[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 14)

mylesbianroommate

{ Cast : Jaehyun, Chaeyeon, Yeri, and Eunwoo | Genre : romance, hurt/comfort, college life | Rating : PG-17 }

Previous Chapter

Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4 | Page 5 | Page 6 | Page 7 | Page 8 | Page 9 | Page 10 | Page 10,5 | Page 11| Page 12|Page 13

 

+++

Entah apa yang saat ini dipikirkan oleh Jung Jae Hyun. Ia benar-benar malam beraktivitas, ponselnya pun ia matikan agar tak seorang pun dapat menginterupsi keinginannya untuk sendiri. Namun sebagai sahabat, tentulah Cha Eun Woo tak akan tinggal diam apabila rekan senasib dan sepenanggungannya itu tidak masuk kerja tanpa adanya kabar. Maka dari itu, Eunwoo memutuskan mampir ke apartemen Jaehyun saat jam istirahat.

Keakraban Eunwoo dan Jaehyun memang tak perlu lagi dipertanyakan. Terbukti dengan luwesnya jari-jemari Eunwoo menekan kata sandi untuk membuka pintu kediaman kawannya itu.

“Jung…, apa kau ada di dalam?” seru Eunwoo setelah pintunya terbuka. Pemuda itu melepas sepatu dan menatanya di rak, kemudian lanjut melangkahkan tungkai untuk menyusuri wisma berluas empat puluh lima meter persegi itu.

“Huft!”

Sebuah embusan napas berat menyambangi rungu Eunwoo. Seketika ia pun tahu di mana keberadaan orang yang sedari tadi ia cari itu—di depan televisi sambil bergelung kemul di atas sofa.

“Bukannya masuk kerja malah malas-malasan di rumah!” Eunwoo sontak menghardik tatkala melihat keadaan Jaehyun yang sudah mirip dengan roti gulung.

“Datang-datang langsung ngomel. Kau mengajakku adu jotos atau bagaimana, nih?” sahut Jaehyun dan langsung beringsut dari tempatnya merebahkan diri sedari tadi.

Eunwoo cuma bisa geleng-geleng kepala melihat keadaan Jaehyun; rambutnya acak-acakan dan mata yang sayu. Ditambah dengan tiga cup ramen dan lima kaleng minuman berkarbonasi yang berserakan di karpet. Jangan pula lupakan satu pak rokok Marlboro yang telah habis ia sesap hingga tak menyisakan barang satu puntung.

“Kau terlihat mengerikan akhir-akhir ini. Membuatku takut, tahu!” sindir Eunwoo sambil mengerutkan dahi.

As if I care, huh?!” balas Jaehyun tak acuh. Eunwoo pun lantas mengambil posisi duduk di sebelahnya, ia rangkul pundak Jaehyun dengan akrab.

“Rindu itu berat, ‘kan?” tanya Eunwoo yang langsung disambut dengan mata yang memicing sebelah oleh sang kawan.

“Kau ngomong apa, sih? Enggak jelas!”

“Sudahlah, akui saja…”

Please, ya, Cha… aku cuma sedang menikmati hari-hari merdekaku setelah lama tersiksa batin menjadi perempuan!” Jaehyun berujar dengan penuh penekanan di tiap katanya. Eunwoo menyeringai tipis, ia tahu kalau apa yang barusan dikatakan oleh Pemuda Jung itu adalah kebohongan.

“Akuilah, maka semuanya akan membaik. Jangan pura-pura tidak paham dengan apa yang aku katakan.” titah Eunwoo yang tak ada lelahnya mencoba membuat Jaehyun bersikap jujur pada diri sendiri.

“Memangnya aku harus mengakui apa? Kalau aku rindu pada Chaeyeon? Percuma, enggak ada gunanya. Bahkan apabila hatiku mulai sadar bahwa sekarang dialah satu-satunya yang ada di hatiku, itu tidak akan mengubah apa pun. Dia membenciku, aku cuma seorang pengecut yang sudah membuat hatinya terluka.” Jaehyun berucap sambil bergetar. Intonasinya jauh lebih pelan dari beberapa frasa yang ia lontarkan kepada Eunwoo sebelumnya.

“Bagus. Keyakinan di dalam hatimu adalah yang terpenting. Lelaki memang harus punya pendirian terhadap apa yang mereka rasakan.” Eunwoo berpetuah. Tingkahnya itu semakin membuat Jaehyun geleng-geleng kepala. 

Sejak kapan, sih, dia jadi sok tua begini?

