itu adegan pelukannya di kondisikan, jiwaku tak tahan mbalel //dikabyuk// Oh… jadi gitu ya? Makasih loh mbalel infonya tentang lesbian. Ji jadi tahu kalau mereka ternyata juga gak ada bedanya sama orang normal. Kasian Chaeyeon sumpah. Apalagi pas tahu masa lalu suramnya sampe ngelampiasin dendamnya dengan jadi lesbian huweeeeeeeeeee T_T

    Aku lo sebenarnya udah baca dari kemarin, tapi cuma separagraf, habis itu kutinggal mandi, habis itu lupa hahaha. Baru inget tadi subuh HAHA /plakk// dibuang

    Ayo nih kapan YERI muncul???? Aku tungu-tunggu loh dari dulu ……

    Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s