“Bagaimana kalau sekarang kau bersih diri? Akan aku bereskan ruanganmu yang sudah seperti kandang babi ini.”

“Jadi kau mengasosiasikan aku dengan babi? Iya, iya, aku memang doyan makan dan punya pipi bulat, fine!” Jaehyun memekik dengan hati yang kesal. Ia pun sekonyong-konyong membungkus badan Eunwoo dengan selimut tebal yang semalaman ia gunakan untuk membalut tubuhnya dan lantas beranjak menuju kamar mandi.

.

.

.

Sebenarnya ini rahasia. Eunwoo tidak ingin siapa pun tahu, termasuk Jaehyun yang jelas memiliki sangkut paut dengan aksi yang kini tengah ia jalani. Wig warna merah muda, kaus longgar bermotif garis-garis, serta celana pastel yang mengekspos setengah bagian dari paha mulusnya. Kira-kira itulah definisi untuk menggambarkan atribut yang sedang Eunwoo kenakan saat ini. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah supaya ia diizinkan memasuki Universitas Deokdoo.

Eunwoo sedikit banyak tahu tentang rute mana yang harus ia lewati untuk sampai ke gedung fakultas matematika

Eunwoo sedikit banyak tahu tentang rute mana yang harus ia lewati untuk sampai ke gedung fakultas matematika. Tentu saja, segala informasi terperinci mengenai Chaeyeon dan lingkungan di sekitarnya telah ia kaji dengan matang demi tersusunnya sebuah laporan sistematis dan mengundang decak kagum dosen pembimbing.

Kalau boleh mengeluh, sebenarnya Pemuda Cha itu merasa terganggu dengan pandangan orang-orang yang berpapasan dengannya. Memang kesalahannya, sih, yang memilih wig dengan warna mencolok untuk dikenakan. Tapi apa boleh buat, itu adalah yang termurah yang bisa ia pinjam di salon. Eunwoo ingat kalau bulan ini adiknya akan berulang tahun, jadi Eunwoo perlu menyisihkan sebagian uang untuk membelikan selusin Hot Wheels yang telah lama diimpi-impikan saudaranya itu.

Di sisi lain…

Sejak kepergian Jihyun, satu-satunya orang yang dengan tulus bersedia menghibur Chaeyeon yang masih dalam masa patah hati itu adalah Eunjin. Sayangnya, hari ini Eunjin sedang tak bisa datang ke kampus karena dosennya memberinya tugas untuk melakukan observasi lapangan.

Kepribadiannya memang sedikit tertutup, namun apabila sudah menemukan seseorang yang membuat nyaman, Chaeyeon akan sangat bersemangat menjalin interaksi. Sayangnya, tak seorang pun teman sekelas yang dekat dengannya. Meski tidak sampai pada level anti sosial, sih. Yah, hanya sekadar mendekat saat benar-benar butuh, tetap saling sapa, namun tidak pernah berbagi. Tapi bagi Chaeyeon itu tidak masalah. Yang penting dia tidak dimusuhi saja, sudah cukup.

Tiba-tiba ada seorang gadis berbadan kerempeng dan bertubuh tinggi—sumpah perawakannya sudah seperti papan triplek yang memiliki kaki. Chaeyeon dibuat keheranan saat gadis itu berusaha menyamakan langkah dengannya. Gadis Jung itu mendongak, “Kau siapa?”

Masih dengan wajah menunduk, orang mencurigakan itu pun bicara dengan lirih, “Bisa enggak kita ngobrol sebentar?”

“Iya, silakan saja.” balas Chaeyeon enteng meski dalam benaknya masih dihinggapi perasaan curiga.

“Bagaimana kalau kita ngobrol di kafe depan kampus?” tawar Eunwoo.

“Eh? Maaf, tapi Anda siapa?” tanya Chaeyeon.

Sepertinya strategi Eunwoo memang salah. Hingga akhirnya ia membuka sedikit topi yang membuat wajahnya nampak redup.

“Halo, Nona Jung. Perkenalkan, aku Cha Eun Woo dari Easy Smart Corporation.” kata pemuda yang sedang menyamar itu. Chaeyeon pun mengerucutkan bibir setelah mendengarnya.

“Perusahaan apa, sih, itu?”

“Perusahaan tempat Jung Jae Hyun bekerja.”

Chaeyeon mengembuskan napas berat. Sudah bagus seharian ini ia tak sama sekali ingat tentang penipu itu. Namun tiba-tiba Eunwoo datang dan kembali memaksa otaknya untuk memikirkan Jaehyun lagi.

“Apa sekarang? Bahan penelitianmu masih ada yang kurang? Mau wawancara? Sori, kau cari saja lesbian yang lain. Di kampus ini banyak, kok. Bahkan ada yang pacarnya lima. Pasti akan lebih banyak informasi, tuh!” Chaeyeon menanggapi dengan sinis. Habis, mau bagaimana lagi? Dia sudah kelewat jengah dengan orang-orang yang berusaha mempermainkan dan memanfaatkannya. Sudah bagus Jaehyun menghilang, eh… malah datang satu lainnya.

“Oke, oke. Maafkan kami yang sudah membuatmu menjadi objek penelitian. Tapi sungguh, ada hal yang harus kubicarakan. Penting.” Eunwoo berusaha membujuk Chaeyeon agar mau menerima ajakannya.

“Memang apa pentingnya untukku? Cih, buang-buang waktu saja!” Chaeyeon benar-benar dibuat dongkol, bahkan sebelum Eunwoo menjalankan tujuan utamanya datang ke Universitas Deokdoo.

Please, ini mengenai Jung Jae Hyun. Tidak ada kaitannya dengan penelitian sama sekali. Tolong dengarkan aku, kumohon… hanya itu, setelahnya kau bebas memutuskan mau bagaimana.” Eunwoo bicara dengan setengah merengek. Mendengar itu, Chaeyeon pun jadi simpati dan tidak kuasa mengubah raut wajahnya menjadi lebih bersahabat.

“Iya, iya… aku akan mendengarkanmu.” kata Chaeyeon meneduhkan. Memang dasarnya gadis itu tidak tegaan dan amat kalem. Jadi sepertinya kesal terhadap orang lama-lama itu sama sekali tidak bisa ia terapkan dalam kehidupan.

.

.

.

“Aku, sih, baca di internet, yang paling enak di sini adalah green tea latte.” celetuk Eunwoo setelah dua cangkir minuman serta sepiring snack telah diantar oleh pelayan.

“Seenak apa pun green tea latte, aku akan tetap memesan affogato.” Chaeyeon berucap seraya meraih cangkir berisi minuman kesukaannya.

“Apa kau suka eclair? Ini, makanlah…” Eunwoo menyodorkan piring berbentuk pipih berisi tiga buah eclair dengan varian rasa berbeda; vanilla, rum, dan coklat.

“Boleh aku ambil yang rum?” tanya Chaeyeon tanpa sungkan.

“Tentu.” Eunwoo mengangguk dengan mantap. “Bagaimana kuliahmu?”

“Ya… tidak bagaimana-bagaimana…” Chaeyeon menjawab meski gigitan pertama dalam mulutnya belum sepenuhnya tertelan.

“Hahaha, kusimpulkan bahwa itu adalah ungkapan lain dari lancar.” Pemuda Cha itu merespons sekenanya. “Chaeyeon-ssi… aku mau bilang sesuatu, tapi kau harus janji untuk mendengarkannya sampai akhir, oke?” imbuhnya.

“Kalau kau mau bilang bicara tentang Jung Jae Hyun, aku enggak mau janji.”

“Ayolah, dengarkan aku… please, jangan membuatku patah hati. Tidurku tak pernah nyenyak belakangan ini karena kalian berdua.” Eunwoo kembali merengek.

“Lo, kok, begitu? Kita, kan, baru kenal…”

“Masalahnya, karenamu Jaehyun terus murung dan tidak pernah fokus pada pekerjaannya. Aku sudah kenal dia lama, kami bersahabat. Kalau dia bersedih, aku pun juga ikut bersedih.”

“Dia murung kenapa?” tanya Chaeyeon penasaran.

“Ya ampun, Nona Jung… tentu saja karena sikap tak acuhmu padanya. Coba hitung, sudah berapa kali dia berupaya memberi penjelasan padamu? Meskipun cuma melalui chat, sih. Tapi ayolah… memangnya dia bisa apa selain melakukan hal pengecut semacam itu? Kampus dan asramamu, kan, dijaga ketat dan steril dari kaum lelaki—yang memang tidak berkepentingan.

“Oke, mungkin kau tidak mau dengar perkataannya. Tapi dengarkan aku, dia sangat menyayangimu. Dia peduli padamu. Meskipun motif awalnya menyamar sebagai mahasiswi baru bukan untuk itu. Tolong dengarkan dia sekali saja.”

“Sebenarnya… selama enggak ada dia, aku pun merasa kehilangan.”

“Lalu, kenapa kau menghindarinya?” Eunwoo mengerutkan dahi.

“Begini, ya, Tuan Cha… kau jelas tahu, aku ini manusia dengan orientasi seksual menyimpang. Yang kusukai adalah Jung Ji Hyun, gadis manis yang selalu memelukku saat aku menangis, yang selalu tertawa meski leluconku membosankan. Aku tidak kenal dengan Jung Jae Hyun.”

“Tapi mereka orang yang sama.” tegas Eunwoo.

“Jelas mereka berbeda… pria itu berpura-pura menjadi wanita. Aku tidak tahu sifat aslinya saat menjadi seorang laki-laki.” Chaeyeon bersikeras mengelak.

“Baiklah, hanya kau yang bisa menentukan apa yang seharusnya kau lakukan. Tapi aku cuma ingin menyampaikan satu hal, lakukan apa yang hatimu inginkan selagi kau bisa. Jangan sampai terlambat, karena hati manusia mudah dibolak-balikkan oleh keadaan.” pungkas Eunwoo.

Butuh sekitar satu menit bagi Chaeyeon untuk mencerna kalimat itu. Hingga akhirnya ia paham dan terhenyak.

“Mungkin kau benar, aku perlu bertemu dengannya untuk meminta kejelasan. Sumpah, aku terus kepikiran. Aku enggak bisa membencinya. Apa yang harus aku lakukan?” hati Chaeyeon mendadak meluluh. Ia sudah lelah bersikap sok kuat dan berlagak mampu melupakan Jung Ji Hyun—atau Jae Hyun?

“Bagaimana kalau kuantar kau untuk menemuinya?” tawar Eunwoo.

“Sori, habis ini aku masih ada kelas.”

“Sempatnya kapan?”

“Hm… nanti malam, sekitar jam delapan atau sembilan, mungkin?”

“Oke, aku akan menunggumu di depan gerbang kampus, setuju?”

“Terima kasih, Tuan Cha…”

TBC

panjangan nih ehehh

abis baca tolong komen ya jangan seenaknya minggat, lo bukan Sri 🙂

Advertisements

14 thoughts on “[Chaptered] My Lesbian Roommate (Page 14)

  1. Aduuuh. Kok malah kesengsem sama Eunwoo ya. Dewasa sekali.. ga kuat aku.
    Dan itu, astaughfirullah Eunwoo kok cantik bener ya? Seketika berasa gagal jadi cewe.

    Oh yaa, ngebayangin Jaehyun ngerokok Marlboro rasanya kok manly sekali.. Haduuuh. Part ini banyak part yang bikin haduh haduh.. wkwkwk.

    Yeesss! Akhirnya Chaeyeon mau ketemu Jae. Semoga berjalan lancar yaaa.

    Liked by 1 person

  2. Yaampun kok aku gagal fokus ya sm Eunwoo pas lg nyamar 😦
    tampangny menipu gender ihh 😦

    lul si jae ngerokok Marlboro XD
    keliatannya kek gmn yah XD

    ditunggu next partny
    btw lel tumben partnya banyak dari yg lain :v
    dah ah gone dlu ~
    keep writing (y)

    Like

  3. Aduh eunwoo cantik banget sih….
    Dan part ini si jaehyunnya jadi tambah galau gitu dan akhirnya si chaeyeon mau ketemu juga sama si jaehyun …
    Akhirnya setelah sekian lama si chaeyeon luluh juga (huft…)
    Tinggal nunggu kelanjutannya nih, nah keep writing ya kak lel (y)
    Sebenarnya aku udah ngikutin ff ini dari awal dan udah baca ff kak lel yang lain dan baru bisa ninggalin jejak berhubung baru bikin akun (yee~ malah curhat nih anak)
    Maaf ya kak TT
    Pokoknya ditunggu kelanjutannya ya, fighting! 🙂

    Liked by 1 person

  4. Aku ikutan galau ngerasain Jaehyun yg makin hari makin hancur begitu hmmmm 😥 Meskipun agak sangsi juga sih, “Kok cowok kalau galau kentara banget ya, berhari-hari pula”. Jadi menurutku kayak galaunya perawan wkwkwkwkwk “Ditambah dengan tiga cup ramen dan lima kaleng minuman berkarbonasi yang berserakan di karpet.” => hanjay ini makan apa mbadok //lalu dikeplak pake toa// Pantesan Eunwoo bilang makin kayak babi (tapi di Cherry Bomb Jaehyun ganteng banget sumpah T_T) Dan sebenarnya aku udah beliin Dji Sam Soe, tapi apalah daya Jaehyun udah beli Marlboro duluan, kan mahal -.,-

    DAN AKU SALPOK SAMA FOTONYA EUNWOO….. SUBHANALLAH ADA YA HAMBA ALLAH YANG SECANTIK INI PADAHAL DIA COWOK xD CHAEYEON AJA KALAH CANTIK LHO, MANA WIG-NYA PINK GITU HADUUUUUUUUUUUUUUH :’D Yang bikin tambah sayang itu dia dewasa sekali di sini kyaaaaaaaaaaaaaa hati dedeq jadi meleleh……………. (999999x)

    Sip! Segitu aja komen OOT ini wkwkwkwkwk jangan kapok lapaknya aku rusuhin ya. Selagi ada Jaehyun, Ji selalu siap acak-acak //lalu pulang//

    Btw Selamat Hari Raya Idul Fitri ya Mbalel-kuh yg cuantik ❤ ❤ ❤ Maaf lahir batin & maaf kalau Ji suka ngerusuh di lapaknya xD

    Liked by 1 person

  5. aku sri
    minggat dulu ya
    *dikeplak
    .
    aku gak punya banyak hal utk dikatakan tapi cha eunu plis jadilah ganteng seperti semula
    kalo menurutku sih chae terlalu mudah ditaklukkan … tapi kalo dibikin tidak mudah ditaklukkan nanti ceritanya kepanjangan jadi gak usah lah
    keep writing!

    Liked by 1 person

  6. Tau gak mbalel, aku tadi udah komen puuuuanjang, tapi gagal gegara jaringan eror -_- (gak tanya.) Tapi sebel loh, mau ngetik lagi itu rasanya pala cenat-cenut. Jadi maapkeun kalau komen ini gk sepanjang sebelumnya //DITAMPOL POPOK BASAH//

    Aku sebenarnya agak ilfil sama Jae di sini, apalagi pas baca deskripsi tentang kegalauan dia “rambutnya acak-acakan dan mata yang sayu. Ditambah dengan tiga cup ramen dan lima kaleng minuman berkarbonasi yang berserakan di karpet.” = Menurutku Jaehyun kayak galau ala perawan cewek xD Padahal menurutku selama ini di ff-nya dia itu cool, rasional, dan gk terlalu peka sama perasaannya sendiri. Terus pas Eunwoo bilang Jaehyun makin kayak babi aku langsung ngakak masa :’v OH YA JANGAN LUPAKAN KECANTIKAN EUNWOO DI SINI MUAH MUAH MUAH :* Chaeyeon aja kalah cantik loh. Terus-terus aku setuju sama komennya kak LDS, mbak Chae terlalu gampang luluh sama omongan. Soalnya sebelumnya kan dia kekeuh meskipun Jaehyun bolak-balik kirim video, tapi pas diajak Eunwoo rundingan malah langsung mau. Apa mungkin Chaeyeon setengah terpesona sama kegantengan (sekaligus kecantikan) Eunwoo yang membuatnya menuruti apa pun yang Eunwoo katakan??? //ngomong opo awamu ji? -_-//

    Btw, boleh juga tuh rokoknya marlboro xD

    Liked by 1 person

    • ji… kamu tau gak, sebenernya aku udah baca komen panjangmu itu. terus aku lagi mau bales. aku udah ngetik panjang ehh kepencet ‘trash’ dan akhirnya kehapus. goblok ya emang huhu sorry :((((

      aku tuhhh mau namatin nih ff as soon possible karena ff ini terlalu panjang dan menghambat aktivitasku untuk update project baru taeyong x mark akhhh syalann males sama nih ff asli tidak berjalan sesuai kehendakku dan sekarang aku lagi ada di titik jenuh x(

      makasih ya udah baca, makasih juga udah bela2in ngetik komen lagi :” kamu enggak mau meet up kapan2 sama aku dan donna? hehehe

      Liked by 1 person

      • Ih yg komen kemarin itu? Serius? Kukirain jaringan di hapeku ya eror huwaaaa makanya pas kulihat komenku kok gk ada padahal udah ngetik panjang T_T (maafkan aku, Sinyal yg telah memfitnahmu :*) Meet up? Hayuk. Boleh-boleh aja sih, tergantung waktunya kalau aku mah 😀 Soalnya udah kelas 3 sih, agak ketat larangan ortunya //sok yes//halah ngeles//bilang aja gk punya duit//

        Liked by 1 person

Feedback Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s